
Malam itu, Stefan masih berada di tempat yang sama. Hingga wanita yang berbaring di atas kasur terbangun dari tidurnya.
Mata Mala terbelalak saat sadar kalau dia mendadak berada di kamar rumah sakit. Terlebih lagi saat ada seseorang yang tidak dia kenal terduduk di sampingnya. Dia langsung mencoba untuk pergi dari tempat tersebut, namun untuk berdiri saja kakinya terasa sangat lemas.
“Hei, tenang… istirahat saja dulu,” ucap Stefan, sembari bergegas memegangi Mala yang hampir terjatuh.
Mala langsung menepis tangan Stefan. “Siapa kau?! Kenapa seenaknya membawaku ke sini?!” bentaknya.
“Sepertinya kamu gak ingat ya? Aku pernah datang ke rumahmu bersama Nadin.”
“Bukannya sudah kubilang, jangan pernah datang ke hadapanku lagi!”
Stefan menghembuskan napas. “Kamu sendiri yang tiba-tiba berdiri di tengah jalan sewaktu mobilku melintas.”
“Ya lalu kenapa kamu harus repot-repot turun. Kenapa gak tabrak saja aku?! Kenapa kamu gak biarkan aku mati?!” suara Mala melengking, dengan agar bergetar karena mulai menangis.
Siapa pun yang melihat mungkin akan langsung berpikir kalau Mala tidak tahu untung karena justru membentak orang yang menolongnya. Namun di mata Stefan, dia hanya melihat sosok menyedihkan dari seorang wanita yang tidak berdaya. Mala bukan benci kepadanya, melainkan kepada dirinya sendiri yang dirasa sudah tidak pantas untuk hidup.
Untuk beberapa saat, Stefan hanya berdiri mematung. Dia memandangi Mala yang terisak sembari terduduk di atas lantai. Meraung dengan penuh kepedihan dan putus asa. Membuat kelebatan bayang masa lalu muncul dalam kepala Stefan. Saat dia melihat sang adik yang sempat tampak seputus asa wanita yang ada di hadapannya.
Dulu Stefan pun sempat mendengar Juna yang meraung. Tersiksa di tengah kesendirian, dengan penyakit yang terus menggerogoti tubuhnya dari dalam. Namun, saat itu dia hanya bisa menyaksikan, tanpa tahu harus berbuat apa. Hingga akhirnya sang adik pergi dengan meninggalkan rasa penyesalan yang hingga saat ini bersarang dalam hatinya.
Stefan tidak pernah ingin kembali merasakan penyesalan yang sama, saat dia merasa tidak mampu menyelamatkan seseorang. Tidak peduli siapa orangnya, bagi Stefan semua nyawa sama berharganya.
“Kenapa kamu menyiksa dirimu seperti itu?” ucap Stefan pelan. Dia duduk bersimpuh di samping Mala.
“Kau yang menyiksaku! Kau yang gak membiarkan aku mati!”
“Apa kamu gak membayangkan, betapa sedihnya orang-orang yang kamu tinggalkan?”
“Siapa? Setahuku gak ada yang mengharapkan aku buat hidup. Aku hanya anak gagal yang akan mencoreng nama baik keluarga kalau tetap hidup. Bahkan mereka lebih senang kalau aku gak perlu terlahir ke dunia!”
“Siapa yang mengatakan hal seperti itu padamu? Orang tuamu?”
Mala tidak menjawab, justru lanjut menangis dengan lebih keras. Stefan masih terdiam, tenggelam dalam pikirannya.
“Hidupku sudah berakhir… mereka gak akan butuh aku lagi. Sudah cukup adik dan kakakku yang selalu tampak bersinar di mata mereka. Aku Cuma sampah… Mereka bilang sudah gak akan ada yang mau mendekatiku. Semua orang hanya akan memandangku dengan tatapan jijik…”
“Kalau ada,” timpal Stefan. “Kalau masih ada yang mau menerimamu, bagaimana?”
“Mustahil! Cuma orang gila yang mau melakukannya!”
Stefan pun mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Mala. “Orang-orang bilang, aku memang
cukup gila.”
***
‘Brak!’
Axel menggebrak meja setelah Stefan menceriakan tentang rahasia gelap dari Frans. Masalahnya, dia tidak suka saat tahu Nadin sedang berusaha menyelidiki hal itu sendirian. Bagaimana pun Axel tidak ingin Nadin membahayakan diri dia sendiri, dan hal itu sudah pasti dia lakukan.
“Kenapa kau gak bilang saja ke aku?”
Stefan hanya duduk tenang, sembari menghembuskan napas. “Kalian ini benar-benar ya… Dia sendiri yang memintaku untuk gak memberitahu semua ini padamu. Dan aku sudah berbaik hati menjelaskannya. Lagipula, aku gak akan tahu soal itu kalau bukan karena Nadin juga.”
“Kau tahu sendiri, dia selalu bertindak seenaknya tanpa peduli dirinya sendiri.”
“Kalau begitu, kau harus lebih dulu maju dibandingkan dia. Kau sendiri sudah punya rencana apa? Daripada hanya mengeluh kepadaku seperti itu.”
Axel melangkah menuju ke arah jendela dengan tidak tenang. “Cuma ada satu hal yang terpikirkan olehku sekarang. Ada orang yang seharusnya bisa memberikan informasi untuk kita.”
“Siapa?”
