Just A Professional Relationship

Just A Professional Relationship
Episode Tiga Puluh Satu



Sebelum motornya melaju, Axel sempat berkata bahwa dia akan mengajak Nadin ke rumahnya. Karena Nadin tampak penasaran sekali dengan apa yang temannya itu lakukan setelah keluar dari manajemen.


Akan tetapi, Nadin agak bingung karena tiba-tiba Axel menghentikan motornya di depan kedai yang dulu sempat mereka kunjungi. “Kita mau makan dulu?”


“Iya. Kita makan di rumahku ya.”


Untuk beberapa saat, wanita berambut pendek itu tertegun. Lalu berseru saat menyadari sesuatu. “Ah! Maksudnya, kedai ini rumahmu?”


Axel pun tertawa. “Iya. Kaget ya?”


“Astaga! Kenapa kamu gak bilang dari dulu, sih?!”


“Takut kamu kecewa, karena ternyata aku bukan sosok anak orang kaya, seperti yang kamu bayangkan.”


“Mana mungkin aku gitu!”


Kedai tersebut masih seramai biasanya. Namun kali ini Nadin merasa senang karena sudah tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi untuk datang ke sana. Perubahan pada rambutnya membuat semua orang tidak langsung menyadari soal identitasnya. Hal itu membuatnya sangat tenang.


“Pak, ada temanku datang,” ucap Axel kepada seorang koki berkumis.


Lelaki berwajah garang itu mendadak sangat ramah sewaktu tersenyum. Bahkan perawakannya yang terbilang agak pendek, membuatnya tampak lucu. “Eh… Selamat datang. Ayo, masuk. Nanti om buatkan makanan,” ucapnya.


"Dasar, bapak tua ini kadang gak sadar umur."


Tak lama, seorang wanita bertubuh jangkung—hampir setara dengan Axel—pun muncul. “Lho, ada temanmu,” ucapnya.


“Iya. Ini Nadin, Bu.”


“Oh, yang sering kamu ceritakan itu ya!”


Axel mendadak salah tingkah dan menyuruh ibunya untuk tidak bicara macam-macam. Namun wanita itu hanya tertawa sembari menggoda anaknya.


“Maaf mengganggu ya, Tante.”


“Ah, enggak, kok. Malah sering-sering datang ke sini ya…”


Axel pun langsung mengajak Nadin ke bagian lebih dalam kedai. Bukan menuju ke ruangan yang biasa mereka pakai makan, melainkan ke rumah Axel yang berada di belakang kedai tersebut.


Ternyata, sebenarnya kedai dan rumah Axel adalah dua rumah yang terletak saling membelakangi. Agar lebih mudah, dibuat sebuah pintu di tengahnya untuk menghubungkan kedua bangunan tersebut. “Wah…” komentar Nadin.


Mereka pun sampai di ruang tengah, yang berisi sofa, meja dan televisi selayaknya rumah pada umumnya. “Duduk dulu, Nad.”


Nadin pun duduk sembari matanya masih tetap meninjau satu per satu bagian ruangan yang tampak tertata dengan rapi.


Axel pergi ke dapur dan kembali dengan dua gelas berisi teh manis.


“Ternyata badanmu yang tinggi itu turunan dari ibumu ya. Tapi muka garangnya mirip bapakmu,” komentar Nadin.


“Yah… semua orang bilang begitu.”


“Aku bener-bener gak nyangka, lho, kalau rumahmu di sini. Kayaknya gak banyak yang tahu ya.”


“Iya, aku sengaja, sih cuma cerita ke teman-teman dekat aja. Kayaknya bakal repot kalau sampai ada orang tv yang tiba-tiba datang bawa kamera.”


“Pasti ramai sih ya. Axel si playboy ternyata anak tukang soto.” Nadin tertawa dengan lepas. Axel merasa tersindir mengacak-acak rambutnya, namun tetap tertawa.


