
“Astaga, Xel! Kamu ini benar-benar ya! Kalau kamu terluka dan gak bisa kerja, gimana?”
Perhatian Nadin teralihkan oleh suara lelaki yang bicara keras sekali—dari dalam sebuah ruangan. Dia yang merasa penasaran, memilih untuk mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat.
Dalam ruangan latihan, Axel tampak dimarahi oleh sang manajer. Keempat member Hybrid lain hanya bisa terdiam memperhatikan. Berusaha menjaga jarak agar tidak terseret dan ikut dimarahi.
Akan tetapi, Axel justru berdiri dengan wajah kesal. Sama sekali tidak merasa bersalah, dan tampak tak sabar ingin lari dari sana. “Tapi nyatanya aku baik-baik saja, kan Pak.”
“Bukan berarti kamu harus nekat main api! Jangan seenaknya, mentang-mentang pak kepala suka sama kamu ya! Tetap saja saya yang harus mengurusi kalau ada apa-apa.”
“Iya, iya, iya.”
“Dengarkan yang benar kalau orang tua sedang bicara!”
Lagi-lagi, sang ketua tidak bisa menahan diri untuk terus diam. Dia mendekat ke arah Axel, mendorong kepalanya agar menunduk—seraya meminta maaf. “Maaf, Pak. Dia memang keras kepala,” ucapnya.
“Kau awasi dia supaya gak terlibat di tengah masalah!”
“Iya, baik, Pak.”
Lelaki setengah baya itu pun melangkah ke arah pintu. Nadin langsung menghindar, seolah dia baru saja tiba di sana. Lalu masuk ke dalam ruangan setelah lelaki tadi menjauh.
Saat keberadaannya kian dekat dengan Axel, dia baru sadar kenapa lelaki tersebut dimarahi seperti tadi. Wajah Axel tampak dipenuhi luka gores. Ada noda kebiruan juga di dekat bibirnya. Bukan, melainkan lebam akibat pukulan.
“Kamu kenapa?” tanya Nadin.
Axel agak terkejut karena tiba-tiba bertemu dengan Nadin pada waktu seperti ini. Ditambah lagi, mereka belum pernah berbincang kembali sejak kasus di apartemen Juna.
“Masa dia berantem sama preman, Kak!” sahut Grey. Padahal Axel sudah membuka mulut, hendak menjawab.
“Hah? Kok, bisa?”
“Katanya sih nolongin orang yang hampir dibegal,” balas Grey lagi, sembari berjalan mendekat. “Tapi gak mungkin ah. Masa Bang Axel seheroik itu.”
“Anak kecil seenaknya aja kalau ngomong!” Axel melesat untuk menjitak kepala Grey.
“Hmm…” respons Nadin singkat.
“Eh, kemaren aku nonton kakak… Hpff-” Axel langsung membekap mulut Grey, yang hampir saja mengatakan sesuatu—yang tidak seharusnya. Pemuda itu pun mulai meronta-ronta untuk melepaskan diri dari cengkeraman lengan Axel yang kuat.
“Single terbarumu sebentar lagi rilis ya? Aku dengar-dengar, nanti kemungkinan kita ada acara bareng, untuk launching,” sahut Ramos, yang baru berjalan mendekat. Pembawannya selalu tampak menenangkan seperti biasa.
“Oya? Wah, aku baru dengar. Tapi pasti bakal asik kalau kerja bareng.”
“Iya. Aku belum dengar konsepnya bakal kayak apa. Tapi, aku sudah gak sabar.”
“Iya, aku juga.” Nadin pun tersenyum tipis. “Ya sudah, aku mau ada rekaman dulu. Bye, semua.”
Semua orang pun terdiam hingga keberadaan Nadin benar-benar sudah tidak terlihat. Axel pun baru saja melepaskan Grey yang terlihat kesal. Tapi, sebenarnya dia yang jauh lebih kesal. “Heh, itu mulut dijaga!” bentaknya.
