Just A Professional Relationship

Just A Professional Relationship
Episode Dua Puluh Empat



Sudah lima belas menit Nadin terdiam di depan cermin panjangnya. Memastikan berkali-kali kalau baju yang dia pakai benar-benar cocok. Gaun terusan selutut berwarna biru tua. Dihiasi dengan kain brukat di beberapa sisi. Simple namun tetap elegan dan sangat cocok dengan kepribadian Nadin yang sederhana.


Sebenarnya tidak ada yang salah dari pakaian yang digunakan. Hanya saja, Nadin jarang sekali mendatangi acara ulang tahun, apalagi yang berlokasi di sebuah bar. Kalau saja Marco tidak mengundangnya langsung, mungkin dia memilih untuk tidak pergi.


Ponsel Nadin bergetar. Dia meraih benda tersebut dari atas kasur dan menyadari kalau lima belas menit lagi acara akan dimulai. “Aduh!” keluhnya. Dia bahkan tidak sadar sudah berdandan lebih dari satu jam.


“Iya, Xel?”


“Kamu udah di jalan?” tanya Axel dari balik telepon. Suaranya hampir tertutupi dengan musik yang cukup kencang.


“Em… iya, macet, nih.”


Nadin bergegas meraih tasnya dan berjalan cepat menuju pintu keluar. Taksi yang dia pesan bahkan sudah menunggu sejak tadi di depan lobi.


“Kok kamu kayak lagi ngos-ngosan gitu? Masa kamu lari supaya gak kena macet?” Axel tertawa. Dia tahu kalau Nadin sedang berbohong.


“Udah ya. Nanti aku kabarin kalau udah sampai.”


“Oke. Hati-hati.”


Perjalanan memang benar-benar macet. Tidak aneh karena malam minggu seperti ini banyak orang yang sedang bepergian dengan keluarga atau kekasihnya. Sama seperti Nadin sewaktu masih berpacaran dengan Juna. Jarang sekali mereka melewatkan malam minggu sendirian. Kalaupun benar-benar berhalangan, setidaknya mereka akan tetap bertukar kabar barang satu jam lewat telepon.


“Huff…” Nadin mengembuskan napas. Entah kenapa dia jadi sedikit hilang mood karena terbayang soal masa-masa pacarannya. Langsung dia lupakan bayang-bayang itu dari dalam kepalanya.


Di sebuah klub yang namanya sudah sangat terkenal di ibu kota, perjalanan Nadin berakhir. Dia sempat memandangi gedung tinggi di hadapannya sebelum memberanikan diri untuk masuk. Entah kenapa dia merasa agak takut untuk melangkahkan kaki ke dalam sana sendirian. Tapi, dia segan jika harus meminta Axel untuk menjemputnya.


“Kenapa, kok gak masuk?” Suara seseorang cukup mengejutkan Nadin. Tiba-tiba saja orang yang dia pikirkan muncul entah dari mana.


“Lho, kok kamu di luar?” tanya Nadin pada Axel yang datang mendekat. Lelaki itu tampak berdandanan seperti dia yang biasa. Tapi kali ini seakan ada sesuatu yang membuatnya tampak lebih menawan.


“Nungguin kamu datang.”


“Ngapain?”


“Gak tau sih, tapi tiba-tiba kepikiran kalau kamu bakal takut masuk ke tempat kayak gini. Gak taunya bener, kan?” ucap Axel sembari nyengir.


“Enggak, tuh,” sangkal Nadin. Padahal perkataan barusan sangatlah tepat. Tapi dia terlalu malu untuk mengakuinya.


Axel pun mengajak Nadin masuk. Ke dalam tempat yang baru pertama kali dia kunjungi.


Setelah melangkah masuk ke dalam gedung, sudah mulai terdengar suara alunan music disko yang cukup memekakan telinga. Disertai dengan kerlap-kerlip lampu berwarna-warni.


Semakin menuju ke dalam ruangan, semakin meriah suara yang terdengar. Kini Nadin pun sudah bisa melihat kumpulan orang-orang yang tengah menari di depan panggung. Seorang DJ sedang memainkan peralatannya yang sama sekali tidak Nadin kenali namanya. Orang itu adalah Marco, orang yang sedang berulang tahun hari ini.


“Sudah siap buat bersenang-senang malam ini??!” teriak Marco. Lalu dibalas dengan sorak sorai orang-orang yang ada.


Melihat semua itu cukup membuat Nadin terpukau. “Waww…” serunya pelan.


Nadin mulai melangkah menuju ke kerumunan. Cukup membuatnya kesulitan berjalan di tengah orang-orang yang menari di sekitarnya. Dia jadi agak menyesal sudah memilih untuk memakai heels. Kalau tahu seperti ini, mungkin akan lebih enak jika dia pakai stelan celana jeans dan sepatu kets saja, pikirnya.


