
Nadin terduduk dengan agak tegang. Telapak tangannya terasa berkeringat sejak tadi. Kakinya selalu ingin berlari pergi dari tempatnya berada saat ini. Tapi, dia berusaha sekuat tenaga untuk melawan rasa takut yang terasa.
Juna menaruh segelas jus di atas meja. Lalu duduk pada sofa, bersebelahan dengan Nadin. Namun menjaga jarak karena tahu Nadin merasa tidak nyaman berada di dekatnya.
“Kamu baik-baik aja?” tanya Juna, membuka pembicaraan di tengah keadaan yang sempat hening untuk sesaat.
“Apa aku kelihatan baik-baik aja?” Nadin balik bertanya. “Kayaknya cuma Kak Juna yang selalu baik-baik aja.”
“Kamu salah. Aku juga sama.”
“Mana mungkin.”
“Aku terus tersiksa karena mikirin kamu jadi kayak gitu gara-gara aku.”
“Terus apa yang mau kamu bicarakan?”
Juna menghela napas sebelum lanjut bicara. “Sepertinya sudah gak ada gunanya menutup-nutupi semua. Aku mengaku salah sama kamu. Semua yang kamu pikirkan soal aku dan Mala, itu benar.”
“Dari kapan?”
“Beberapa bulan lalu.”
Nadin berusaha keras agar tidak perlu menangis. Dia tidak ingin Juna balik menguasai keadaan, hanya karena dia tidak bisa berlagak menjadi kuat untuk beberapa saat saja. Tangannya terasa gemetar.
“Kalau aku gak tahu. Apa kamu bakal terus menyembunyikan semua itu?”
“Aku sudah bermaksud jujur sama kamu. Hanya saja…”
“Kamu gak tega? Ngerasa kasihan sama aku?” sahut Nadin, mulai agak emosi.
“Aku masih meyakinkan perasaanku sendiri.”
Keduanya pun sempat terdiam.
“Awalnya, kupikir semua hanya sekedar ketertarikan biasa,” lanjut Juna. “Tapi, perlahan aku mulai merasa nyaman dan berpikir menemukan seseorang yang membuatku merasakan sesuatu yang berbeda. Mungkin karena selama ini aku terus terikat dengan satu orang yang sama. Sampai semua sudah terasa gak ada lagi yang spesial dari hubungan itu.”
Nadin menggigit bibirnya yang mulai bergetar. Menguatkan diri sendiri untuk mendengar penjelasan Juna hingga akhir. Meski semua itu terdengar menyakitkan, seakan menyayat hatinya perlahan.
“Aku berulang kali berpikir, karena masih merasa mempertahankan hubungan dengamu adalah jawaban yang tepat. Tapi lama kelamaan, aku makin merasa kalau pemikiran itu salah. Aku sudah gak bisa membedakan, apakah memang bertahan karena masih memiliki perasaan. Atau hanya sebatas terlanjur terbiasa…”
“Lalu, kesimpulannya?”
“Aku sudah gak punya perasaan apa pun sama kamu. Selama ini aku bertahan hanya karena gak tega, harus membiarkan kamu berjuang sendirian, dengan keluarga yang sudah gak utuh lagi. Dan aku khawatir kamu gak akan sanggup menghadapi semua itu tanpa aku.”
Kali ini, Nadin sudah tidak sanggup menahan tangis. Air matanya mulai meleleh, disertai dengan rasa kecewa yang
mendalam.
“Sudah. Cukup. Aku sudah ngerti.”
Juna mendengar suara Nadin yang mulai bergetar karena tangis. Namun, dia sama sekali tidak berani untuk menoleh. “Maaf…” ucapnya.
“Minta maaf saja sama diri kakak sendiri. Dari semua itu, cuma satu yang gak bisa aku terima. Aku memang berpikir kalau kak Juna salah satu kekuatan yang membuat aku berani menghadapi hidup. Tapi… aku gak butuh dikasihani. Sebaiknya gak usah diteruskan kalau memang Kak Juna bertahan hanya karena iba.”
Nadin mengusap air mata pada pipinya. Lalu bangkit dari duduk. “Makasih. Udah ngajarin aku kalau di dunia ini sama sekali gak ada orang yang bisa dipercaya. Bahkan orang terdekat sekalipun, sewaktu-waktu bisa balik menyerang. Aku benar-benar belajar… Setelah ini kakak bebas. Sudah gak terikat sama aku. Jadi biarkan aku juga bebas menjalani hidup aku tanpa ada bayang-bayang kakak lagi.”
Tanpa menunggu tanggapan, Nadin langsung berjalan ke arah pintu keluar. Tampaknya Juna pun sudah selesai dengan penjelasannya. Bahkan dia sama sekali tidak mengejar Nadin yang pergi. Mencegah pun sama sekali tidak. Hanya terus terduduk seperti sebelumnya. Memandangi gelas Nadin yang sama sekali belum disentuh.
Nadin berusaha untuk tertawa, meski air matanya tak kunjung berhenti. “Haha… ternyata kayak gini rasanya ya, Kak?”
