
Sinar mentari menyelinap dari balik tirai. Membangunkan Axel yang terlelap di atas sofa ruang tengah. Tidak lama setelah memindahkan Nadin yang tertidur ke dalam kamarnya, Axel pun terlelap dengan cepat. Mungkin karena kemarin menjadi hari pertamanya yang dipenuhi tangisan. Agak membuatnya tak menyangka kalau menangis ternyata bisa menghabiskan tenaganya.
Axel terduduk dengan lesu. Tidurnya tidak bisa nyenyak, akibat berkali-kali terbangun akibat isakan tangis yang berasal dari kamar Nadin. Tapi dia hanya bisa mendengarnya tanpa berbuat apa-apa. Lalu kembali mencoba memejamkan mata.
Setelah bangkit, tempat yang dia datangi pertama kali adalah dapur. Mengecek bahan masakan yang ada di sana. Kelihatannya semua sangat lengkap. Sepertinya Nadin selalu menyimpan bahan makanan untuk beberapa hari ke depan.
Saat mendapati ada sisa nasi dalam rice cooker, Axel langsung memutuskan untuk membuatkan nasi goreng dan telur dadar. Rasanya sudah cukup lama dia tidak memegang alat-alat masak. Padahal, dia memiliki bakat yang diturunkan dari sang ayah. bahkan sebelum bergabung dengan Hybrid, dia pun sempat menjadi koki di kedainya.
Nadin yang saat itu masih terlelap, dibangunkan oleh suara bising dari arah dapurnya. Bau harum dari masakan pun membelai hidungnya. Sesaat membuatnya berpikir bahwa sang ibu ada di sana dan tengah menyiapkan sarapan seperti biasa.
Wanita itu pun bangkit dengan cepat, dan keluar dari dalam kamarnya.
“Ibu?” gumamnya pelan.
Untuk beberapa saat dia termenung, perlahan membuatnya tersadar bahwa sosok yang dia lihat bukanlah sang ibu.
Axel menoleh dan tersenyum saat melihat Nadin yang berdiri di depan kamarnya. “Pagi, Nadin,” ucapnya. Meski tak terbalaskan.
Akhirnya, dia meninggalkan kompor hanya untuk menggiring Nadin hingga terduduk pada kursi di meja makan. “Tunggu ya, sebentar lagi beres.”
Nadin masih terdiam. Sedikit kecewa karena kenyataan tidak berpihak padanya. Dia masih belum sepenuhnya sadar. Masih merasa mengawang dan merasa belum terbangun dari mimpinya.
Perhatiannya baru tercuri kala Axel menaruh makanan yang sudah dia buat di atas meja makan. Sepiring nasi goreng, dan telur dadar berwarna hitam. Nadin cukup terkejut melihatnya, hingga dia melirik ke arah Axel dengan cepat.
Lelaki itu hanya tersenyum dengan bangga dan percaya diri dengan masakannya. Lalu duduk pada kursi yang berseberangan dengan Nadin. “Ayo makan. Kamu pasti suka.”
Nadin meraih sendok dengan ragu. Lalu langsung tertuju pada telur dadar hitam dan melahapnya. Tak lama, air matanya mulai mengalir, dan semakin deras. “I-ibu…” ucapnya dengan suara bergetar.
Axel tidak terlalu terkejut melihat reaksi wanita di hadapannya itu. karena, dia memasak telur itu pun atas saran dari ibu Nadin. Axel diberitahu banyak hal soal apa yang Nadin suka, dan yang Nadin benci. Dan salah satunya adalah, telur dadar kecap yang barusan dia buat.
Axel mengulurkan tangan dan mencondongkan tubuhnya ke depan. Dia mengusap pipi Nadin yang terbasahi air mata, meski tak lama akan kembali seperti itu. “Lanjut lagi yuk, makannya.”
Seharian, kegiatan Nadin tidak lebih hanya sebatas diam di kamar, ke toilet, lalu kembali lagi ke kamarnya. Sementara Axel, terus berjaga sembari menonton tv atau bermain ponsel. Sebenarnya dia harus pulang, setidaknya untuk mengambil beberapa baju ganti. Tapi dia terlalu khawatir untuk meninggalkan Nadin sendirian. Alhasil, dia meminta Rina untuk datang mengantarkan barang bawaannya.
Saat mendengar suara pagar dibuka, Axel langsung menuju ke arah depan. Dan mendapati Rina yang tengah menyeret sebuah koper besar.
“Astaga, kamu mau ngusir kakak atau gimana? Perasaan kakak gak minta baju sebanyak ini.”
“Kata ibu, Kak Dion gak pulang juga gak apa-apa,” jawab Rina. Tentu saja dia bercanda.
Axel membawa masuk kopernya, diikuti oleh Rina yang tampak mencari-cari sesuatu. “Kak Nadin di mana?”
“Lagi di kamarnya.”
“Dia gak apa-apa, Kak?”
