Just A Professional Relationship

Just A Professional Relationship
S2 - Episode Satu



Sejak pukul sepuluh, Axel mondar mandir di dalam bandara. Terus memandangi jam tangannya, sembari melirik ke arah salah satu pintu. Dia tidak bisa sabar menyambut hari ini. Bahkan semalaman hampir tidak bisa tidur dengan nyenyak.


“Kenapa dia lama sekali, sih!” gumamnya. Padahal pesawat yang dia tunggu belum lama landing. Dan orang yang sedang dia nanti, pasti tengah menanti barangnya sebelum menuju ke pintu keluar.


Axel menciumi bagian bahu dari bajunya. Memastikan kalau wangi dari parfumnya masih tersisa. Lalu menoleh ke arah kaca yang ada di dekat sana. Merapikan rambut cokelatnya menggunakan jemari. Kemudian tersenyum dengan penuh percaya diri—seakan tengah memuji diri sendiri.


“Kamu ngapain ngaca sambil senyum-senyum gitu?”


Axel sedikit tersentak mendengar suara seseorang yang entah kapan ada di belakangnya. Saat menolehkan kepala, Nadin ada di sana. dengan rambutnya yang sudah lebih panjang, dan senyuman yang masih seindah dulu.


Axel pun tersenyum dengan lebar. Menyambut wanita yang sudah lama dia nanti itu dengan pelukan. Nadin pun berlari dan menjatuhkan diri ke dalam dekapan Axel.


Untuk beberapa saat, keduanya tetap seperti itu, sembari memejamkan mata. Meluapkan kerinduan satu sama lain melalui pelukan, tanpa kata.


“Aku kangen banget,” ucap Nadin.


“Kamu pikir aku enggak?” balas Axel. Dia melepas pelukannya, dan mengelus pipi Nadin dengan lembut. Menatap lekat kedua mata wanita di hadapannya, sebelum akhirnya mencium bibir Nadin dengan penuh kasih sayang.


“Kamu pakai parfum banyak banget, sih,” komentar Nadin.


Axel sedikit mendengus. “Komentar kamu ngancurin suasana,” ucapnya, sebelum tertawa. “Ayo kita pulang.”


Selama setahun penuh, mereka benar-benar terpisahkan jarak. Nadin dan Axel hanya bisa bertatap muka melalui video call. Itu pun tidak bisa sering mereka lakukan karena perbedaan waktu antara Indonesia dan Amerika. Apalagi keduanya sudah mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing. Namun, setidaknya mereka selalu bertukar kabar lewat chat.


Nadin benar-benar mempergunakan kesempatannya dengan baik. Selain belajar, dia pun sempat bergabung dengan tim orkestra di Amerika. Melakukan tur, dan tentu saja dibayar. Dia pun pernah mendapatkan kesempatan untuk konser bersama beberapa murid di tempatnya belajar.


Sedari belum pulang ke Indonesia saja, Nadin sudah ditawari pekerjaan. Dia akan direkrut oleh sebuah sekolah musik swasta yang cukup ternama. Jadi, dia sudah tidak perlu pusing-pusing mencari pekerjaan saat pulang.


Di sela kesibukan, Nadin pun masih sering menulis lagu. Sesekali dia membuatnya bersama Axel melalui telepon. Dan label rekaman milik teman Tyo selalu senang hati menerima lagu ciptaannya.


“Gila! Pokoknya banyak banget orang terkenal waktu itu. Aku ketemu sama James Horner! Terus sempet salaman gitu! Ahh, bener-bener gak bisa lupa!” Nadin bercerita dengan penuh semangat di sepanjang perjalanan. Sepertinya sudah lebih dari dua puluh menit dia berbicara tanpa henti. Axel hanya merespons dengan anggukan sembari menyetir. Namun tidak bisa dipungkiri dia sangat senang melihat Nadin yang tampak ceria seperti itu.


“Oiya, aku juga sempat foto sama Michael Giacchino, lho!”


“Siapa itu?”


“Hah, kamu gak tahu? Masa sih gak tahu?”


“Hm… Enggak,” jawab Axel santai.


“Ya ampun, Axel! Dia itu komposer film terkenal! Banyak film yang musiknya diaransemen sama dia. Spiderman homecoming, Coco, The Incredibles!”


Tiba-tiba, Axel mencengkeram tangan Nadin dengan tangan kiri, hingga wanita tersebut terdiam karena terkejut. Namun, matanya masih fokus menatap ke arah jalan. “Bukannya kamu udah janji bakal manggil nama aku pas pulang?”


“Oh…”


Nadin nyaris lupa kalau saja tidak diingatkan. Waktu itu dia sudah berjanji kalau akan memanggil Axel menggunakan nama aslinya. Entah kenapa hal itu terasa sulit, karena belum terbiasa.


“Kok, diem?”


“Iya, Dion…” ucap Nadin pelan. Mendadak wajahnya agak memanas.


Axel pun tertawa kecil mendengarnya. “Aku seneng dengernya. Apalagi kalau misalnya dipanggil sayang.”


“Apaan, sih!” Nadin pun tertawa. “Eh, daritadi aku terus yang cerita. Giliran kamu.”