“Kaaak!” Dari bagian rumah yang berlawanan dengan kafe, terdengar suara anak kecil berteriak. Langsung membuat Nadin terdiam. Dia baru tahu kalau Axel mempunyai adik. Ternyata ada banyak hal yang belum dia ketahui soal temannya itu. Atau mungkin dia yang terlalu acuh hingga tidak berusaha mencari tahu.


“Hah, para biang kerok datang,” keluh Axel. “Bakal jadi berisik, nih. Moga kamu tahan ya.


Nadin masih belum mengerti sampai akhirnya menangkap keberadaan empat orang anak yang baru saja tiba di ruang tengah. Mereka tak henti saling bersahutan sembari berjalan.


Anak perempuan paling besar muncul paling pertama. Rambutnya panjang dikepang dua. Berkacamata, dan memiliki image anak pintar. Dia bernama Rina, 17 tahun.


Lalu, anak laki-laki berusia 13 tahun pun datang. Dia Adit, wajahnya tampak galak seperti Axel. Namun ternyata cukup jahil. Di belakangnya, si kembar Abi dan Aga yang masih berumur 4 tahun mengekor.


“Kak Dion!” teriak si kembar, sembari berlari dan memeluk Axel. Hal itu membuat Nadin teringat kepada perkataan Ramos tempo hari.


“Dion?”


“Oh, aku lupa bilang ya. Itu nama asliku,” jelas Axel. Sembari kerepotan menangani adik kembarnya.


“Eh, ini beneran Kak Nadin? Bener Kak Nadin yang itu, kan?!” Rina langsung berlari mendekat, sambil memasang wajah kagum.


“Iya,” balas Nadin dengan ramah.


“Astaga! Mimpi apa aku bisa ketemu sama Kak Nadin! Kak, nanti aku minta foto sama tanda tangan ya!” ucap Rina dengan terburu-buru. Dia langsung pergi karena harus mengantarkan barang belanjaan kepada sang ibu.


Adit pun turut mendekat. “Kak, Kak Dion suka sama kakak, lho,” celetuknya.


“Beneran, Kak! Kak Dion naksir tapi gak berani bilang!” teriak Adit lagi, sebelum lanjut berlari.


“Adit, bisa diam gak! Kakak pukul kamu nanti!” protes sang kakak, dengan wajah agak memerah.


Semua itu membuat Nadin tak tahan untuk tertawa. Sekaligus tidak menyangka kalau Axel ternyata memiliki keluarga besar yang ramai.


“Seru ya punya adik banyak,” ucap Nadin. Dia memangku Abi di atas pahanya.


“Sama sekali enggak. Setiap hari pasti ribut terus.”


“Senggaknya, kan gak kerasa sepi.”


“Iya, sih…”


Sekelebat, Axel menangkap raut wajah kesedihan dari wanita di sampingnya. Dan langsung tersadar kalau sebenarnya Nadin memang merasa kesepian. Harus tinggal berdua dengan ibunya, tanpa teman-teman yang biasanya dia temui di manajemen.


Keributan pun kembali terdengar, dan perlahan semakin mendekat. Kali ini berasal dari ibu dan dua anaknya yang entah sedang mendebatkan apa. Mereka terus berbicara sembari membawa berbagai makanan dia tas nampan.


“Wah, makanan datang!” ucap Axel.


Akhirnya, Nadin pun makan bersama keluarga Axel untuk ayng pertama kalinya. Membuatnya sangat senang, karena bisa merasakan kembali bagaimana rasanya makan bersama keluarga—meskipun bukan keluarganya sendiri. Ditambah lagi dengan keluarga Axel yang menyambutnya dengan hangat. Meski baru pertama bertemu, tapi berhasil membuatnya merasa nyaman ada di sana.


***


Axel mengantar Nadin pulang ke rumahnya. Dia agak panik saat tidak sadar hari sudah hampir malam. Bahkan dia lupa mengabari ibunya kalau akan pergi ke rumah teman. Dia khawatir ibunya belum makan karena menunggunya pulang.


