
“Hai, sendirian aja?” Seorang lelaki bertubuh kurus jangkung menyapa Nadin—yang langsung menoleh. “Lho, kamu Nadin, kan?” tanyanya agak terkejut.
“Iya…”
“Ya ampun, gak nyangka aku bisa ketemu di sini. Aku ngefans banget.”
Nadin tersenyum kecil. “Makasih ya.”
“Ini, buatmu.”
Lelaki tersebut memberikan segelas minuman bening kepada Nadin. Namun tidak langsung dia teguk. “Maaf, aku gak minum alkohol.”
“Oh, maaf. Aku ganti ya.” Lelaki tersebut mengambil minuman lain dan memberikannya kepada Nadin. “Seratus persen, jus jeruk,” ucapnya dengan nada lucu. Membuat Nadin tak bisa untuk tidak tertawa.
Mereka berdua pun bersulang dan meneguk minumannya hingga habis. Dan mulai mengobrol, setelah berhasil mengusir rasa canggung yang semula terasa.
“Aku selalu ngikutin acara kamu, lho. Bahkan punya beberapa album kamu.”
“Oiya?”
“Konser yang terakhir juga aku datang.”
“Ya ampun. Aku jadi malu.”
“Aku suka single terbaru kamu. Entah kenapa feel-nya lebih dapet dibanding yang sebelumnya.”
“Wah ternyata ada yang sadar ya. Aku kasih tahu rahasia. Soalnya lagu itu emang aku yang buat sendiri. Jadi entah kenapa aku bisa lebih dapat feel-nya.”
“Oya? Waw! Bisa dengar kayak gitu dari artisnya langsung itu rasanya… senang banget. Kayaknya bukan Cuma Marco yang ulang tahun hari ini. aku ngerasa kayak lagi ulang tahun juga!”
Nadin tertawa melihat kenalan barunya yang berbicara dengan penuh semangat seperti itu. Membuatnya bisa mengobrol dengan lebih santai.
Kedua orang itu pun lanjut berbincang dengan seru. Hingga entah sudah berapa banyak Nadin menambah minumannya. Sampai-sampai sudah tidak awas memperhatikan minuman apa yang baru saja masuk ke dalam perutnya itu.
Di tengah obrolan, Nadin merasa kepalanya mulai pusing, dan perutnya mual. Dia bahkan hampir terjatuh kalau saja lelaki yang bernama Reza itu tidak memeganginya.
“Kamu gak apa-apa?”
“Enggak. Cuma, agak mual,” jawab Nadin terbata-bata. Sembari menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Rasa mual semakin menekan perutnya dari dalam. Kalau tidak bergegas, dia akan malu karena muntah di depan banyak orang. “Aku, mau ke toilet dulu.”
“Biar aku antar.”
“Gak usah.”
Namun, Nadin hampir saja terjatuh saat mencoba berjalan. Hinga Reza mau tidak mau harus memapahnya.
Axel yang masih berada di atas panggung, masih terus memperhatikan Nadin. Dia sudah selesai menunjukkan penampilan sesuai permintaan Marco. Kini, mereka hanya sedang bercakap-cakap.
Melihat Nadin yang tengah dibawa pergi oleh seseorang yang tidak dikenal, membuat Axel merasa tidak tenang. Tapi dia masih terjebak di atas panggung.
Hingga akhirnya dia sudah tidak bisa menahan diri untuk pergi. Dia berbisik ke arah Ramos sebelum akhirnya melesat, melompat dari atas panggung, membuat semua orang agak berteriak. Lalu dia mulai berlari ke arah Nadin pergi.
Banyaknya orang yang berkerumun membuat Axel kesulitan untuk berjalan. Hampir saja dia kehilangan jejak dari Nadin. Hingga dia berhasil menemukannya di lorong menuju toilet.
Axel langsung menjenggut bagian belakang baju Reza—yang tampak terkejut. Apalagi saat menoleh ke arah wajah Axel yang tampak ingin menghajarnya.
“Minggir!” ucap Axel kasar. Dia langsung menggantikan Reza untuk membopong Nadin yang sudah setengah tak sadarkan diri. “Lo kasih dia minum apa?”
“E-enggak tau. Dia ambil minuman sendiri dari meja,” ucap Reza sembari agak melangkah mundur.
“Kamu gak apa-apa?” tanya Axel pelan ke arah Nadin yang tidak merespons. “Kita pulang aja ya.”
