Just A Professional Relationship

Just A Professional Relationship
Episode Sepuluh



“Bang Axel! Ini berita apaan lagi ini!”


Grey—member termuda Hybrid, berambut abu datang dengan terburu-buru. Dia menyodorkan layar ponselnya ke hadapan muka Axel—yang tengah melatih dance-nya.


Ve dan Bintang yang penasaran, turut menimbrung. Mereka membaca sebuah artikel yang baru saja dirilis pagi ini. Memuat tentang skandal percintaan Axel dengan seorang aktris pendatang baru. Seseorang mengambil foto mereka diam-diam sewaktu sedang mengobrol di sebuah taman.


Sebelumnya, Axel baru saja membuat kehebohan dengan berita soal dia berpacaran dengan penyanyi senior yang merupakan seorang janda. Padahal berita tersebut belum lama terlupakan oleh semua orang, kini muncul gosip.


“Wah… kurang ajar…” Axel tertawa mengejek, lalu berjalan mengambil handuk miliknya.


“Hobi banget sih, Bang. Bikin skandal-skandal kayak gini.”


“Harus siap-siap lagi kita,” sahut Ve.


Axel tak menanggapi. Dia hanya meneguk habis minuman dari dalam botolnya.


Ramos yang sebelumnya memperhatikan dari sudut ruangan, akhirnya turut mendekat. “Kayaknya, kamu harus lebih hati-hati lagi. Kulihat, jadi semakin banyak orang yang menjebakmu,” ucapnya, setelah turut melihat artikel dalam ponsel Grey.


Axel berjalan cepat ke arah Ramos, dan memeluknya. “Kak Ramos emang paling ngerti aku, huhuhu,” ucapnya, sambil berpura-pura menangis.


“Ngejebak kayak gimana maksudnya?” tanya Ve.


“Kalian tahu sendiri kayak gimana image Axel di mata publik. Entah siapa yang mulai sampai semua percaya kalau dia playboy.”


“Padahal aku kan, cowok baik-baik ya, Kak.”


“Kamu sendiri jangan kegatelan kalau lihat cewek cantik,” celetuk Ramos. “Tapi, belakangan ini banyak orang pendatang baru yang mempergunakan nama kamu supaya mereka viral.”


“Dalam kata lain, mereka pansos sama Bang Axel?” sahut Grey.


“Foto itu juga sudah di-setting. Sebenarnya, aku ada di samping Axel waktu itu. tapi yang dimunculkan malah foto mereka saja.”


“Wah… gila, sih. Bisa kita tuntut sebagai pencemaran nama baik. Meski Bang Axel jauh dari kata ‘baik’.”


“Nih, anak ngelunjak ya lama-lama.” Axel melompat dan mengunci leher Grey dengan lengannya yang besar. Lalu mulai mengganggu juniornya itu. “Jangan-jangan lo ya yang sengaja nyebarin gosip tentang gue. Biar nama lo bisa naik!”


Member yang lain hanya tertawa melihat kelakuan dua teman mereka, yang memang selalu membuat keadaan tidak bisa tenang.


“Bang Ram, kayaknya kita butuh member pengganti. Ini anak mending disuruh lanjut kuliah aja.”


“Enak aja! Mending lo tuh yang pensiun, Bang! Masa berita soal kita lebih banyak yang jeleknya gara-gara ada personil yang dicap playboy.”


“Kamu iri ya, gara-gara gak punya banyak fans cewek? Makanya dari dulu jomblo terus.”


“Xel, Xel. Nadin lewat tuh,” sahut Bintang. Berhasil mengalihkan perhatian Axel—yang langsung melepaskan Grey.


Pemuda berambut abu langsung terbatuk sembari memegangi lehernya. “Euh, gak bisa liat cewek cantik sedikit aja,” gerutunya.


Masalahnya, dari kemarin Axel pun tidak bisa tenang karena memikirkan Nadin. Dia khawatir terjadi sesuatu yang buruk. Jadi, dia berpikir untuk memastikannya langsung. “Nanti lanjut lagi jam tiga ya, Bang!” ucapnya, sebelum melesat menuju ke luar ruangan.


