
“Project ini target kita mulai satu minggu setelah valentine. Konsepnya sudah pasti, seperti yang saya jelaskan di meeting terakhir. Jadi kita buat jadi semacam vlog yang merekam Juna dan Nadin sewaktu melakukan kegiatan. Di tiap minggunya aka nada tema berbeda-beda,” jelas lelaki paruh baya berkacamata, yang merupakan produser dari reality show yang akan melibatkan Nadin dan Juna bersama.
Semua orang dalam ruangan duduk dengan tenang sembari membaca kertas berisi konsep acara yang dijelaskan. Begitu pula dengan Juna dan Nadin yang turut serta dalam meeting.
“Jadinya hanya disiarkan live di Youflix saja?” tanya Tyo.
“Kalau tidak salah sempat ada pembahasan akan disiarkan di tv juga,” sambung Ardit.
“Iya, kami sudah mendapatkan respons bagus dari beberapa stasiun televisi, tapi harus kami pilih satu. Mereka akan versi offlinenya.”
“Dalam kontrak terakhir soal itu masih belum dimasukkan. Tolong diperbaharui dulu dan saya ingin lihat secepatnya,” balas manajer Juna. Tampaknya dia lebih tertarik membahas soal royalti dibandingkan dengan konsep program—yang tidak tampak menarik baginya yang sudah bukan lagi remaja.
“Baik. Kontrak terbarunya akan segera kami serahkan setelah ini.”
Hampir semua orang sudah menyimpan konsep acara ke atas meja. Kecuali Tyo yang masih terus mencermati berulang-ulang deretan kata yang ada. “Maaf. Di tema tanggal dua puluh delapan Mei ini, ada keterangan ‘Juna dan Nadin bertengkar’. Apa maksudnya?”
“Oh, nanti kita akan buat ada adegan di mana Nadin dan Juna bertengkar karena sesuatu. Mungkin beda pendapat atau apa pun.”
“Saya pikir konsepnya benar-benar murni vlog yang disiarkan tanpa skrip.”
“Memang. Tapi kami pikir harus diberikan bumbu-bumbu drama, karena penonton suka yang seperti itu.”
Tyo menghembuskan napas dan termenung, lalu melirik ke arah Nadin yang menatapnya balik.
“I think, that’s good idea,” komentar Ardit. “Kalau memang akan disiarkan di televisi, kita tidak bisa menayangkan sesuatu yang lebih menarik. Penonton Youflix dan tv tentu berbeda. Kita harus memikirkan sampai ke sana.”
“Apa Pak Tyo keberatan?” tanya si produser.
“Hm… Saya hanya agak ragu. Meski memang sudah menjadi konsumsi publik, tapi saya ingin tetap menjaga hubungan Juna dan Nadin agar bebas dari drama rekayasa seperti itu.”
Ardit mendengus keras. Tampak menahan untuk tidak tertawa. “Mereka sudah bukan anak-anak lagi. Dan pasti mengerti kita sedang bicara soal kesempatan untuk memaksimalkan keuntungan yang tidak boleh disia-siakan. Lagipula dari artisnya sendiri tidak ada yang keberatan, kan?”
Juna dan Nadin hanya bisa terdiam. Mereka tidak pernah bicara banyak jika berada dalam meeting seperti itu.
Sebenarnya Nadin mengerti benar kalau Tyo memikirkan semua itu untuknya. Tapi, dia sendiri tidak terlalu keberatan. Hal itu membuatnya bingung harus menanggapi seperti apa.
Akhirnya, Juna-lah yang angkat suara. “Aku tidak masalah kalau memang nanti ada konsep seperti itu. Tapi dengan syarat, aku dan Nadin masih boleh me-review konsep yang diberikan, dan berhak untuk menolak kalau ternyata terlalu berlebihan untuk kami lakukan. Kami tentu akan memberikan masukkan juga kalau memang terjadi kondisi seperti itu.”
“Baik, bisa kami terima. Tetap kami yang menyiapkan konsep, tapi sebelum mulai tayangan, kita akan me-review hal itu terlebih dahulu.”
Nadin cukup lega karena sudah merasa terwakilkan. Dia berterima kasih melalui senyuman kepada Juna yang duduk di seberangnya.
***
“Ahh, aku udah gak sabar. Tiga minggu lagi ya…” Ini bukan pertama kalinya Nindi dan Juna mendapatkan project bersama. Tapi kali ini terasa spesial karena tayangan tersebut dibuat khusus untuk mereka. Hal itu membuat Nadin tak henti tersenyum-senyum membayangkannya.
“Sampai lupa kalau sebentar lagi ulang tahun ya?”
“Iya juga ya! Sekaligus anniversary lima tahun kita.”
“Kamu mau hadiah apa?”
“Jujur, di umur segini aku udah gak kepikiran soal hadiah ulang tahun.”
“Lagian, nanti pasti banyak fans yang kasih kamu kado.”
“Jangan cemburu ya!”
