Just A Professional Relationship

Just A Professional Relationship
S2 - Episode Dua



Siang itu, Axel dan Ramos berjalan di daerah pertokoan. Mereka baru saja membeli hadiah untuk Grey yang akan berulang tahun dua hari lalu. Karena Ramos kebetulan sedang senggang, jadi mereka sepakat untuk bertemu hari ini.


Saat menceritakan soal rencana tersebut, Nadin bilang kalau dia ingin bertemu dengan Ramos. Jadi mereka sepakat untuk bertemu di sebuah tempat setelah Axel dan Ramos selesai membeli hadiah.


Tiga minggu ke belakang, Hybrid baru saja menyelesaikan tur mereka. Jadi, ini kali pertama Axel bertemu kembali dengan sahabatnya itu. Penampilan Ramos tidak banyak berubah selain rambut merahnya yang kini dipotong pendek sebahu.


“Kayaknya Ve gak lama lagi bakal ngundurin diri dari tim.”


“Hah, kenapa?”


“Katanya sih, ada rencana mau lanjut kuliah.”


“Wah… Heran aku sama orang-orang yang masih mau belajar. Bayanginnya aja aku capek.”


Ramos tertawa di balik masker hitamnya. “By the way, kamu gak ada rencana buat nambah cabang lagi? Aku lihat tempat di seberang gedung Athena dijual. Lumayan letaknya stragetis di tengah kota.”


“Iya, sih. Rencananya di tahun ini aku mau buka satu restoran lagi, tapi buat makanan Jepang. Tapi sih, tahu sendiri harga bangunan di daerah sana berapa.”


“Harusnya masih bisa, kalau lihat omzet perbulanmu yang sekarang.”


“Hmm… iya, sih… Tapi kan aku juga perlu nabung, Kak.”


“Buat apa?”


“Ya… buat masa depan. Buat nikah, misalnya.”


“Emang udah ada calonnya?” goda Ramos. “Emang kamu udah jadian sama Nadin?”


“Udah, lha!” balas Axel dengan keyakinan penuh.


“Kapan nembaknya?”


Tiba-tiba keyakinan Axel menciut seketika. Selama ini dia memang belum pernah benar-benar mengajak Nadin berpacaran secara langsung. Meski keduanya sudah sangat dekat. “Emangnya kalau pacaran harus pakai nembak? Kayak anak kecil aja.”


“Terus apa yang bikin kamu yakin, kalau Nadin udah mikir kalian pacaran.”


“Ki-kita kan… kita kan udah… udah…” suara Axel perlahan melemah, bahkan dia tidak bisa menyelesaikan kata-katanya. Wajahnya pun seketika memerah.


Melihat semua itu, membuat Ramos tak tahan untuk tertawa. Dia pun merangkul bahu Axel yang masih agak tersipu malu. Segarang apa pun Axel kelihatannya, tetap saja dia selalu kalah kalau digoda oleh sahabatnya itu.


“Eh, aku bilangin ya. Kadang pernyataan itu penting. Nadin juga pasti lebih senang kalau hubungan kalian benar-benar dideklarasikan.”


“Kayak apaan aja, dideklarasikan.”


“Jangan sampai kamu nyesel kalau tiba-tiba Nadin punya pacar. Dan dia bilang kalian berdua selama ini gak pernah punya hubungan yang jelas karena kamu gak pernah ngomong itu langsung.”


“Ini Nadin lho, Kak yang lagi kita omongin. Dia gak mungkin kayak gitu!”


“Ck, ck, ck… Hati orang gak pernah ada yang tahu. Emang kamu bisa jamin selama setahun di Amerika, dia gak pernah dekat sama orang lain?”


Axel tahu Ramos bermaksud menggodanya, tapi kata-kata itu perlahan berhasil mempengaruhinya. Dia jadi memikirkan apakah Nadin sempat dekat dengan orang lain sewaktu mereka terpisah jauh? Karena Nadin memang jarang bercerita soal dengan siapa dia berteman di sana.


“Nah kan, galau…” celetuk Ramos.


“Udah ah! Gak lucu bercandanya.”


Keduanya pun masih lanjut berjalan sembari mengobrol. Menuju ke lokasi tempat Nadin akan menunggu mereka.


Axel dan Ramos berdiri di ujung zebra cross. Menanti lampu lalu lintas berubah hijau agar mereka bisa menyeberang.


Saat itu, mereka melihat keberadaan Nadin di ujung sana. sedang berdiri sembari memandangi poster-poster yang tertempel di tembok bangunan. Mata Axel tampak berbinar saat melihat keberadaan wanita tersebut—meski dari kejauhan.


