
Hampir dua jam Stefan hanya duduk termenung menatap langit melalui jendela apartemennya. Pikirannya terus disibukkan dengan persoalan Nadin yang mendadak memiliki hubungan dengan lelaki bernama Frans.
Masalahnya, dia cukup terganggu karena tidak bisa mengingat apa yang Juna sempat katakan dulu. Padahal sedikitnya, Frans pernah menjadi topic pembicaraan mereka beberapa tahun lalu.
“Apa? Kau bilang apa waktu itu, Juna?”
Stefan pun beranjak dari atas sofa, mengambil laptopnya dan kembali duduk di tempat semula. Dia mulai mencari tahu soal perusahaan Zabran, yang dikelola oleh Frans dan ayahnya.
“Kenapa harus Nadin? Bahkan ada banyak wanita lain yang punya latar belakang keluarga ternama, yang bisa dia manfaatkan. Apa yang membuat Frans merasa hanya Nadin yang bisa dia gunakan? Gak mungkin ini soal cinta. Sama sekali bukan…”
Stefan meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja, dan menelepon seseorang.
“Cari tahu soal Frans Alberta Zabran yang tidak bisa aku akses di internet. Apa pun itu, bawa padaku,” ucapnya dengan wajah serius. Lalu menutup panggilan, dan kembali fokus ke arah layar laptopnya.
***
Nadin belum lama sampai di sebuah apartemen mewah yang hanya terpisah beberapa bangunan dari kantor Frans. Dia hanya duduk, di saat beberapa orang lelaki dari jasa pindahan sibuk mengangkuti barang-barangnya.
Di tempat itu lah Nadin akan mengawali hari-harinya sebagai orang yang akan selalu berada di samping Frans—entah sampai kapan. Dia sendiri sama sekali tidak berhasil mencari tahu apa yang lelaki itu inginkan. Frans selalu berkata kalau dia menginginkan Nadin yang dia anggap sebagai orang yang berharga baginya. Bagi sebagian orang, mungkin hal itu akan terdengar sebagai sesuatu yang romantis. Tapi Nadin sendiri merasa bukan itu maksud Frans.
“Bagaimana apartemennya, kau suka?”
Frans melangkah masuk, dan berjalan ke arah Nadin yang hanya diam tak membalas. Dengan tetap berdiri, Frans menaruh setumpuk berkas di atas meja.
Nadin yang tidak bisa menahan rasa penasaran, melihat tumpukan berkas di hadapannya. “Apa ini?”
“Berkas pengunduran diri milikmu dari pekerjaan yang sekarang.”
“Hah?”
“Aku sudah memindahkankan label tempatmu rekaman juga. Lebih baik kamu ditangani oleh label yang lebih terkenal dan bagus.”
“Hei, kenapa kau seenaknya begini?!”
“Sudah kubilang kan, akan memberikan yang terbaik untukmu dan membuatmu hidup enak. Kamu sudah gak perlu bekerja. Tapi aku tetap mengizinkanmu melakukan hobimu.”
Napas Nadin agak memburu karena kesal. Tapi dia masih menahan diri karena tahu tidak bisa melakukan apa-apa. Melawan hanya akan membuang tenaganya dengan percuma, karena sudah tentu dia akan kalah telak melawan Frans.
“Kemarikan ponselmu.” Frans mengulurkan tangannya.
Nadin masih menggenggam ponselnya dengan erat. “Kamu sudah mengambil semua dariku. Tapi tolong jangan yang satu ini.”
“Buat apa? Siapa yang mau kamu hubungi? Kamu masih mau menyeret Axel ke dalam masalah lagi?”
Melihat Nadin yang masih bergeming, Frans melangkah mendekat dan mengambil paksa ponsel dari genggaman wanita tersebut. Lalu memberikan sebuah ponsel baru kepada Nadin.
Sebentar lagi kamu harus pergi menemaniku menemui seseorang. Bersiap-siaplah dari sekarang. Setengah jam lagi akan aku jemput,” ucap Frans, sebelum pergi dari dalam ruangan.
Nadin menghela napas dalam-dalam, lalu bersandar pada sofa. Hal pertama yang muncul di dalam kepalanya tentu soal Axel. Dia tahu Axel tidak mungkin diam saja, apalagi setelah mengetahui kalau dia tiba-tiba pindah rumah tanpa kabar. Bahkan kini nomornya tidak akan bisa dihubungi.
Namun setidaknya, Nadin sudah membuat Frans berjanji tidak akan mengganggu Axel sedikit pun. Terlepas dari apa yang akan Axel lakukan setelah ini.
Nadin yang baru kembali dari lamunannya pun bergegas berdiri dan mengucap terima kasih. Lalu bergegas mengikuti instruksi Frans untuk bersiap.
