Just A Professional Relationship

Just A Professional Relationship
Episode Tiga Puluh Dua



“Dadah, Bu guru!”


Murid laki-laki Nadin yang berumur tujuh tahun melambaikan tangan. Meski masih kecil, tapi dia sudah memiliki bakat dalam bermain piano. Membuat Nadin merasa semangat tiap kali mengajari anak itu.


Saat melirik ke arah jam tangan, beberapa menit lagi jarumnya akan mengarah ke angka dua belas. Pantas saja Nadin merasa kepanasan, karena matahari sedang tepat berada di atas kepalanya.


“Aduh, panas banget, sih…” gumamnya, lalu melangkah menuju ke bawah pohon yang rindang. Sembari menaruh tangan di atas dahi agar tidak merasa silau.


“Kepanasan ya?”


“Astaga! Axel!” Nadin terperanjat saat tiba-tiba seseorang muncul dari balik pohon tempat dia berteduh.


Axel menyodorkan sebotol minuman dingin pada Nadin yang masih menggerutu kesal. “Kenapa sih, kamu tiap kali muncul gak pernah biasa aja gitu? Bikin aku kaget terus.” Lalu dia meneguk minumannya, tanpa ingat harus berterima kasih.


Lelaki berambut cokelat itu pun tertawa.


“Omong-omong, kamu kenapa ada di sini?” sambung Nadin lagi.


“Nunggu kamu beres kerja.”


“Hah? Ngapain?”


“Mau ajak jalan-jalan.”


Nadin menatap wajah Axel dengan penuh tanda tanya. Entah kenapa wajah lelaki itu tampak mencurigakan, seakan ada yang masih ditutup-tutupi darinya.


“Kamu udah gak ada schedule, kan?”


“Enggak ada, sih…”


“Ayo kalau gitu.”


Mereka berdua pun berjalan sebentar, hingga sampai di dekat sebuah mobil hitam. Nadin terus melangkah, padahal Axel behenti di sana. “Nadin, mau ke mana?” panggilnya.


Wanita itu pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Lalu terkejut saat Axel bilang dia menyewa mobil untuk hari ini.


“Emang kita mau ke mana sampai kamu nyewa mobil? Kenapa gak pakai motor kamu aja kayak biasa?”


“Kalau pakai motor gak akan cukup.”


“Hah? Maksudnya?”


“Soalnya, aku ngajak ibumu.”


Nadin semakin tambah terkejut mendengarnya. Saat membuka pintu mobil yang ada, dia melihat ibunya yang tengah tersenyum jahil di dalam sana.


“Ibu!!! Kok, tiba-tiba ada di sini? Kenapa kalian gak bilang-bilang, sih?! Kamu kebiasaan suka tiba-tiba kayak gitu, deh.”


Axel mengerlingkan mata dan tidak menggubris ocechan Nadin. Lalu masuk ke dalam mobilnya. “Cerewet, ah. Ayo cepat masuk. Panas.”


“Huh!” Nadin melangkah dengan cepat, dan masuk dari pintu berlawanan. Dia duduk di samping Axel yang menyetir.


“Jangan marah-marah gitu… Axel udah baik ngajak kita jalan-jalan,” ucap sang ibu dengan lembut.


“Gimana coba kalau ternyata Axel itu orang jahat yang mau nyulik ibu terus minta tebusan?”


“Sembarangan!” protes orang yang sedang dibicarakan.


“Ibu badannya enak, kan? Nanti jangan terlalu kecapean ya!”


“Ibu gak apa-apa, kok. Nak Axel bahkan udah bawakan ibu kursi roda buat jaga-jaga.”


Nadin melirik ke arah Axel yang menyetir dengan tenang sembari tersenyum. Seakan menunggu pujian dari wanita yang masih tampak cemberut di sampingnya.


Setelah lima puluh menit berkendara, mereka sampai di sebuah area lapangan golf. Di sana terdapat sebuah taman yang dipenuhi pepohonan rindang serta berbagai jenis bunga yang bermekaran.


Sebenarnya, bagi Nadin sendiri tidak ada yang spesial dari semua itu. Tapi, dia menyadari sesuatu saat melihat wajah ibunya yang tampak berbinar. Bahwa sebenarnya bukan dia yang Axel ajak berjalan-jalan, melainkan ibunya. Hal itu membuatnya tersenyum dengan penuh rasa ketidakpercayaan.


Axel mengeluarkan kursi roda dari bagasi mobil, dan membantu ibu Nadin hingga duduk di atasnya. Lalu, mereka bertiga pun mulai berjalan-jalan di sekitar taman. Wanita tua itu terus terdiam karena sibuk menikmati pemandangan indah yang sudah lama tidak dia lihat secara langsung. Matanya berkaca-kaca seakan hampir menangis.


“Tumben sepi,” celetuk Axel. Dia menyindir Nadin yang sudah tidak menggerutu seperti saat sedang berada di dalam mobil. “Laper ya, kamu?”


“Sama aku?”


“Pastinya bukan!” balas Nadin dengan cepat, sementara hatinya mengiyakan.


