
“Siapa lagi yang akan kamu korbankan setelah ini?”
Frans menyeringai di hadapan Nadin, dengan matanya yang memicingkan mengerian. Suara tawanya mulai terdengar. Tiap detiknya semakin keras dan menggema di seisi ruangan.
Nadin tidak bisa melakukan apa-apa selain melihat adegan menyeramkan itu. Tubuhnya tak dapat digerakkan, dan suaranya pun tertahan di tenggorokan. Hingga akhirnya dia terbangun dengan peluh yang memenuhi tubuhnya.
Waktu masih menunjukkan pukul tiga. Namun Nadin sama sekali tidak ingin lanjut terlelap karena khawatir sosok menyeramkan Frans akan kembali menghantui. Dia hanya bisa terduduk di atas kasur, mengusap wajah dengan kedua tangannya.
Setelah apa yang terjadi pada Tyo, membuat Nadin semakin waspada dan tidak tahan untuk segera kabur dari jerat Frans. Namun, di satu sisi dia mengerti benar tidak bisa bertindak dengan gegabah. Lawannya kali ini
benar-benar tidak boleh diremehkan.
Nadin pun memikirkan cara termudah yang bisa dia lakukan, yaitu menemui kembali Dwiyatno. Dia tahu Frans ingin mendekati lelaki itu melalui Nadin. Tapi kalau Nadin tidak ikut campur langsung menangani soal bisnisnya, dia pikir akan butuh waktu lama hingga Frans berhasil membujuk Dwiyatno. Oleh karena itu, hari ini dia akan mencoba mewakili Frans untuk membicarakannya.
“Dulu bapak cuma suka musik-musik klasik. Soalnya musik jaman sekarang terlalu berisik dan gak enak didengar. Tapi sewaktu dengar lagumu, pikiranku jadi berubah.”
“Oya? Padahal laguku juga kayaknya berisik, haha.”
“Mungkin lebih tepat kalau dibilang, bapak suka sama tipe suaramu. Suaranya lembut, gak bikin sakit di telinga.”
“Waduh, aku jadi terharu dipuji kayak gitu.”
Nadin dan Dwiyatno pun menuju ke arah meja berkursi empat yang ada di tengah taman. Tempat tersebut tidak terlalu besar, namun ditata dengan sangat rapi. Banyak tanaman hias yang cantik di sekelilingnya, dan terdapat
sebuah kolam berisi ikan koi berwarna-warni.
Nadin merasa ini saat yang tepat untuk mulai menyinggung pembicaraan soal bisnis. Sejak dia datang, Dwiyatno tampak sedang memiliki mood yang bagus.
“Pak, maaf... Sebenarnya aku ragu mau membahas soal ini...” ucap Nadin dengan agak canggung.
“Kenapa kamu takut begitu, bilang saja,” balas Dwiyatno masih dengan wajah ramah. Seakan tidak memprediksi apa yang akan Nadin katakan.
“Soal bisnis yang dibicarakan Frans.”
Dengan seketika, raut wajah Dwiyatno pun mendadak berubah.
“Apa ada sesuatu yang membuat bapak ragu untuk memulai bisnis dengannya?” lanjut Nadin. “Karena jarang sekali ada yang menolak kerja sama dengan Zabran.”
“Apa Frans yang menyuruhmu membicarakan ini?”
“Oh, bukan. Sama sekali bukan, Pak. Aku sudah lama penasaran, apalagi setelah melihat ekspresi bapak sewaktu bertemu dengan Frans.”
Dwiyatno pun menghembuskan napas sebelum bercerita. Matanya menatap lurus ke arah kolam. Namun pikirannya melayang entah ke mana.
“Aku tahu benar sebagus apa nama Zabran, dan sehebat apa Frans. Tapi, aku benar-benar belum bisa menghilangkan pikiran buruk terhadap mereka, setelah anakku meninggal.”
Nadin agar terkejut karena baru pertama kali mendengar kalau Dwiyatno ternyata sempat memiliki anak. “Oh, maaf, aku pikir bapak tidak punya anak...”
“Wira memang bukan anak kandungku. Dia anak angkat yang harus bernasib naas. Padahal aku menaruh harapan besar padanya.” Nadin masih terdiam, tak berani menginterupsi. “Dulu aku sangat dekat dengan ayahnya Frans, dan selalu menghubungi mereka tiap kali memiliki proyek baru. Tapi Wira sempat menyuruhku memutus kerja sama dengan Zabra. Dia bilang, dibalik nama besarnya, mereka sangat bermasalah. Dan kami bisa terkena imbasnya jika suatu saat Zabran hancur.”
“Bermasalah...? Maksudnya gimana, Pak?”