“Emang kenapa, sih. Kan, aku cuma mau nanya.”
“Dasar jomblo!”
“Eh, apa hubungannya?!”
"Tapi aku penasaran sih, Nadin kenapa, Xel?" tanya Ve.
"Kaget banget waktu kemarin lihat," sambung Bintang.
"Mana aku tahu! Gak usah nyampurin masalah orang," balas Axel.
Ramos berjalan ke tengah ruangan. Menepuk-nepukkan tangannya, untuk menyuruh para member berkumpul. “Sudah, ayo lanjut latihan,” ajaknya.
***
Jika hati telah berkata
Mungkin mata takkan merasa
Namun perasaan kan membimbing menuju kebenaran
Bukannya aku tak mampu
Bukannya aku tak mau
Melawan semua kegelisahan dan rasa takut
Hanya belum tahu
Apa jadinya dunia tanpamu
Haruskan aku diam dan terus membisu
Hingga perasaan menghancurkan diri ini perlahan
Bukan pada hati lain yang tetap mencoba untuk pergi
Setelah apa yang kuberi selama ini
Mungkin memang bukan dia
Pelabuhan hati yang kubutuh
Nadin tiba-tiba terdiam, tenggelam dalam pikirannya. Padahal dia tengah berada di tengah rekaman. Membuat staf yang ada langsung mematikan musik yang masih terus mengalun.
“Nadin? Ada apa?”
“Eh? Maaf, Pak. Gak kenapa-napa. Maaf, Pak. Boleh ulang lagi?”
“Jangan salah lagi ya.”
“Iya, Pak.”
Nadin hanya tersadar akan sesuatu dari lagu yang sedang dia nyanyikan. Sebelum ini, dia tidak pernah memperhatikan liriknya dengan seksama. Entah kenapa, lagu tersebut seakan tengah berbicara kepada dirinya sendiri. Yang tidak memiliki keberanian untuk menghadapi masalah yang ada.
Nadin akui, dia hanya takut. Tidak pernah memikirkan akan seperti apa dunia tanpa Juna di sisinya. Tidak pernah sekali pun terbayang akan perpisahan—selain kematian. Dia takut akan rasa yang muncul setelah terpaksa melepaskan.
Akan tetapi, perlahan Nadin mulai sadar. Tidak ada kebaikan yang dia dapatkan setelah memaksakan sesuatu—yang memang tidak seharusnya. Dia bisa saja mempertahankan hubungan hanya demi status semata. Tapi, hal itu tidak berlaku bagi hati seseorang. Dia hanya akan menggenggam sesuatu yang akan terus berbalik menyakitinya.
‘Apa aku harus menemuinya sekarang?’ tanya Nadin kepada diri sendiri. ‘Apa aku sudah siap menghadapinya?’
Nadin mulai merasa benci kepada dirinya sendiri. Seakan tidak pernah bisa tegas mengambil keputusan. Tapi, dia belum pernah menghadapi hal seperti ini sebelumnya. Sehingga tidak tahu harus merespons seperti apa.
***
“Tumben kamu mesen kopi. Bukannya udah berhenti gara-gara maag?” Tyo menaruh segelas latte di hadapan Nadin. Lalu duduk sembari menaruh Americano miliknya di atas meja.
Sudah cukup lama sejak terakhir kalinya mereka datang ke kafe bersama. Selain urusan kerjaan, waktu Nadin pasti selalu dihabiskan dengan Juna. Sama sekali tidak pernah terpikir untuk mengajak makan Tyo. Ditambah lagi, beberapa bulan ke belakang, Tyo masih belum putus dengan mantannya.
“Kayaknya lagi butuh kafein nih…”
“Tapi aku seneng banget waktu kamu ngajak ke sini. Akhirnya, adikku yang manis sudah gak lupa sama kakaknya. Hiks.” Tyo berlagak menangis. Berusaha membuat Nadin tertawa, namun hanya dibalas dengan senyuman.
