Just A Professional Relationship

Just A Professional Relationship
Episode Enam




Nadin melirik jam tangannya. Masih tersisa lima menit sebelum jam dua belas. Tapi kegiatannya hari ini baru akan berlanjut beberapa jam setelahnya.


Lagi-lagi, ponsel Juna tampaknya tidak aktif—entah kenapa. Tentu alasan yang terpikir hanyalah, karena dia terlalu sibuk hingga tidak sempat mengecek ponsel. Tapi yang membuat Nadin gundah, sejak beberapa waktu ke belakang sang pacar sudah jarang memberitahukan agenda pekerjaannya. Padahal biasanya mereka selalu saling memberikan update terkait jadwal mereka sehari-hari.


Seperti biasa, Nadin berjalan sembari memandangi layar ponsel. Dia berjalan menuju ke arah ruang istirahat. Saat beberapa langkah lagi sampai di ruangan tersebut, Axel muncul dari balik tembok—dari arah berseberangan. Lelaki tersebut langsung tersenyum lebar sembari melambaikan tangan. Namun Nadin spontan berdecak, dan langsung berbalik arah.


Axel tidak hanya diam begitu saja, dia justru melesat mengejar Nadin. Lalu melompat ke hadapan wanita tersebut. “Kenapa balik lagi?” tanyanya.


“Ada yang ketinggalan.”


“Apa?”


“Kepo banget, sih.”


Nadin melangkah ke arah kanan, tapi Axel pun melangkah ke arah yang sama. Masih tidak menyerah, Nadin mencoba melangkah ke kiri. Lagi-lagi Axel mengikutinya sembari tersenyum-senyum—menikmati ekspresi kesal yang muncul pada wajah wanita di hadapannya.


“Mau apa lagi sih, Xel?” tanya Nadin dengan nada rendah. Dia masih coba bersabar.


“Mau makan siang bareng?”


“Enggak.”


“Hmm… Ada janji?”


Nadin bungkam. Dia spontan melirik layar ponselnya lagi. Tapi masih tidak ada balasan dari Juna—yang sedari tadi dia tunggu. “Ada,” jawabnya singkat.


“Masa, sih? Kok, mukamu bete gitu.”


“Udah ah. Aku mau pergi.”


“Gak boleh. Sebelum makan bareng aku.”


Nadin hanya bisa menghela napas panjang. Dia tidak kenal dekat dengan Axel, tapi setidaknya tahu kalau orang tersebut sangat keras kepala. Jadi, tidak ada gunanya melawan.


“Ya udah!”


“Yes!” Axel berseru senang. Sembari mengepalkan kedua tangan, seperti atlet yang baru saja memenangkan sesuatu. Hampir saja Nadin tidak bisa menahan tawa melihatnya.


Saat baru saja berbalik badan untuk menuju ke arah kantin, Nadin agak terkejut karena Axel menarik tangannya. “Aku mau ajak kamu makan di luar,” ucapnya. Sembari lanjut berjalan—masih sembari menggenggam tangan Nadin.


***


Lima belas menit berkendara, mobil yang dibawa Axel belum juga menepi. Sepanjang perjalanan, keduanya lebih banyak saling diam. Lebih tepatnya, Nadin yang tampak terlalu malas untuk mengobrol. Dia selalu menunduk, memandangi ponselnya.


“Lehermu gak pegel nunduk terus?” sindir Axel. Membuat Nadin langsung menaruh benda segiempat yang mulai terasa hangat karena terus diganggam erat.


“Kita mau ke mana, sih? Kenapa belum sampai? Kan banyak restoran yang dekat kantor.”


“Aku mau ajak kamu ke tempat yang spesial.”


Nadin menoleh dengan cepat ke arah Axel. “Kamu gak lagi nyulik aku, kan?” tanyanya dengan serius. Dan langsung dibalas dengan tawa dari lelaki di sampingnya.


“Awas kalau kamu macam-macam!”


“Tenang. Aku gak berani ngapa-ngapain orang terkenal kayak kamu.”


Keduanya pun kembali terdiam untuk beberapa saat. Hingga mobil pun parkir di depan sebuah kedai—yang berada di samping jalan ramai.


“Mereka jual soto yang enak banget,” jelas Axel.


Rasanya Nadin sudah lupa kapan terakhir kalinya dia makan di tempat sederhana seperti itu. Kehidupannya setelah gabung di manajemen memang berubah drastis. Tiap kali makan dengan Juna pun selalu di tempat yang cukup mewah.


Akan tetapi, masalah sebenarnya yang membuat Nadin agak ragu adalah, terlalu banyak orang di tempat tersebut. Sejak wajahnya dikenal banyak orang, dia jadi tidak bisa bebas makan di tempat sembarang. Bahkan Tyo tidak pernah membiarkan dia naik angkutan umum.


“Kamu yakin mau makan di sana?”


“Iya. Tenang saja,” balas Axel. Dia memberikan sehelai masker, dan memasangkan topi ke kepala Nadin. “Ayok.”