“Apa ya… kayaknya udah semua aku ceritakan ke kamu. Hidupku biasa-biasa aja, sih…”


Setelah Nadin pergi ke Amerika, Axel mulai serius memikirkan masa depannya. Sebelumnya dia memang membantu di kedai sang ayah, tapi dia pikir seperti itu saja tidak cukup. Jadi, dia memikirkan cara untuk memperbesar bisnis keluarganya.


Awalnya sayang ayah masih tetap bersikeras tidak ingin memperbesar kedai. Katanya, dia ingin tetap menjaga ciri khas dari masakannya. Tapi, Axel tahu kalau ayahnya tentu akan semakin tua dan suatu saat tidak akan bisa bekerja lagi. Jadi dengan berbagai cara, dia membujuk sang ayah hingga lelaki tua itu tidak bisa menolak lagi.


Berkat para pelanggan tetap di kedai sang ayah, nama restoran itu pun menyebar dengan cepat. Apalagi setelah Ramos sengaja mempromosikannya di tengah acara, alhasil para pengunjung membeludak. Kemampuan Axel dalam memasak pun diakui. Para pengunjung tidak pernah meragukan rasa masakannya.


Awalnya, Axel hanya fokus untuk membuat masakan local saja, sama seperti kedai sang ayah. tapi, setelah beberapa bulan berlalu, dia merasa bisnisnya bisa tumbuh semakin pesat jika sedikit berinovasi. Alhasil, Axel membuka satu restoran lagi yang dikhususkan untuk menjual makanan seperti spageti atau steak.


Kini, Axel sudah melepas para pegawainya dan hanya bertugas memantau. Dia tidak pernah menyangka bisnisnya melesat secepat itu hanya dalam satu tahun. Meski dia pikir hal itu tidak lepas dari bantuan teman-temannya juga.


“Kamu gak pake guna-guna, kan di restoranmu?” komentar Nadin setelah mendengar cerita Axel.


“Nah kan, komentarnya malah ngaco.”


“Habisnya, bisnismu cepet banget berkembangnya.”


“Aku kan orangnya penuh keberuntungan.”


“Iya juga ya…” ucap Nadin. “Apa ketemu sama aku juga termasuk keberuntungan kamu?”


“Kalau itu sih… takdir.”


***


“Nindi… uhuk, uhuk… bapak senang sekali kamu akhirnya udah pulang… uhuk…” Si bapak tua berkumis lebat terbatuk-batuk, sembari berbicara dengan wajah lesu. “Bapak pikir kamu sudah gak akan mau lagi ketemu anak bapak. Uhuk, uhuk… bapak Cuma minta satu… jagain Dion ya… karena… umur bapak udah gak lama lagi…”


"Bapak ngomong apaan, sih!” Axel yang baru saja kembali dari toilet bicara dengan nada kencang. bahkan dia memukulkan handuk kecil ke punggung sang ayah.


Si bapak yang semula terduduk lesu langsung bangkit sembari tampak kesal. “Anak kurang ajar!” balasnya berteriak. Sembari saling menghunuskan tatapan kesal dengan anaknya yang jauh lebih tinggi. Badannya mendadak tampak jauh lebih sehati dari sebelumnya.


"Orang sehat gitu, jangan pura-pura sekarat! Kalau beneran gimana?!”


“Kamu gak lihat bapak setiap pagi susah kalau mau bangun! Dasar anak durhaka!”


“Makanya kalaupun udah hidup enak, jangan malas-malasan, gitu tuh akibatnya!”


Sepasang ayah anak itu pun lanjut beradu mulut. Nadin hanya bisa tertawa bersama ibu Axel yang duduk di sampingnya.


“Haduh… mereka emang gak pernah berubah. Kalau ketemu pasti berantem kayak gitu.”


"Tapi bapak sehat kan, Bu?”


"Iya. Dia cuma encok doang. Sebenarnya dia seneng banget setiap Dion pulang. Sewaktu Dion belum lama pindah ke rumahnya sendiri, bapak sering mikirin dia. Tapi pas ketemu, malah pada berantem.”


"Ya… berantemnya juga tanda sayang, Bu.”


Nadin masih tidak bisa menahan geli melihat pertengkaran Axel dan ayahnya yang agak kekanak-kanakan. Dan seketika membuatnya rindu akan masa-masa seperti itu, yang sempat tidak dia dapatkan selama setahun.


“Tapi ibu juga seneng banget Nadin sudah pulang lagi. Terus kelihatannya kamu sehat.” Ibu Axel memegang tangan Nadin dan mengelusnya.


Nadin menoleh ke arah wanita tersebut dan tersenyum. “Iya, Bu. Makasih ya…”


Malamnya, Axel mengantarkan Nadin pulang. Kini dia sudah tidak tinggal di rumah yang dulu dia tempati dengan almarhum ibunya. Nadin kini sudah bisa mengontrak di lokasi yang lebih dekat dengan kota, dan jaraknya tidak terlalu jauh dengan rumah Axel.


Saat Nadin masih di Amerika, Axel-lah yang mencarikan rumah kontrakan itu. Sekaligus yang memindahkan semua barang Nadin dari rumah sebelumnya. Bahkan dia membereskan rumah itu sendirian, beberapa hari sebelum Nadin pulang.


“Makasih ya, udah jemput ke bandara. Aku seneng banget bisa ketemu kamu lagi,” ucap Nadin sebelum masuk ke dalam rumahnya.


Axel hanya membalas dengan usapan pada kepala Nadin. “Udah, istirahat, sana!”


"Iya… Bye, Dion…”