
Seusai makan malam, Axel tidak langsung mengantar Nadin ke apartemen. Wanita tersebut meminta tolong supaya diantarkan dulu ke apartemen Juna, untuk memberikan makanan yang sengaja dibungkus.
Nadin bilang dia sekedar ingin memberi kejutan dan menenangkan diri dengan setidaknya bertemu dengan sang pacar sebentar. Dia bahkan sengaja tidak memberikan kabar sebelum pergi ke sana.
Meski sudah merasa terlalu malam, Axel tidak bisa menolak karena masih merasa bersalah. Dia justru berpikir, mungkin perasaan Nadin akan jadi lebih baik kalau bertemu dengan pacarnya.
Saat sampai di parkiran apartemen, Axel memilih untuk menunggu di mobil. Nadin sudah mengajaknya untuk pergi bersama. Tapi Axel menolak dengan alasan, dia malas kalau harus naik sampai ke lantai dua puluh. Padahal dia hanya tidak ingin mengganggu pasangan itu saat bertemu. Nadin pun pergi sembari menjinjing plastik berisi makanan.
Selang berapa menit, Axel baru sadar kalau ada satu kantong plastik lagi—di jok belakang—yang tidak terbawa. Akhirnya dia memilih untuk mengantarkan barang tersebut, karena ternyata Nadin tidak membawa ponselnya. Sekaligus dia berpikir untuk mampir ke kamar mandi sebentar.
Saat itu, tidak ada satu orang pun dari para pemeran yang merasakan keanehan. Semua bertindak biasa saja, seakan tidak ada masalah yang sedang datang mendekat. Padahal roda takdir baru saja berputar ke arah sebaliknya. Menuju jalanan yang jauh lebih berliku dibanding sebelumnya.
Saat berada di dalam lift, Nadin baru menyadari kalau ada barang yang tertinggal. Jadi, saat sampai di lantai dua puluh, dia memutuskan untuk masuk terlebih dahulu ke toilet yang berada di ujung koridor—yang berlawanan dengan kamar Juna. Karena bermaksud untuk menelepon Axel supaya bisa membawakan barang yang tertinggal. Dia sendiri belum sadar kalau ponselnya ternyata sama-sama tertinggal dalam mobil.
Saat itu, Axel baru saja naik ke dalam lift. Tentu saja dia tidak tahu di mana tempat tinggal Juna. Tapi dia pikir, pasti Nadin akan kembali ke parkiran sewaktu sadar ada barang yang ketinggalan. Jadi dia memutuskan untuk menunggu di dekat lift.
Setelah keluar dari dalam lift, Axel disambut oleh sebuah koridor berkarpet hijau yang tampak sepi. Dan menunggu sembari bersandar pada tembok. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka dai ujung koridor. Suaranya tidak terlalu kencang, hanya saja keadaan yang sangat sepi membuat Axel menyadarinya.
Saat itu dia melihat seorang lelaki baru saja keluar dari ruangan tersebut. Tentu saja dia sadar kalau orang itu adalah Juna. Selanjutnya disusul orang seorang wanita yang juga keluar. Tapi anehnya, wanita tersebut adalah Mala, bukan Nadin. Bahkan tidak ada tanda-tanda kehadiran Nadin di sana.
Axel masih bermaksud menunggu di tempat sama hingga Nadin muncul. Tapi, perhatiannya tersita oleh dua orang yang masih tampak asik mengobrol di ujung sana. Sesekali Axel mencuri pandang, sambil mulai merasakan perasaan aneh.
Hingga tiba-tiba, dia dikejutkan saat melihat Mala memeluk Juna, dan keduanya pun mulai berciuman.
Axel tahu tidak seharusnya dia mencampuri urusan orang lain. Tapi, apa yang dia lihat berhasil membuat emosinya meledak. Dengan cepat dia melangkahkan kaki, ke arah dua orang yang masih tenggelam dalam dunia mereka. Kantong keresek yang semua dia genggam pun dibiarkan terjatuh ke atas lantai.
Saat sudah sangat dekat, Axel menarik baju Juna dan memukul wajah lelaki tersebut dengan sangat keras, hingga terjatuh ke atas lantai. Mala yang terkejut hingga berteriak dibuatnya. “Hei, apa-apaan kamu!”