“Kenapa harus cemburu?”
“Alah… tahun lalu aja kamu kesel kan, gara-gara aku keasikan bacain kartu ucapan sewaktu kita dinner?”
“Siapa yang gak kesal kalau dianggurin sewaktu lagi ngobrol?”
Nadin pun tertawa. Sembari mengingat kembali kenangan setahun ke belakang sewaktu mereka merayakan hari tahun bersama di sebuah restoran. Nadin selalu antusias sewaktu membaca surat dari penggemarnya yang membanjiri kotak pos manajemen. Sampai-sampai Juna dibuat kesal karena merasa terlupakan.
“Kita makan siang di kantin saja gak apa ya?” tanya Juna.
“Iya. Lagian sambil nunggu Bang Tyo beres.”
Keduanya pun lanjut berjalan menyusuri koridor. Di saat bersamaan, dari arah berlawanan tampak dua orang wanita berjalan mendekat. Dari warna lipstik wanita tersebut, Nadin langsung bisa mengenalinya. Meski tidak kenal, tapi dia masih bisa ingat wajah galak wanita yang sempat dia tabrak di depan lift tersebut.
Saat posisi mereka berdekatan, Nadin hanya tersenyum sembari sedikit menunduk. Namun dia tidak mendapatkan respons serupa. Wanita itu justru menghunuskan tatapan penuh kebencian. Lalu pergi sembari lanjut mengobrol dengan asik bersama temannya.
Nadin menghembuskan napas panjang. Masih merasa bersalah karena sepertinya wanita tadi pun masih mengingat kesan pertama pertemuan mereka yang kurang baik. Dia paling tidak bisa sewaktu tahu ada orang yang tidak suka padanya.
Nadin tipe orang yang tidak tahan menghadapi kebencian. Oleh karena itu, Tyo selalu memperhatikan tawaran pekerjaan yang masuk secara baik-baik. Karena tidak ingin membiarkan artisnya merasa tertekan.
Sewaktu masalah soal dianggap tim sukses caleg pun, sempat membuat Nadin stres. Dia tidak bisa berhenti gelisah hingga performanya menurun. Sampai-sampai membuat Tyo sendiri merasa sangat bersalah.
“Kamu kenapa?” Juna menyadari perubahan raut wajah Nadin yang tiba-tiba berubah murung. Bahkan pacarnya itu
tiba-tiba diam.
“Perempuan yang jangkung tadi siapa ya?”
“Yang mana?”
“Yang barusan papasan sama kita.”
Juna menjeda jawabannya. “Kenapa memangnya?” tanyanya balik.
“Enggak. Waktu itu aku gak sengaja nabrak dia kenceng banget. Kayaknya dia masih kesel sama aku sampai sekarang, deh.”
Nadin mendadak berhenti berjalan. “Apa aku minta maaf aja ya? Mumpung belum jauh,” tambahnya.
“Cuma perasaan kamu aja kali.” Juna mengusap kepala Nadin yang masih tampak khawatir. “Paling dia sendiri sudah lupa.”
“Mungkin ya… Terus, namanya siapa? Siapa tau nanti aku papasan lagi sama dia.”
“Dia Mala. Salah satu model di sini.”
“Oh, model… pantesan badannya bagus banget. Cantik pula.”
“Kamu juga cantik, kok.”
“Oh, jelas!” sahut Nindi, sebelum akhirnya tertawa.
“Ayok, ah. Aku udah kelaparan.”
Keduanya pun lanjut berjalan menuju kantin. Memesan makanan, sembari menunggu para manajer yang baru muncul setelah tiga puluh menit berlalu. Menandakan sudah saatnya Nadin dan Juna berpisah untuk hari ini. Karena Nadin masih harus kembali ke Athena.
Setelah Tyo dan Nadin pergi, Juna dan Ardit masih berada di kantin. Lanjut membicarakan beberapa hal soal pekerjaan.
“Sayang sekali pacarmu harus dapat manajer seperti itu. Terlalu muda dan kurang berpengalaman. Kalau bukan karena kamu, saya lebih memilih kita bekerja dengan yang lain saja.”
“Karena aku? Bukan karena bayarannya yang lumayan?”
“Itu kan demi kamu juga.”
Juna hanya tersenyum, lalu menyesap tehnya yang sudah tidak lagi panas. Kemudian menatap ke arah langit melalui tembok kaca yang ada di sampingnya.
Tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Dia menatap ke arah layar, sebelum akhirnya mengangkat panggilan yang
masuk.
“Sudah selesai… Di mana? Biar aku yang ke sana.”
Setelah menaruh kembali ponsel ke dalam saku celana, dia pamit kepada Ardit untuk pergi lebih dulu.
“Juna,” panggil Ardit. Saat Juna baru saja berdiri. “Entah apa yang sedang kau lakukan. Tapi, jangan sampai terlibat masalah.”
“Tolong urusi saja kontrak kerjaku,” balas Juna sambil berlalu.