Sesuai perkatannya, Frans datang menjemput dan membawa Nadin ke suatu tempat dengan mobilnya. Di perjalanan, Frans hanya menyetir dengan tenang. Padahal Nadin menunggu hingga dia mulai menjelaskan terkait tujuan mereka saat ini. Tapi, akhirnya Nadin mengalah dan memilih untuk angkat bicara lebih dulu.
“Kamu gak mau mem-briefing-ku dulu sebelum sampai?”
“Gak perlu. Kamu sudah tahu apa yang harus dilakukan.”
“Gimana aku bisa tahu kalau kamu gak pernah kasih tahu?”
“Pekerjaanmu jelas, hanya tinggal menjadi pacarku saja.”
Nadin hanya bisa menghembuskan napas dengan keras. Tak berniat memperpanjang percakapan.
Setelah lima belas menit berlalu, mereka pun sampai di depan sebuah rumah megah. Setidaknya Nadin tahu kalau Frans sedang mencoba untuk menjalin kerja sama dengan salah seorang konglomerat.
Satu hal yang agak mengejutkan, ternyata Nadin kenal siapa orang yang mereka temui. Seorang lelaki tua gemuk yang langsung menyambutnya dengan gembira.
Orang tersebut bernama Dwiyatno, seorang pebisnis di bidang perhotelan. Dia sangat terkenal karena tidak hanya memiliki hotel di dalam negeri, melainkan ada beberapa di luar negeri—dan salah satunya di Amerika.
Dwiyatno pula yang menjadi salah satu donatur dari beasiswa yang Nadin terima hingga bisa sekolah di Amerika. Dulu mereka sempat bertemu di tengah konser. Bahkan Dwiyatno selalu datang bersama isterinya tiap kali Nadin mengadakan pementasan. Dia sangat menyukai suara Nadin.
“Astaga! Akhirnya kita bertemu lagi!” seru Dwiyatno dengan penuh semangat. Dia menarik lengan Nadin untuk bergegas masuk ke dalam rumahnya.
Padahal wajah lelaki itu tampak tidak bersahabat pada saat melihat Frans ada di depan pintu rumahnya. Seakan menyuarakan kebencian tanpa kata. Namun, ekspresinya seketika berubah saat menyadari Nadin ada di sana.
“Sayang! Sayang! Ada Nadin!” teriak Dwiyatno saat sampai di ruang tengah. Tak lama, isterinya pun muncul dengan terburu-buru dan langsung berhamburan ke arah Nadin.
Dwiyatno dan isterinya kurang beruntung karena tidak bisa memiliki keturunan. Meski mereka sudah melakukan berbagai cara, namun nasib tidak berpihak kepada keduanya. Itu kenapa mereka tampak sangat senang saat bisa mengenal Nadin. Bagi Dwiyatno dan isterinya, Nadin adalah sosok anak yang mereka dambakan.
Keempat orang itu pun melanjutkan pembicaraan di ruang makan. Sejak sampai, hanya Nadin yang diajak mengobrol oleh Dwiyatno. Keberadaan Frans seakan terlupakan begitu saja. Namun lelaki itu hanya mengikuti keadaan dengan tenang, seakan tahu semua akan terjadi seperti itu.
Pembicaraan sangat seru, Nadin banyak bernostalgia saat-saat dia masih di Amerika. Dwiyatno dan isterinya pun membicarakan sewaktu mereka datang ke setiap konser Nadin.
Hanya saja, pembicaraan seru itu pun harus berakhir saat Dwiyatno sudah tersadar akan keberadaan Frans yang berada di satu meja dengannya. “Jadi, kenapa kalian berdua bisa datang bersama?” ucap Dwiyatno dengan wajah serius. Membuat Nadin yakin kalau hubungan antara dua lelaki yang ada di bersamanya itu sangat tidak baik.
“Frans ini pacarku, Pak,” ucap Nadin, dengan ekspresi tamahnya seperti biasa. Dwiyatno tampak agak terkejut dibuatnya. “Kami juga bertemu sewaktu di Amerika.”
“Oh…”
“Sewaktu dengan Frans berencana ke sini, aku langsung meminta untuk diajak. Karena aku pikir bapak dan ibu masih di Amerika. Ternyata sudah pulang.”
“Kamu sering-sering main ke sini ya. Biar ibu gak kesepian kalau bapak lagi kerja,” ucap isteri Dwiyatno.
“Iya, Bu. Nanti aku pasti main lagi ke sini.”
Keadaan yang sempat agak beku pun kembali mencair. Mereka lanjut mengobrol hingga makan siang selesai. Bahkan sepanjang itu Frans hanya mendengarkan. Dan setelah satu setengah jam berlalu, Frans justru memutuskan untuk pulang. Dia bilang akan membicarakan soal bisnis di lain waktu saja, karena tidak ingin mengganggu nostalgia Nadin dan pasangan suami isteri tersebut.
Semua hal itu membuat Nadin sadar, soal apa yang sebenarnya Frans inginkan. Juga soal alasan kenapa keberadaannya sangat dibutuhkan.