
Nadin tidak pernah mendapatkan gangguan tidur sebelumnya. Kesibukan yang dia miliki, selalu membuat tidurnya pulas. Bahkan jarang sekali membuatnya bermimpi.
Tapi kali ini, matanya masih enggan untuk terpejam hingga lewat tengah malam. Padahal tubuhnya sudah memaksa untuk beristirahat.
Kepala Nadin tidak henti memikirkan soal Juna. Bayangan akan pacarnya itu masih terus muncul tiap kali dia memejamkan mata. “Arggh!” geramnya kesal.
Nadin pun meraih ponsel. Ingin mencari teman mengobrol, tapi dia baru sadar kalau selama ini hanya Juna yang dia miliki. Lelaki itu bukan sekedar menjadi kekasihnya saja, melainkan teman sekaligus keluarga. Membuat Nadin berpikir kalau selama ini dia terlalu bergantung padanya.
Nama selanjutnya yang terpikir hanyalah Axel. Tidak hanya asaat bertemu, Axel memang selalu mengganggu Nadin dengan mengirimkan pesan—yang jarang sekali dia balas. Tapi, dia masih tidak bisa dan tidak mau membicarakan soal perasaan pribadinya kepada siapa pun.
Selain itu, hanya tinggal ibunya yang terpikirkan. Meski tidak mungkin dia menelepon sang ibu tengah malam seperti ini.
Akhirnya, Nadin memilih untuk menghabiskan waktu untuk membuka Amstagram. Akunnya tidak pernah sepi. Tiap menit selalu ada komentar baru yang masuk. Bahkan sering kali ada pesan yang masuk. Tentu nadin tidak bisa membalas itu semua satu per satu.
Nadin berpikir, padahal media sosialnya begitu ramai. Tapi tidak ada satu orang pun yang bisa dia ajak mengobrol. Bahkan Nadin tidak tahu mana followersnya yang benar-benar tulus ingin menjadi teman berbicaranya.
Sesaat, Nadin teringat akan sosok wanita yang tadi dia liaht bersama Juna. Dia mencoba untuk mencari akun media sosial orang tersebut, yang dengan mudahnya ditemukan.
@LadyMala
Akun dengan dua puluh juta followers itu sangat menakjubkan. Nadin memang mengakui kecantikan Mala, apalagi setelah melihat foto-foto yang ada.
Tampaknya umur Mala tidak berbeda jauh dengan Nadin. Namun, dandanan dan gaya berpakaiannya yang jauh berbeda, membuat Mala tampak jauh lebih dewasa. Jika dipikirkan lagi, Nadin merasa Mala justru jauh lebih cocok jika sedang bersanding dengan Juna. Itu kenapa keduanya mungkin sering dipasangkan setiap kali ada pemotretan.
Jika diperhatikan, hampir semua foto yang ada dalam medos, Mala berpose seorang diri. Meski saat mengambil foto dia tengah bersama dengan orang lain. Tapi satu hal yang pasti, tidak ada tanda-tanda kalau Mala sudah memiliki pacar.
Nadin masih terus memperhatikan satu per satu foto Mala. Hingga berhenti pada postingan sekitar dua minggu lalu. Dalam fotonya, Mala tampak sedang berpose pada kursi sebuah kafe. Seseorang yang saat itu makan bersamanyalah yang mengambil fotonya. Dari beberapa makanan yang ada di atas meja, bisa disimpulkan kalau Mala sedang berdua dengan orang yang entah siapa itu.
Akan tetapi, Nadin merasa sangat penasaran karena di pojok kiri bawah foto, ada sebuah ponsel yang turut terfoto. Dan mereknya sama persis dengan yang miliki oleh Juna. Nadin hanya mendengus, menertawakan diri sendiri. Tentu saja bukan hanya Juna yang punya ponsel dengan merek tersebut.
Meski begitu, Nadin mulai tidak tenang, setelah membaca caption dari postingan tersebut.
‘Two months and still counting…’
Sebenarnya tidak ada kesimpulan apa pun yang bisa ditarik dari kata-kata tersebut. Hanya saja pikiran Nadin sedang tidak bisa digunakan untuk berpikir dengan waras.
Selain itu, ada satu foto lagi yang membuat Nadin penasaran. Mala tampak berfoto di depan jendela apartemennya. Terduduk sembari memandangi langit malam. Dia mengutik lirik lagu dalam *caption-*nya.
