
Lima hari terakhir, menjadi saat-saat bahagia sekaligus menegangkan untukku. Rasanya seakan tengah memeluk sebuah bom waktu, dengan detik yang tak tampak. Membuatku tak tahu kapan waktunya dia meledak. Bisa jadi detik itu juga, atau malam saat aku tengah terlelap.
Selama itu, tidak pernah sekalipun aku pergi dari sisi Juna. kami menghabiskan waktu bersama, meski hanya sekedar berkeliling di tengah rumah, atau mengajaknya berjalan ke taman dengan kursi roda.
Aku sadar wajah Juna kadang dipaksakan untuk tetap tersenyum di depanku. Namun alisnya terkadang naik, pertanda ada rasa sakit yang dia tahan.
Kadang aku mendengarnya mengerang, tanpa tahu seperti apa rasanya jika ada di posisinya. bingung sejadi-jadinya karena rasa sakit itu tidak bisa lekas hilang hanya dengan menyemangatinya. Bukan suatu hal yang pernah aku alami dan mengerti.
Juna bilang perasaannya jauh lebih baik saat dia bertemu denganku. Dan mungkin saja penyakitnya akan sembuh jika dia terus merasa bahagia. Tapi, aku bukan orang yang terlalu percaya dengan keajaiban semacam itu. Jika memang seseorang sudah ditakdirkan untuk pergi, maka dia akan pergi. Kali ini, aku hanya berharap kalau hidup belum benar-benar berencana untuk membawa Juna pergi.
Kala malam, aku berbaring di sampingnya. Juna selalu menggenggam tanganku erat di atas dadanya. Membuatku berkali-kali terjaga. Hanya untuk memastikan bahwa masih bisa merasakan degupan jantung di bawah tanganku.
Terkadang, aku pun terbangun mendengar rintihannya di tengah tidur. Mata Juna terpejam dengan rapat. Dia bahkan tidak sadar sudah menangis saat itu. Sembari mengucapkan kata-kata dengan nada rendah hingga tak bisa kutangkap. Namun aku hanya sadar, kalau dirinya masih berusaha untuk berperang. Melawan sesuatu yang terus merusak tubuhnya perlahan dari dalam.
Aku hanya bisa terus memandangi wajah itu, ssembari tak kuasa menahan air mataku sendiri yang meleleh membasahi bantal. Ingin segera melalui malam, dan memandang wajah cerianya di bawah sinar matahari di keesokan hari.
Hingga malam itu, lagi-lagi aku terbangun. Masih dengan tangan yang tergenggam erat di atas dada Juna. Namun, kali ini aku tak lagi merasakan dadanya bergerak. Rasanya tenang, seperti lautan yang bahkan tak bergelombang.
Hanya saja, aku masih menolak untuk berpikir apa pun, dan berkata bahwa aku mungkin hanya sedang bermimpi. Hingga keesokan harinya, ucapan dari seorang dokter telah menarikku kembali menuju kenyataan. Juna, sudah benar-benar pergi meninggalkanku… untuk selamanya…
Aku berdiri di samping kasur. Di dekat wanita tua yang menangis tersedu-sedu sembari terduduk di atas lantai. “Anakku… anakku…” ucapnya dengan lirih.
Padahal, di mataku Juna hanya tampak sedang tertidur pulas. Dengan wajah tenang, seakan sudah tidak lagi merasakan rasa sakit.
Aku jadi teringat, sehari sebelumnya, Juna sempat mengatakan sesuatu.
“Aku takut pada waktunya nanti, terlanjur gak sempat mengucapkan selamat tinggal kepadamu. Jadi, aku hanya ingin bilang, kalau sejak dulu dan sampai kapan pun perasaanku akan tetap sama. Aku cinta kamu, Nadin…”
Saat itu aku memilih untuk mengabaikannya, karena berharap waktu yang dia katakan tidak akan benar-benar datang. Tapi ternyata, dia lebih dulu merasakan kalau hari perpisahan kami sudah dekat.
Aku jadi berpikir, mana perpisahan yang lebih menyakitkan. Dulu saat tahu kalau Juna berpindah hati kepada orang lain, atau sekarang saat tahu dia pergi dengan perasaan yang tidak pernah berubah?
Keduanya, sama-sama menyakitkan. Jika bisa, aku memilih agar tidak perlu merasakan perpisahan.
Tapi, aku tidak bisa menentang takdir, yang tampaknya tak pernah mau berbelas kasihan kepadaku…
***
Di hari yang sama, Juna dibawa pulang ke tanah air. Nadin turut serta bersamanya di dalam pesawat. Menemani ibu Juna yang tidak sanggup menghentikan kesedihannya barang sekejap.
