Just A Professional Relationship

Just A Professional Relationship
Episode Tiga Puluh Empat



Pagi itu, Axel dibangunkan oleh dering ponselnya yang menyala cukup lama. Dia meraih benda itu dan mengangkat panggilan masuk tanpa melihat nama si penelepon.


“Ya, halo…” ucapnya sembari terkantuk-kantuk.


“Axel… tolong aku… ibu jatuh, terus pingsan… tolong aku…”


Betapa terkejutnya Axel saat mendengar suara Nadin yang bicara sembari menangis sesegukan. Bahkan kata-kata wanita tersebut agak tidak jelas dan terbata-bata.


Rasa kantuk yang semula terasa, langsung hilang seketika. Axel lekas bangkit dari kasur, dan menuju ke arah lemari untuk mengambil jaket. “Aku ke rumahmu sekarang.”


Dikarenakan tidak ada waktu untuk pergi ke tempat penyewaan mobil, dan lagi masih terlalu pagi, Axel menggedor pintu rumah tetangganya. Dia meminta tolong agar bisa dipinjamkan mobil, dan langsung melesat menuju rumah Nadin.


Untung saja jalanan masih sepi karena kebanyakan orang masih terlelap. Hingga Axel bisa menginjak gas dalam-dalam, dan tiba dengan cepat di tempat tujuan.


Tampa harus mengetuk pintu, Nadin langsung membukanya—tepat saat Axel baru saja sampai di depan sana. Wajah wanita tersebut memerah dan terbasahi oleh air mata.


Axel langsung masuk dan menggotong ibu Nadin yang masih tidak sadarkan diri, lalu mereka melesat menuju ke rumah sakit.


Nadin tak henti menangis sembari terus merasa gelisah. Axel merangkul bahunya yang gemetar.


Untung saja, tidak ada hal parah yang terjadi pada ibu Nadin. Tapi dokter menyarankan ibunya untuk rawat inap beberapa hari. Nadin pun langsung mengiyakan.


Mentari baru saja mengintip dan memperlihatkan sinarnya. Nadin terus duduk di samping ranjang, sembari menggenggam tangan sang ibu. Wajahnya sangat pucat.


“Biar aku yang jaga ibumu. Kamu istirahat saja dulu sebentar,” ucap Axel pelan.


Nadin hanya mengangguk lemah, dan berjalan dengan gontai ke arah sofa panjang di sudut ruangan. Lalu mencoba merebahkan diri di atasnya.


Setelah lima belas menit berlalu, ibu Nadin mulai tampak sadarkan diri. Perlahan kelopak matanya terbuka. Axel memasang senyuman seraya menenangkan. “Ibu gak apa-apa?” bisiknya, agar tidak membangunkan Nadin.


Ibu Nadin masih tampak bingung. Sepertinya dia tidak sadar sedang berada di mana.


“Ibu ada di rumah sakit. Tadi ibu jatuh dan gak sadarkan diri.”


“Nadin… di mana?”


“Dia lagi tidur, Bu.”


Wanita itu pun tampak menghembuskan napas penuh kelegaan. Anehnya, justru dia yang mengkhawatirkan keadaan sang anak. Padahal, dialah satu-satunya yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit.


“Maaf merepotkan ya, Nak Axel.”


“Enggak kok, Bu.”


Selang tak berapa lama, Axel terkejut saat melihat linangan air mata pada wajah wanita di hadapannya. “Ibu kenapa? Ada yang sakit?”


Wanita itu pun menggeleng sembari tersenyum. “Ibu kasihan sama Nadin… Dia terus berjuang sendirian. Bahkan ibu cuma bisa jadi beban untuknya…”


Axel hanya bisa terdiam mendengar hal itu.


“Sekarang ibu lega karena ada orang yang bisa jaga Nadin. Nak Axel mau kan, jaga Nadin buat ibu?”


“Tanpa ibu pinta pun, sebisa mungkin aku pasti menjaga Nadin, Bu,” jawab Axel.


“Waktu itu, ibu pernah meminta hal yang sama pada seseorang. Tapi ibu cukup kecewa karena ternyata dia gak bisa menepati janjinya. Padahal ibu pikir Nadin selalu tampak bahagia setiap bersama dengan dia. Tapi pada akhirnya, dia justru membuat anak ibu menangis…”


Tentu saja Axel tahu benar siapa orang yang dimaksud, tanpa harus mendengar namanya. Dia sendiri bertanya-tanya, apakah ibu Nadin tahu semua hal soal Juna dan Nadin? Atau hanya sebatas tahu kalau keduanya berpisah?


Sebenarnya, ada banyak hal yang ingin Axel ucapkan. Tapi, semua itu tertahan di dalam tengorokannya.


“Bu, mungkin ibu belum tahu. Tapi, sebenarnya…”


“Tidak,” sahut ibu Nadin. Memotong perkataan Axel. “Ibu tahu. Ibu lebih dari tahu. Waktu itu dia sempat datang ke rumah sakit menemui ibu. Dia meminta maaf karena harus mengingkari janji. Dan memohon supaya ibu mau memaafkannya sampai berlutut…”


Wanita itu pun menggeleng lemah.