‘The sun is filling up the room.
And I can hear you dreaming.
Do you feel the way I do, right now?
I wish we would just give up.
'Cause the best part is falling.
Calling anything but love.
And I will make sure to keep my distance.
Say I love you when you're not listening.
How long, can we keep this up?’
Lalu ditutup dengan satu baris terakhir. ‘I’m here, drinking your favorite earl grey’ yang bukan merupakan bagian dari lirik lagunya. Apakah bisa disebut kebetulan, saat Juna pun sangat menyukai teh earl grey? Pikir Nadin.
Kasur empuknya mendadak jadi tidak nyaman ditempati. Nadin beranjak dari atas sana, dan berpindah ke atas sofa. Memaksakan untuk memejamkan mata, meski hingga jam tiga, dia belum juga bisa tertidur. Hingga entah kapan dia mulai terlelap, dan terbangunkan oleh ponselnya yang bergetar.
Saat menangkap nama Juna pada layar, nadin langsung tersentak. Dia duduk dan mengangkat telepon yang masuk.
“Tapi malam kamu telepon ya?”
“Iya. Maaf ya, kamu pasti udah tidur.”
“Kamu sendiri kenapa belum tidur jam segitu.”
“Gak tahu. Aku gak bisa tidur.”
Napas Juna terdengar dari balik telepon. Sepertinya dia baru saja bangun tidur dan masih berada di atas ranjang. Suaranya pun masih terdengar terkantuk-kantuk. “Kenapa?”
Nadin bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Apakah akan baik-baik saja kalau dia berkata jujur kepada Juna?
“Babe?” panggil Juna, karena tak kunjung mendapatkan respons.
“Sebenarnya, aku kepikiran kamu kemarin.”
“Aku? Kenapa?”
“Aku penasaran kenapa kamu sama Mala berantem sehebat itu kemarin. Aku pikir kamu gak seakrab itu sama Mala.”
“Dia memang terkenal galak. Kamu sendiri cerita kan, kalau ngerasa Mala gak suka cuma perkara kamu pernah nabrak dia?”
“Iya, sih… terus, kemarin kalian kenapa?”
“Biasa, masalah kerjaan,” jawab Juna singkat. “Gak usah dipikirin. Nanti kamu pusing sendiri.”
Nadin kembali terdiam. Selama ini dia tidak pernah meragukan apa pun yagn dikatakan oleh Juna. Tidak pernah sekali pun lelaki tersebut berbohong padanya. Tapi, kali ini hati, atau mungkin otaknya, berusaha untuk menyangkal.
“Jujur, ada hal lain yang bikin aku kepikiran.”
“Apa?”
“Waktu aku ke apartemenmu, kamu bilang Bang Surya datang ke sana. Tapi aku lihat ada dua gelas di tempat cuci piring, dan ada bekas lipstik di gelas yang satu… Kamu gak bohong, kan?”
“Oh… Waktu itu Surya datang berdua sama pacarnya. Aku pasti kasih mereka minum, kan.”
“Hmm… Kamu bakal sering kerja bareng Mala ya?”
“Kita berdua lagi ada projek bareng. Jadi, gak aneh kalau nanti kamu lihat aku sama dia sering bareng. Apa aku tolak aja kerjaannya?”
“Enggak. Bukan gitu… kamu gak perlu sampai cancel kerjaan.”
“Tapi kamu bakal terus ngerasa gak tenang kayak gitu.”
“Mungkin efek kecapean, jadinya aku mikir ke mana-mana.”
Selama dua puluh menit, mereka mengobrol seperti biasa. Perlahan mulai berganti pembahasan ke topik lain. Cukup mengobati perasaan Nadin. Setidaknya untuk sementara. Karena, setelah telepon ditutup, Nadin merasa hatinya masih belum lega. Entah apa yang terus membuatnya merasa gundah. Dia sendiri tidak mengerti karena baru pertama kali merasakannya.
Sementara Juna, termenung menatap langit-langit kamar. Terdiam dalam posisi sama untuk beberapa saat. Memikirkan entah apa di dalam kepalanya.
Dia memiringkan kepada ke arah kiri, di mana seorang wanita berambut panjang terlelap dengan pulasnya. Dia menatap wanita tersebut dengan wajah tanpa ekspresi, sebelum akhirnya bangkit dari atas kasur.