Dwiyatno menggeleng. “Saat itu aku sama sekali gak mempedulikan soal itu. Sampai akhirnya menyesal karena gak sempat mendengarkan perkataan Wira.”
“Tapi, aku masih belum mengerti kenapa bapak menjauhi Zabran.”
Nadin merasa seram mendengar cerita Dwiyatno. Entah kenapa dia bisa langsung percaya meski tanpa melihat bukti yang jelas. Setelah apa yang terjadi selama ini, sangat mungkin kalau anak Dwiyatno meninggal bukan karena kelalaian. Tapi... karena dia menjadi korban pembunuhan berencana.
“Bapak bukannya mau menjelek-jelekan. Aku pun gak berani main tuduh tanpa ada bukti. Makanya, bapak memilih untuk menyembunyikan soal itu dan sebisa mungkin gak berhubungan dengan Zabran.”
Nadin mengerti benar perasaan itu, karena dia pun sedang berusaha lepas dari bayang-bayang Frans. Tapi, dia butuh bantuan Dwiyatno untuk bisa melakukannya. Meski jika berhasil, dia merasa akan menjerumuskan lelaki
itu ke dalam jeratan Frans. Sama saja dengan menumbalkan orang lain hanya untuk keselamatannya.
“Aku mengerti, pasti berat juga kalau ada di posisi bapak. Maaf aku sudah bicara tanpa pikir panjang...”
“Nggak apa,” balas Dwiyatno sembari tersenyum. Dia tidak ingin Nadin merasa bersalah. “Kamu benar-benar ingin bapak menerima tawaran bisnis Frans?”
“Em... kalau ditanya begitu... sebenarnya iya...”
“Baiklah… kalau kamu bilang begitu, akan aku pikirkan sekali lagi.”
“Tapi, aku gak maksa,” sahut Nadin dengan cepat.
“Iya, bapak tahu.”
Pembicaraan pun berlanjut tanpa ada lagi pembahasan seputar pekerjaan, atau apa pun yang berhubungan dengan hal pribadi Dwiyatno. Meski sebenarnya Nadin menjadi semakin penasaran tentang hal yang membuat mendiang anak Dwiyatno meninggal. Kalau ada hubungannya dengan Frans, dia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah selesai menemui Dwiyatno, Nadin tidak langsung pulang. Tiba-tiba dia teringat akan seseorang yang mungkin bisa membantunya saat ini.
“Halo, Kak. Aku ke apartemen kakak sekarang ya,” ucap Nadin melalui telepon.
“Hm… Nadin? Ini kamu, kan?”
Nadin bahkan lupa kalau dia sedang menelepon Stefan dengan nomor barunya. “Eh, iya, Kak. Maaf lupa bilang. Kakak lagi di luar gak?”
“Aku lagi di jalan pulang. Ada apa?”
“Biar aku jelaskan nanti. Aku ke sana ya.”
***
“Aku udah gak ngerti lagi. Semakin lama, aku makin merasa kalau Frans punya banyak rahasia gelap yang dia sembunyikan dari semua orang. Tapi aku bahkan bingung harus cari tahu dari mana!” Sejak bertemu dengan Stefan, Nadin tak henti berbicara. Dia menceritakan semua hal kepada Stefan yang hanya mengangguk-angguk sembari mendengarkan.
“Sudah ceritanya?”
Nadin mengangguk. Lalu duduk dan menyeruput jus yang sudah Stefan sediakan. Sementara lelaki berambut perak itu memberikan sebuah amplot cokelat, hasil penyelidikannya terhadap Frans.
“Aku lagi menyelidiki soal Frans. Dan sejauh ini, baru itu yang aku dapatkan. Dari sana aku jadi tahu kenapa Frans membutuhkan kamu. Setelah dengar ceritamu, gak aneh kalau memang ternyata Frans ada kaitannya dengan kematian anak Dwiyatno. Karena bukan hanya satu atau dua orang yang dia habisi nyawanya.”
“Hah, maksudnya?”
“Sebagian besar dari orang dalam foto itu juga merupakan korban dari Frans. Mereka semua pernah menjalin hubungan dan mungkin membuat orang itu kecewa sampai akhirnya harus mati dengan menyedihkan. Tapi gak banyak yang berita kematiannya disorot media. Beberapa dibuat seolah kematian yang wajar.”
Nadin sedikit penasaran dari mana Stefan bisa mendapatkan data sedetail itu. Tapi, saat ini ada hal lain yang seketika menyita perhatiannya. Ada foto seseorang yang dia kenal di dalam tumpukan. Dia mengamati foto itu dengan seksama. Beberapa kali dilihat pun Nadin sangat yakin kalau wanita dalam sehelai foto yang dia genggam adalah Mala.
“Kak, kayaknya aku butuh bantuanmu buat pergi ke suatu tempat.”