“Kayaknya dia harus diingetin deh, Bang,” ujar Bintang, setelah Axel keluar dari ruangan. “Tau sendiri Nadin sama Juna pasangan yang disorot publik. Kalau sampai Axel kena skandal macem-macem, kayaknya bakal jadi paling parah dibanding masalah dia selama ini.”


Ramos hanya terdiam, memilih untuk tidak berkomentar banyak. Bukan karena tidak peduli, justru dia sudah lebih dulu memikirkan hal itu dibanding membernya yang lain.


Nadin melangkah sembari terus-terusan menguap. Wajar saja, semalam dia hanya sempat tidur beberapa jam. “Loyo banget kayak nenek-nenek,” ejek Axel yang baru saja sampai di sampingnya.


“Ngantuk banget, nih.”


“Jadi, kapan kita makan bareng?”


“Kamu santai banget, sih jadi orang. Perasaan nama kamu masuk trending lagi di medsos hari ini.”


“Ah, udah biasa… lagian gak penting juga.”


“Aku hari ini bisa aja, sih. Tapi agak sorean gak apa?”


“Aku juga masih ada latihan, paling sampai jam lima.”


“Oke kalau gitu. Nanti ketemu di lobi aja.”


“Siap!”


***


Sekitar pukul enam, Axel dan Nadin sampai di rumah makan yang direkomendasikan Axel. Nadin yang meminta sendiri ingin makan di sana, padahal Axel bermaksud untuk membawanya ke restoran yang agak berkelas kali ini.


Nadin menyeruput sup dengan semangat hingga tak bersisa. Bahkan dia menghabiskan sepuluh tusuk sate sendirian.


Axel agak terkejut melihatnya, dan tertawa. “Ngeliat kamu makan aja bikin aku kenyang,” komentarnya. “Gak takut gendut?”


“Lebih takut kelaparan.”


“Bagus. Aku pikir kamu cewek yang jaim kalau diajak makan.”


“Iya juga ya.” Axel kembali tertawa.


“Eh, tadi kelanjutannya gimana. Yang kamu bisa sampai difoto diem-diem sama orang itu.”


“Ya… udah. Kak Ramos sendiri saksinya kalau aku gak cuma berdua sewaktu jalan di sana.”


“Tapi gila ya, masih banyak aja orang yang pengen tenar instans gitu.”


“Kamu kayak yang baru aja di dunia ini.”


“Masalahnya, aku gak pernah berhubungan sama orang-orang kayak gitu. Dan gak pernah juga nebeng terkenal.”


“Jangan sampai kayak gitu, deh. Bukan Cuma kamu, pasti manajermu yang paling kerepotan. Aku aja sering dimarahin gara-gara banyak wartawan yang pengen wawancara.”


“Terus?”


“Ya… aku sih nolak. Lagian aku masih bisa tenang soalnya orang-orang itu gak punya nomor teleponku. Masalah manajerku itu yang terus ditelepon orang-orang.”


“Wah, gak kebayang, Kak Tyo pasti stres.”


“Dulu kamu pernah juga kan, sekali. Soal caleg itu.”


“Ahh… udah jangan dibahas!”


Mereka berdua lanjut mengobrol sembari menghabiskan makanan yang ada hingga tak tersisa. Axel lihat Nadin sudah tampak kembali normal. Sudah bisa diajak bercanda seperti sedia kala. Dia pikir, wanita tersebut mungkin sudah berhasil menyelesaikan masalahnya. Hingga akhirnya, dia melakukan sebuah kesalahan.


“Kamu lihat kan, orang-orang yang kena skandal sama aku, pasti besoknya langsung tenar.”


“Wah, ajaib. Harusnya mereka bayar ke kamu, dong.”


“Bahkan ya, emang sempat ada yang menawari pacaran *setting-*an kayak gitu.”


“Serius?”


“Bayarannya juga besar. Tapi aku malas kalau harus terikat kayak gitu.”


