
“Huh, kau masih sama saja. Lemah. Melindungi diri sendiri saja tidak bisa. Apalagi orang lain.”
Sosok Juna perlahan pergi menjauh setelah memberikan tatapan merendahkan. Meninggalkan Axel yang tergeletak tak berdaya di atas tanah yang terbasahi oleh lumpur.
Axel berusaha bangkit, namun hanya kepalanya yang bisa bergerak. Saat itu dia tersadar kalau Nadin berdiri tak jauh dari sana. Menyaksikan semua kejadian dan sosok menyedihkannya yang bisa dengan mudahnya dijatuhkan.
“Maaf. Aku benci laki-laki lemah,” ucap Nadin dengan sinis. Dia pun melangkah pergi. Menuju ke arah Juna yang menantinya tak jauh dari sana. Lalu keduanya saling berpegangan dan mulai berciuman. Dengan sangat intens, dan semakin dipenuhi nafsu di setiap detiknya.
Axel pun terbangun dari dalam mimpi buruk yang menyiksa. Kepalanya sudah dipenuhi dengan keringat, dan napasnya tersengal-sengal.
Kamarnya masih benar-benar gelap, karena saat ini waktu masih menunjukkan pukul dua. Namun Axel sudah tidak ingin kembali tidur, agar tak perlu mendapatkan mimpi serupa.
“Sudah bagus kalian berpisah. Kenapa harus bertemu di dalam mimpiku, sih!” gerutunya.
***
“Kamu kenapa dari tadi nguap terus?”
“Kurang tidur.”
“Mana mungkin pengangguran kurang tidur,” ejek Ramos.
“Siapa yang pengangguran!”
“Iya, iya, Bapak pengusaha.”
Axel meneguk kopi hitamnya hingga tak tersisa. Namun rasa kantuknya masih belum berhasil dihilangkan.
“Jangan pikir aku gak tahu kamu kenapa. Pasti soal Nadin lagi, kan?”
“Kak Ramos emang paling ngerti aku, deh…” balas Axel sembari berlagak menangis seperti anak kecil.
“Kenapa lagi, sih? Perasaan udah gak ada yang ngehalangin kamu buat deketin dia. Nunggu apa?”
Axel membenarkan posisi duduknya, dan berpikir dengan serius. “Gak tau, Kak. Nunggu apa ya…”
“Kenapa kamu jadi labil gini sehabis keluar dari Hybrid. Sudah kembali jadi Dion?”
“Kayaknya begitu.”
Ramos menghembuskan napas. Sedikit merasa gemas, sekaligus mengerti kalau temannya itu memang sulit mengungkapkan perasaan kepada orang yang benar-benar disuka.
“Daripada kamu nunggu hal yang gak jelas dan tiba-tiba menyesal, lebih baik jujur dari sekarang. Toh, hasilnya cuma dua. Diterima atau ditolak. Kalau ditolak pun kamu masih bisa jadi teman dengannya, kan.”
“Kedengarannya emang gampang sih, Kak. Tapi entah kenapa tiap kali ketemu, aku jadi ragu buat bilang. Kak Ramos juga sama kan, kalau ketemu roang yang disuka pasti berat buat ngungkapin perasaan. Itu kenapa Kak Ramos masih aja jomblo sampai setua ini.”
“Kamu mau mati ya?” komentar Ramos sembari tetap tersenyum, namun memberikan aura yang menusuk. “Sudah, aku gak peduli. Jangan sampai kamu merengek lagi padaku kalau ada apa-apa.”
***
Axel melangkah dengan tidak semangat. Sudah beberapa kali dia menghembuskan napas dengan lesu. Kepalanya terus dipenuhi oleh bayangan soal Nadin. Sudah sejak lama dia selalu ingin mengungkapkan perasaannya, tapi nyalinya belum juga berhasil terkumpul.
“Arggh! Kenapa ngomong aja harus susah, sih!” gerutunya, sembari mengacak-acak kepala yang tidak gatal.
*‘Kalau tiba-tiba Nadin muncul di depanku, itu berarti pertanda kalau aku harus menyatakan perasaanku! Yosh! Semangat!’ *ucapnya dalam hati seraya memantapkan hati.
Takdir pun memperlihatkan permainannya yang terkadang menggelitik. Saat berjalan melewati sebuah kafe, Axel tak sengaja menangkap keberadaan seseorang yang tengah terduduk di dalam sana. Pada kursi yang ada di samping jendela, sehingga keberadaannya tampak jelas.
‘Nadin?!’
Dadanya mendadak berdebar dengan kencang sekali. Dan dia pun melangkah masuk ke tempat tersebut setelah menarik napas panjang beberapa kali.
“Ngapain sendirian?”
“Lho, kok kamu ada di sini?”
“Feeling. Kayaknya aku ngerasa kamu bakal ada di sini.”
“Ah, ngaco!” sahut Nadin sembari tertawa.
“Baru aja sampai. Ini, aku baru mau pesan. Kamu mau apa? Biar sekalian.”
