
Axel dan Stefan mengerahkan segenap tenaga untuk melawan orang-orang yang menyerang dengan brutal. Sembari saling menjaga satu sama lain.
Siapa sangka Stean tampak lihai dalam bela diri. Padahal penampilannya tampak seperti lelaki pesolek yang tidak pernah menyukai kekerasan. Namun nyatanya, Axel berkali-kali diselamatkan olehnya sewaktu hampir dihajar oleh orang yang ada.
Perkelahian pun berlangsung cukup lama. Semua orang sudah mulai kehabisan tenaga. Hingga salah satu yang ada di sana, mencoba untuk menghubungi Frans. Dia mulai kewalahan menghadapi dua orang tamu yang mendadak datang hari ini.
“Berikan telepon ini pada mereka berdua,” perintah Frans pada anak buahnya yang menelepon.
Lelaki berbadan besar memberikan aba-aba pada semua rekannya untuk mundur. Stefan dan Axel tampak bingung karena tiba-tiba semua orang yang ada justru melangkah mundur. Keduanya belum sadar hingga salah satu lelaki yang ada menekan tombol loudspeaker ponselnya.
“Wah, sayang sekali aku tidak ada di sana untuk menyambut dua tamu yang datang,” ucap Frans. “Dion dan Stefan, benar? Selamat datang di pabrikku yang tidak seberapa itu. Tapi, aku akan kesulitan kalau kalian berbuat sesuatu kepada tempat itu. Bagaimana kalau kita bertemu dan mengobrol santai?”
“Boleh juga. Bagaimana kalau kita mengobrol di kantor polisi?” balas Stefan.
“Jangan coba untuk kabur, sialan!” sahut Axel.
Frans justru tertawa mendengarnya. “Tidak ada alasan yang mengharuskanku untuk kabur. Bukannya kata-kata itu lebih cocok kuberikan untuk kalian? Ayo, datanglah. Akan kusiapkan makanan yang enak di sini.”
“Kau tenang sekali. Apa hanya sedang berpura-pura tenang di sana?” Stefan merasakan kejanggalan dari suara Frans yang terdengar tidak merasa terancam sama sekali. Seakan dia yakin bahwa keadaan akan kembali berpihak padanya.
“Hey, buka kameranya. Aku ingin para tamu kita melihat sesuatu.”
Si lelaki yang memegang ponsel menekan tombol pada layar, hingga kini wajah Frans tampak di sana.
“Ya… pada akhirnya, keberuntungan selalu ada di sisiku. Kalian yang seharusnya merasa tidak tenang.”
Frans mengarahkan kamera ponselnya ke suatu sisi di sebuah ruangan bertembok kelabu. Di sana, Nadin tampak terduduk pada sebuah kursi dengan tubuh terikat. Beberapa lebam dan luka menghiasi wajahnya. Hal itu membuat Axel tampak geram.
“Sialan, apa yang kau lakukan!”
“Hanya memberikan hukuman kecil. Karena dia mencoba mencuri sesuatu dariku. Bukankah pencuri harus dihukum?”
Tangan Axel terkepal kuat. Amarahnya sudah tak terbendung lagi.
“Kutawarkan sekali lagi untuk datang ke sini dan mengobrol denganku. Anak buahku akan mengantar kalian. kalau tidak, Kalian tahu sendiri ke mana ceritanya akan mengarah.”
Panggilan pun diputus sepihak. Untuk beberapa saat, sama sekali tidak ada yang beranjak dari tempatnya. Stefan dan Axel tahu, tidak ada pilihan bagi mereka selain mengikuti perkataan Frans. Karena, keselamatan Nadin jauh lebih penting daripada apa pun.
***
Axel dan Stefan sampai di kantor Zabran, bersama dua orang anak buah Frans. Mereka berjalan dengan tenang, mengikuti arahan hingga sampai di sebuah ruangan yang terletak di lantai paling atas.
Frans sudah menanti sejak tadi di samping Nadin yang tampak tertunduk tak bertenaga. Entah apa saja yang sudah Frans lakukan kepadanya sejak tadi.
Ada dua lelaki lain di dalam ruangan, yang berpakaian serba hitam. Keduanya langsung memborgol tangan Axel dan Stefan di belakang badan.
Axel ingin sekali langsung berlari untuk mengecek keadaan Nadin. Namun dia khawatir Frans akan melakukan sesuatu jika dia bertindak gegabah.
