
“Hah, konyol! Apa-apaan maksudnya ini?”
Juna baru saja membuka pintu ruangan saat terdengar suara teriakan yang nyaring. Padahal dia hanya terlambat beberapa menit saja, tapi keadaan sudah tampak tak terkendali.
Dalam salah satu ruangan meeting—di stasiun televisi, beberapa orang berkumpul di dalamnya. Hampir semuanya
berwajah kesal.
Tyo, Nadin, Ardit, dan dua orang dari pihak stasiun televisi ada di sana. Ardit menjadi salah satu yang tampak kesal, dia memandang Tyo dengan penuh kebencian. Bahkan dia menjadi satu-satunya yang tidak bisa tenang dan terus berdiri. Kemunculan Juna langsung mencuri perhatiannya.
“Kau, coba jelaskan ada apa?” tanya Ardit. Tanpa menjelaskan apa pun sebelumnya, dan membuat Juna agak bingung.
“Ada apa ini?”
“Huh, orang-orang Athena itu tiba-tiba mengundang meeting, dan bilang ingin membatalkan kontrak untuk reality show yang sebentar lagi akan dimulai! Kalau bukan gila, apa itu namanya?”
“Alasannya?”
“Kau benar-benar sudah putus dengan Nadin?”
Juna melihat seluruh mata tertuju padanya, kecuali sepasang—tentunya. Wanita itu lebih memilih untuk menatap permukaan meja. “Benar,” jawabnya singkat. Membuat Ardit berdecak kesal.
Juna pun berjalan menuju ke arah meja. “Lalu, apa masalahnya?”
“Neraka, Juna! Neraka!” sahut Ardit, seakan dunia sedang di ambang kehancuran.
Dua orang lelaki dari stasiun televisi terduduk dengan tenang, namun tentu merasa kesal. Meski mereka jauh lebih bisa mengendalikan diri dibandingkan dengan Ardit.
“Kami hargai keinginan pihak Athena yang mewakili, dan mencoba memahami dari sisi Nadin. Tapi masalahnya, ini bukan soal personal. Kita semua tahu kontrak sudah ditandatangani dan tidak ada kata untuk mundur. Masalahnya, waktu kita hanya tersisa beberapa hari lagi. Teaser untuk acaranya sudah ditampilkan sejak jauh-jauh hari. Iklan sudah disebar. Dan paling penting, semua sponsor sudah menandatangani kontrak—dengan harapan yang sangat besar terhadap acara ini. Sejauh ini, kamu optimis setelah melihat tanggapan dari para penonton dan netizen,” jelas seorang lelaki berumur lima puluh tahunan.
Dia melanjutkan pembicaraannya. “Kalau acara ini harus tiba-tiba batal, kalian tahu sendiri sebesar apa kerugian yang ada. Nominalnya, sudah bukan lagi ratusan juta. Ditambah pihak kami pun perlu melakukan tuntutan atas kerugian yang akan didapat.”
“Aku tahu Athena sama besarnya dengan DCM. Tapi apa kalian akan benar-benar mengorbankan semua itu hanya untuk hal tidak penting seperti ini?” sambung Ardit.
Nadin menoleh ke arah Tyo di sampingnya. Lelaki itu tampak mengepalkan tangan erat—seraya menahan emosi.
“Akan kami terima. Semua tuntutan ganti rugi itu, akan kami terima,” jawab Tyo dengan tegas. Tentu membuat semua orang tampak terkejut. Terutama Nadin, dia ingin sekali menangis mendengar Tyo yang mau membelanya mati-matian.
“Wah, percaya diri sekali kau. Apa kau akan menggantinya dengan karirmu?”
“Saya akan melakukan apa pun untuk menghentikan acara ini,” balas Tyo kepada Ardit yang tersenyum mengejek.
Lelaki yang merupakan seorang produser pun angkat bicara. Dia menghela napas dalam-dalam. “Baiklah, kalau memang seperti itu. Tapi, kami akan tetap memberikan waktu bagi Athena untuk mempertimbangkannya kembali di internal kalian. Kontrak pemutusan kerja sama dan semuanya akan kami kirimkan segera. Setelah membacanya baik-baik dan setuju, baru kita anggap semua selesai.”
“Kami masih berharap kalian berubah pikiran dan melanjutkan project ini,” tambah lelaki satunya.
Nadin pikir, perjuangannya sudah selesai. Setelah ini dia bisa hidup dengan bebas tanpa ikatan apa pun. Dan mempublikasikan soal hubungannya kepada publik.
Akan tetapi, Nadin tidak pernah mengira bahwa keputusan itu hanya merupakan sebuah awal dari siksaan yang sebenarnya.
***
Nadin hanya bisa terdiam agak melongo di sisi ruangan. Melihat sosok lelaki menyeramkan yang merupakan kepala dari Manajemen Athena. Seorang lelaki—yang padahal berpakain rapi dengan stelan jasnya yang tampak mahal, namun wajahnya dipenuhi oleh jambang dan memiliki rambut ekor kuda. Badannya sangat berisi, entah oleh otot atau lemak. “Sudah gila kau?” hardiknya pada Tyo.