“Aku aja yang pesan. Kamu mau apa?”
“Enggak ah. Kali ini aku yang traktir kamu.”
“Hm… oke. Kopi. Hitam.”
“Idih, udah kayak bapak-bapak.”
“Ya emang calon bapak-bapak.”
“Ya udah, tunggu ya.”
Axel merasa kalau waktu baginya untuk menyatakan perasaan sudah datang. Keadaan seakan memberikan dukungan penuh kepadanya. Setidaknya hanya untuk beberapa waktu.
Sebelum pergi untuk memesan, Nadin lupa kalau dia belum menutup layar ponselnya yang tergeletak di atas meja. Saat benda tersebut bergetar karena ada pesan masuk, Axel tidak sengaja spontan menoleh ke arahnya.
‘Aku udah tanya, tapi gak ada yang tau kapan Juna pulang. Selama ini dia keliatannya di jepang terus, sih. Ada yang bilang kalau sebenarnya dia udah putus kontrak dan gabung sama agensi model di Jepang.’
Entah pesan itu berasal dari siapa, yang jelas Axel tahu kalau Nadin masih mencari tahu soal mantan kekasihnya. Hal itu membuat keyakinan Axel yang semula terkumpul, mendadak lenyap seketika. Dia bahkan menyesal sudah membaca pesan itu—meski tidak sengaja.
Axel pun menekan tombol di samping ponsel Nadin untuk memadamkan layarnya. Dan berlagak seolah tidak pernah melihat apa pun.
“Silahkan kopinya, Pak,” ucap Nadin sembari menaruh gelas di atas meja.
Axel jadi tidak bisa fokus dan mengamati tiap gerakan yang Nadin lakukan. Terutama saat wanita tersebut meraih ponselnya, dan membaca sesuatu dari dalam sana. Perubahan ekspresi pada wajahnya tampak sangat jelas.
“Kenapa?” tanya Axel.
“Hm? Gak apa-apa, kok. Cuma baca chat temanku.”
Nadin pun menaruh ponselnya. Namun Axel masih bisa menangkap kalau wanita di hadapannya itu tengah dicemaskan oleh sesuatu yang sudah pasti berkaitan dengan Juna.
“Kamu masih cari tahu soal orang itu ya?”
“Siapa?” Nadin tampak bingung dengan pertanyaan Axel yang tiba-tiba.
“Juna.”
Lalu tak ada jawaban apa pun untuk beberapa saat. Nadin justru mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tampak ragu untuk menjawab.
“Please, Nadin. Demi kebaikanmu. Tolong berhenti mencari tahu soal apa pun yang berkaitan dengan Juna. Dan… biarkan aku yang menggantikan dia untuk kamu.”
Kata-kata itu seakan terucap begitu saja tanpa bisa Axel tahan. Mungkin dia sendiri sudah tidak tahan melihat Nadin yang terus menyakiti dirinya sendiri.
“Mungkin kamu sudah tahu, tapi aku gak pernah bilang ini secara langsung. Aku suka dan sayang sama kamu. Dan, untuk seterusnya, tolong jadikan aku satu-satunya orang yang akan selalu kamu pikirkan. Bukan orang lain lagi…”
Nadin menangkap raut penuh keseriusan dari wajah Axel. Dia tahu lelaki itu bersungguh-sungguh, dan semua itu sudah terbukti dari perlakuannya selama ini. Dari cara dia menjaganya, menatapnya…
Seharusnya Nadin pun tahu kalau dia menemukan sosok yang tepat untuk memberikan kebahagiaan baru dalam hidupnya. Hanya saja, hatinya masih terlalu berat untuk terbuka.
“Xel… Aku… sebenarnya berat buat bilang. Tapi, maaf… Aku belum siap memulai hubungan dengan siapa pun buat sementara waktu,” ucapnya pelan.
Axel sedikit tersenyum miris, mengasihani diri sendiri. “Ternyata memang gak ada kesempatan buatku ya?”
“Bukan begitu! Tolong jangan salah paham. Bukan berarti aku gak suka sama kamu. Tapi aku takut kalau menjalin hubungan di waktu perasaanku sendiri masih kayak gini, justru hanya akan nyakitin kamu. Aku gak mau kayak gitu…”
“Iya… Aku ngerti kok, Nadin. Makasih udah mau jujur.”
Nadin terdiam untuk sesaat. “Kalau misalnya, aku minta kamu menunggu, apa kamu mau? Aku gak memaksa. Tapi aku pun gak bisa memastikan sampai kapan. Jadi, kalau suatu saat kamu tiba-tiba bertemu dengan orang yang jauh lebih baik, kamu gak perlu memaksakan buat nunggu aku lagi…”
Axel pun tersenyum dan mengangguk. “Aku gak keberatan menunggu. Selama itu untuk sesuatu atau seseorang yang terbaik untukku.”
“Makasih ya, udah mau ngerti…” balas Nadin, sembari memberikan senyuman.