
“Hai, Princess!”
Axel melompat ke hadapan Nadin, hingga membuat wanita itu terkejut dan melompat ke belakang.
“Axel! Kebiasaan, deh! Gak bisa muncul biasa aja gitu?”
“Gak bisa. Karena aku emang luar biasa,” jawab lelaki itu sembari tertawa.
Nadin hanya menggeram kesal dan lanjut berjalan. Axel pun menyamakan langkahnya di sisi. “Nanti malam free, gak?”
“Hmm… tergantung.”
“Kok, tergantung?”
“Kenapa kamu nanya gitu? Bisa jadi aku gak free tergantung dari jawaban kamu.”
Axel pun tertawa. “Biasa, mau ajak makan. Masih ada tempat rahasia lain yang belum aku kasih lihat.”
“Hmm…” Nadin berpikir panjang. Sebenarnya hanya berpura-pura untuk membuat Axel cemas. “Oke, mala mini aku free.”
“Yesss! Kabarin kalau kamu udah beres ya.”
Nadin sedikit tertawa melihat Axel yang pergi menjauh sembari melompat-lompat kecil. Sedikitnya dia merasa bersyukur karena tidak perlu sendirian melewati hari-hari yang terasa berat. Masih ada Tyo dan Axel yang sering kali menghiburnya tanpa dipinta.
Awalnya Nadin ketakutan karena harus menghadapi rasa sepi. Dunianya terlanjur dipenuhi oleh Juna yang sekarang mendadak hilang. Rasanya dia tidak akan bisa tahan jika harus tetap hidup seperti itu.
Akan tetapi, hilangnya Juna justru membuatnya sadar. Bahwa selama ini telah melupakan orang-orang yang berjasa untuk membuat hidupnya berwarna. Nadin sadar bahwa selama ini dia sudah egois. Tidak pernah memikirkan pihak lain di luar Juna dan ibunya.
“Selamat siang!” seru Nadin setelah membuka pintu ruang rekaman. Ada beberapa orang staf yang sudah berkumpul di dalam sana. Hanya saja, dia sedikit menangkap keanehan—yang entah hanya perasaan saja atau bukan.
Rasanya orang-orang itu sedang membicarakan sesuatu dan tampak terkejut saat menyadari kehadiran Nadin. Namun semuanya langsung bertingkah seakan tidak ada apa pun yang terjadi. Lebih tepatnya, seakan sedang menutup-nutupi sesuatu.
***
Sekitar pukul tujuh malam, Nadin menunggu Axel—yang tak kunjung muncul, di basement. Mobilnya pun tidak tampak terparkir seperti biasa.
Tak lama kemudian, suara mesin motor terdengar kian mendekat. Nadin tidak bisa melihat si pengendara akibat lampunya yang menyorot ke arahnya.
Motor besar itu pun berhenti tepat di depan Nadin. Si pengendara mengunakan jeans dan jaket kulit berwarna hitam legam. Lengkap dengan sarung tangan, dan helm full face. Setelah orang itu membuka helm, barulah Nadin bisa melihat wajah Axel dari balik sana.
“Kita naik ini?” tanya Nadin tak percaya. Dia cukup terkejut karena selalu ingin mencoba bagaimana rasanya berkendara menggunakan motor saat malam hari. Selama ini dia belum pernah merasakannya.
“Iya. Kenapa? Kamu gak mau?”
“Mau!” jawab wanita tersebut dengan semangat.
“Wait!” Axel memberikan helm pada Nadin. Lalu membuka bagasi motor, untuk mengeluarkan sebuah kantong plastik. “Nih. Kado ulang tahun”
“Hah?” Nadin berseru tidak percaya. Dia menerima barang pemberian Axel dan mengecek isinya. Sebuah jaket kulit berwarna cokelat tua yang tampak mahal ada di dalam sana. Bahkan ukurannya sesuai dengan tubuhnya. “Waw! Seriusan ini buatku?”
“Iya. Mana mungkin aku pakai ukuran sekecil itu. Ayo cepat pakai, habis itu kita pergi.”
Nadin lekas mengenakan jaket, lalu helmnya. Dan naik di belakang Axel.
“Pegangan!” ucap lelaki itu.
Nadin pun melingkarkan lenganya pada pinggang Axel dengan kuat. Setelah itu, motor pun langsung melesat.
Suara mesin motor yang nyaring membuat Nadin tidak bisa bercakap-cakap dengan Axel yang ada di depannya. Tapi, hal itu membuatnya bisa menikmati keadaan. Dia merasakan angina malam menghempas tubuhnya. Namun tak terasa dingin berkat jaket pemberian Axel. Nadin pun semakin mengencangkan pelukannya sat motor Axel menambah kecepatan.
