Just A Professional Relationship

Just A Professional Relationship
S2 - Episode Dua Puluh Satu



“Axel!” Nadin berteriak dengan penuh keterkejutan. Dia melangkah terseok-seok, mendekat ke tempat Axel yang terduduk sembari meringis.


Sementara Stefan mulai tidak tenang karena melihat Frans berlari pergi. Tangannya masih terborgol, namun dia tidak punya banyak waktu untuk memikirkannya. Satu-satunya hal yang ada dalam kepala hanyalah bagaimana caranya menangkap Frans.


Masih dengan tangan terikat di belakang punggung, Stefan pun berlari secepat mungkin—sembari menjaga keseimbangan. Dia bisa melihat punggung Frans, beberapa saat sebelum lelaki tersebut sampai di depan lift.


Stefan mengayuh kakinya dengan semakin cepat, hingga akhirnya melompat lalu bermaksud menendang punggung Frans yang terdiam menanti pintu lift terbuka.


Namun, Frans ternyata tidak semudah itu dilumpuhkan. Dia masih bisa menghindar dengan melompat ke samping.


Stefan masih lanjut mencoba memberikan serangan dengan kakinya, meski berhasil ditangkis oleh sang lawan. Keduanya terus saling serang dan menghindar di sana. JIka diperhatikan, mereka berdua sama-sama kuat. Sulit menentukan siapa yang akan kalah, kalau saja keadaan Stefan tidak seperti sekarang.


Dengan kedua tangan yang bisa bergerak bebas, sudah pasti Frans jadi lebih unggul. Dia bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk akhirnya membuat Stefan jatuh tersungkur ke atas lantai dengan sangat keras.


Frans pun meraih sebuah vas dari meja di dekat sana, dan memukulkannya ke arah kepala Stefan.


Alih-alih memohon ampun, Stefan justru mulai tertawa—sembari berusaha menahan rasa sakit yang dia rasa. Tubuhnya masih tergeletak di atas lantai.


“Ada yang lucu?”


“Ya. Aku tidak sanggup melihat wajah kecewamu saat jerih payah yang telah dibangun selama bertahun-tahun ini hancur hanya dalam waktu satu hari.”


“Huh, meski bisnisku hancur sekalipun, kau tetap tidak akan bisa menghancurkanku.”


“Oh… ya tentu saja. Kamu pasti berencana untuk menghilang dari sini. Dan mungkin menghabiskan waktu dengan menikmati kekayaan yang mungkin sudah kau sembunyikan di suatu tempat.”


“Itulah gunanya merencanakan sesuatu selangkah lebih depan.”


“Itu kalau kau berpikir aku hanya menargetkan bidak-bidakmu saja. Bagaimana pun, dalam permainan ini, aku sadar bahwa yang harus dihancurkan adalah sang raja.”


Belum sempat membalas kata-kata Stefan, sebuah tembakan pun terdengar. Membuat sebuah peluru menembus punggung Frans.


“Skak mat,” gumam Stefan.


Sembari menahan rasa nyeri, Stefan membalikkan badan. Dia bisa melihat sosok Nadin yang berdiri tidak jauh dari sana, sembari masih tetap menghunuskan moncong pistol ke arahnya.


Siapa sangka, hasil dari ajakan Juna untuk latihan menembak bisa berguna di saat genting seperti ini. Padahal sejak dulu Nadin selalu berpikir kalau berlatih menembak hanya sekedar buang-buang uang semata. Tapi kini dia berpikir, lagi-lagi Juna sudah menyelamatkannya tanpa sadar.


Frans duduk di atas lantai koridor sembari bersandar pada tembok. Napasnya mulai tampak berat.


“Kamu sudah panggil ambulan?” tanya Stefan. Nadin hanya mengangguk.


“Pe-perempuan sialan… Benar-benar tidak berguna! Kau akan menyesal!”


“Hei, sadari posisimu sebelum bicara.”


Nadin melangkah mendekat ke hadapan Frans, memandang lelaki itu dengan tatapan penuh rasa iba. Bahkan dia sama sekali tidak tampak marah. “Apa? Kau mau membunuhku, hah?” sentak lelaki tersebut.


“Aku terlalu baik kalau sampai membunuhmu. Bukankah lebih menyakitkan kalau membiarkanmu ada di penjara sembari menikmati kehancuran perusahaanmu?”