“Belum lama ini kamu datang membawakan sesuatu yang membuatku senang. Tapi tiba-tiba, kau datang kembali dengan kabar yang membuatku ingin menggantungmu!”
Tyo bangkit perlahan, dengan pipi yang memerah. “Maaf, Pak. Tapi saya rasa tidak sebaiknya kita memaksa Nadin melakukan hal yang membuatnya tidak nyaman.”
“Itu! itu kesalahan yang tidak kau sadari, Tyo! Kita itu bukan baby sitter. Tapi perusahaan yang mencetak seseorang—yang bisa mencetak uang!”
“Tapi…”
“Kau sendiri bagaimana, Nadin? Apa kau yang meminta Tyo supaya membatalkan kontraknya?”
“Bukan,” sahut Tyo dengan cepat.
“Diam! Aku sedang bicara dengan Nadin.”
“Em… Maaf, Pak. Saya mengerti tidak seharusnya mencampurkan masalah pribadi dengan kerjaan. Tapi… karena pekerjaan ini pun memasuki ranah pribadi saya, jadi saya merasa punya hak untuk menolaknya. Dan… saya benar-benar minta maaf…” ucap Nadin, sembari tertunduk.
“Maaf? Kau pikir bisa mengganti nominal itu dengan kata maaf? Tidak, Nadin… ini lebih dari sekedar nominal. Ada masalah kepercayaan dan bagaimana kau menghancurkan image yang selama ini telah terbangun dengan baik! Kau tidak hanya akan merugikan diri sendiri, tapi orang lain juga.”
Mata Nadin mulai berkaca-kaca, dia tidak bisa membantah kata-kata tersebut.
“Kau sendiri tahu semua akan sangat merugikan. Terutama untuk ibumu. Siapa yang akan membayar biaya pengobatannya?”
“Dengan bayaranku yang biasa, tanpa harus mengambil project itu pun, masih tidak masalah, Pak.”
“Masalahnya…” Sang bos besar berjalan ke arah kaca lebar di belakang meja kerjanya. “Kalau kau masih bersikeras akan mundur, maka kamu harus mundur juga dari tempat ini.”
“Pak! Apa itu tidak berlebihan? Nadin masih bisa mencari lebih banyak keuntungan untuk perusahaan ini, selain dari satu acara tv itu!” balas Tyo. Dia masih tetap bersikeras.
“Kau memang masih harus banyak belajar. Kau pikir selama ini pesona Nadin berasal dari mana? Semua suka karena melihat kemesraan dia dengan pasangannya. Kalau hal itu hilang, kau bisa bayangkan sendiri apa yang akan terjadi.”
“Tapi, Pak-”
“Sudah. Keluar dari ruangan ini!” ucap sang bos dengan tegas. Tanpa memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk membantahnya. Lalu, dia merobek beberapa helai kertas—yang berisi pembatalan kontrak pekerjaaan. “Intinya, aku tidak menyetujui ini semua. Apa pun yang terjadi, Nadin harus tetap melanjutkan pekerjaannya. Sekalipun itu harus membohongi publik sekali pun.”
Selang berapa detik, lelaki itu kembali bicara. “Dan, satu hal lagi. Jangan sampai ada yang tahu soal hubunganmu dengan Juna. Buat semua orang agar tetap percaya kalau kalian masih sepasang kekasih yang biasanya.”
Begitulah akhir dari perjuangan yang Nadin lakukan, atau mungkin yang Tyo lakukan untuk Nadin. Pada akhirnya, mereka harus kembali mundur hingga ke garis awal. Mempersiapkan diri untuk pertarungan berikutnya.
Nadin memberikan sebotol teh dingin pada Juna yang beberapa kali memegangi pipinya—yang masih terasa berdenyut. “Maaf ya, Kak,” ucapnya. Lalu duduk di samping lelaki tersebut.
“Enggak. Aku yang harus minta maaf. Manajer macam apa yang gak bisa memperjuangkan hak artisnya.”
Keduanya terdiam beberapa saat untuk menghela napas panjang. “Aku sendiri gak berguna sama sekali, Kak. Gak bisa berjuang buat diri sendiri.” Nadin memandangi kedua telapak tangannya. Mengingat keseraman ayng sempat dia rasa saat masih berada di ruangan tadi. “Aku gak bisa ngorbanin ibu buat sesuatu yang terjadi akibat ulahku.”
Juna pun menggenggam tangan Nadin seraya menenangkan. Membuat wanita tersebut mulai kembali menitikkan air mata.
“Jangan nyerah, Nadin… Hal buruk yang terjadi, bukan berarti mewakili keseluruhan dari hidupmu ke depannya. Hanya langkah awal yang harus kamu lewati untuk sampai di tempat yang lebih baik.”