“Orang keras kepala kayak kamu pasti emang susah diatur.”


“Aku ini gak keras kepala. Cuma punya prinsip yang kuat.”


Nadin pun tertawa mendengar perkataan Axel yang penuh dengan percaya diri. Di samping sifat menyebalkannya, tapi dia akui bahwa lelaki tersebut bisa menjadi teman bercerita yang menyenangkan.


“Aku lega lihat kamu sudah bisa ketawa lagi. Kemarin aku sampai khawatir. Kirain kamu bakal bertengkar hebat sama pacarmu itu.” Hal itu terucap begitu saja dari dalam mulut Axel. Dia mulai menyesal sewaktu melihat senyuman perlahan menghilang dari wajah Nadin. Keadaan pun mulai terasa canggung dan suram.


“Eh, maaf. Aku gak maksud bahas itu,” tambah Axel lagi.


Nadin tampak berusaha tersenyum. Tapi matanya mulai berkaca-kaca, dan tiba-tiba berlinang air mata. “Ukh.” Dia menutupi wajah dengan kedua tangan.


Tentu saja Axel kaget setengah mati, karena sadar Nadin seperti itu akibat kesalahannya. “Din, maaf…”


Nadin pun menggeleng. Dia berusaha untuk memberikan senyuman dan berkata tidak apa-apa. Tapi wajahnya tidak bisa berbohong.


Axel pun berdiri untuk pindah tempat duduk ke samping Nadin dan masih tertunduk sembari terisak. “Jangan maksain buat bilang kalau kamu gak apa-apa.”


Untuk beberapa saat, Axel memilih untuk diam hingga Nadin merasa tenang dan siap bicara. Sembari merenung, menyesali perkataannya.


“Maaf,” ucap Nadin. Dia sudah bisa mulai bicara dengan nada bergetar. “Aku gak tahu kenapa tiba-tiba nangis kayak gini.”


“Mungkin kamu terlalu maksain diri. Mau cerita? Aku bisa jaga rahasia, kok.”


Nadin pun menghela napas dalam-dalam. “Dari kemarin aku terus kepikiran soal Kak Juna, sama model itu… Selama ini aku gak pernah dihadapkan sama masalah kayak gini. Jadi benar-benar gak ngerti harus merespons kayak gimana.”


“Kamu sudah bicarakan sama dia?”


“Iya. Padahal dia sudah bilang kalau memang lagi banyak kerjaan bareng Mala. Tapi… aku gak ngerti kenapa nyesek terus. Aku gak bisa ngebayangin kalau Kak Juna…”


Nadin tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Tapi Axel mengerti ke mana maksud ucapan itu.


“Aku belum pernah punya hubungan dengan orang yang sama bertahun-tahun. Tapi dengan kamu berhasil jalanin itu semua, aku yakin pasti ada alasannya. Karena kamu percaya sama dia, kan?”


Nadin mengangguk.


“Kalau begitu, kamu hanya perlu memercayai dia kayak biasa. Ada perbedaan dari sifat laki-laki dan perempuan yang sering bikin salah paham. Kadang si perempuan merasa ada yang aneh, padahal di sisi lain, si laki-laki merasa keadaan berjalan biasa saja. Aku bukannya mau bilang kalau kamu salah. Tapi bisa jadi semua itu cuma hasil dari kecemasan kamu yang berlebihan.”


“Iya, semoga begitu. Aku sendiri sudah berusaha untuk terus percaya sama Kak Juna. Dan berharap kalau pikiran burukku gak nyata.”


“Iya. Aku pikir gak ada alasan buat pacarmu itu ngelakuin sesuatu di belakang kamu. Dan gak seharusnya dia ngelakuin itu. Kalau tiba-tiba dia ngelukain kamu, aku janji bakal ngehajar dia habis-habisan,” jelas Axel sembari mengepalkan tangan. Membuat Nindi sedikit tertawa melihatnya.


“Makasih ya, udah mau dengerin. Aku bakal coba buat percaya sama Kak Juna, kayak biasanya.”