“Kalau memang dia anak buahnya, kau pikir orang itu mau buka mulut begitu saja? Menurutmu, kenapa orang itu sampai rela masuk penjara hanya untuk mengikuti rencana Frans yang ingin menghancurkanmu? Karena orang itu percaya Frans bisa mengeluarkannya dari sana dengan cepat.”
“Ck!” decak Axel dengan keras. Dia mengacak-ngacak rambutnya karena sudah merasa kehabisan akal.
“Tapi bukan berarti gak mungkin,” sambung Stefan lagi, memberikan secercah harapan. “Akan aku perlihatkan tontonan yang bagus.”
Senyum kecil pada bibir Stefan yang tampak misterius, menutup pembicaraan mereka. Axel bahkan tidak berusaha bertanya apa maksud dari pertanyaan lelaki tersebut. Karena bertanya pun Stefan pasti tidak akan pernah menjawab, pikirnya.
Axel dan Stefan pun datang ke lapas, untuk mengunjungi orang yang tadi dibicarakan. Ini kali pertama Axel bertemu dengannya juga. Rasanya cukup kesal karena harus mengingat kejadian tempo hari yang berhasil memberikannya kejutan.
Stefan dan Axel sudah duduk di hadapan pembatas yang terbuat dari plastik tebal. Terdapat beberapa lubang kecil di sana, agar mereka masih bisa berbicara dengan orang yang baru saja datang di seberang.
Lelaki botak berpakaian oranye duduk pada kursi di depan Stefan. Sebagian wajah dan tangannya tertutupi tato. “Siapa kalian?” tanyanya dengan wajah galak, bermaksud untuk menggertak sang pengunjung.
Axel hanya diam. Dia sudah berjanji pada Stefan yang menyuruhnya untuk memperhatikan, tanpa bicara apa pun. Sementara Stefan, duduk santai dengan lengan terlipat di depan dada. Dia pun memberikan tatapan yang tidak kalah tegasnya.
“Aku datang bukan untuk berbasa-basi. Kau anak buahnya Frans, kan?”
“Hah? Siapa itu?”
“Kau sudah lupa nama bosmu sendiri rupanya.”
“Aku bahkan gak pernah mendengar nama itu.”
“Lalu untuk apa kamu dengan bodohnya membiarkan dirimu tertangkap, dan berbohong saat diinterogasi polisi?”
“Huh, aku hanya sedang sial. Dan spontan menyebutkan nama orang itu.” Dia bahkan tampak sama sekali tidak tahu bahwa orang yang direpotkan karena ulahnya ada di sana.
“Sudahlah, kubilang aku datang bukan untuk berbasa-basi. Aku sudah tahu siapa kau, dan soal apa yang dikerjakan kalian.”
Si lelaki botak pun terdiam sejenak. Dia menatap Stefan, seakan sedang memastikan apakah orang yang ada di depannya itu hanya sedang menggertak atau tidak. “Huh,” dia pun mendengus. “Apa yang kau mau?”
“Informasi. Di mana markas kalian.”
“Kalau memang benar aku anak buah dari orang yang kau maksud, apa aku akan sebodoh itu membocorkan informasi penting?”
Axel yang hanya duduk merasa mulai gelisah. Padahal dia tidak melakukan apa-apa, tapi melihat kedua orang yang tengah berbicara itu, membuatnya merasa tegang. Keadaan seperti itu lebih menyiksa baginya, dibandingkan harus melakukan baku hantam.
“Kau pasti melakukannya.”
Si lelaki botak sedikit tertawa. “Kau percaya diri sekali.”
Stefan pun mencondongkan tubuhnya, menaruh lengan di atas meja di depan pembatas plastik. Lalu, menopang dagu dengan kepalan tangan.
“Aku sebenarnya merasa kasihan padamu. Pasti kamu dijanjikan kebebasan oleh bosmu, kan? Sampai rela mendekam di tempat ini untuknya. Padahal, aku jauh lebih mengenali Frans. Dia orang licik yang bahkan rela menghabisi orang terdekatnya. Apalagi menghabisi orang sepertimu.”
“Ancaman tidak akan mempan padaku.”
“Karena kau masih berpikir kalau aku bohong? Dengar, meskipun kau bisa keluar dari sini dalam waktu dekat, kau pikir polisi sebodoh itu untuk melepaskanmu begitu saja? Mereka pasti akan diam-diam membuntutimu dan mengobrak-abrik markas kalian. Frans tahu benar hal itu, dan pasti dia akan langsung menghabisimu sebelum hal itu terjadi. Selangkah kau keluar dari tempat ini, hidupmu pasti akan langsung berakhir.”
“Wah… cerita yang bagus.”
Stefan masih memasang menatap lekat si lelaki botak, diam beberapa detik, sebelum akhirnya bangkit dari duduk. “Sudahlah, padahal aku mencoba memberikan tawaran bagus. Supaya kau bisa bebas dengan selamat. Tapi kau memilih untuk mati sia-sia.”
Axel spontan berdiri saat menyadari Stefan melakukan hal sama. Dia masih tidak mengerti kenapa Stefan sama sekali tidak tampak kecewa, padahal mereka sama sekali tidak mendapatkan apa pun.
Saat selangkah lagi melewati pintu keluar, langkah Stefan terhenti. Si lelaki botak memanggilnya untuk kembali. Dengan dahi yang tampak agak mengerut karena khawatir. Bualan Stefan benar-benar berhasil mempengaruhinya.
“Kau bisa menjamin keselamatanku?”
Stefan pun tersenyum. “Tergantung seberapa bagus informasi yang bisa kau beri.”