Padahal jalanan yang mereka lewati saat ini sudah sering dilintasi setiap hari. tapi, bagi Nadin kali ini berbeda. Dia merasa lebih bebas dibandingkan jika naik di dalam mobil. Lampu-lampu jalan tampak jauh lebih indah. Jajaran mobil yang mengantre di tengah kemacetan pun bisa dilewati dengan mudah.
Setelah berkendara selama empat puluh menit, Axel menghentikan motornya di depan sebuah kafe. Lalu mengajak Nadin pergi ke ruangan teratas tempat tersebut. Di mana mereka bisa menikmati makanan sembari menikmati angina malam pada rooftop bangunan itu.
Tempat tersebut hanya memiliki tiga lantai, tapi cukup untuk menyaksikan kerlap-kerlip bangunan ibu kota yang tampak indah.
“Ini tempat rahasia kamu yang lain?”
“Iya. Bagus, kan? Aku suka diam di sini sendirian kalau lagi mumet. Padahal pemandangannya biasa aja kalau siang, tapi kalau malam kayak gini, gak tahu kenapa aku suka. Gimana menurutmu?”
“Aku juga suka lihat lampu-lampu di malam hari kayak gini. Menurutku tempat ini bagus. Padahal gak terlalu tinggi, tapi lokasinya pas, gak kehalang sama gedung tinggi. Sayangnya, gak ada tukang serabi di sini.”
Axel pun tertawa. Lalu terdiam memandangi pemandangan di depannya. Nadin pun sama-sama diam. Memejamkan mata sesaat, untuk menikmati hembusan angin yang membelai wajahnya. Bibirnya tak henti tersenyum.
“Selamat ulang tahun ya,” ucap Axel. Membuat Nadin tersadar dari lamunannya. “Aku gak tahu harus kasih kado apa. Jadi, aku kasih tempat ini.”
“Hah, kamu kasih aku gedung ini?”
“Eh, bukan! Bukan! Maksudnya, aku berbagi tempat rahasiaku sama kamu. Dan pemandangan cantik itu,” jelas Axel dengan panik.
Nadin pun tak kuat menahan tawa. Baru pertama kalinya lagi dia bisa tertawa lepas seperti itu, hingga air matanya mengalir. “Aduh… bikin aku kaget aja.”
“Aneh gak, sih? Kasih sesuatu kayak gini?”
“Aneh,” balas Nadin dengan cepat. “Tapi aku suka, kok. Makasih ya.”
Keduanya pun lanjut mengobrol dengan asik, sembari menikmati makanan yang sudah dipesan. Sama sekali tidak berpikir akan ada hal buruk yang datang.
Sayangnya, keadaan tidak pernah diprediksi. Bebrapa pasang mata mulai bertanya-tanya soal Nadin dan Axel yang tampak bersama, lalu menghubungkannya dengan keanehan Nadin yang sempat terlihat di tengah siaran langsung.
Bahkan sudah ada beberapa orang yang mulai membicarakan hal itu, meski masih secara diam-diam. Mereka membuat sebuah forum di internet, untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Terutama pihak-pihak yang tidak menyukai ketenaran Nadin dan Juna, tentunya mereka semangat untuk mencari celah sekecil apa pun untuk menjatuhkan mereka.
*Unknow05 mengunggah sebuah foto*
Unknow05 : Kalian sadr gak itu siapa? Bukannya Nadin dan anak Hybrid itu ya?
Myqueen : Gak terlalu jelas soalnya ketutupan topi. Tapi kayaknya bener. Itu foto dapat dari mana?
Unknow05 : Dari temanku yang kerja di kafe. Itu di rooftop-nya.
Latte : Kalau memang benar, terus kenapa? Mungkin mereka memang lagi main aja. Kan mereka satu manajemen.
Unknow05 : Semalam itu? kayaknya cuma berdua pula.
ZiennaMK : Eh, btw. Inget kan waktu Nadin tiba-tiba nangis di tengah siaran? Aku sempat mikir kalau jangan-jangan ada sesuatu di antara Nadin sama Juna. Tapi aku curiga Juna yang mungkin nyakitin Nadin atau apalah. Tapi kalau lihat foto itu, jangan-jangan Nadin yang nyeleweng.
Myqueen : Kayaknya aku pernah baca ada yang post soal Nadin sama Axel yang kelihatan jalan bareng deh. Tapi lupa di mana. Nanti aku cari dulu.
*Unknow05 mengunggah sebuah foto*
*Unknow05 mengunggah sebuah foto*
*Unknow05 mengunggah sebuah foto*
Unknow05 : Ada yang kirim foto lagi. Axel sama Juna sempat berantem katanya. Wah, makin mencurigakan.
Myqueen : Gila! Ada apaan nih! Bakal jadi berita panas kalau ternyata ada sesuatu di antara mereka bertiga.
Unknow05 : Bakal aku selidikin terus. Nanti aku update lagi ceritanya.