Kemarin, akhirnya Nadin menceritakan apa yang terjadi kepada Tyo. Soal masalah antara dia dan Juna. Saat itu, Tyo belum berani berkomentar dan menasehati apa pun. Dia hanya mendengarkan Nadin hingga puas menangis dan bercerita.
Kali ini, dia cukup yakin kalau Nadin mengajaknya minum kopi bukan tanpa maksud. “Perasaan kamu udah enakkan?” tanyanya dengan lembut.
“Hu’um.” Nadin mengangguk. “Sedikit sih. Nol koma tiga persen.”
Tyo tertawa kecil. “Masih aja bisa ngelawak.”
“Aku bingung, Kak. Aku harus ngapain. Gimana biar aku gak ngerasa sakit lagi?”
“Hm…” Tyo bersandar pada punggung kursi, dan melipat lengan di depan dada. “Cuma ada dua pilihan. Tapi semuanya bakal kerasa sakit.”
Nadin agak cemberut.
“Pertama, kamu terus seperti ini. Memberi waktu sampai bisa berpikir seolah tidak ada apa pun yang terjadi. Tapi… selama itu kamu bakal terus ngerasa sakit, gelisah, cemas, galau,” lanjut Tyo lagi. “Kedua. Kamu sudahi semua ini, yang pasti akan bikin kamu sakit, ngerasa hampa, galau. Tapi, semua itu cuma akan berlangsung sesaat. Setelah melewatinya, kamu akan ngerasa saaaangat lega. Bebas, dan menemukan hal-hal baru—yang gak pernah bisa kamu lihat selama ini.”
“Udah pasti aku gak mau terus-terusan ngerasa kayak gini. Tapi, aku bisa gak ya, Kak?”
“Apa sih yang kamu takutkan?”
“Aku gak pernah nemuin orang se-perfect Kak Juna. Kalau harus putus, apa aku bisa nemuin orang kayak dia lagi?”
“Aku akui, Juna memang sempurna. Tampan, pintar, kuat, kaya, semua orang pasti mendambakan orang kayak dia. Tapi, yang kamu butuhkan bukan sekedar orang yang kelihatannya ‘sempurna’. Setelah apa yang terjadi, kenapa bisa kamu masih berpikir kalau dia sempurna?”
“Hmm… iya, sih…”
“Aku tahu ini gak akan mudah. Tapi aku selalu yakin sebuah pengorbanan akan tergantikan oleh sesuatu yang lebih besar. Kamu hanya perlu berani untuk melangkah dan mengambil resiko.”
Wajah Nadin masih tampak ragu. Mungkin dalam pikirannya dipenuhi oleh pergulatan antara dua pilihan yang ada. Masih belum bisa memutuskan akan mengambil jalan yang mana.
“Kamu gak usah takut. Kalau suatu saat kamu terjatuh sewaktu memperjuangkan sesuatu yang menurutmu terbaik, aku akan selalu ada untuk menangkapmu. Mungkin aku gak bisa menghilangkan rasa sakitnya. Tapi aku akan berusaha untuk meredakan, dan membuatmu pulih dengan cepat.”
“Aku bakal ngadain pesta tujuh hari tujuh malam supaya kamu gak ngerasa kesepian, dan gak punya waktu buat galau,” sambung Tyo lagi. Berhasil membuat Nadin tertawa, meski dengan mata yang berkaca-kaca.
Nadin berdiri di depan pintu sebuah apartemen. Terdiam sesaat sebelum menekan belnya.
Tak lama kemudian, si penghuni pun membukakan pintu. Memandang dengan terkejut seseorang yang tengah berdiri di hadapannya. “Nadin?” tanya Juna, dengan nada agak tidak percaya.
Selama ini telepon dan chat-nya tidak pernah dibalas. Namun kini, orang yang ingin dia ajak bicara mendadak muncul tanpa dipinta.
“Ada yang mau kamu bicarain kan sama aku?”