Nadin mendapati rumahnya gelap gulita. Lalu masuk dengan terburu-buru hingga menemukan ibunya tertidur di atas sofa dengan televisi yang menyala. Dia menghembuskan napas lega karena ibunya tampak baik-baik saja.


Setelah menyalakan lampu, Nadin kembali ke depan rumah dan mempersilahkan Axel untuk masuk. “Maaf ya, rumahku gak serapi rumahmu,” katanya.


“Aku gak ganggu, kan?”


“Enggak, lha! Justru ibu pasti senang karena rumah jadi ramai.”


“Nadin, sudah pulang?” tanya sang ibu yang baru saja terbangun dengan suaranya yang parau.


“Iya, Bu. Maaf ya lupa bilang, tadi aku habis dari rumah Axel.”


“Oh, ada temanmu toh. Ibu siapkan makanan ya.”


“Eh, gak usah, Bu. Tadi sudah makan,” balas Axel sembari menyalami wanita bertubuh kurus yang terduduk lemas di atas sofa.


“Maaf ya, kita gak punya apa-apa di rumah. Tapi kamu santai aja.”


“Iya, Bu. Makasih.”


“Ibu istirahat di kamar, gih. Atau mau makan dulu?” tanya Nadin sembari membantu ibunya berdiri.


“Ibu sudah makan, kok.”


Ini pertama kalinya Axel bertemu dengan ibu Nadin secara langsung. Tentu dia tahu cerita soal ceritanya. Tapi tidak pernah punya kesempatan untuk menengok sewaktu masih dirawat di rumah sakit. Entah kenapa melihat punggung dua wanita di depannya, membuat dada Axel mendadak terasa sesak.


“Kamu kenapa?” tanya Nadin yang baru saja kembali setelah mengantar ibunya ke kamar. Ternyata Axel tidak sadar kalau sempat melamun.


“Eh, enggak. Ibumu benar-benar sudah berhenti pengobatannya?”


“Masih suka aku antar periksa ke rumah sakit. Tapi ya… keadaannya sama saja. Malah kelihatannya tambah buruk. Meski ibu bilangnya dia sehat, sih.”


“Hm…”


Keadaan menjadi sangat hening saat keduanya terdiam. Membuat Axel mengerti, apa yang membuat Nadin merasa senang berada di tengah keluarganya. Rumah Nadin biasa saja, hanya satu lantai. Tapi terasa sangat luas karena hanya dihuni oleh dua orang.


“Nadin…”


“Ya?” Nadin mendapati wajah lelaki di hadapannya tampak sangat serius. Memandangnya dengan tatapan penuh keraguan, seakan banyak hal yang ingin dia ungkapkan.


“Maaf ya,” ucap Axel lagi, sebelum memeluk Nadin dengan tiba-tiba.


Tentu Nadin terkejut diperlakukan seperti itu. tapi anehnya, dia tidak ada keinginan untuk berontak. “Kamu kenapa?” tanyanya.


“Maaf… Biarkan aku kayak gini sebentar aja…” ujar Axel lirih. “Sejak terakhir kali bertemu, aku gak pernah bisa berhenti ngerasa cemas. Tapi, di satu sisi aku gak punya keberanian buat ngontak kamu. Sampai berkali-kali aku datang ke daerah sini cuma untuk memastikan kalau kamu baik-baik saja. Tapi… aku benar-benar pengecut… Padahal, aku tahu kamu pasti sepi. Selama ini berjuang sendiri. Tapi aku seakan gak peduli sama semua itu...”


Nadin tidak bisa untuk tidak merasa haru. Hatinya terenyuh, hingga membuat matanya mulai berkaca-kaca. Padahal dia pun hidup sembari membawa rasa bersalah pada Axel. Tapi, kenapa kini justru laki-laki itu yang meminta maaf padanya?


Akhirnya, Nadin pun balik memeluk lelaki yang mendekapya dengan erat itu.


“Makasih ya… Makasih udah khawatirin aku…”