
Untuk beberapa saat, seisi studio mendadak hening, padahal tayangan langsung masih tetap berlangsung. Bahkan para kameramen pun terdiam, bingung harus berbuat apa.
Nadin berusaha menahan kesedihan, menenangkan diri, tapi dia justru semakin terisak. Padahal bibirnya sudah dipaksakan sekuat tenaga untuk tetap tersenyum.
Sang presenter pun tidak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi dia merasa khawatir karena berpikir Nadin menjadi seperti itu setelah mendapat pertanyaan darinya.
Hanya Juna yang tetap terlihat tenang. Dia menatap Nadin—entah sembari memikirkan apa, lalu menggenggam tangan sang pacar. Mulai membisikkan sesuatu yang entah apa.
“Maaf ya, hari ini kondisi Nadin sedang kurang sehat. Sebenarnya dia agak memaksakan diri untuk datang karena tidak ingin mengecewakan kalian semua. Padahal dia masih belum sehat,” jelas Juna.
Para penonton di studio pun mulai bergemuruh. Dari apa yang terlihat, sepertinya mereka berhasil teryakinkan oleh kata-kata itu. Beberapa mengelus dada, dahinya mengerut, menatap dengan pandangan penuh kecemasan.
“Aduh, ya ampun… saya jadi ngerasa gak enak. Sekaligus terharu karena Nadin sebegitu gak maunya kita kecewa, sampai bela-belain datang ke sini.”
Nadin masih tetap tersenyum dengan air mata yang tak berhenti meleleh. Namun masih belum sanggup untuk berkata-kata.
Sementara Juna, mulai berhasil mengendalikan keadaan. Masih sembari menggenggam tangan Nadin, dia lanjut mengobrol dengan sang presenter. “Biar saya yang menjawab pertanyaan tadi mewakili Nadin,” ucapnya.
“Kalau ditanyakan pernah membayangkan atau tidak, tentu pernah. Dan hal itu membuat saya berpikir, tidak akan pernah melakukannya. Karena hanya dalam bayangan saja, saya merasakan sakit yang luar biasa. Apalagi kalau kami harus benar-benar berpisah. Saya pribadi tidak akan membiarkan hal itu terjadi.”
“Aww…” seru para penonton hampir berbarengan. Mereka benar-benar tertipu oleh sosok lelaki di hadapannya.
“Saya benar-benar terharu, lho dengarnya. Gak nyangka masih ada laki-laki kayak Juna.”
“Sebenarnya baik buruknya hubungan itu bukan dihasilkan dari kepribadian salah satu pihak saja. Kalau misalnya ada perempuan yang setia, tapi laki-lakinya berkebalikan, akan sia-sia, bukan? Semua itu terjadi pada saat kedua belah pihak saling mempertahankan. Saling melengkapi dengan kekurangan mereka, dan saling mengerti dengan kesamaan yang mereka miliki.”
“Wah, saya setuju banget sama kata-kata barusan.”
Beberapa menit terakhir dari sesi syuting, terlewatkan begitu saja karena Nadin merasa kepalanya kosong melompong. Pikirannya sudah terbang jauh entah ke mana. Suara-suara yang ada di sekitar, hanya tertangkap sebagai gemuruh dalam telinganya.
Di saat yang sama, Axel yang tengah bersama Ramos di sebuah kafe, menyaksikan tayangan yang diputar pada televisi—yang ada di tempat tersebut. Tentu dia terkejut setengah mati melihat Nadin yang mendadak menangis di tengah siaran langsung. Namun tidak seterkejut yang lain karena dia sudah tahu alasan yang membuat wanita tersebut bisa seperti itu.
Axel masih bisa bersabar, karena berpikir tidak ada yang bisa dia lakukan untuk menyelamatkan Nadin dari sana. Tapi rasa kesalnya semakin menjadi-jadi tiap kali mendengar bualan yang keluar dari mulut Juna.
Dia pun tiba-tiba bangkit dari duduk dengan tangan terkepal. Lalu pergi begitu saja meninggalkan Ramos yang terkejut untuk yang kedua kalinya.
Tentu Ramos tidak tinggal diam. Dia tidak akan membiarkan rekannya melakukan sebuah kebodohan—yang bisa membuatnya diusir dari manajemen.
Belum sempat Axel sampai di tempat mobilnya terparkir, Ramos lebih dulu menghentikannya. “Jangan gegabah, Xel,” ucapnya.
“Siapa yang bisa tahan lihat dia kayak gitu, Kak?”
“Nadin pasti baik-baik saja.”
“Apa Kakak buta? Orang sampai menangis kayak gitu dibilang baik-baik saja?” bentak Axel. Dengan napas memburu.
Axel tahu perkataan Ramos benar. Dia hanya akan memperbesar masalah yang ada, dan menambah beban Nadin.
