
“Hah, udah keluar? Kapan?” Nadin tidak sadar sudah bicara dengan agak berteriak. Beberapa orang di sekeliling langsung melirik ke arahnya.
“Iya, sekitar lima bulan yang lalu kalau gak salah,” balas seorang staf DCM.
Setelah melihat foto mala dalam dokumen yang diberikan Stefan, dia langsung melesat menuju gedung DCM dengan harapan bisa menemui Mala. Namun, sayangnya wanita tersebut sudah lama mengundurkan diri sebagai model. Dan tidak diketahui apa yang sedang dia kerjakan sekarang.
“Kamu tahu Mala tinggal di mana gak, Mas?”
“Em… setelah keluar dari sini, harusnya dia sudah gak tinggal di apartemen DCM. Apa mungkin dia pulang ke rumah orang tuanya ya. Aku kurang tahu.”
“Kalau alamat orang tuanya tahu, Mas?”
“Wah, kalau tahu pun, kita gak bisa kasih.”
“Yah… ayolah, Mas. Ini penting!”
“Hm… harus izin sama atasan dulu.”
Belum sempat lanjut bicara, Stefan yang semula hanya mendengarkan pun maju. Tiba-tiba dia mengajak staf DCM tersebut bicara empat mata—di tempat yang agak jauh dari Nadin. Lalu berjalan kembali sembari tersenyum, dan mengajak Nadin pergi.
“Kalian ngomongin apa sih, Kak?”
“Udah, ayo kita pergi.”
“Lho, alamatnya kan belum…”
“Cepat ikut saja.”
Akhirnya, Nadin pun terpaksa mengikuti instruksi Stefan untuk kembali ke tempat mobilnya terparkir.
“Aku sudah dapat alamat tempat tinggalnya,” ujar Stefan.
“Hah! Gimana bisa? Kok, bisa? Kakak ngancem orang itu ya?”
Stefan pun tertawa mendengarnya. Dari ekspresi wajahnya, Nadin benar-benar menganggap kalau Stefan melakukan sesuatu yang buruk hingga orang itu mau memberikan alamat Mala. Namun dia memilih untuk membiarkan Nadin penasaran.
Perjalanan mereka berdua berakhir di sebuah perumahan sederhana di pinggir kota. Daerah tersebut tidak terlalu ramai. Jalanannya gak berlubang, seakan tidak terawat. Agak membuat sulit dipercaya kalau tempat itu masih masuk ke dalam kawasan ibu kota.
“Dua puluh enam, kan?” tanya Nadin untuk memastikan.
“Iya.”
Pintu pun diketuk tiga kali. Tak butuh waktu lama hingga sang pemilik membukakannya. Seorang ibu tua mengintip dengan ragu-ragu. Nadin pun memberikan senyuman ramah padanya.
“Siang, Bu. Maaf mengganggu. Apa benar ini rumahnya Mala?”
“I-iya, benar. Siapa ya?”
“Em… saya temannya. Apa Malanya ada?”
Si ibu terdiam sejenak sebelum menjawab. “Tunggu ya,” ucapnya. Lalu menutup pintu dan
masuk ke dalam.
Nadin agak
bingung karena pintu di hadapannya justru ditutup rapat. Bahkan mereka berdua tidak dipersilakan masuk sama sekali.
Tak lama kemudian, terdengar suara orang yang kembali mendekat. Saat pintu dibuka, wajah Mala ada di balik sana. “Hai,” ucap Nadin, berusaha untuk ramah.
Akan tetapi, Mala yang terkejut langsung membanting pintunya keras. Membuat Nadin spontan melangkah mundur.
“Mala, maaf datang tiba-tiba. Bisa bicara sebentar?”
“Mau apa kamu? Pergi!” bentak wanita tersebut.
“Ada yang mau aku tanya sama kamu. Please, sebentar aja.” Tidak ada tanggapan apa pun dari dalam. Tapi entah kenapa Nadin masih merasa Mala ada di balik pintu. “Aku mau tanya soal orang bernama Frans. Apa kamu kenal? Aku sama sekali gak akan bahas apa-apa soal masa lalu kita. Tapi aku benar-benar butuh bantuan kamu sekarang!”
Nadin pun diam. Masih berharap besar Mala mau membukakan pintu. Meski harapan itu perlahan kian memudar.
“Mala… aku mohon. Setelah ini aku gak akan datang lagi.”
Mala dengan rambut hitam panjangnya yang masih saja indah, mengintip dari balik pintu. Namun wajahnya sudah tak secerah dulu.
“Maaf ya, pasti kamu kaget aku tiba-tiba datang,” ucap Nadin lagi.
Mala tidak berkata apa pun, dia hanya membukakan pintu dan duduk di sofa lebih dulu. Nadin dan Stefan pun melangkah masuk, lalu turut duduk pada sofa yang ada. Saat itu Nadin baru menyadari perubahan besar pada Mala. Sepertinya wanita tersebut tengah hamil besar. Apakah itu juga yang membuatnya berhenti bekerja sebagai model? pikirnya. Tapi wajahnya tampak sangat tidak bahagia.
“Apa yang kamu mau dariku?” tanya Mala dengan nada dingin.