“Pasti kenapa-napa, lha. Jangan diganggu ya!”
Rina pun duduk di sofa depan tv. Menunggu sang kakak yang membawakannya segelas jus dingin. “Kak Dion udah kayak yang punya rumah ini aja.”
“Udah cepet minum, habisin, terus pulang.”
“Iya, iya!”
Rina pun meneguk minumannya. Sementara sang kakak duduk di sampingnya sembari menonton tv.
“Kak.”
“Hm?”
Axel tiba-tiba tersedak dan terbatuk, padahal dia tidak sedang meminum apa pun. Wajahnya tiba-tiba terasa memanas. “Heh, ngomongnya suka seenaknya gitu.”
“Ya emang kenapa, sih…”
Setelah singgah selama satu jam, akhirnya Axel bisa mengusir Rina dengan susah payah. Akhirnya keadaan pun kembali tenang. Tapi, dia jadi mulai bingung harus melakukan apa.
Axel pun berjalan-jalan, memperhatikan seisi rumah. Bahkan baru menyadari keberadaan sebuah lemari yang dipenuhi dengan bingkai foto. Meski ada beberapanya yang terjatuh. Lebih tepatnya, memang sengaja dibiarkan terjatuh.
Saat melihat foto tersebut, dia langsung tahu alasan kenapa si pemilik tak berniat untuk membenarkan posisinya. Karena wajah Juna terdapat di dalam seluruh foto tersebut.
“Huh, kenapa gak dia buang aja sekalian fotonya.”
Axel hendak pergi dari tempatnya berada, namun seketika berhenti saat mendapati sesuatu di samping lemari kayu. Ada sebuah gitar yang dibungkus dengan sarungnya—yang cukup berdebu. Saat mengecek isinya, gitar yang ada di sana masih tampak bagus.
Axel pun membawa benda tersebut, dan kembali duduk di atas sofa. Mulai memetik satu per satu sinar gitar, sembari membenarkan suaranya yang agak fals.
Saat itu dia menyadari ada ukiran di bagian bawah gitar yang berbunyi ‘Happy Birthday. J.A’. Lagi-lagi, Axel langsung tahu kenapa Nadin seakan tak peduli kalau benda itu dipenuhi oleh debu sekali pun.
“Lo lagi, lo lagi…”
Tangan Axel yang terampil, mulai memainkan nada-nada lembut sembari bersenandung pelan. Membuatnya cukup rindu kepada saat-saat dia masih rutin bernyanyi di atas panggung.
Nadin mendengar dengan jelas alunan melodi dan suara merdu itu. Sedikit mengobati perasaannya yang asih tidak karuan. Membuatnya langsung terlelap, dan terbangun saat malam, di tengah keheningan.
Kondisi kamarnya gelap gulita. Dia bahkan tidak ada keinginan untuk menyalakan lampu. Hanya suara televisi yang bisa dia tangkap dari luar kamar. Mendadak membuatnya rindu akan nada-nada indah yang tadi sempat dia dengar.
Nadin pun keluar dari kamarnya. Seperti biasa, Axel menyambutnya dengan senyuman. “Kamu lapar? Aku sudah buatkan makanan,” ucap lelaki itu.
Tanpa bicara sepatah kata pun, Nadin berjalan lemas dan duduk di samping Axel.
“Mau aku ambilkan makanannya ke sini?” tanya lelaki itu, sembari bermaksud untuk pergi ke dapur.
Akan tetapi, Nadin menarik bajunya, lalu menggelengkan kepala. Axel pun kembali duduk. Menatap lekat wajah Nadin yang tampak pucat, dengan rambutnya yang agak kusut.
“Bisa mainkan gitar buatku?” pinta Nadin.
Axel kembali meraih gitar yang dia simpan di samping gitar, lalu mulai memetik senarnya. “Mau lagu apa?”
“Apa aja.”
Lelaki itu berpikir sesaat, sebelum jarinya mulai menari dengan lincah. Mengalunkan melodi yang membuat Nadin merasa tenang.
Axel pun memperdengarkan suaranya yang lembut. Menyanyikan lagu manusia bodoh dari Ada Band yang sangat dia sukai. Membawanya kembali kepada saat-saat dia masih bersekolah dulu.
Masih sembari menyanyi, Axel melirik ke arah Nadin di sampingnya, yang tampak bersandar pada sofa sembari menutup mata. Meski tipis, namun bibirnya sedikit menyunggingkan senyuman. Membuat Axel merasa agak lega.
Tiba-tiba, tangan Axel terhenti saat kepala Nadin bersandar pada pundak sebelah kirinya. Dia pikir Nadin tertidur. Tapi, matanya langsung kembali terbuka dan melirik ke arah Axel yang tampak bingung.
“Kenapa berhenti?”
“Aku pikir kamu tidur.”
“Enggak…”
Axel pun tertawa kecil. Lalu melanjutkan nyanyiannya, sembari membiarkan wanita di sampingnya tetap bersandar pada bahunya.