Nadin berusaha keras untuk tidak bertabrakan dengan orang lain. Tapi seseorang yang menari seperti kesetanan tidak sadar sudah membuatnya hampir terjatuh. Untung saja Axel ada di sana dan langsung mencengkeram lengannya. “Hati-hati,” ucapnya. Dia segera menggenggam tangan Nadin untuk menjaganya agak tidak kembali terjatuh.


“Hei, Nadin!” sambut para member Hybrid yang lain.


“Kirain si Axel ke mana. Gak taunya jemput orang,” celetuk Bintang.


“Lo gak tau aja ini anak kalau dibiarin sendiri, kayaknya udah jadi rempeyek di tengah sana,” balas Axel.


“Apaan sih, lebay ah!” Orang yang dibicarakan langsung protes. “Tapi aku baru pertama kali sih datang ke tempat kayak gini.”


“Masa sih, Kak? Sama sekali gak pernah?” Grey tampak tidak percaya.


Nadin menggeleng. “Yup.”


“Wah, kalau gitu harus diospek dulu, dong. Nih, buat Kak Nadin.”


Grey memberikan segelas minuman berwarna biru muda yang cantik kepada Nadin. Dia yang sama sekali tidak tahu apa itu, hanya memperhatikan sebelum berniat untuk meminumnya. Namun, Ramos lebih dulu merebut gelas itu dari tangan Nadin.


“Grey, jangan macam-macam kamu!” tegur si ketua. “Sebelum minum sebaiknya kamu pastikan minumannya ada alkoholnya atau tidak ya.”


“Uhh… Kak Ramos emang yang terbaik,” seru Nadin, sembari memeluk lengan Ramos yang ada di sampingnya.


Hal itu membuat Axel langsung bereaksi. Dia menarik lengan Nadin agar menjauh dari Ramos. “Hati-hati juga sama cowok kayak Kak Ramos. Dia diam-diam menghanyutkan…”


Di tengah obrolan keenam orang tersebut, sepasang mata memicing dari kejauhan. Sherin tampak memperhatikan Nadin sejak wanita itu sampai di tempat tersebut. Dia pun segera menuju ke arah kumpulan teman-temannya dan membisikkan sesuatu.


Sherin dan empat orang teman perempuannya mendatangi meja Hybrid. “Ya ampun! Gak nyangka aku bisa ketemu langsung sama kalian di sini!” ujar salah satu wanita bergaun hitam.


“Ih, mau ikutan ngobrol, dong!” sambung wanita yang lainnya.


Kelima orang yang tiba-tiba datang itu pun menginterupsi pembicaraan tanpa merasa bersalah. Lalu tiba-tiba turut duduk di dekat kelima anggota Hybrid. Membuat Nadin mulai merasa risih. Dia pun memisahkan diri dari tempat tersebut.


Tentu Axel sadar kalau kedatangan para wanita tidak dikenal itu membuat Nadin tidak nyaman. Dia pun berusaha untuk pergi menyusul, namun Sherin terus memaksanya untuk tetap di sana. Hingga tangannya ditarik cukup kencang saat hendak berdiri.


“Bisa gak, gak perlu pegang-pegang kayak gitu?” ucap Axel dengan dingin. Sorot matanya benar-benar membuat Sherin merasa seram dan menyerang dengan melepaskan genggamannya.


Axel pun berjalan ke arah Nadin dan berdiri sembari menonton penampilan Marco dari kejauhan. “Kamu yakin gak mau pergi aja dari sini?”


“Gak apa. Lagian aku belum ngucapin selamat ke Marco. Aku mau nunggu dia turun dari panggung dulu.”


Sherin masih terus menatap ke arah Nadin dan Axel. Lalu dia berdiri dan melambaikan tangan ke arah panggung. Seseorang yang berdiri di belakang Marco, membisikkan sesuatu ke arah DJ tersebut.


“Teman-teman, malam ini kita kedatangan boyband terkenal yang namanya sudah gak asing lagi. Gimana kalau kita minta mereka buat naik ke atas panggung?”


Lampu sorot tiba-tiba mengarah ke arah tempat duduk para member Hybrid. Semua orang pun menoleh ke arah yang sama sembari bertepuk tangan.


“Aku sebagai orang yang berulang tahun hari ini meminta langsung kepada semua member Hybrid untuk naik ke atas panggung!”


Semua orang pun bersorak. Lalu mulai menyerukan nama Hybrid berulang kali. Membuat Ramos tidak bisa menolak ajakan itu dan mengajak semua rekannya untuk pergi ke panggung. “Ayo, Xel!” ajaknya, kepada Axel yang masih berdiri di dekat Nadin.


Axel masih tampak ragu karena harus meninggalkan Nadin sendirian. Namun tentu saja Nadin tidak keberatan dan mulai mendorong punggung lelaki tersebut.


Akhirnya, para member Hybrid pun bergabung bersama Marco. Sementara Nadin masih tetap di tempatnya, sembari menyemangati dari kejauhan. Hal itu membuat Sherin tersenyum. Seakan keadaan berjalan sesuai dengan yang dia inginkan.