
“Gue pikir lo orang paling sempurna di bumi ini. Ternyata tetap aja bisa melakukan sesuatu yang bodoh kayak gitu.”
Axel tertawa mengejek Juna yang duduk di sampingnya. Mereka duduk pada sebuah bangku di atas bukit. Di mana pemandangan kota yang dipenuhi gedung tinggi tampak dari sana.
“Siapa yang tidak akan mendadak bodoh kalau dihadapkan dengan masalah kayak gini?”
“Tapi heran, kenapa lo justru cerita ini semua ke orang yang jelas-jelas benci sama lo. Bahkan lo sendiri bilang kalau gue terlalu lemah.”
Juna mendengus. “Karena kamu orang paling bernyali yang pernah aku temui. Satu-satunya orang lemah yang masih terus berusaha buat melawanku, meski tahu akan tetap kalah.”
“Wah, gue bingung itu pujian atau apa.”
Keduanya pun terdiam untuk beberapa saat. Membiarkan angin semilir membelai rambut mereka. Sembari tetap memandangi pemandangan yang terbentang luas di hadapannya.
“Apa lo bener-bener bakal mati?”
“Semua orang juga pasti mati. Pertanyaan bodoh.”
“Memang apa salahnya beritahu Nadin soal semua itu?”
“Kira-kira… bagaimana rasanya jika jadi dia yang ditinggal pergi oleh orang-orang terdekatnya? Kamu tidak akan mau membayangkannya.”
***
Axel berdiri di depan makam Juna, sembari menggenggam seikat bunga. Menaruh benda itu di atas gundukan tanah yang sudah berumur tujuh hari.
Untuk beberapa saat, Axel hanya termenung, mengingat waktu singkat pertemannya dengan lelaki yang saat ini terbaring di dalam sana. Bahkan dia sendiri ragu jika menyebutnya sebagai teman.
“Huh, seakan lo udah tau semua bakal terjadi. Ya, gue gak akan pernah tau gimana rasanya ada di posisi Nadin. Tapi bisa gue bayangkan begitu melihat sendiri wajahnya hari itu.”
Axel menghela napas panjang. “Sebenarnya, tanpa lo pinta pun gue bakal selalu jagain Nadin. Sebelumnya ada orang yang meminta hal sama, dan gue jawab dengan hal sama juga. Tapi masalahnya, gue belum yakin bisa bener-bener ngejaga dia. Gue sendiri gak yakin kalau dia mau nerima gue di sisinya. Kalau sampai Nadin menemukan seseorang yang lebih baik, gue udah gak bisa nepatin janji itu. tapi seenggaknya gue bakal mastiin kalau orang itu memang yang terbaik buat dia.”
“Gue udah pernah ngungkapin perasaan ke dia. Tapi, Nadin cuma minta gue buat nunggu, entah sampai kapan. Kayaknya gue baru sadar satu kesamaan dari kita berdua. Kita terlalu suka menunggu. Waktu itu, lo terus sabar di tempat itu nunggu kedatangan Nadin yang padahal bisa aja gak akan terjadi. Dan sekarang, gue masih terus nunggu dia, yang bisa jadi gak akan pernah berbalik dan menemui gue lagi.”
Lelaki itu sedikit tertawa. “Ini lucu, tapi gue tiba-tiba inget hal yang memalukan. Waktu itu lo ngasih gue kartu nama temen lo dan nyuruh gue buat belajar bela diri dari dia. Lo pasti inget kalau gue marah karena nganggap kalau lo cuma mau mempermalukan gue yang sebenarnya sadar kalau gue lemah. Tapi, tanpa lo tahu, gue bener-bener datang ke tempat itu. Dan… Nadin bilang gue berubah banyak. Gimana ekspresi dia kalau tahu soal itu? Kayaknya gue gak akan pernah kasih tahu dia.”
Axel kembali tertawa, dan mengusap wajahnya yang agak memerah. Lalu menghela napas dalam-dalam.
“Kenapa gue jadi curhat di sini? Padahal lo denger atau enggak aja gue gak tau. Pokoknya, tenang-tenang di sana. Biar gue yang gantiin lo buat mikirin gimana caranya bikin Nadin bahagia.”
Setelah bernarasi cukup panjang, Axel pun pergi. Bahkan dia sama sekali tidak sadar, kalau tak jauh dari sana, seseorang bersembunyi di balik bayang pepohonan. Terdiam sembari mendengarkan tiap kata yang dia ucapkan.
Nadin pun keluar dari persembunyiannya, setelah memastikan Axel sudah tidak ada di dekat sana. Lalu berjalan mendekat ke arah makam Juna yang dipenuhi oleh berbagai buket bunga.
Nadin pun tersenyum, sebelum menaruh bunga yang dia bawa. “Kamu memang benar-benar dicintai banyak orang ya,” ucapnya. Lalu berjongkok di samping batu nisan yang ada.