Keadaan semakin diperparah saat ayah Juna melihat sosok sang anak yang sudah terbujur kaku. Dan disusul oleh tangisan anggota keluarga yang lain.
Namun, sejak hari pertama perpisahannya, Nadin tidak sekali pun menitikkan air mata. Dia hanya kehilangan ekspresi pada wajahnya. Bergerak seperti manusia yang telah kehilangan gairah hidup.
Mungkin kali ini Nadin sendiri sudah tahu hari itu akan tiba. Sehingga dia sudah tidak terlalu terkejut menghadapi itu semua. Hanya saja, hatinya masih belum bisa menerima. Dan merasa bahwa Juna hanya sedang menghilang untuk beberapa waktu seperti sebelumnya.
Cukup banyak orang yang datang ke pemakaman. Suara tangis yang terdengar bersahut-sahutan. Salah satunya berasal dari seorang wanita bergaun hitam yang tak kunjung bisa tenang sejak awal dia datang.
Wanita itu pun melangkah pergi dengan berat hati. Namun sesaat terdiam saat mendapati sosok Nadin yang berjalan tak jauh darinya. Entah kenapa, amarah seketika membeludak, membuatnya berjalan cepat menuju ke arah wanita yang masih berjalan dengan pikiran mengawang.
Tanpa peringatan apa pun, Mala berhenti di hadapan Nadin dan memberikan sebuah tamparan. Hingga membuat tubuh Nadin hampir terjatuh, jika saja Axel tidak berada di dekatnya.
“Hei, kau gila ya!” sentak Axel yang terkejut. Dia masih menopang tubuh Nadin yang masih tidak mengubah ekspresinya. Bahkan wanita itu seakan tidak merasakan apa-apa, padahal pipinya berubah memerah.
“Kenapa bukan lo aja yang mati?! Kenapa harus Juna?”
Mala mulai berteriak-teriak kesetanan sembari menunjuk ke arah Nadin. Matanya masih terus mengalirkan air mata.
Orang-orang yang ada di sekitar seketika menoleh ke arahnya. Sherin yang ada di dekat sana langsung berlari mendekat dan membawa pergi Mala dari sana.
“Kamu gak apa-apa?” Axel memastikan keadaan Nadin. Dan dibalas hanya dengan gelengan kepala.
Keduanya pun lanjut berjalan. Menapaki jalanan di area pemakaman khusus yang luas.
Saat melintasi sebuah jembatan lebar, Nadin melirik ke arah samping. Memandang langit yang membiru cerah. Cahaya matahari memantul pada sungai yang ada di bawahnya.
Di antara awan yang berarak, Nadin seakan tengah menangkap sosok ayah, ibu, dan Juna ada di sana. Bersembunyi sembari tersenyum ke arahnya.
‘Kenapa kalian semua pergi meninggalkanku sendiri di sini? Apa kalian sengaja membuatku kesepian?’
‘Apa aku tidak boleh ikut saja dengan kalian? Bukankan di sana lebih indah? Apa kalian lebih tega membiarkanku hidup di dunia yang kejam ini?’
‘Aku boleh ikut, kan? Aku juga ingin ada di sana bersama kalian. Aku akan menyusul kalian ke sana…’
Axel yang saat itu berjalan dengan agak melamun, tidak sadar kalau Nadin berhenti dan pergi menepi. Wanita itu berdiri sembari memegangi pagar jembatan yang tidak terlalu tinggi. Lalu mulai memanjat ke atasnya.
Saat tersadar dan menoleh ke belakang, betapa terkejutnya Axel saat mendapati Nadin tengah berdiri di atas pagar jembatan. Menatap langit dengan tatapan kosong. Orang-orang yang melihat dari kejauhan hanya bisa terus bicara tanpa melakukan apa-apa. Sementara Axel langsung berlari melesat. Tubuhnya merinding saar melihat Nadin bermaksud menjatuhkan diri dari tempatnya berada.
“Nadin!” teriaknya. Lalu dia melompat untuk memeluk tubuh wanita itu. Hingga keduanya pun terjatuh ke dalam sungai.
Semua orang berteriak ngeri. Mereka berlari ke arah jembatan dan melihat ke bawah.
Beruntungnya, air sungai yang dalam tidak membuat Axel terluka. Dia berhasil memeluk Nadin di saat-saat terakhir sebelum mereka terjatuh dari atas jembatan.
Dengan agak kesusahan, Axel berenang menuju ke tepian, sembari membawa Nadin yang tak sadarkan diri dalam dekapannya.