“Tidak perlu menambah bebannya. Biarkan semua itu tersimpan jauh. Ibu tidak ingin dia tambah sedih…”


Saat itu, Axel tidak sadar telah meneteskan air mata. Entah apa yang seketika membuat perasaannya jadi bercampur aduk. Kata-kata yang terlontar dari dalam mulut ibu Nadin hanyalah sebuah keresahan seorang ibu pada anaknya. Dan sangat wajar saat dia ingin ada orang lain yang melindungi darah dagingnya yang berharga. Hanya saja, semua itu membuat Axel tak kuasa menahan kesedihan.


Hingga beberapa jam kemudian, jawaban yang dicari pun muncul. Ibu Nadin menghembuskan napas terakhirnya, di atas ranjang rumah sakit yang masih dia tempati.


Ini adalah kepergian pertama yang Axel saksikan secara langsung. Membuat tubuhnya terbujur kaku, hanya bisa berdiri mematung di sisi tembok. Memandangi beberapa petugas medis yang berlalu lalang. Serta sosok seorang anak yang meraung di tengah kepedihan.


Air matanya lagi-lagi menetes. Kali ini lebih deras tanpa bisa ditahan. Rasanya seakan ibunya sendiri yang baru saja pergi. ‘Ternyata rasanya sesakit ini…’ pikirnya.


Axel pun mulai melangkah untuk merangkul Nadin yang jatuh terduduk di atas lantai. Wanita itu masih terus menangis, menggaungkan nada kehilangan yang luar biasa menusuk ke dalam hati semua orang yang mendengar.


Axel mendekap Nadin yang mencengkeram bajunya dengan kuat. Lalu lanjut menangis sejadi-jadinya, hingga membasahi bajunya. Andai saja bisa, Axel ingin sekali menggantikannya untuk menanggung semua kesedihan. Biar dia yang merasakan kepahitan itu.


Nyatanya, lagi-lagi dia merasa tidak berdaya. Hanya bisa sekedar membantu dengan terus berada di sampingnya. Agar dia bisa menangkap saat kelak Nadin membutuhkan orang lain untuk menopang kala dia terjatuh.


***


Pemakaman ibu Nadin dilakukan pada hari yang sama. Seluruh keluarga Axel membantunya, hingga sengaja menutup kedai untuk hari ini. Tyo dan Ramos pun bergegas datang setelah dikabari.


Ibu Axel sempat mengajak Nadin bicara, dan memintanya untuk menginap hingga perasaannya jauh lebih baik. Namun Nadin menolak.


Tentu saja Axel pun merasa tidak tenang meninggalkan Nadin sendirian di rumahnya. Sudah pasti Nadin hanya akan menangis seharian hingga besok, dan mungkin hari-hari selanjutnya. Tidak akan ingat makan, hingga akhirnya jatuh sakit.


Sepanjang perjalanan saat mengantar pulang, Axel berusaha mengajak Nadin bicara. Namun wanita tersebut masih belum bisa fokus. Pikirannya masih terus mengawang, dan sesekali diselingi dengan tangisan.


Axel melihat Nadin berjalan lemas ke arah pintu rumahnya. Kakinya benar-benar berat untuk melangkah pulang. Alhasil, dia mengikuti Nadin hingga masuk ke dalam rumah.


“Aku gak akan biarin kamu sendiri.”


Nadin tidak menjawab apa pun. Dia hanya lanjut berjalan menuju ke arah sofa, lalu merebahkan diri di atas sana, dan kembali menangis.


Axel melangkah ke luar rumah saat ponselnya bergetar. Tyo yang meneleponnya.


“Dia masih gak bisa diajak bicara, Bang. Masih terus nangis kayak tadi.”


“Pasti gak bisa sembuh cepat. Secara, keluarga Nadin hanya tinggal ibunya saja. Dan sekarang, sudah tidak ada…”


“Iya. Aku khawatir…”


“Xel, tolong jangan tinggalkan dia sendirian. Dia bisa berhari-hari terus tidur kayak gitu tanpa ingat makan. Kamu harus sedikit memaksanya.”


“Iya, Bang. Aku mungkin akan tinggal di rumah Nadin dulu untuk sementara.”


“Mungkin nanti kamu bisa bujuk dia buat pindah ke daerah yang lebih dekat denganmu.”


“Nanti akan aku coba bicarakan kalau dia sudah lebih tenang.”


“Makasih, Xel. Sewaktu weekend, mungkin aku bisa ke sana.”


“Iya, Bang. Nanti kabari saja.”


Setelah memutus telepon, Axel pun duduk pada kursi di ruang tamu. Lalu merenung seorang diri.


Dia bingung, bagaimana caranya untuk menghibur orang yang berduka? Dia belum pernah melakukannya sebelum ini. Apa yang harus dia perbuat agar setidaknya Nadin bisa lebih tenang? Bagaimana kalau keadaan Nadin justru bertambah parah setelah ini?


Axel cukup bingung menjawab pertanyaan yang dia lontarkan kepada diri sendiri. Padahal ini tugas pertamanya, setelah mengucap janji kepada ibu Nadin. Bahwa dia akan menjaga wanita yang dia sayangi itu.