Akan tetapi, semua kegalauan yang sempat ditimbulkan oleh candaan Ramos benar-benar terjadi. Tak lama, Nadin membalikkan badan ke arah lain, dan melambaikan tangan. Wajahnya pun tampak sangat gembira.


Nadin dan lelaki tersebut pun saling berjalan mendekat, dan keduanya berpelukan. Tampak seperti dua orang yang sudah saling kenal sejak lama. Bahkan lelaki itu mengelus kepala Nadin, sebelum memberikan sebuah paper bag dan pergi.


Ramos dan Axel sama-sama terdiam, menyaksikan sebuah pemandangan yang sama. Kepala Axel dipenuhi berbagai pertanyaan, dengan perasaan yang mulai terasa tidak enak.


Sementara Ramos, cukup terkejut karena perkataannya seakan menjadi nyata. Padahal tadi dia hanya benar-benar sedang bercanda dan menggoda Axel.


Lampu lalu lintas pun berubah menjadi hijau. Orang-orang yang sudah berkerumun di sana pun mulai berjalan untuk menyeberang.


Nadin yang menyadari kedatangan Axel, langsung melambaikan tangan sembari memasang wajah bahagia. Entah kenapa melihat wajah itu membuat Axel memilih untuk tidak menanyakan soal lelaki tadi. Dia tidak ingin membuat keadaan menjadi tidak nyaman. Sementara Ramos, merasa tidak berhak membahas hal itu duluan. Jadi, dia memilih untuk diam dan menunggu cerita dari Axel.


“Kak Ramos! Ya ampun, udah lama banget ya!”


“Iya. Kamu sehat?”


Nadin mengangguk. “Kenapa rambutnya dipotong? Sayang banget, lho.”


“Aku habis patah hati. Gara-gara sahabatku udah jarang bisa diajak main karena terlalu sibuk ngurusin bisnisnya,” canda Ramos. Membuat Nadin tertawa.


“Lanjut ngobrol di kafe aja yuk,” ajak Axel.


Nadin dan Ramos pun mulai berjalan sembari mengobrol. Sementara Axel, mengekor di belakang keduanya, dengan mata yang tertuju pada paper bag yang dibawa Nadin.


“Kamu pasti belum tahu ya. Ada staf perempuan baru di Athena, dan kayaknya Bang Tyo tertarik sama dia.”


“Hah, serius, Kak?”


“Iya. Aku suka mergokin mereka pulang bareng.”


“Kesel deh, Bang Tyo gak pernah cerita. Padahal kita suka teleponan juga sekali-kali.”


“Coba aja kamu pancing dia.”


“Cantik gak orangnya, Kak?”


“Iya. Aku aja awalnya ngira kalau dia artis baru. Eh, ternyata staf.”


Nadin dan Ramos masih lanjut mengobrol dengan asik. Sampai-sampai tidak sadar kalau Axel sedari tadi hanya menyimak tanpa berkomentar. Membuat Nadin agak bingung karena lelaki tersebut mendadak terdiam sembari melamun. “Kamu kenapa bengong gitu?” tanyanya.


“Ng? Enggak. Aku lagi nyimak obrolan kalian aja. Seru banget habisnya.”


“Dia pasti bete gara-gara kita kacangin,” sambung Ramos.


“Iya, kalian saking asiknya sampai lupa aku ada di sini,” canda Axel. Namun seketika wajah berubah serius. “Kamu bawa apa, sih daritadi? Habis belanja?”


Nadin sadar Axel melirik ke arah paper bag yang dia bawa, namun tanpa pikiran apa pun. “Oh, ini. Ini bajuku, baru beres di-*laundry *tadi. Jadi masih aku bawa. Kenapa emangnya?”


“Enggak kenapa-napa. Cuma penasaran.”


Sedikitnya Nadin merasa aneh menangkap jawaban Axel. Entah kenapa lelaki yang selalu ceria itu mendadak agak diam. Sepertinya bukan efek kesal karena merasa diabaikan.


“Eh, kamu udah mulai bikin lagu baru ya?” Ramos berusaha memecah suasana yang mulai terasa tidak nyaman. Tentu saja dia tahu apa yang menyebabkannya.


“Iya. Sebenernya dari sewaktu masih di Amerika, aku sempat bikin beberapa dan kirim demonya ke label rekaman. Mungkin bakal kita rilis dalam waktu dekat.”


“Wah, kayaknya nanti kamu bisa terkenal lagi kayak dulu.”


“Hm… Kayaknya aku tetap mau pakai nama lain aja deh. Udah cukup aku pengen hidup tenang.” Nadin tertawa. “Kayaknya lebih enak hidup tanpa harus disorot media kayak dulu.”


“Iya, pasti… Aku selalu dukung apa pun yang terbaik buat kamu.”