“Brengsek! Kau masih belum sadar seberapa besar kekuasaan yang kupunya? Penjara bukan halangan untukku untuk membunuhmu!”


“Kamu pikir orang-orang itu masih mau membantumu nanti? Mereka itu menurut hanya karena takut. Tapi lain halnya sewaktu kamu sudah tidak berdaya. Kuyakin mereka lebih senang membiarkanmu mendekam selamanya di penjara. Kau lihat saja sendiri.”


Nadin pun melangkah pergi, kembali ke tempat Axel berada. Sementara Stefan masih diam di tempatnya, berjaga agar Frans tidak menghilang dari hadapannya.


Air mata Nadin seketika meleleh saat dia memandang wajah Axel yang mulai memucat. “Maaf… Axel…” ucapnya terbata-bata.


“Hei, aku gak apa-apa. Pelurunya gak dalam, kok,” balas Axel menenangkan. Sayang, tangannya masih terborgol hingga tak dapat memeluk Nadin.


Axel terdiam sejenak. “Wajar, kan?” ucapnya. “Kamu juga sempat terluka hanya karena melindungiku. Aku pun akan selalu melakukan hal sama untukmu. Jadi, jangan pernah lagi merasa bersalah ya.”


***


Dalam waktu beberapa jam saja, berita soal Frans dan bisnis gelapnya menggegerkan seantero nusantara. Bahkan tak butuh waktu lama hingga berita tersebut sampai ke luar negeri.


Nadin, Axel, dan Stefan memilih untuk nama mereka tidak diekspose ke publik. Dan meminta kepolisian membuatkan keterangan soal bagaimana Frans bisa tertangkap. Bagaimana pun mereka bertiga hanya ingin hidup dengan tenang, tanpa harus diganggu oleh media yang kelaparan.


Untuk beberapa hari, Axel harus dirawat di rumah sakit. Bersyukur peluru yang bersarang pada tubuhnya tidak mengenai organ vital, sehingga dia tidak akan butuh waktu lama hingga bisa pulih. Selama itu pula Nadin selalu menemaninya di sana. Bahkan dia sama sekali tidak peduli soal barang-barangnya yang masih terdapat dalam apartemen yang diberikan Frans.


“Aduh, panas…”


“Masa, sih? Padahal udah aku tiupin.”


“Huhu, lidahku sakit…” rengek Axel, seperti anak kecil. Bahkan dia tampak menikmati sekali waktu-waktunya di rumah sakit. Karena Nadin benar-benar memperhatikannya, hingga menyuapi tiap kali dia makan.


“Perasaan yang luka perutmu deh, kenapa masih harus disuapin, sih?”


“Kalau makan sendiri, aku jadi gak nafsu…”


Nadin hanya mengerlingkan matanya, sembari lanjut menyuapi bubur untuk lelaki yang hadapannya. "Aku males banget beresin barang-barangku. Apa aku sewa jasa pindahan aja ya?”


“Oiya. Kamu pindah ke mana nanti?”


“Hm… iya juga ya. Aku belum cari kontrakan baru.”


“Kalau menurutku gak usah.”


“Lha, terus aku mau tidur di mana?”


“Di rumahku aja.”


“Itu sih maunya kamu!” celetuk Nadin sembari tertawa. Dia pikir Axel sedang bercanda.


“Terus emangnya kenapa?”


“Ya… masa tinggal serumah. Apa kata orang nanti?”


“Kalau kita nikah, gak masalah, kan?”


“Axell!” Nadin tiba-tiba berteriak. “Masa kamu ngelamar aku di tempat kayak gini? Masih pakai baju rumah sakit pula! Gak ada romantis romantisnya!”


Kini Axel yang tertawa melihat respons Nadin. “Terus kamu maunya gimana?”


“Pantai? Kita lanjutin liburan yang sempat tertunda waktu itu. Tapi sehabis kamu sembuh.”


“Dan bulan madu di Bali ya?”


Nadin tertawa kecil. Dia menaruh mangkuk yang di pegang ke atas meja. Lalu mendekatkan diri ke arah Axel.


Keduanya saling melempar senyum, dan saling tatap dengan penuh rasa sayang. Bibir mereka pun saling bertautan. Meluapkan perasaan yang terus berkembang tiap detiknya. Sebagai pengikat janji bahwa setelah ini mereka akan terus bersama. Melewati halangan apa pun yang mungkin akan kembali datang.


“Jangan pergi lagi dariku ya,” ucap Axel pelan.


“Never.”