Keduanya pun tertawa.


“Ibu sampai lupa kapan terakhir kalinya jalan-jalan ke tempat yang indah kayak gini. Kalau gak salah sewaktu ayahmu masih ada.”


“Iya. Ayah selalu ngajak kita jalan-jalan tiap bulan ya, Bu.”


“Dia gak pernah sekali pun bikin ibu sedih. Kecuali sewaktu dia pergi untuk selamanya. Tapi, ibu sadar kalau kami cuma sekedar berpisah untuk sementara waktu saja.”


Nadin hanya bisa tersenyum. Tak berapa lama, dia melihat Axel melepas tangan kirinya dari pegangan kursi roda, dan mengulurkan ke arahnya—tanpa berkata apa-apa.


Selang beberapa detik, Nadin menggenggam tangan itu dengan tangan kanan. Sementara tangan kirinya memegang pegangan kursi roda yang dilepaskan oleh Axel. Mereka pun lanjut berjalan mengelilingi taman sembari bergandengan tangan, sambil mendengarkan berbagai kisah cinta antara ibu dan ayah Nadin yang membuat keadaan menjadi hangat.


***


Setelah puas memutari taman, Axel, Nadin dan ibunya makan di sebuah restoran yang tidak jauh dari sana. Lalu sempat singgah pula ke tempat pemandian air panas untuk berendam. Bahkan Nadin tidak tahu kalau ibunya sudah menyiapkan pakaian ganti untuknya. Lalu mereka pulang saat hari sudah berubah menjadi malam.


Di pertengahan jalan pulang, mereka berhenti di sebuah pom bensin setelah mengisi bahan bakar mobil. Nadin dan Axel membeli minuman kaleng di sebuah supermarket yang ada di sana, dan duduk untuk beristirahat pada bangku yang ada. Sementara ibu Nadin tampak terlelap di dalam mobil.


“Makasih ya. Kamu gak pernah gagal bikin aku kaget. Apalagi hari ini. Aku seneng banget bisa lihat muka bahagia


ibu.”


“Aku juga senang lihat ibu kamu senang.”


“Kamu pilih tempat itu asal, atau emang sengaja?”


“Hm… Agak menerka-nerka. Soalnya sewaktu di rumahmu, aku lihat banyak pajangan dan lukisan pemandangan. Karena kayaknya bukan kamu yang majang itu semua, jadi aku pikir ibumu suka jalan-jalan di tempat yang pemandangannya bagus.”


“Wah… Kamu lebih berbakat jadi detektif dibanding dancer, kayaknya.”


“Maksudnya, dance-ku jelek gitu?”


“Aku gak bilang gitu lho ya.”


Mereka berdua pun tertawa. Dengan perasaan untuk satu sama lain yang kini tengah berkembang di hati keduanya. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang mengungkapkan hal itu.


Awalnya, Nadin pikir hari itu akan berakhir dengan bahagia. Tapi selalu ada saja yang mengganggunya.


Layar gantung yang semula menampilkan nyanyian khas mini market tiba-tiba berganti menjadi tayangan acara televisi. Tampaknya si kasir yang sedang merasa bosan karena jarang ada pembeli, memutuskan untuk menonton tv.


Nadin spontan menatap ke arah layar. Sementara Axel belum tertarik hingga dia menyadari perubahan dari wajah Nadin. Wanita yang sebelumnya tersenyum itu, mendadak menjadi serius. Alhasil, dia turut menoleh hingga mendapati sosok Mala yang ada dalam televisi.


Mala tampak baru saja mengadakan show, dan didatangi oleh reporter. Masalahnya, tulisan di bagian bawah layar


paling mencuri perhatian.


‘Isu kedekatan antara Mala dan Juna, apakah sekedar gosip?’


“Mala! Kasih tahu dong, soal caption foto kamu yang belum lama diupload itu. Beneran yang kamu maksud itu Juna?” tanya sang reporter yang penasaran.


Mala berlagak jual mahal, namun sebenarnya dia tidak sabar untuk memberikan jawaban. Dia pun berhenti berjalan dan menatap ke arah kamera. “Iya, benar,” jawabnya penuh keyakinan.


“Aku dan Juna berpacaran,” sambungnya. “Dan mungkin akan menuju ke jenjang yang lebih serius. Hanya tinggal menunggu Juna pulang dari Jepang.”


Axel mulai merasa tidak enak. Sepertinya sudah saatnya dia mengajak Nadin pergi dari sana, pikirnya. Dia pun langsung mengembalikan pandangannya ke arah semula, dan mendapati wajah Nadin yang masih menatap lekat ke arah layar.


“Nadin. Nadin?”


“Hm?”


“Ayo, pulang. Kasihan ibumu di mobil.”


“Hu’um. Ayo.”


Keadaan pun menjadi agak canggung. Dan keduanya terus saling diam sepanjang perjalanan. Lebih tepatnya, Nadin yang mendadak bungkam. Dia hanya tertegun memandang ke arah jendela di sisinya. Seakan pikirannya melayang entah ke mana.