“Diam!” bentak Axel. Dia kemudian menjenggut bagian depan baju Juna dengan kedua tangan. “Brengsek! Padahal dia mati-matian percaya sama lo! Kurang ajar!”
Juna pun berdiri, dibantu oleh Mala yang tampak ketakutan. Saat itu, dia baru menyadari kehadiran Nadin yang terdiam—tak jauh dari tempat Axel berdiri. Melihat ekspresi Juna yang tampak terkejut, Axel pun spontan menoleh ke belakang. Dia sendiri turut merasakan keterkejutan yang sama. Terlebih lagi dia tidak tahu apakah Nadin menyaksikan semua hal yang terjadi sejak awal?
Keadaan sempat membeku untuk beberapa saat. Semua orang disibukkan dengan pikiran mereka masing-masing. Bingung memilih respons seperti apa yang harus diperlihatkan dalam keadaan seperti itu.
Nadin masih terdiam dengan wajah datar. Tanpa mengatakan apa pun, dia menekan tombol lift, bermaksud untuk pergi.
Axel masih di tempatnya, ketika Juna berpikir untuk mengejar Nadin. Tapi, tentu saja Axel tidak mau membiarkan hal itu terjadi. Dia menghalangi langkah Juna, dan kembali memberikan serangan dengan sebuah tendangan. “Lo masih punya muka buat nemuin dia?”
“Anda siapa, sampai berani mencampuri masalah orang lain?”
Axel mendengus. “Gue orang yang bakal jagain Nadin dari orang-orang brengsek kayak lo!”
Setelahnya, dia pun langsung melangkah menuju ke arah tangga. Sengaja turun ke lantai bawahnya, agar tidak perlu berada di dekat Juna sewaktu menunggu lift. “Shit!” ucapnya penuh kekesalan. Dia bahkan kembali merasa bersalah karena sesudah membuat Nadin berusaha mempercayai orang yang benar-benar mengkhianatinya.
Axel melangkah terburu-buru menuju ke basement, tempat mobilnya terparkir. Tapi Nadin tidak ada di sana. Dengan penuh rasa panik, dia kembali ke dalam apartemen dan bertanya pada resepsionis yang ada di sana. Untunglah ada yang menyadari sosok Nadin yang berjalan keluar melalui pintu utama gedung.
Axel mempercepat langkahnya, berharap Nadin belum pergi terlalu jauh. Dia khawatir kalau-kalau Nadin pergi tanpa tujuan dalam keadaan pikiran yang sudah pasti tidak baik-baik saja. Ditambah lagi hari sudah cukup larut.
Pintu utama gedung apartemen mengarah ke jalan raya yang dipenuhi dengan mobil yang berlalu-lalang dengan cepat. Untung saja keberadaan Nadin tidak sulit untuk ditemukan. Wanita tersebut berjalan dengan gontai di sepanjang trotoar. Di bawah sinar lampu jalanan yang tampak remang.
Axel mengayuh kaki secepat mungkin. Lalu mencengkeram lengan Nadin yang langsung berhenti melangkah. Wanita tersebut menolehkan wajah ke arah Axel yang menatapnya dengan penuh kekhawatiran. Namun, wajah Nadin masih sama seperti yang terakhir kali dia lihat. Datar, tanpa ekspresi. Matanya tampak kosong.
Axel pun memberikan senyuman, yang dibalas dengan air mata yang berlinang. Dia pun membuat wanita tersebut tenggelam dalam pelukannya. Membiarkan Nadin meluapkan semua kekesalan dan kesedihan yang dia rasa.
Axel bisa merasakan Nadin yang terisak, dan mendengar raungannya yang pilu. Entah kenapa semua itu membuatnya ingin turut menitikkan air mata. Kesedihan itu benar-benar tersampaikan padanya.
Sementara untuk Nadin, dia merasa hidupnya hancur dengan seketika. Dunianya yang selama ini dibangun oleh keberadaan ibu dan sang pacar, membuatnya ketakutan karena akan kehilangan salah satunya. Masalahnya, dia sama sekali tidak pernah mengira hal itu akan terjadi. Membayangkannya saja sudah membuatnya merasa hampa. Entah apa yang akan terjadi padanya setelah ini, Nadin sama sekali tidak tahu.