Just A Professional Relationship

Just A Professional Relationship
Episode Dua Puluh Dua



“Hai! Selamat datang di episode pertama dari program spesial kami, FunDay! Pastinya udah banyak dari kalian yang gak sabar kan buat ngikutin. Kami berdua juga sama, sampai gak bisa tidur nungguin acara hari ini!” Nadin bicara ke arah kamera kecil yang tersambung dengan tongkat—yang dipegang oleh Juna.


Saat ini, mereka sedang berada di dekat pintu masuk sebuah pasar kaget. Di mana tempat tersebut hanya ada pada minggu pagi, di sepanjang jalan yang sudah disterilkan dari kendaraan bermotor. Banyak sekali pedagang yang menjajakan dagangannya berupa makanan, hingga perabotan rumah tangga.


“Kami pilih tempat ini untuk dijadikan tujuan yang pertama, karena masih banyak dari kalian yang mungkin belum tahu soal apa saja sih yang ada di tempat ini. padahal banyak sekali makanan, minuman, dan toko-toko yang dibuka oleh para UKM—yang tentunya wajib kalian ketahui,” sambung Juna.


“Yuk ah, kita langsung aja cek ke lokasinya, Kak!”


Nadin dan Juna mulai berjalan menuju ke lokasi yang sudah tampak ramai. Tentu saja karena hari ini akan dijadikan lokasi syuting, jumlah pengunjung yang datang dibatasi. Namun tetap saja banyak yang sengaja datang hanya untuk melihat syuting tersebut. Mereka rela berkumpul di daerah sekitar sana. Yang sudah dibatasi oleh para staf yang berjaga.


Nadin dan Juna berhenti di kedai roti bakar. Mereka manjual roti sarikaya yang cukup terkenal di daerah sana.


“Ini pertama kalinya aku makan roti sarikaya, lho. Biasanya Cuma beli rasa cokelat atau keju aja!”


“Enak?”


“Banget!!” seru Nadin. Dia menyuapi Juna sepotong roti yang dia pegang.


“Wah, biasanya aku gak terlalu suka sama roti manis. Tapi yang ini rasanya pas di mulut.”


“Iya, bener. Gak bikin eneg. Manisnya pas.”


“Dan harganya juga kebilang murah buat rasa yang seenak ini! Tapi kalau sambil lihat aku rasanya berubah gak, Kak?”


“Jadi lebih manis gitu?”


Keduanya pun tertawa.


Kemudian, perjalanan pun berlanjut ke tempat lain. Mereka mengunjungi sebuah stan yang dipenuhi kerajinan tangan dari tanaman.


“Ini kerajinan yang diproduksi oleh UKM yang ada di Cimahi. Para pekerjanya itu para ibu-ibu yang ada di sana. Semuanya berasal dari bahan-bahan alam seperti bambu, daun kelapa, dan daun pisang,” jelas sang penjaga stan.


“Ini cantik banget gak sih, Kak?” Nadin mengambil sebuah figura foto yang berasal dari anyaman daun kelapa.


“Iya, keren. Gak kelihatan kalau bahannya dari daun-daunan yang banyak kita temui di mana-mana.”


“Hu’um. Aku kayaknya mau beli satu. Buat pajang foto kita.”


“Foto yang mana?”


“Yang mana aja. Yang penting, foto yang akunya bagus.”


Kegiatan pun terus berlanjut. Mereka menyusuri beberapa stan hingga sampai di ujung jalan. Mengobrol, bercanda, seolah tidak seperti sepasang kekasih yang sedang bersandiwara.


Nadin sendiri sudah benar-benar mempersiapkan diri sejak sehari sebelumnya. Rasa ragu tentu masih sering datang, tapi dia mulai mengesampingkan hal itu. dan hari ini, dia merasakan sebuah keajaiban yang bisa membuatnya berlaku seperti apa adanya bersama Juna. Setidaknya hanya selama mereka berada di depan kamera.


Nadin dan Juna pun mengakhiri acara mereka di titik yang sama saat mereka membuka acara.


“Wah gak kerasa udah sejam lebih kita ngunjungin beberapa stan yang ada di pasar ini. seru banget! Dan sebenarnya masih banyak stan keren yang belum sempat kita kunjungin ya, Kak.”


“Iya. Buat kalian yang penasaran, silahkan datang ke sini di minggu pagi. Lokasinya cocok banget buat dipakai sekaligus olahraga, karena benar-benar gak ada kendaraan yang boleh masuk.”


“Pokoknya cocok banget buat kalian datangin bareng teman, pacar, atau keluarga. Dan dengan belanja di sini secara gak langsung kalian sudah mendukung para UKM juga!”


“Nah, buat episode pertama FunDay bareng Juna dan Nadin sampai di sini dulu ya. Sampai jumpa di episode berikutnya. Bye!”