Sherin pun muncul setelah membuntuti sedari tadi. Dia tersenyum puas sembari menelepon seseorang. “Kamu sudah lihat foto yang aku kirim?”
“Iya! OMG, Sherin. I love you so much!” seru Mala. Saat ini dia baru saja selesai makan malam di apartemennya
dengan Juna.
Juna masih terduduk pada kursi yang ada di balkon. Menyesap tehnya sembari menatap langit malam di atasnya.
Mala masuk ke dalam kamar agar pembicaraannya dengan Sherin tidak terdengar. “Rencananya masih sama kayak yang kita bicarakan, kan?”
“Yup. Tunggu saja sambil duduk manis di sana.”
“Aku udah gak sabar lihat kelanjutannya.”
Mala menutup telepon dengan perasaan bahagia. Lalu berjalan kembali ke arah balkon, bertepatan dengan Juna yang baru saja bangkit dan mengambil jasnya—seakan hendak pergi.
“Kamu mau ke mana?” tanya Mala bingung. Padahal dia sudah meminta Juna menemaninya malam ini. Sedikit memaksa karena tahu Juna berencana pergi ke pesta ulang tahun Marco.
“Aku harus pergi.”
“Bukannya kamu udah janji?”
“Nanti aku balik lagi ke sini.”
“Mau ke mana semalam ini?”
“Aku kelupaan sesuatu. Gak akan lama, kok.” Tanpa memberikan kesempatan bagi Mala untuk membalas, dia segera melangkah pergi ke arah pintu keluar—dengan agak terburu-buru.
Entah kenapa ada sekelebat perasaan menggelisahkan yang muncul dalam benak Juna. Embusan angin seakan membisikkan sebuah kabar buruk yang entah apa.
Meski tidak bisa dijelaskan, tapi Juna cukup yakin bahwa firasatnya berasal dari Nadin. Entah apa yang terjadi, hal itu membuat Juna tidak bisa duduk menikmati tehnya dengan tenang.
Dia sempat berpikir untuk setidaknya mengirim pesan atau menelepon, tapi tentu saja Nadin tidak akan membalasnya. Jadi, dia memutuskan untuk memeriksa langsung ke tempat Nadin berada sekarang.
Di tengah perjalanan, Juna memutuskan untuk menelepon Nadin. Panggilannya terhubung, tapi sayangnya sang pemilik ponsel sedang tidak bisa menerima panggilan tersebut. Bukan karena tidak mau, melainkan tidak bisa.
Saat itu, Sherin yang justru menyadari ada panggilan masuk pada ponsel Nadin. Dia pun sempat melihat nama Juna tertera di sana.
“Mau apa dia?” ucapnya. Sebelum memutus panggilan tersebut dan mematikan ponsel Nadin. "Apa sih bagusnya cewek kampungan itu."
Hal itu membuat Juna semakin yakin bahwa ada hal buruk yang sedang terjadi. Dia pun semakin mengencangkan laju dari mobilnya.
Sesampainya di tempat tujuan, Juna bergegas masuk ke dalam gedung tempat pesta Marco. Dia berjalan ke sana ke mari hanya untuk mencari keberadaan Nadin. Tentu saja dengan orang seramai itu, tidak mudah menemukan sosok wanita kecil seperti Nadin. Namun, dia terus memeriksa ke setiap sisi ruangan tanpa menyerah.
Hingga hampir saja Juna menabrak Sherin. “Lho, Juna. Bukannya kamu lagi sama Mala?” tanya Sherin—seolah tidak tahu apa-apa.
“Kamu lihat Nadin, Sher?”
“Hm… tadi lihat, sih. Dia gabung sama anak-anak Hybrid.” Sherin menunjuk kea rah empat member Hybrid yang tengah mengobrol di satu meja. “Tapi belum lama dia pergi.”
“Sendiri?”
“Enggak. Berdua sama anak Hybrid juga yang rambutnya cokelat.”
“Thanks, Sher.”
Juna pun langsung pergi dari ruangan tersebut. Berlari menuju ke arah koridor yang membawanya menuju ke toilet. Lalu pergi ke ruangan lainnya yang ada di sana. Namun pencariannya masih belum membuahkan hasil.
“Sialan!” umpatnya pelan. Dia mulai merasa kesal karena terlanjur berprasangka bahwa Axel-lah penyebab dari firasat buruk yang muncul