
Juna duduk dengan tidak tenang. Sedari tadi kakinya digerak-gerakan pertanda resah, meski wajahnya masih tampak tenang seperti biasa.
“Juna. Juna!” panggil seorang staf tv. Membuat Juna tersadar dari lamunannya. “Stand by, ya. Sebentar lagi kamu dipanggil.”
Ini pertama kalinya dia menerima panggilan acara tv setelah kabar soalnya dan Nadin tak henti menjadi trending topic.
“Makasih, lho udah mau datang ke sini,” sapa sang pembawa acara wanita. “Kita udah berusaha mengontak Nadin, tapi sama sekali gak ada tanggapan. Beruntung manajemenmu bisa dikontak dan mau kasih kesempatan.”
Juna hanya tersenyum dan mengangguk.
“Kamu pasti tahu apa yang mau kita bahas. Soalnya banyak banget nih yang udah nunggu klarifikasi dari kalian soal keadaan yang sebenarnya. Biar para fans gak pada gregetan, kamu ada yang mau disampaikan?”
Juna membenarkan posisi duduknya, dan menghadap lurus ke arah kamera.
“Sebenarnya, aku bukan datang untuk memberikan klarifikasi. Tapi hanya sekedar memberikan penjelasan sedikit saja. Untuk apa yang telah terjadi, aku dan tentunya Nadin mengaku kalau semuanya diakibatkan oleh kesalahan kami. Bukan salah satu dari kami, tapi kami berdua tentu sama-sama sudah melakukan kesalahan. Meski saat ini mungkin banyak yang menyalahkan Nadin sepihak, tapi aku mohon supaya kalian tidak membebankan masalah itu kepadanya saja. Dan aku pribadi memohon dengan sangat, supaya kalian berikan Nadin ruang untuk bernapas dan menjalani kehidupan pribadinya tanpa harus dihantui oleh apa pun ekspektasi kalian untuknya. Karena jujur tidak mudah menjadi kami. Dan kami tidak bisa memuaskan semua orang.”
Juna menghela napas sesaat, sebelum melanjutkan. “Terakhir, aku mau menyampaikan kalau aku dan Nadin sudah memutuskan untuk berpisah. Kami tidak sepakat untuk tetap menjalin hubungan baik. Oleh karena itu, aku harap kalian semua bisa menghargai keputusan yang kami ambil ini. terima kasih sudah menemani hari-hari kami selama beberapa tahun ke belakang.”
Mala yang sedang menonton dari apartemennya tertawa terbahak-bahak dengan penuh suka cita. Dia menggenggam gelas anggur, lalu bersulang dengan Sherin yang juga ada bersamanya.
“Kamu puas?” tanya Sherin.
“Gila! Lebih dari puas! Hidup perempuan itu pasti hancur!”
“Mungkin lebih dari itu.”
Setelah meneguk habis minumannya, Mala pun merebahkan diri di atas sofa dengan perasaan lega. “Hah… enaknya ngapainkan habis ini?”
“Hati-hati jangan keburu-buru. Masalah mereka masih hangat. Jangan sampai kamu ikut-ikutan kena.”
“Hm… jadi aku masih harus nunggu lagi…”
“Yah… yang penting Juna udah sepenuhnya punya kamu.”
“Bener juga.”
Keduanya pun tertawa, sembari lanjut menikmati makanan yang sudah dipesan. Seakan sedang melakukan sebuah perayaan.
***
Axel terduduk di dalam mobil, di samping Ramos yang sedang menyetir. Dia mengenakan topi dan jaket bertudung yang menutupi kepalanya. Tangannya memegang ponsel yang digunakan untuk menonton tayangan langsung yang baru saja berakhir.
“Ck!” decaknya dengan penuh kekesalan. “Dia benar-benar bikin seolah Nadin memang salah. Gila! Laki-laki macam apa dia? Apa jangan-jangan dia yang merancang semua ini?”
“Kelihatannya bukan. Mengingat dia semarah itu sewaktu lihat kamu dan Nadin malam itu.”
“Argh! Aku gak habis pikir siapa yang setega itu sama Nadin.”
“Hei, sebelum mencemaskan orang lain, pikirin dulu hidupmu sendiri.”
“Kamu sama sekali belum kontak dia?”
“Aku belum tahu nomor baru dia. Sempat kontak Bang Tyo, tapi dia gak kasih izin aku buat ngobrol sama Nadin.”
“Mungkin dia masih butuh waktu.”
“Iya, sih. Tapi aku masih belum tenang. Seenggaknya aku ingin dengar kalau dia baik-baik saja.”