Kamera pun dimatikan. Sedikit membuat Nadin bisa bernapas lega. Namun belum benar-benar bisa pergi menjauh dari Juna, karena masih banyak orang-orang yang berkumpul di sekitar mereka. Nadin masih harus menjaga supaya wajahnya tidak memancarkan ekspresi yang aneh.


"Nadiiiin! Junaaa!!" Para penggemar memanggil-manggil mereka dari kejauhan. Sembari mengacungkan ponsel mereka di udara.


Nadin hanya melambai sembari memberikan senyuman.


Tak lama, seorang perempuan bersama seorang kameramen datang mendekat. Mereka meminta izin untuk melakukan wawancara singkat dengan Nadin dan Juna. Pihak tv pun mempersilakan dan memberikan waktu beberapa menit saja.


“Gimana syutingnya di hari pertama ini, Nadin?”


Wawancara dibuka dengan sebuah pertanyaan yang normal. Beberapa pertanyaan berikutnya pun masih bisa Nadin jawab dengan lancar. Hingga tiba-tiba, wanita tersebut mengucapkan sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman.


“Kamu tahu gak kalau belakangan ini ada yang sedang membicarakan soal kamu yang sering kelihatan jalan sama laki-laki yang bukan Juna?”


Nadin tampak bingung menanggapinya. Tentu saja dia langsung sadar kalau orang-orang itu sedang membicarakan tentangnya dan Axel. Karena selain dengan Tyo, dia hanya sering pergi berdua dengan Axel saja.


Masalahnya, pertanyaan wartawan itu bernada seolah mereka menganggap Nadin melakukan perselingkuhan. Dan itu benar-benar membuatnya tidak nyaman.


“Oya? Aku gak ngerti siapa orang yang dimaksud. Tapi sekalipun aku pernah main dengan orang lain, sudah pasti dia temanku,” jawab Nadin sembari berusaha tetap tenang.


“Dari Juna sendiri gimana? Tanggapanmu terhadap gosip itu seperti apa?”


“Sampai kapan pun aku akan tetap percaya kepada Nadin. Jadi, aku harap kalian pun percaya kepada apa yang Nadin bilang,” jawab Juna sembari tersenyum ke arah kamera “Sudah ya, kami mau istirahat dulu hari ini. terima kasih sudah datang.”


Juna merangkul bahu Nadin, menggiringnya menuju ke arah mobil fan DCM untuk menghindari orang-orang yang masih penasaran. Kelihatannya staf tv pun sedang berusaha menghalau beberapa orang baru yang berdatangan, bermaksud untuk melakukan wawancara.


Nadin masih terdiam dengan berbagai pikiran dalam kepalanya. Bagaimana bisa orang-orang itu tahu? Padahal dia dan Axel selalu berhati-hati tiap kali pergi ke suatu tempat.


“Sudah pernah aku bilang, kan,” ucap Juna. “Cepat atau lambat, orang itu hanya akan membawa penyakit ke dalam karirmu.”


“Gak usah pura-pura peduli.”


“Bagaimana bisa aku gak peduli. Oke, aku memang gak peduli dia mau hancur atau bagaimana. Tapi aku gak mau hal itu terjadi sama kamu. Jadi, lebih baik kamu jauhi dia.”


“Memangnya kamu siapa berhak nyuruh-nyuruh aku? Hubungan kita cuma sebatas pekerjaan. Gak lebih.”


“Kalau memang kamu mau balas dendam padaku. Seenggaknya cari laki-laki yang jauh lebih baik. Bukan justru yang rendahan seperti itu.”


“Hei! Kamu keterlaluan! Sejak kapan kamu menilai seseorang seenaknya kayak gitu?”


“Kau lupa bagaimana orang-orang memandang dia? Dari banyak skandal yang dia buat pun kita sudah bisa menilai dia laki-laki kayak apa.”


“Kau gak mau bilang begitu? Jangan pikir kamu yang selalu kelihatan baik di mata orang-orang itu lebih baik dari dia. Nyatanya apa? Sekarang emang cuma aku yang tahu soal kamu yang sebenarnya. Tapi, cepat atau lambat keburukanmu itu akan diketahui sama semua orang!”


“Kamu yang akan membeberakannya sendiri?”


“Enggak. Sekesal apa pun aku, gak akan ngelakuin hal itu. Anggap saja aku terlalu bodoh sampai mau menjaga orang yang udah nyakitin aku.”


Pembicaraan pun terhenti. Keduanya saling diam meski ada dalam satu tempat yang sama. Bahkan Nadin enggan menatap ke arah Juna sedikit pun. Matanya terus fokus ke arah luar jendela. Menanti keadaan di sana cukup tenang hingga dia bisa pergi dari tempat itu.