Just A Professional Relationship

Just A Professional Relationship
Episode Dua Belas



Juna masih terdiam untuk beberapa saat di tempat yang sama. Memegangi kepalanya yang mulai terasa panas. Semua hal yang terjadi benar-benar di luar prediksinya. Sesuatu yang paling tidak ingin dia alami. Meski harusnya dia tahu seperti apa resikonya jika memilih untuk bermain api.


Mala tampak gelisah, namun masih menyimpan kekesalan. Perasaannya pun terasa kalut. Melihat reaksi Juna yang masih berusaha untuk mengejar Nadin, membuatnya cemburu. Padahal dia sempat yakin bahwa lelaki tersebut sudah sepenuhnya berpindah hati padanya.


“Ini yang kamu mau?” ucap Mala, sembari berjalan mendekat. “Sudah kuperingatkan berkali-kali, kenapa kamu belum juga beritahu dia?! Mau sampai kapan bikin aku bersembunyi kayak gini?”


“Mala, please. Kita bahas ini nanti,” ucap Juna pelan.


“Dasar egois!”


Wanita itu pun berjalan dengan cepat ke arah lift dengan penuh emosi. Meninggalkan Juna yang berbalik arah dan menuju ke dalam kamar. Dia membanting pintu dengan sangat keras. Melampiaskan kekesalannya pada benda tak berdosa itu.


Untuk beberapa jam, dia berusaha menenangkan diri di tengah keheningan. Duduk di atas sofa, sembari memandang langit malam melalui jendelanya yang lebar. Mencoba untuk memejamkan mata, bermaksud menenangkan diri. Tapi, justru wajah—penuh kekecewaan Nadin yang muncul dalam kepalanya.


Juna sendiri bingung dengan apa yang dia rasakan. Dadanya sesak, sekaligus dipenuhi kekesalan. Bahkan dia sendiri bertanya-tanya, sebenarnya apa yang dia inginkan? Selama ini dia selalu memikirkan sesuatu jauh-jauh sebelum bertindak. Dia selalu memilih jalan yang dianggapnya terbaik. Lalu, apakah ini pun yang terbaik baginya? Juna sendiri tidak bisa menjawab pertanyaan itu.


***


Nadin terbangun dengan kepala yang terasa sakit, dan mata yang membengkak juga panas. Badannya terasa pegal-pegal, karena ternyata dia tertidur di atas lantai. Untuk beberapa saat, dia seakan lupa akan apa yang terjadi tadi malam. Tapi setelahnya, satu per satu ingatan—menyesakkan—mulai muncul. Membuat matanya kembali berkaca-kaca.


Nadin bangkit, terduduk bersandar di samping tempat tidur. Termenung dengan kepala mengawang-awang. Semua yang terjadi benar-benar seperti sebuah mimpi buruk yang panjang—juga terasa nyata.


Semalam, entah berapa lama dia terisak dalam pelukan Axel. Dia bahkan lupa bagaimana caranya hingga Axel berhasil mengantarkannya hingga bisa kembali ke apartemen. Nadin pun baru sadar kalau saat ini dia masih mengenakan baju yang dia pakai kemarin. Hanya sepatunya saja yang sudah terlepas, dan terbengkalai di dekat pintu.


Nadin melirik ke arah jam dinding yang hampir menunjuk ke angka dua belas. Sudah pasti Tyo mencarinya. Tapi, dia terlalu takut untuk mendekati ponselnya yang terdiam di atas kasur. Alhasil, dia terus memandangi benda itu dengan tatapan kosong untuk beberapa saat.


Akhirnya, dahaga berhasil memaksanya untuk bangkit. Nadin melangkah dengan gontai ke arah dapur untuk meneguk segelas air. Lalu membasuh wajahnya yang semrawut di wastafel. Nyaris saja dia tidak mengenali siapa wanita yang ada pada cermin di hadapannya. Berwajah pucat, kelopak mata membengkak, dan dengan warna kehitaman di bagian bawahnya.


‘Kamu yakin baik-baik saja sendiri? Kalau butuh teman cerita, telepon aku kapan saja ya. Aku juga siap kapan pun kamu butuh bantuan. Pokoknya, apa pun yang terjadi, telepon aku, oke!’


Sekelebat bayangan muncul dalam kepalanya. Wajah penuh kekhawatiran Axel yang terus mengajaknya bicara—meski tak dia tanggapi. Nadin bahkan ingat kalau dia seakan tidak mempedulikan Axel dan langsung masuk ke dalam apartemen—seperti robot yang hampir kehabisan baterainya.


Nadin menghela napas dalam-dalam. Dia jadi merasa bersalah pada Axel. Jadi, setidaknya dia hanya akan mengabari Tyo, dan Axel hari ini, pikirnya. Jadi, dia memberanikan diri untuk meraih ponsel, dan membuka aplikasi chat di dalamnya.


Ternyata, ada puluhan misscalled dari Tyo, lima dari Juna. Namun tidak satu pun dari Axel. Lelaki berambut cokelat itu hanya mengirimkan sederet pesan. 'Hpku nyala 24 jam. Jadi kamu bebas mengontakku kapan saja', tulisnya.


Nadin mengetikkan pesan untuk Tyo. Berkata kalau dia merasa tidak enak badan, dan meminta izin supaya jadwalnya dikosongkan untuk beberapa hari ke depan.


Nadin melihat ada pesan masuk dari Juna, namun merasa takut untuk membukanya. Jadi, dia memilih untuk mengabaikannya.


