Just A Professional Relationship

Just A Professional Relationship
S2 - Episode Tiga



Axel melangkah gontai di sepanjang jalan. Beberapa kali dia menarik napas dalam dan menghembuskannya. Dia masih tidak bisa menghilangkan soal lelaki berambut perak yang berpelukan dengan Nadin tempo hari.


‘Kenapa kamu pengecut sekali, Dion?’ tanyanya pada diri sendiri. Sudah dua hari berlalu, tapi dia belum juga berani untuk menanyakannya pada Nadin. Dia terlalu takut kalau membahas hal itu hanya akan membuat keadaan di antara mereka menjadi buruk.


Lagi-lagi Axel menghembuskan napas saat baru saja tiba di depan rumah Nadin. Dia berusaha menghilangkan semua pikiran buruk dan bertindak seperti biasanya.


Axel pun menuju ke depan pintu lalu mengetuknya. Memasang senyuman lebar seperti biasa, untuk menyambut Nadin yang akan membukakan pintu.


Setelah beberapa menit, barulah pintu dibuka. Hanya saja, Axel harus dikejutkan karena bukan Nadin yang membukanya. Melainkan lelaki berambut silver yang ada di sana.


“Wah… ada tamu ya,” ucap lelaki tersebut. Dengan wajah ramah, seakan tidak ada sesuatu yang salah.


Sementara Axel sendiri sudah kehilangan senyum pada bibirnya. Dia tampak kesal, dan mendadak naik darah.


“Siapa ya? Ada perlu apa?”


Tanpa menjawab apa pun, Axel langsung mendorong lelaki tersebut hingga keberadaan keduanya ada di dalam rumah. “Lo yang siapa?” bentaknya. “Kenapa ada di sini?”


“Wow, calm down, Dude,” balas si lelaki rambut panjang dengan tenang. Tidak ada ekspresi ketakutan sedikit pun dari wajahnya. Dan justru sedikit tersenyumpenuh ejekan.


Melihat itu, Axel tak tahan untuk tidak memberikan pukulan. Kepalan tangannya sudah mengacung di depan wajah si lelaki tak dikenal.


“Dion! Stop!” Nadin berseru dengan panik. Dia muncul dengan apron dan sarung tangan untuk memasak.


Segera Nadin berjalan dan memisahkan kedua lelaki yang ada. Dia berdiri di depan si lelaki rambut perak yang masih tersenyum tipis. Sembari menghalangi Axel yang hampir termakan emosi.


“Gue tanya, lo siapa?!”


“Kayaknya kamu belum tahu ya. Aku pacarnya Nadin.”


“Hah?!”


“Dan sekarang tinggal bersama di sini.”


Nadin melihat keadaan semakin parah. Bahkan sedari tadi dia tidak mendapat kesempatan untuk bicara. Kini, dia khawatir tidak bisa menahan Axel yang sudah tidak sabar untuk melayangkan pukulan.


“Kak, jangan bercanda terus, ah!” protes Nadin. “Dion, please. Tenang dulu!”


Lelaki berambut pirang itu pun tertawa. Dia sudah tidak tahan melihat reaksi Axel yang sesuai dengan bayangannya.


Kini Axel sudah tidak lagi berniat menyerang. Tapi dia masih kesal karena bingung dengan apa yang terjadi, juga soal siapa orang yang dia lihat itu.


Nadin pun menghembuskan napas. “Dion… Ini Kak Stefan. Dia kakak kandung dari Juna,” jelasnya.


Axel terdiam beberapa saat. Sepertinya otaknya lambar memproses apa yang abru saja dia dengar. “Hah? Kakaknya Juna?”


“Hai…” ucap Stefan sembari tersenyum.


“Pantas aku langsung kesal ngeliatnya.”


Semakin dilihat, akan semakin terpampang jelas kemiripan antara Juna dan Stefan. Dari mulai penampilan, mereka tampak seperti bangsawan. Memanjangkan rambut, dengan gaya nyentrik. Hanya saja, Juna lebih pendiam. Sementara Stefan tampak lebih senang berinteraksi dengan orang lain, dan agak selengean. Umur keduanya terpaut empat tahun.


Sejak kecil Stefan tumbuh besar di Perancis. Tinggal bersama salah satu pamannya di sana. hingga kini pun dia bekerja sebagai fashion designer dan mempunyai salon di sana. Kadang dia pun mengambil pekerjaan untuk menjadi model.


Stefan jarang sekali pulang ke Indonesia. Bahkan, Nadin saja hanya sempat bertemu beberapa kali. Namun sifat Stefan yang mudah dekat dengan orang lain membuat Nadin merasa akrab dengannya.


“Pacarmu benar-benar mirip sama apa yang kamu bilang. Gampang ditipu dan cepat emosi,” komentar Stefa. Dia pun berjalan dan duduk di atas sofa. Seakan rumah itu miliknya.


