Just A Professional Relationship

Just A Professional Relationship
Episode Tiga Puluh Tujuh



“Axel!!! Bang Tyo bilang, temannya mau ngekontrak lagu kita!” Nadin berbicara kencang sekali, sehingga Axel agak menjauhkan ponsel dari telinganya.


“Wah, yang benar?”


“Iyaa!! Baru aja aku dikasih tau. Dan kita diminta ke sana siang ini juga!”


“Oke. Nanti aku jemput kamu ya.”


“Iyaa!! Jangan sampai telat ya!!”


Axel sedikit tertawa mendengarnya cara bicara Nadin yang mirip anak kecil itu. Membuatnya senang sekaligus lega, karena kini temannya itu sudah bisa kembali menjadi diri dia yang biasa.


Nadin bersemangat sekali saat mendapat kabar dari Tyo. Dia sangat tidak menyangka kalau lagu yang dia ciptakan bersama Axel akan dipinang oleh sebuah label rekaman.


Awalnya, hal tersebut bermula saat Tyo datang ke kafe. Setelah tahu kalau Nadin dan Axel sedang membuat lagu, dia sangat antusias dan langsung bilang akan memperkenalkan mereka kepada temannya yang bekerja di sebuah label rekaman.


Tentu Nadin merasa pesimis, apalagi setelah dia mundur dari industri hiburan dengan nama yang kurang baik. Tapi, teman Tyo tetap menyambutnya dengan ramah, tanpa mempedulikan seperti apa masa lalunya.


Lewat seminggu setelah menyerahkan lagu demo yang dibuat dengan alunan music dari gitar yang Axel mainkan, hari ini Tyo memberikan kabar yang luar biasa mengejutkan.


Sedikitnya, Nadin memang merasa rindu dengan hari-hari ketika dia masih menjadi seorang penyanyi. Meski tidak setenar dulu, setidaknya dia masih ingin memperdengarkan suaranya kepada banyak orang.


***


“Selamat datang, Nadin, Dion. Maaf ya, tempat kami tidak sebesar yang kalian bayangkan.” Seorang lelaki muda menyambut para tamunya. Dari penampilannya, dia tidak terlihat seperti orang yang sudah berumur hampir kepala empat. Dia menggunakan kaos dan celana longgar, serta sebuah kupluk cokelat tua. Benar-benar seperti anak muda.


“Enggak kok, Kak. Justru kami senang sekali sudah diundang ke sini,” balas Nadin kepada lelaki bernama Zendra itu.


“Terima kasih juga sama Tyo. Kalau bukan karena dia, aku tidak akan menemukan lagu kalian.”


Perusahaan tersebut memang tidak terlalu besar. Namun mereka sedang terus berkembang dengan mengeluarkan lagu-lagu yang cukup dikenal dan banyak dinikmati. Orang-orang yang bekerja di sana kebanyakan anak muda. Sehingga tidak aneh kalau lagu-lagu mereka selalu bisa mengikuti perkembangan jaman, dan laku di pasaran.


“Aku agak kaget waktu tahu itu kamu. Sebenarnya dari lama aku merasa sayang sewaktu tahu kamu berhenti jadi penyanyi. Suara kamu itu terlalu mubazir kalau disia-siakan.”


Nadin melirik ke arah Axel sembari tersenyum. Lelaki tersebut pun balas tersenyum, sembari mengacungkan jempolnya.


“Seharusnya lagumu akan laris dengan cepat, menurutku. Apalagi namamu kan dikenal banyak orang,” tambah Zendra lagi.


“Eh, tapi, Kak. Kayaknya aku gak mau pakai nama asli sewaktu rilis lagunya…” sahut Nadin dengan cepat.


“Lho, kenapa?”


“Aku justru gak mau orang-orang dengar lagu ini hanya karena tahu kalau yang menciptakannya itu aku.”


“Hmm…” Zendra tampak berpikir sesaat. “Bisa saja, sih. Oke, kamu tentukan saja mau pakai nama apa nanti.”


“Oke, Kak. Makasih!”


Hari itu, Nadin benar-benar tak henti tersenyum senang. Bahkan dia sedikit melompat-lompat kecil saat berjalan. Kadang bersenandung riang.


Setelah empat hari menginap di rumah Nadin, Axel pun memutuskan untuk pulang. Dia sudah merasa lega karena wanita tersebut sudah jauh lebih baik. Namun dia tetap memastikan keadaan tetap aman selepas dia pergi, melalui telepon ataupun pesan.


“Girang banget sih, daritadi,” celetuk Axel. “Kayak anak tk habis dapat hadiah.”


“Biarin…”


“Eh, mau makan apa kita?”


“Apa aja, terserah kamu. Makan di kedai ayahmu juga gak apa.”