“Selamat datang! Akhirnya kalian sampai juga. Aku hampir mati kebosanan karena dia sudah tidak asik lagi diajak main,” ucapnya sembari menepuk pundak Nadin.
“Kurang ajar!” gumam Axel. Dia masih mencoba untuk menahan diri.
“Hm… Lebih tepatnya, membungkam mulut kalian supaya tidak melakukannya.”
“Huh, kau mau membunuh kami rupanya.”
“Ya! Tentu saja! Aku harus membasmi penyakit sekecil apa pun agar tidak perlu merusak sesuatu yang sudah kubangun selama ini.”
“Kuakui, kau memang hebat. Sebanyak apa orang penting yang berhasil kau bungkam?”
“Lumayan. Cukup membuatku bisa melakukan apa pun yang kuinginkan. Mau tahu apa rahasianya? Uang!”
“Lalu, kau tidak mau melakukan hal yang sama kepada kami? Bukankah itu akan menguntungkanmu dengan memperluas link yang ada?”
Frans tertawa menyepelekan. “Aku tahu siapa kau. Kakak dari orang yang sempat menjadi targetku dulu. Nyaris aku menguburnya hidup-hidup, tapi ternyata dia terlalu lihai menggunakan ketenaran sebagai pelindung dirinya.”
“Ternyata adikku hebat juga bisa membuatmu ketakutan seperti itu.”
“Kuakui, dia sempat membuatku khawatir. Tapi, ternyata dia lebih memilih mundur hanya untuk melindungi keluarganya, dan perempuan ini. Benar-benar mengharukan, sekaligus bodoh.”
“Kupikir kau bukan orang yang bermain menggunakan otak.”
“Ckckck. Aku tidak pernah kalah dalam bermain catur.”
“Oya? Mungkin karena kau belum bertemu denganku.”
Suara dari getar ponsel Stefan, menjeda pembicaraan mereka. Ruangan sepi tersebut membuat suara yang muncul terdengar lebih nyaring, sehingga Nadin menyadarinya.
“Tidak sopan sekali mengganggu orang bicara,” komentar Frans. Tiba-tiba, dia melepas ikatan pada tubuh Nadin, dan menjenggut baju wanita tersebut agar berdiri. “Cepat, ambil ponsel itu!”
Nadin hanya bisa melangkah dengan gontai. Bahkan dia sudah tidak sanggup untuk bicara. Napasnya pun terdengar sangat berat. Rasanya Axel ingin menangis saat melihat keadaan Nadin dari dekat.
Dengan tangannya yang bergetar, Nadin meraih ponsel dari dalam saku celana Stefan.
“Bawa ke sini!” perintah Frans.
Nadin pun balik berjalan dengan perlahan.
Sebuah panggilan video masuk ke ponsel Stefan. Nama sang penelepon terpampang pada layar ponsel. ‘Mala’
Hal itu membuat Frans tampak agak terkejut—meski berusaha menutupinya. Dia sedikit tersenyum. “Ternyata lalat ini penyebabnya…”
“Kau lengah. Tidak memperhatikan sekecil apa pun kemungkinan yang bisa terjadi. Kau memang nyari berhasil membuat saksi penting itu lenyap dan kembali membuatmu aman. Tapi, sudah kubilang permainanmu tidak pernah gagal karena belum pernah bertemu denganku,” ucap Stefan. Kini dia balas memberikan secuil senyuman.
Panggilan dari Mala pun berhenti. Setelahnya, sebuah pesan masuk. ‘Tadi aku sudah menjelaskan semuanya ke polisi. Mereka sudah pergi ke pabrik dan kantor Frans.’
Sederet kata-kata itu berhasil membuat Frans panik. Dia langsung memerintahkan anak buahnya untuk melenyapkan semua barang bukti yang ada di markas rahasianya. Mereka pun berlari dengan cepat keluar dari ruangan. Sementara Frans sendiri masih ada di sana. dia mengeluarkan pistol dari balik jasnya dan menodongkan benda tersebut ke arah Axel.
Nadin yang menyadari bahaya tersebut, memaksakan tubuhnya bergerak dengan tenaga yang tersisa. Dia membanting tubuhnya ke arah Frans hingga lelaki tersebut terjatuh ke atas lantai. Namun tembakan terlanjur terjadi, beberapa saat sebelum pistol terlempar ke atas lantai. Membuat Axel langsung jatuh terduduk ke atas lantai,
akibat perutnya yang terlubangi oleh peluru.