“Dia benar-benar tinggal di sini?” tanya Axel dengan wajah serius.


“Enggak, kok. Cuma mampir sebentar gara-gara aku cerita kamu mau datang.”


Nadin pun mengajak Axel masuk ke ruang tengah. Sementara dia melanjutkan kegiatan masaknya yang sempat terganggu. “Tunggu ya, bentar lagi aku selesai.”


Axel melangkah pelan sembari memandangi Stefan yang terduduk di sofa sembari menonton tv. Dia terlihat santai sekali, sembari mengunyah kacang dari dalam toples.


“Gak usah! Jangan ke sini! Bentar lagi selesai!” balas Nadin dengan sedikit berteriak.


Mau tidak mau, Axel harus duduk di atas sofa yang sama dengan Stefan. Lalu keduanya terdiam.


Stefan bersandar pada punggung kursi. Lalu melirik ke arah Axel ayng terlihat tidak nyaman. “Jadi kamu member boyband ya,” tanyanya. Masih sembari sibuk mengunyah kacang.


“Aku sudah keluar dari setahun lalu,” balasnya. Masih sembari enggan balik menatap si penanya.


“Hm… Dan sekarang kamu sedang mencoba merebut Nadin?”


“Huh,” Axel mendengus. “Merebut dari siapa?”


“Dari adikku.”


“Dia sendiri memintaku untuk menjaganya.”


“Wah… ternyata benar.”


Stefan berhasil menarik perhatian Axel. Lelaki berambut cokelat itu langsung melirik penuh tanya. “Kau dengar apa dari Juna?”


“Dia bukan orang yang mudah percaya kepada orang lain. Apalagi soal mencari penggantinya untuk menjaga Nadin. Kau tahu, kalau saja Juna masih ada, kamu bahkan gak akan punya kesempatan sedikit pun buat merebut Nadin.”


“Sebenarnya apa yang mau kamu bilang?”


“Kalau pun Juna mempercayakan Nadin kepada orang lain, satu-satunya yang akan dia percaya hanya aku,” ucap Stefan. “Tapi waktu itu aku merasa aneh sewaktu melihatnya mengirimkan surat ke alamat rumahmu. Dan jadi penasaran, seperti apa orang yang dia percaya untuk menjaga Nadin.”


“Lalu?”


“Aku masih bingung kenapa.”


Pembicaraan pun terhenti. Keduanya kembali saling diam dengan mata tertuju ke layar televisi. Saat Nadin datang dengan nampan berisi makanan pun, mereka masih terlihat seperti itu. “Kalian gak ngobrol?” tanyanya.


“Wah, aku kangen banget masakan Indonesia!” seru Stefan. Wajahnya sumringah saat melihat makanan yang disajikan Nadin ke atas meja.


Axel masih memperhatikan lelaki yang tampak aneh di matanya itu. rasanya seperti saat dia melihat Juna. keduanya merupakan sosok yang penuh misteri. Tidak bisa dinilai sekilas dari penampilan luarnya saja. Dan orang-orang seperti itu Axel anggap sangat berbahaya.


Ketiganya pun mulai makan, sembari lanjut mengobrol. Sesaat, Nadin memandang ke arah perkedel kentang yang dia buat. Lalu melirik ke arah lemari kaca yang tak jauh dari sana. memandang ke sebuah foto yang ada di dalam sana.


‘Aku masak perkedel kesukaan Kak Juna,’ ucapnya dalam hati.


Fotonya dan Juna masih terpampang, di samping foto orang tuanya, serta sebuah wadah berisi sepasang cincin.


“Kak Stefan sampai kapan di Indonesia?”


“Hm… Belum tahu.”


“Emangnya lagi ada kerjaan di sini.”


“Iya, pekerjaan penting.”


“Wah, kerjaan apa? Apa jangan-jangan kakak buka salon juga di sini?”


“Ide bagus. Tapi, bukan itu. Aku cuma ingin memastikan sesuatu sebagai pengganti Juna.”


Nadin langsung memasang wajah penasaran. Begitu pula dengan Axel—meski berusaha keras untuk menutupinya. Untuk beberapa saat, keduanya tidak bicara. Hanya menunggu Stefan selesai mengunyah.


“Aku harus memastikan kalau orang yang ada bersamamu sekarang bisa membuatmu bahagia.”


Seketika Nadin pun tertawa. “Gak penting banget, Kak,” ucapnya. “Aku bahagia, kok sekarang. Gak perlu khawatir.” Dia pun melirik ke arah Axel dan memberikan senyuman manisnya.


Lelaki itu pun balik memandang, sembari membalas dengan senyuman serupa.


'Aku pasti akan melindungi dan membuatmu bahagia.'