Akhirnya, dia menyerah dan mengurungkan niat—dengan terpaksa. Rasa kesalnya dilampiaskan dengan meninju kaca mobilnya, hingga sedikit tergores.
“Pasti ada cara yang lebih baik,” tambah Ramos lagi, sembari menepuk pundak Axel beberapa kali. Setelah semua yang terjadi, sudah pasti dia penasaran soal permasalahan yang ada. Tapi, dia merasa tidak berhak untuk bertanya dan mencampurinya. Jadi, dia hanya bermaksud menunggu, hingga nanti Axel sendiri yang mau terbuka padanya. Setidaknya, Ramos akan lebih berhati-hati memperhatikan Axel, agar dia tidak perlu terlibat masalah yang terlalu besar.
***
Seusai kamera dimatikan, Juna langsung pamit kepada seluruh kru untuk mengantar Nadin pulang. Semua orang mempersilakan dan mengucapkan selamat jalan dengan penuh keramahan. Padahal setelahnya, mereka mulai berdesas-desus mempertanyakan apa yang terjadi apda Nadin.
Juna berjalan sembari merangkul bahu Nadin yang terus tertunduk lemas. Mereka sama sekali tidak bicara apa pun di sepanjang perjalanan menuju lobi. Tampaknya Nadin pun masih belum sadar sepenuhnya, dan hanya bisa terdiam.
“Biar aku antar kamu pulang,” ujar Juna.
Suara lelaki tersebut seketika mengembalikan kesadaran Nadin. Dia bahkan melangkah mundur, untuk melepaskan rangkulan Juna. “Gak usah,” ucapnya dingin.
“Mau sampai kapan kamu menghindar?”
Mata Nadin terhunus semakin tajam. Dia merasa kesal karena nada bicara Juna seakan terdengar menyalahkannya. Padahal semua terjadi karena apa yang sudah dia perbuat. Ingin sekali Nadin berteriak, kalau saja tidak ingat banyak orang yang ada di sekitar sana.
“Kenapa seakan cuma kamu yang boleh bersembunyi? Kenapa aku enggak?”
Juna menhgembuskan napas dengan keras. “Aku mau bicarakan semuanya sama kamu.”
Kata-kata menyeramkan itu membuat Nadin langsung menutup telinga. Tanpa menjawab apa pun, dia mulai melangkah menjauh. Namun, Juna langsung mengejar dan mencengkeram lengannya. “Nadin, please…”
“Gak.”
Dari arah belakang, Tyo datang mendekat dan memegang lengan Juna. Meminta lelaki tersebut agar melepaskan cengkeramannya dari lengan Nadin.
Tyo tidak tahu apa yang terjadi, yang jelas dia yakin ada sesuatu pada hubungan kedua orang tersebut. “Terima kasih untuk hari ini, Juna. Tapi biar aku yang antar Nadin pulang hari ini,” ucapnya dengan lembut seperti biasa. "Sekalian ada yang harus aku bahas soal jadwal selanjutnya sama Nadin."
Setelah Juna melepaskan tangannya, Tyo merangkul Nadin dan membawanya pergi. Tidak membicarakan apa pun, hingga mereka berada di dalam mobil.
Tyo tidak langsung menyalakan mobilnya, dia duduk sembari menatap Nadin yang masih tertunduk sedih. “Aku selalu ada kapan pun kamu butuh teman cerita,” ucapnya, yang langsung dibalas dengan tangisan.
Nadin menutupi wajah dengan kedua telapak tangan, lalu menunduk hingga kepalanya hampir menempel dengan dashboard mobil. Isakannya terdengar semakin jelas dan kencang. “Kak… Sakit…” ucapnya terbata-bata. “Hati aku… Dada aku… Sakit… Sesak…”
Bertahun-tahun mengenal Nadin, belum pernah sekali pun Tyo melihatnya seperti itu. Tentu beberapa kali Nadin mengalami kejadian yang membuatnya gelisah dan sedih. Tapi kali ini, Tyo menyaksikan seorang wanita yang tengah menangis bukan karena sedih, melainkan kecewa oleh sesuatu—yang belum bisa dia tanyakan secara langsung.
Di tengah keheningan basement, raungan Nadin menjelma menjadi sebuah nyanyian yang mengalun pilu. Diiringi dengan cuara yang mendadak berubah kelabu. Seakan turut berbela sungkawa akan rasa kehampaan yang terasa.
Hujan pun turun, menghapus mendung yang perlahan kan menghilang. Namun, Nadin tidak pernah tahu, apakah air mata sama halnya dengan air yang turun dari atas langit itu? Apakah setelah ini semua rasa pilu bisa hilang tersapu oleh air matanya? Atau justru, badailah yang akan datang menyambutnya setelah ini. Menerjang dirinya yang berusaha keras bertahan seorang diri—tanpa ampun.