Just A Professional Relationship

Just A Professional Relationship
S2 - Episode Tujuh Belas



Nadin masih terlelap saat salah satu pengawal Frans mengetuk pintu apartemennya. Padahal dia merasa baru saja tidur beberapa jam, tapi sudah harus dipaksa bangun. Meski sebenarnya matahari memang sudah meninggi di luar.


Si pengawal berwajah datar itu datang untuk menjemput Nadin, atas instruksi dari sang atasan. Membawa wanita tersebut ke sebuah gedung megah yang merupakan kantor dari Frans.


Di depan ruangan bertuliskan ‘Director’, langkah Nadin terhenti. Dia baru berani masuk setelah si pengawal membukakan pintu.


Saat itu Frans masih terduduk tenang di balik mejanya. Lalu menghentikan kegiatan setelah sadar Nadin sudah sampai. Dia pun lekas berdiri dan berjalan mendekat.


Wajah Frans yang sangat serius, ditambah tatapan yang memicing dari mata tajamnya, tak pernah gagal membuat Nadin merasa seram. Semua itu membuatnya berpikir kalau mungkin saja Frans tahu apa yang sudah dia lakukan bersama Stefan. Dan hari ini lelaki itu akan memberikan hukuman.


“Kau memang orang yang gak pernah bisa diam ya. Selalu melakukan sesuatu tanpa memberitahu.”


Kata-kata Frans membuat Nadin agak kesulitan menelan ludah. Untuk beberapa saat, dia merasa yakin kalau ulahnya sudah diketahui.


“Tapi kali ini kamu benar-benar membuatku senang,” sambung Frans lagi. Dia sedikit tersenyum.


“Aku gak merasa melakukan apa-apa.”


“Tentu


saja kamu belum tahu. Karena belum lama Dwiyatno menelepon dan bilang akan mulai kembali berbisnis denganku.”


“Oh…”


“Dia bilang aku harus berterima kasih kepadamu.”


“Memang itu kan, yang kamu mau?”


“Ya! Tentu saja. Berbisnis dengan Dwiyatno itu seakan membuka peluang untuk bisa meraup keuntungan lebih besar!”


Kebahagiaan tampak jelas pada wajah Frans. Seakan mengatakan bahwa tujuannya telah tercapai. Hal itu juga yang memberikan harapan bagi Nadin untuk mencari jalan keluar dari sana.


“Kalau begitu, tugasku sudah selesai, kan? Kau sudah dapat apa yang kau mau. Hanya tinggal berikan apa yang aku mau.”


“Tentu. Apa yang kamu mau? Kapal pesiar pun akan aku belikan.”


“Aku gak butuh apa pun selain kebebasan. Cukup biarkan aku untuk pergi.”


Tawa Frans meledak seketika saat mendengar perkataan barusan. Padahal wanita di hadapannya itu sama sekali tidak sedang bercanda.


“Sudah pasti aku gak bisa memberikan yang satu itu.”


“Bukannya kamu sudah janji akan memberikan sesuatu yang aku pinta setelah tujuanmu tercapai?!”


“Lho, memangnya kamu pernah bilang ingin meminta kebebasan? Kamu yang kita sepakati itu hanyalah keselamatan dari laki-laki itu, kan? Kamu hanya meminta supaya aku gak menyentuhnya sama sekali. Itu saja.”


Nadin pun terdiam. Tentu dia ingat benar apa yang dulu sempat dia katakan. Namun, di satu sisi Frans sangat licik. Dia sadar benar dulu Nadin berkata seperti itu karena keadaan yang memang sedang menyudutkan Axel. Sehingga yang terpikirkan oleh Nadin hanyalah bagaimana agar Axel tidak perlu terluka. Bahkan dia tidak sempat memikirkan kebebasannya sendiri.


“Lagipula apa sih yang kurang dariku? Gak pernah ada wanita yang bisa menolakku selama ini.”


Frans menarik pinggang Nadin sehingga mereka berdua berdiri sangat berdekatan. Lalu mendekatkan bibirnya ke arah telinga Nadin. Sedikit mengendus harum sampo yang masih melekat apda rambut wanita tersebut. “You’re


mine now,” bisiknya.


***


“Sudah kubilang jangan mendadak datang. Aku kan gak selamanya ada di sana.”


Stefan berbicara melalui telepon dengan Axel—yang tiba-tiba sudah berada di depan pintu apartemennya. Padahal saat ini dia sedang menuju ke suatu tempat dengan mobilnya.


“Entahlah, aku belum lama berangkat. Aku hubungi lagi nanti kalau sudah pulang.”


“Nanti ak… en… ti…” Suara Axel terputus-putus karena sinyal mendadak memburuk. Mungkin efek dari hujan yang turun dengan cukup lebat. Akhirnya, panggilan pun terputus.


Sembari masih tetap menyetir, Stefan mengetikkan pesan dengan tangan kirinya. Matanya sesekali melirik ke arah ponsel. Sebuah keteledoran yang bisa jadi sangat berbahaya. Karena itu juga, hampir saja dia menabrak seseorang yang tengah menyeberang jalan.