Axel berjalan masuk lebih dulu ke dalam restoran—atau lebih tepat disebut kedai. Mengobrol dengan si pemilik, dan menyuruh Nadin bergegas dengan lambaian tangan.


Nadin mengikuti Axel yang berjalan ke sisi lebih dalam dari tempat tersebut. Hingga sampai di sebuah ruangan dengan satu meja makan.


“Tempat ini punya ruangan khusus. Jadi kita aman.”


Nadin pun melepas masker juga topinya. Lalu duduk pada kursi kayu yang ada. Ruangan tersebut tidak terlalu besar, tapi cukup untuk digunakan makan tiga sampai empat orang. Dindingnya diberikan wallpaper bergambar pohon bambu.


“Kayaknya kamu udah sering datang ke sini.”


“Hm…”


“Mungkin awalnya kamu gak biasa makan di tempat kayak gini. Tapi setelah coba masakannya, pasti nagih.”


Nadin tertawa kecil. “Kamu pikir aku anak orang kaya yang gak bisa makan di warung pinggir jalan?”


“Memangnya bukan ya?”


“Dulu sebelum jadi kayak sekarang, bahkan aku gak pernah tahu gimana rasanya steak.”


“Wah, aku gak nyangka. Masa lalumu gak pernah diekspose, sih. Jadi aku pikir sama kayak pacarmu yang emang udah kaya turun temurun.”


“Yah… lebih asik kalau bikin orang bebas berekspektasi soal kita.”


“Sekaligus menyeramkan juga kalau tiba-tiba ada yang kecewa gara-gara itu.”


“Kamu sendiri gimana ceritanya bisa tahu tempat ini? Bukannya justru kamu yang kaya dari lahir?”


Axel tertawa. “Kata siapa?”


“Banyak artikel yang nulis gitu di internet.”


“Kamu diam-diam merhatiin soal aku juga ya.”


“Gak lah! Cuma kebetulan lagi buka aja. Namamu kan sering muncul di trending topic.”


Seorang pelayan masuk setelah mengetuk pintu. Dia membawa satu nampan besar berisi dua soto. Nadin spontan tersenyum saat bau lezat membelai hidungnya.


Mereka pun mulai makan. Axel tak henti menatap wajah Nadin, menunggu seperti apa reaksi wanita tersebut saat mencoba makanan yang dia rekomendasikan.


Setelah menyeruput kuah soto, mata Nadin terbelalak. “Hmm…” ucapnya, mengakui bahwa makanan tersebut memang sangat enak. “Wah, baru sekarang aku lihat kamu jujur,” komentarnya.


Axel kembali tertawa dan lanjut menyantap bagian miliknya dengan semangat. Bukan saja karena rasanya yang lezat, tapi karena dia merasa senang bisa makan bersama seseorang yang spesial baginya.


“Ngomong-ngomong, aku memang baca artikel soal keluargamu di internet. Tapi kayaknya gak ada yang sumbernya langsung dari kamu sendiri. Kayaknya semua menyimpulkan sendiri.”


“Kenapa, kamu mulai tertarik cari tahu soal aku?”


Nadin mengerlingkan mata, dan sedikit menggeram kesal.


“Kan, kamu bilang sendiri. Lebih asik bikin orang membayangkan sendiri soal kita,” tambah Axel.


“Jawabannya gak kreatif.”


“Memangnya kamu berharap jawaban apa? Kalau aku anak dari pemilik kilang minyak yang udah dipastikan bakal kaya tujuh turunan?”


“Ya… siapa tahu?”


“Kalau benar, kamu bakal jadi suka sama aku, gitu?”


“Hei, jangan samain aku kayak cewek-cewek kamu.”


Axel membuka sebungkus kerupuk kulit, dan memberikan beberapa ke atas mangkuk Nadin. “Coba, deh.”


“Eh, aku penasaran, deh. Sebenarnya pacar kamu yang mana, sih? Kenapa di medsos gonta-ganti terus. Gak bosen apa masuk lambe turah terus?”


“Emang siapa yang bilang aku punya pacar, sih?”


“Lha, terus foto-foto mesra itu…”


“Ya elah, jaman sekarang itu yang penting harus bisa viral. Kamu sih, hidupnya lempeng-lempeng aja. Sekali-kali bikin drama sama pacar kamu gitu.”


“Maaf ya, meski aku gak bikin drama, tapi *followers-*nya masih lebih banyak dari kamu.”


“Iya, deh, yang followers-nya sepuluh juta. Padahal kalau bikin sensasi bisa tambah banyak tuh. Pura-pura putus gitu sama pacar kamu.”


“HEH! Suka sembarangan kalau ngomong!”


“Kan, cuma pura-pura. Bener juga gak apa sih sebenernya.”


Nadin memasang wajah kesal, namun tidak membalas apa pun. Dia hanya membuka tempat cabai, dan menumpahkan semua isinya ke dalam mangkok Axel.


“Makan tuh cabe!” sahut Nadin.


“Ampun…” balas Axel yang tampak terkejut, tapi kemudian justru tertawa.