“Aku cuma mau tahu soal laki-laki bernama Frans. Maaf sebelumnya, tapi apa benar kamu sempat punya hubungan dengan dia?”
“Aku gak tahu kamu tahu soal itu dari mana. Tapi, aku cuma bisa peringatkan, lebih baik kamu jauh-jauh dari dia.”
“Apa ada sesuatu yang kamu tahu soal dia? Maksudku, sesuatu yang gak diketahui orang banyak.”
Mala tampak berat untuk bicara. Dia menggigit ujung bibirnya. Seakan tidak tahan ingin mengucapkan sesuatu, namun sulit mengungkapkannya.
“Dia punya bisnis gelap yang sudah menjamur di mana-mana. Kalian gak akan selamat kalau sampai tahu soal itu.”
“Bisnis apa?”
“Obat-obatan terlarang. Aku gak tahu di mana lokasi tepatnya, tapi dia punya tempat rahasia yang digunakan untuk memproduksi barang itu. Lalu mendistribusikannya ke banyak tempat, termasuk ke luar negeri. Mungkin ada beberapa pihak yang tahu soal itu, tapi memilih untuk merahasiakannya. Banyak yang gak berani bertindak karena
Frans selalu punya rencana untuk menyembunyikan soal bisnisnya itu. Dan kebanyakan dari orang yang menyadarinya, biasanya gak berumur lama.”
“Astaga…” gumam Nadin. Bayangannya akan Frans semakin bertambah ngeri dalam benaknya. Kalau sampai dia dipergoki datang ke rumah Mala, mungkin mereka berdua tidak akan bisa selamat, pikirnya.
“Kamu sendiri bagaimana. Kenapa Frans mau melepaskanmu?” sambung Stefan.
Mala terdiam. Matanya hanya tertuju ke atas lantai, tangannya mengusap pelan perutnya. “Karena dia punya jaminan yang membuatku gak akan berani membocorkan apa pun rahasia yang kuketahui,” ucapnya.
Saat itu Nadin tersadar akan sesuatu, kalau mungkin saja anak yang dikandung Mala adalah darah daging dari Stefan. Dan anak itu pulalah yang dimaksud sebagai jaminan tersebut. Sudah pasti Mala tidak berani mengungkap soal kehamilannya di banyak orang, dan memilih untuk berhenti secara tiba-tiba. Kalau banyak orang tahu soal itu, pasti dia akan sangat tertekan.
“Sudah gak ada lagi yang bisa aku katakan. Silahkan pergi. Dan turuti janjimu tadi.”
Nadin tidak menolak dan bangkit dari duduknya. Sejak tadi Mala bahkan tidak berusaha untuk balas memandangnya. Bukan karena benci, namun Nadin rasa Mala memiliki secercah rasa bersalah padanya.
“Makasih ya, Mala,” ucap Nadin. “Maaf, aku lancang. Tapi, apakah anak yang dikandungmu itu… anak Frans?”
Nadin pikir wanita tersebut akan marah sejadi-jadinya. Tapi, Mala justru terdiam sejenak sebelum akhirnya tak kuat menahan air matanya.
Saat itu yang terpikirkan oleh Nadin adalah memeluk wanita tersebut. Bagaimana pun dia bisa merasakan bagaimana perasaan seorang wanita jika diperlakukan seperti itu. Dan hal itu sedikitnya membuat Nadin benci kepada Frans.
Akhirnya, Mala pun menangis dalam pelukan Nadin—yang juga tak bisa menahan air matanya. “Aku janji akan membalaskan kekesalanmu juga…”
***
Nadin masih lanjut menangis saat sudah berada di dalam mobil Stefan. Entah kenapa dia merasa sangat iba kepada Mala. Wanita yang semula sangat cantik dan selalu tampak bersinar, mendadak menjadi kehilangan sinarnya hanya karena seorang lelaki yang tidak bertanggung jawab.
“Dia itu siapa?” celetuk Stefan. Bahkan dia sama sekali tidak bertanya saat sedang di perjalanan pergi.
“Dia model lumayan terkenal dulu.”
“Hm…”
“Dulu dia sempat diisukan punya hubungan sama Kak Juna. Masa gak tahu, Kak?”
“Ya, aku kan gak tahu semua hal soal kehidupan Juna.”
“Padahal dia cantik banget. Tapi sekarang jadi kelihatan kayak gitu…”
Stefan hanya lanjut menyetir sembari memikirkan sesuatu dalam kepalanya. Entah kenapa bayang wajah Mala yang berlinang air mata tadi tidak bisa hilang dari kepalanya. Baru kali itu dia melihat raut kepedihan seperti itu. Seakan dia sendiri bisa merasakan beban berat yang wanita itu tanggung sendirian.
"Omong-omong, kamu gak kesal harus ketemu sama seseorang yang sempat punya masala lalu dengan Juna?"
Nadin berpikir sejenak. "Dulu iya. Benci, malah. Tapi setelah tahu apa yang terjadi sebenarnya dari Kak Juna, aku justru iba sama dia. Bagaimana pun, she deserves to be happy, I think."
"Wah... Kamu terlalu baik jadi orang."