Jarak pandang Stefan terhalangi oleh air hujan yang tak kunjung mereda. Dia sangat terkejut saat tiba-tiba seorang wanita berdiri di tengah jalan, dan nyaris tertabrak oleh mobilnya.


Stefan pun langsung membanting stir ke arah kiri, sembari menginjak pedal rem dalam-dalam. Untung saja tepian jalan tersebut cukup luas. Jadi dia tidak perlu terluka, hanya cukup merasa shock hingga tak sanggup melakukan apa-apa untuk beberapa saat.


Stefan melirik kea rah kaca spion untuk melihat ke arah wanita—yang ternyata masih berada di tengah jalan. Berdiri mematung, seakan memang sengaja berada di sana dan membiarkan tubuhnya dihantam kendaraan yang melintas.


Memikirkan hal itu, membuat Stefan lekas berlari keluar dari mobil dan menuju ke arah wanita yang ternyata dia kenal. Berapa kali pun dilihat, dia yakin kalau wanita itu adalah Mala.


“Hei, jangan berdiri di sini. Berbahaya,” ucap Stefan. Namun wanita di hadapannya masih terdiam dengan wajah tertunduk.


“Kamu sakit? Biar aku bantu.”


Stefan bermaksud memapah Mala yang tampak tidak baik-baik saja. Namun wanita itu langsung menepis tangannya. Lalu menatap dengan matanya yang memerah dan bengkak. “Pergi kau! jangan campuri urusanku!”


“Ada urusan apa kamu di tempat seperti ini? Di tengah hujan pula. Gak baik untuk kandunganmu.”


“Diam! Tahu apa kau soal apa yang baik buatku? Yang paling baik itu hanya mati! Jadi biarkan aku mati!” teriak Mala. Pikirannya tampak sangat kacau.


Wanita itu pun berjalan menjauh dari Stefan, namun tetap melangkah di tengah jalan. Meski daerah tersebut sepi, namun tentu saja Stefan tidak bisa membiarkannya begitu saja. Jadi, dia membuntuti Mala.


“Kubilang pergi! Jangan ikuti aku!”


Stefan tidak menggubris, dan hanya berjalan dengan tenang di samping Mala yang tampak kesal. “Kamu gak takut mati?”


“Gak ada yang lebih menyeramkan dari hidup ini!”


“Kamu pikir kematian itu gak akan menyakitkan? Kamu tahan kalau harus menahan rasa sakit menjelang kematian?”


“Diam! Aku gak butuh diceramahi orang asing kayak kamu!”


Tampaknya Mala masih tidak mengingat Stefan. “Kamu gak masalah kalau orang-orang yang mempedulikanmu merasa sedih setelah kematianmu?”


Stefan cukup terkejut saat Mala justru berbalik badan ke arahnya. Dan mendorong tubuhnya dengan tangan yang sudah tidak bertenaga. Wanita itu pun mulai menangis sembari terus meneriakkan amarah yang berkumpul di dalam hatinya.


“Gak ada yang peduli padaku di dunia ini! Semua hanya berharap aku mati! Aku gak salah, kan? Aku justru akan membuat mereka senang, kan? Dengan kematianku!” teriak Mala sembari memukul-mukul dada Stefan—yang hanya bisa terdiam memandang iba pada wanita malang tersebut.


Untuk beberapa waktu, Mala terus seperti itu. Mengucapkan banyak hal yang bahkan tidak Stefan mengerti. Hingga akhirnya dia kehabisan tenaga dan mulai ambrug.


Stefan pun membawa Mala ke rumah sakit dan menungguinya. Dia duduk di samping ranjang, sembari memandangi wajah Mala yang tampak tersiksa. ‘Wajah yang cantik. Sayang harus kehilangan sinarnya seperti ini,’ pikir Stefan.


Hari ini Stefan memang bermaksud mendatangi rumah Mala. Dia agak khawatir kalau Frans melakukan sesuatu kepada wanita malang tersebut. Ditambah lagi ada keanehan yang dia dapatkan saat semalam mencari tahu soal Mala.


Rumah yang Stefan dan Nadin kunjungi bukanlah rumah Mala yang sebenarnya. Bahkan wanita tua yang mereka temui pun bukan ibu, melainkan neneknya. Sepertinya, Mala sempat memiliki masalah dengan orang tuanya setelah menyadari soal kehamilannya. Entah akhirnya dia diusir dari rumah, atau memang memutuskan untuk pindah ke sana.


Sebenarnya, sudah tidak ada informasi apa pun yang Stefan butuhkan dari Mala. Hanya saja, entah kenapa dia tidak bisa berhenti menghapus raut wajah Mala yang dia lihat tempo hari dari dalam kepalanya.


Mata Mala saat itu seakan sudah tidak memancarkan keinginan untuk setidaknya bertahan hidup. Hingga hari ini, hal tersebut terbukti benar. Dan sedikitnya membuat Stefan bersyukur sudah dipertemukan, meski tidak dalam situasi yang menyenangkan.


“Setelah merasakan kehilangan, kamu baru akan menyadari betapa pentingnya menjaga sebuah kehidupan,” gumam Stefan. Sembari memandangi rintik hujan di balik jendela yang berembun.