***
Nadin melangkah dengan gontai. Menuju ke arah taksi online yang sudah dia pesan sejak beberapa saat lalu.
Mobil pun melesat, melintasi jalanan ibu kota yang dipenuhi oleh lampu jalanan yang membias dalam kegelapan.
Nadin melirik ke arah jam tangannya. Sudah dua puluh menit berlalu sejak pukul delapan. Taksinya belum kunjung sampai di tempat tujuan karena terjebak kemacetan yang tak kenal waktu.
Sekitar lima belas menit setelahnya, barulah Nadin bisa kembali merasakan udara malam yang cukup menusuk. Membuatnya menyesal sudah meninggalkan jaketnya di apartemen. Dia hanya bisa memeluk tubuhnya dengan kedua tangannya sendiri. Lalu berjalan dengan lemas ke arah air mancur yang berada di tengah taman.
Untuk beberapa saat, Nadin berpikir kalau dia tidak akan menemukan siapa pun di tampan tersebut. Tapi ternyata, di salah satu sudut taman, seorang lelaki berambut cokelat terduduk dengan tenang. Lalu menoleh ke arahnya sembari tersenyum.
Nadin merasa agak lega karena Axel benar-benar menunggunya di sana. Tanpa ekspresi kesal karena sudah dibuat menunggu cukup lama. Dia pun menyapa dengan senyuman penuh rasa terima kasih.
Nadin agak tertawa mendengarnya. “Bukannya tadi prince?” candanya.
“Tergantung kebutuhan. Kalau kamu minta aku jadi raja juga bisa.”
“Makasih ya udah nunggu aku.”
“Aku belum lama sampai, kok,” balas Axel. Padahal tangannya sudah terasa sangat dingin karena angina malam.
Angin pun berembus, membuat Nadin sedikit bergidik. Axel yang menyadari hal itu langsung membuka jaket kulitnya, lalu memasangkannya ke punggung Nadin. “Pindah yuk. Aku biasanya langsung mencret kalau masuk angin.”
“Masa komandan mencret?”
“Ya, kan, komandan juga manusia. Emangnya kamu enggak?”
“Meskipun iya, aku gak akan bilang-bilang juga, sih.”
“Ohh, ya maaf. Aku orangnya terlalu jujur.”
Nadin pun mengikuti Axel menuju ke mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana. Lalu pergi ke suatu tempat, yang lagi-lagi tidak diberitahukan tujuannya. Axel hanya bilang kalau Nadin akan terkejut melihatnya.
Perjalanan membutuhkan waktu sekitar lima belas menit hingga mereka sampai, di tepi sebuah sungai. Ternyata cukup banyak orang yang ada di sana. Mereka terduduk di atas tikar, sembari menikmati beberapa jajanan yang ada. Bahkan tempat tersebut dipenuhi oleh lampu berwarna-warni yang sepertinya sengaja dipasang.
“Wah… tempat apa ini?” Nadin terkesima memandangi sungai yang berkelap-kelip berkat lampu yang ada.
“Tempat rahasiaku yang kedua.”
“Kamu ini siapa sih? Punya banyak tempat rahasia kayak gitu.”
“Ra-ha-si-a. Ayo, kita ke sana.”
Axel mengulurkan tangannya kepada Nadin. Membantu wanita tersebut agar tidak perlu tergelincir saat menapaki jalanan tepi sungai yang agak menurun.
Mereka berdua pun menyewa sebuah tikar, menggelarnya, dan memesan hampir semua jajanan yang ada. Tentu tidak lupa mereka selalu menyediakan masker sebelum berbaur di tengah kerumunan.
Axel menggelar tikar di lokasi yang agak terpisah dengan orang-orang yang datang. Agar Nadin bisa lebih leluasa tanpa cemas ada yang mengenalinya.
“Hmm! Ini telur gulung paling enak yang pernah aku makan!”
“Iya, kan? Biasanya aku bisa habis lebih dari dua puluh tusuk sendirian.”
“Serabinya juga enak. Uhh…”
“Pas banget di cuaca dingin kayak gini.”
“Anak-anak Hybrid pasti suka juga sama tempat ini ya?”
“Enggak.”
“Ah, masa?”
“Karena aku gak pernah ajak mereka ke sini, sih. Baru kamu orang yang aku ajak.”
“Hm…”
Nadin lanjut mengunyah makanannya dengan semangat.
“Perasaan aku terus yang kasih lihat tempat rahasia. Kamu gak mau kasih tau tempat rahasia juga ke aku?”
“Udah, kok.”
“Hah, kapan?”
“Tadi. Kita ketemu di tempat rahasia yang spesial buat aku.”
“Wah… kok bisa di sana?”
“Ra-ha-si-a.”
Keduanya pun tertawa. Lalu lanjut mengobrol dengan seru di sepanjang malam. Sedikitnya bisa membuat Nadin melupakan apa yang baru saja terjadi—untuk sesaat.
Nadin benar-benar bersyukur Axel bisa menemaninya, tanpa membahas sedikit pun soal perjuangannya tadi. Karena dia pribadi pun sama sekali tidak berharap untuk membicarakannya.