“Aku gak ngerti kenapa orang-orang selalu mati-matian melakukan sesuatu buat aku. Padahal aku gak ngerasa pernah kasih apa pun ke kalian. Kenapa kalian semua sebaik itu? Kamu sendiri… kenapa masih saja mikirin aku sampai detik-detik terakhir. Padahal keadaanmu jauh lebih penting daripada aku. Tapi, kamu justru melakukan banyak hal yang gak aku tahu.”
Angin berhembus dengan kencang. Menyibakkan rambut Nadin hingga mengganggu wajahnya.
“Enggak, aku gak marah. Aku justru berterima kasih sama kamu, Kak. Makasih udah selalu mikirin aku, sampai berusaha mengirim seseorang buat ngejagain aku. Apa Kak Juna ketemu ibu sama ayah di sana? Aku harap kalian bahagia ya, gak lagi harus nahan rasa sakit. Di sini aku juga akan berusaha buat hidup bahagia. Bukan berarti aku senang tanpa kehadiran kalian. Tapi aku gak mau menyia-nyiakan waktu, sampai akhirnya nanti bisa berkumpul sama kalian lagi.”
***
“Xel?”
“Ya? Aduh!” Axel mengaduh saat kepalanya terpentok bagian bawah mobil. Suara Nadin membuatnya spontan bergerak hingga tak sadar sedang terlentang di bawah mobil sejak tadi.
Dia pun berdiri perlahan sembari memegangi kepala.
“Ini betulin mobil. Baru aku beli dari tetangga.”
“Oh…”
“Tumben tiba-tiba datang.”
“Lagi iseng aja. Tadinya mau ngajak makan, tapi kamu masih sibuk ya?”
“Enggak, kok. Aku ganti baju dulu ya.”
Axel pun melesat masuk ke dalam rumah, dan bergegas mengganti bajunya dengan yang lebih bersih. Lalu kembali dengan cepat, karena tidak ingin membuat Nadin menunggu.
Keduanya pun pergi dengan berjalan kaki, hendak menuju ke tempat makan yang tidak jauh dari sana. Axel sempat menawarkan untuk naik motor, tapi Nadin menolak karena ingin sekaligus berjalan-jalan di tampan yang tak jauh dari sana.
Sebenarnya, Nadin sama sekali tidak lapar. Dia hanya mencari alasan untuk bisa mengajak Axel pergi ke tempat yang cukup tenang untuk mengobrol.
“Ada yang kelupaan aku kasih tau dari beberapa minggu lalu.”
“Soal apa?”
“Orang tua dari muridku kasih info soal beasiswa sekolah musik. Aku bisa sekolah di sana setahun, gratis.”
“Wah, bagus, dong? Udah pasti bakal kamu ambil, kan?”
“Awalnya aku agak ragu… Tapi, kayaknya aku lagi butuh suasana baru dan cari kesibukan. Menurutmu, apa aku ambil aja?”
“Iya, lha! Kesempatan kayak gitu biasanya gak datang dua kali.”
“Tapi masalahnya… tempatnya jauh."
"Ya elah, sejauh apa, sih. Masih bisa aku antar naek mobil kalau mau."
"Enggak bisa, tempatnya di Amerika.”
Axel terdiam karena terkejut, meski tidak jelas apa yang menyebabkannya merasa seperti itu. Apa karena tidak menyangka soal lokasi tempat yang diceritakan, atau karena sadar Nadin akan pergi jauh darinya?
“Oh… bagus. Kamu bisa sambil jalan-jalan, kan.”
Nadin mengamati wajah Axel untuk beberapa saat. Hingga menangkap secuil perasaan tak ingin ditinggalkan pergi, namun tak berani mengucapkannya. Hal itu membuatnya tersenyum.
“Kamu gak akan kesepian kalau aku tinggal?”
“Hah? Kenapa harus kesepian? Lagian cuma setahun. Terus masih bisa telepon dan chat, kan?”
Axel tertawa agak canggung dan dipaksakan.
Nadin yang saat itu berdiri di sampingnya tidak menanggapi apa pun. Tiba-tiba, dia menarik bagian depan baju Axel, hingga membuatnya membungkuk. Setelahnya, Nadin mendaratkan sebuah ciuman pada bibir lelaki di hadapannya itu.
“Sekarang, jawabannya masih sama?”
Axel terdiam sesaat karena terkejut, lalu tersenyum penuh ketidakpercayaan.
“Sekalipun berat, tapi aku tetap akan memintamu buat pergi. Aku gak keberatan meski harus menunggu setahun lagi. Dua tahun, lima tahun, seratus tahun pun akan aku tunggu.”
Lelaki itu pun memegang bagian belakang kepala Nadin, dan mendekatkan wajahnya. Lalu mencium bibir merah merekah yang selalu dia dambakan itu. Seakan menjadi pengikat janji, bahwa sejauh apa pun jarak yang memisahkan, akan selalu ada jalan yang membawa mereka untuk kembali bertemu.
--------------------- Just a Professional Relationship Season 1 Tamat ----------------------