Nadin pun melompat naik ke atas motor, setelah Axel. Lalu mereka melesat ke arah jalan pulang. Akan tetapi, hujan terlanjur turun sebelum mereka sampai. Sehingga Axel memutuskan untuk melipir, di dekat sebuah mini market.


“Aman, kok. Basah dikit doang.”


Hujan pun bertambah deras saat mereka baru saja berteduh di bawah atap minimarket.


“Tunggu ya, aku beli minum dulu.”


“Oke.” Nadin mengangguk.


Axel pun membeli dua gelas teh hangat, dan bergegas kembali ke tempat Nadin berada. Saat itu, langkahnya sempat terhenti untuk beberapa waktu. Axel melihat Nadin yang tengah berdiri, menatap ke arah tembok. Masalahnya, dia baru sadar kalau di tempat tersebut terpasang berbagai poster, di mana salah satunya menampilkan sosok Juna.


Lagi-lagi, Axel harus melihat ekspresi yang tidak dia sukai. Tatapan Nadin yang seakan masih memancarkan harapan untuk bisa bertemu dengan orang itu.


“Nih, buat kamu.”


Nadin bergegas membalikkan badan saat mendengar suara Axel. Dia tidak ingin lelaki itu tahu apa yang sedang dia pandangi sedari tadi. Meski sebenarnya Axel sudah lebih dulu menyadarinya.


“Makasih ya.”


Keduanya pun berdiri, menatap hujan, sembari menikmati teh hangatnya. Beberapa saat terdiam tanpa kata. Padahal belum lama, mereka tampak asik bercanda dengan riang. Tapi keadaan mendadak berubah hanya karena sehelai poster yang bahkan hampir termakan oleh waktu.


“Aku bersyukur banget bisa ketemu kamu, Xel,” ucap Nadin, sembari masih tetap menatap jauh ke tengah rintikan hujan. “Awalnya aku ngerasa kamu bukan orang yang bisa dipercaya. Dan setelah ngerasa dikhianati sama orang yang dulu aku pikir segalanya buatku, aku jadi makin susah buat percaya sama orang lain. Tapi, pandanganku sudah benar-benar berubah. Sekarang, justru kamu orang yang paling bisa aku percaya.”


Nadin menoleh dan menatap Axel yang berdiri di samping kirinya. “Kamu benar-benar bisa aku percaya, kan? Kamu gak akan bohong, atau menyembunyikan apa pun dari aku?” tanyanya sembari tersenyum penuh ketulusan.


Mulut Axel sedikit terbuka. Ada kata-kata yang hendak dia ucapkan. Namun, seketika tertahan dalam tenggorokan. Dia pun mengembalikan pandangan ke depan, dan sedikit tertunduk.


Perubahan ekspresi itu tentu membuat Nadin bertanya-tanya. Apa yang membuat Axel tidak yakin untuk menjawab pertanyaan yang menurutnya tidak sulit itu? Apa karena sebenarnya ada yang disembunyikan oleh lelaki itu? Kalaupun ada, soal apa?


“Kamu kenapa?” tanya Nadin. Mulai merasa cemas.


“Maaf. Kayaknya aku belum bisa jadi orang yang sesuai harapanmu itu.”


“Maksudnya?”


“Aku belum benar-benar jujur sama kamu. Masih ada hal yang aku sembunyikan.”


Hujan masih turun dengan lebat. Tidak tampak memiliki keinginan untuk berhenti dalam waktu dekat. Hanya saja waktu kehadirannya terasa kurang tepat. Karena justru memunculkan perasaan gelisah yang tidak diharapkan untuk datang.


Axel menghela napas dalam-dalam. Wajahnya seketika terlihat seakan menyimpan beban yang begitu berat. Dan kali ini, dia tidak tahan untuk menopangnya seorang diri.


“Mungkin aku akan dibenci karena menceritakannya. Entah oleh kamu, atau oleh orang itu.”


“Aku gak ngerti apa yang kamu bilang. Dibenci oleh siapa? Soal apa?”


Axel pun memberanikan diri untuk menatap Nadin yang menghunuskan tatapan penuh harap padanya. Dia pasti tersiksa oleh rasa penasaran, karena Axel terus menggantung perkataannya.


“Apa kamu percaya kalau aku bilang, Juna sempat menemuiku sebelum dia pergi?”


Ekspresi penuh keterkejutan seketika muncul dari wajah Nadin. Dia menutup mulutnya dengan tangan seraya tidak percaya dengan apa yang didengar.


“Juna? buat apa?”


“Dia memintaku melakukan sesuatu untuknya. Sesuatu yang belum seharusnya aku ceritakan.”


Nadin langsung mencengkeram lengan jaket Axel. Bahkan gelas kertas yang semula dia genggam pun dibiarkan terjatuh begitu saja.


“Tolong ceritakan semuanya… dan jangan tutupi apa pun dariku.”