Baru saja Nadin menaruh ponselnya, namun benda itu justru bergetar. Nama Tyo tertera pada layarnya.


“Halo, Bang,” ucap Nadin dengan lemas.


“Astaga, Nadin!! Hampir aja aku kirim polisi ke apartemenmu. Kamu gak apa-apa?”


“Cuma gak enak badan, Bang.”


“Mau aku antar ke dokter?”


“Gak usah, Bang. Aku pengen istirahat aja, sendiri.”


“Jangan lupa makan, minum obat! Istirahat saja dulu sampai kamu baikkan. Nanti aku atur ulang semua schedule-mu.”


“Kalau butuh apa-apa, langsung telepon aku ya!”


Setelah telepon diputus, entah kenapa kesedihan kembali menyeruak dari dalam hati. Nadin bersyukur masih ada orang yang memperhatikannya. Tapi, hal itu justru membuatnya semakin sedih, karena selama ini yang melakukan hal itu adalah Juna. Dan mungkin semua itu akan hilang untuk selamanya, pikir Nadin.


Wanita itu pun terisak. Perlahan mulai meraung, menunjukkan betapa pedih dan sesak yang dia rasa saat ini. Rasanya ingin dia congkel keluar hati dari dalam dadanya. Agar dia tidak perlu merasakan rasa sakit yang benar-benar mengganggunya.


***


Sejak pagi, Juna tidak berhenti mengecek pesannya yang tak kunjung terbalas. Bahkan dibaca pun tidak. Sedikitnya membuat dia tidak bisa fokus untuk bekerja hari ini.


Juna pun meminta izin untuk pulang lebih awal. Meng-cancel pekerjaannya, hanya untuk pergi ke Athena. Berharap bisa menemui Nadin di sana. Tapi tentu saja dia tidak mendapatkan apa yang dicari. Tyo memberitahu bahwa Nadin sakit dan akan beristirahat beberapa hati. Dia pun meminta Juna untuk menengok Nadin ke apartemennya.


Lelaki itu pun lekas berjalan menyusuri koridor, bermaksud untuk pergi dan menuju tempat tinggal Nadin. Namun, dia sama sekali lupa bahwa ada orang yang tengah memburunya. Melangkah ke hadapannya dengan tatapan penuh kebencian.


“Ngapain lo ke sini?”


Kemunculan Axel yang tiba-tiba membuat langkah Juna terhenti. Dia bermaksud untuk tidak peduli dan lanjut berjalan, hanya saja koridor tersebut terlalu kecil—hingga tidak mungkin Axel bisa dilewati tanpa perlawanan.


“Kau sendiri ada urusan apa ke tempatku kemarin?”


“Huh,” Axel mendengus. “Anggaplah petunjuk dari Tuhan untuk membongkar kebusukan seseorang.”


“Wah… Kau orang yang terlalu cepat menyimpulkan.”


“Apa gue gak salah denger? Apa yang bisa disimpulkan dari orang yang bermesraan sama cewek yang bukan pacarnya.”


“Kau sendiri sedang apa bersama pacar orang lain tadi malam?”


“Lo pinter ngomong ya rupanya.”


“Cara terbaik untuk menghadapi orang sepertimu. Hanya punya otot. Tapi otaknya? Tidak ada.”


“Kurang aja…”


“Aku hanya akan peringatkan sekali ini saja. Berhenti mencampuri hidup orang lain. Atau karirmu akan hancur.”


Juna jauh lebih unggul jika soal mengatur emosi. Axel bisa terpancing dengan mudah. Hingga dia memutuskan untuk menghajar Juna yang bergeming di tempatnya. Hingga lelaki itu terjungkal, menabrak pot bunga besar yang langsung hancur berkeping-keping di atas lantai.


Kebisingan berhasil mencuri perhatian beberapa orang yang ada di dekat sana. Untung saja Ramos lebih dulu datang, sebelum Axel menyerang Juna dengan semakin brutal. Entah kenapa Juna tidak tampak berusaha untuk melawan. Hanya pasrah dirinya dihantam oleh kepalan tangan Axel, yang sudah pasti menyakitkan.


“Axel! Cukup!” Ramos berlari dan menarik badan Axel.


Ve dan Bintang baru saja sampai, dan sempat terdiam karena terkejut. Beberapa staf pun mulai muncul, mereka membantu Juna yang tampak terluka—tanpa tahu apa yang baru saja terjadi.


“Gue bunuh lo, Anjing!” bentak Axel, sebelum Ramos menariknya—menuju ruangan tempat mereka biasa berlatihan.


Untuk beberapa saat sebelum pergi, Ramos sempat melirik ke arah Juna—yang terduduk di atas lantai dengan kepala menunduk. Meski tipis, tapi dia bisa menangkap bibir lelaki itu yang sedikit tersungging. Menyisakan sebuah misteri dalam benaknya.


Ramos memberikan handuk basah yang Axel gunakan untuk menutupi wajahnya. Beberapa kali dia menggeram sembari mengepalkan tangan. Merasa belum puas menghajar musuhnya. Siapa pun yang melihat Axel, sudah pasti akan merasa takut. Bahkan member Hybrid lain tidak ada yang berani mendekat.


Namun tidak begitu dengan Ramos. Yang dia lihat bukanlah seseorang yang sedang dipenuhi amarah, melainkan seorang lelaki yang tengah menangis meraung-raung.