***
Nadin menggigit bibirnya dengan keras. Tak bisa menahan untuk meneteskan air mata saat melihat tayangan Juna. Tentu saja semua yang dikatakan lelaki tersebut murni berdasarkan apa yang dia pikirkan. Sama sekali tidak ada perbincangan dengan Nadin sebelumnya.
Akan tetapi, bukan itu yang membuat Nadin merasa sedih. Dia tidak peduli apa yang Juna sampaikan. Namun satu hal yang bisa dia yakini, kalau ada secuil rasa bersalah dari nada bicara Juna—yang mungkin hanya disadari oleh Nadin.
Awalnya Nadin berpikir, mungkin saja Juna ada di balik semua kejadian buruk yang menimpanya. Meskipun sedikitnya memang benar, tapi lelaki itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan tuduhan soal perselingkuhan antara Nadin dan Axel.
Nadin merasa kalau Juna benar-benar tulus saat meminta semua orang tidak lagi mencela Nadin atas hal yang sebenarnya tidak dia lakukan. Dan dia menghargai hal itu.
Nadin menaruh ponsel barunya ke dalam. Lalu menghapus air matanya, dan menarik napas panjang.
“Mau belok dulu, atau tetap lanjut ke rumah sakit?” tanya Bang Tyo sembari menyetir.
“Gak apa, Bang. Lanjut aja.”
Ini pertama kalinya Nadin keluar dari apartemen, setelah sekian lama. Dia meminta tolong Tyo untuk mengantarnya ke rumah sakit. Tentu saja hal pertama kali yang harus dilakukan adalah menemui ibunya.
Padahal Nadin sudah berusaha keras untuk tidak menangis, dan berlagak seolah dia baik-baik saja. Namun, saat baru saja masuk ke dalam ruangan, dia langsung menangis dan berlari memeluk sang ibu.
Ibu Nadin pun memeluk sang anak erat, sembari berlinang air mata. Lalu membiarkan anaknya itu menangis sesegukan dalam dekapannya.
“Maaf ya, Bu…”
“Kenapa harus minta maaf? Justru ibu yang harus bilang gitu karena bikin kamu harus kerja keras sendirian. Tapi, ibu udah gak mau bikin kamu kayak gitu lagi, Nak. Kamu bebas melakukan apa pun yang membuatmu senang, dan meninggalkan apa pun yang membuat kamu sedih. Ibu Cuma pengen kamu bahagia.”
Dengan berbekalkan semangat dari sang ibu, Nadin mengumpulkan keberanian untuk kemudian datang kembali ke kantor Athena. Menyelesaikan urusannya yang sempat tertunda beberapa waktu.
Bersama Tyo yang selalu ada di sisinya, Nadin menghela napas, dan masuk ke dalam ruangan sang kepala manajemen. Seseorang yang sebenarnya tidak ingin Nadin temui, apalagi saat terjadi masalah.
Lelaki tersebut tampak tenang. Mungkin karena amarahnya sudah cukup terluapkan beberapa hari ke belakang. Kali ini dia bicara dengan nada tenang namun dingin. Tentu dipenuhi dengan kekecewaan terhadap keributan yang—menurutnya—Nadin ciptakan.
Tentu dia tidak ingin mendengar alasan apa pun yang mungkin terjadi. Karena intinya, Nadin sudah kehilangan kepercayaan dari banyak orang. Dan hal itu akan sulit diperbaiki. Apalagi setelah ada pernyataan dari Juna soal perpisahan mereka.
“Aku pernah bilang, saat hubunganmu dan Juna terungkap oleh publik, itu akan menjadi akhir dari karirmu. Tapi, aku akan tetap memberikan pilihan. Masih tetap ada harapan bagi karirmu di sini. Meski tidak akan secerah sebelumnya.”
Nadin memasang wajah penuh keyakinan. Dia sudah memikirkan semua matang-matang, dan berdiskusi cukup panjang dengan Juna. Hingga akhirnya mendapatkan sebuah keputusan yang benar-benar bulat.
“Sebelumnya saya mohon maaf karena sudah membuat kekacauan ini. saya tidak akan menyangkal dan membela diri. Dan benar-benar hanya bisa meminta maaf atas kerugian yang ditimbulkan…. Lalu, saya juga ingin berterima kasih karena masih diberikan kesempatan. Tapi, saya merasa kurang pantas kalau tetap bertahan setelah membuat keributan seperti ini. Jadi… saya sudah memutuskan untuk keluar dari manajemen.”