
Malam itu, Axel berjalan pulang dari rumah Nadin berdua dengan Stefan. Dia sendiri bingung karena seakan lelaki berambut perak itu mengikutinya. Padahal masih merasa risih dan ingin menjaga jarak sejak tadi. Tapi, sepertinya Stefan sendiri justru menikmati semua itu.
“Agak aneh lihat orang kalangan atas sepertimu pulang jalan kaki,” ujar Axel, dengan nada tidak bersahabat.
“Orang kalangan atas?” Stefan justru tertawa kecil. “Aku cuma ingin mengakrabkan diri denganmu.”
Ada jeda beberapa saat sebelum pembicaraan berlanjut.
“Biar kuberitahu. Kalau kau ingin mencari-cari kekuranganku, sudah pasti akan ada banyak. Meski aku bukan yang terbaik, tapi bukan berarti aku gak bisa membuat Nadin bahagia.”
“Hoo…”
“Kau sendiri sebenarnya mau apa? Tanpa kehadiran adikmu, Kau dan Nadin sudah gak punya hubungan apa pun lagi.”
“Kamu pikir aku seperti ini hanya karena Juna?”
“Lalu apa?”
“Nadin juga orang yang cukup penting di hidupku. Tanpa kehadirannya, mungkin aku dan Juna masih akan saling benci sampai sekarang. Dan sebagaimana seorang kakak kepada adiknya, aku selalu ingin dia dapat kehidupan yang baik. Meski tanpa Juna sekali pun.”
Keduanya masih lanjut melangkah. Beriringan, tanpa saling memandang satu sama lain. Axel memandangi trotoar, sementara Stefan sedikit mendongak menatap langit.
“Kalau misalnya… aku ternyata bukan orang seperti yang kau harapkan, kau akan merebutnya dariku?”
“Ya, itu sudah pasti.”
“Apa kau punya perasaan juga pada Nadin?”
Stefan berpikir sejenak. Lalu menyadari kalau yang dipikirkan Axel sepertinya agak berbeda dengan apa yang dia bicarakan. “Kamu pikir aku akan menikahi Nadin, begitu?”
Lelaki itu pun kembali tertawa. “Hei, jangan bicara seakan kamu sudah pasti akan kalah. Kalau terus kayak gini, kamu benar-benar akan kehilangan dia,” ucapnya. Dia pun menepuk punggung Axel dengan keras. Lalu berjalan lebih dulu sembari melambaikan tangan.
“Dasar orang aneh…” gumam Axel.
***
Sedari pagi, Axel sibuk mengurusi beberapa hal di restorannya. Dari mulai memeriksa para karyawan, pemasukan, hingga kesan dari para pelanggan. Sejauh ini, semuanya berjalan dengan baik-baik saja. Bahkan lebih baik dari apa yang dia bayangkan.
‘Wah… Kalau begini, bulan depan sudah bisa buka restoran baru,’ ucapnya dalam hati. Sembari tersenyum dengan perasaan senang.
Dia pun mengeluarkan ponsel dan menelepon Nadin. Dia tidak ingin menghabiskan waktu yang membahagiakan seorang diri. Ditambah lagi mood-nya hari ini sedang sangat baik.
“Kamu lagi sibuk?”
“Belum lama beres rekaman, sih. Kenapa?”
“Enggak. Cuma kepikiran mau ngajak kamu makan.”
“Hm… Kok, kedengerannya suara kamu seneng banget.
“Cuma ngerasa seneng udah bisa sering ketemu kamu lagi.”
“Ih, apaan, sih!” Nadin tertawa. “Tapi aku masih ada yang perlu diberesin sedikit lagi. Mau nunggu?”
“Yes, Princess. Aku bakal tunggu. Nanti biar aku jemput ke sana.”
Axel pun bersenandung kecil setelah menutup panggilan. Hingga semua karyawannya memandang dengan bingung, karena si bos yang biasanya tampak garang, tiba-tiba berwajah sangat ceria.
Lima belas menit sebelum Nadin keluar dari gedung rekaman, Axel sudah menunggu di parkiran. Berkali-kali dia merapikan rambutnya agar tidak tampak berantakan.
Nadin pun tampak mendekat dengan jalan terburu-buru. Lalu, masuk ke dalam mobil Axel yang terparkir. “Maaf, kamu udah nunggu lama ya?” ucapnya, sembari tampak ngos-ngosan.
“Santai aja kali. Ngapain lari-larian gitu.”
“Kan tadi aku udah bilang, kamu berangkat pas aku udah beres aja biar gak nunggu.”
“Aku juga gak mau bikin kamu nunggu,” balas Axel. Sembari menepuk kepala Nadin pelan. “Kamu lagi mau makan apa?”
Nadin bilang, hari ini adalah ulang tahun Juna, jadi dia ingin sekali mengunjungi makamnya. Tentu saja tidak ada pilihan bagi Axel untuk mengiyakan. Lagipula, dia sendiri merasa sudah lama tidak berkunjung ke sana. selama Nadin di Amerika, dia sesekali datang ke makan Juna hanya sekedar untuk memberikan bunga.
Setelah menaruh beberapa tangkai bunga di depan nisa, Nadin berjongkok dan memanjatkan doa. Axel yang berdiri di belakangnya pun turut berjongkok di sampingnya. Mencabuti beberapa rumput liar yang ada di atas makam.
“Aku masih gak ngerti ada orang kayak dia,” ucap Axel. “Tapi aku penasaran, apa dia sama sekali gak punya teman dekat selama ini?”
Nadin menggeleng. “Mungkin akibat keadaan keluarganya Kak Juna. Gak banyak yang mau dekat sama dia tanpa alasan tertentu. Mereka semua pasti ada maunya. Sampai-sampai Kak Juna sendiri bingung mana orang yang mau tulus berteman.”
“Hm… Aku kira jadi orang kaya itu enak. Ternyata gak juga.”
“Mungkin kalau aja kalian kenal dari lama, Kak Juna pasti bisa jadi teman dekat kamu.”
“Enggak mungkin. Yang ada aku bakal kepanasan liat kalian berdua terus.”
Nadin pun tertawa. Lalu menggandeng lengan Axel dan bersandar pada bahu lelaki tersebut. “Mungkin emang ceritanya harus kayak gini.”
Kedunya pun memutuskan untuk pergi setelah merasa puas ada di sana. Berjalan ke arah tempat parkir mobil, sembari mengobrol dengan asik. Tanpa sadar, sejak tadi ada orang yang memperhatikan mereka. “Kita emang berjodoh ya, ketemu terus,” komentar orang tersebut.
“Hah… orang itu lagi,” gumam Axel lesu.
“Hai, brother. Keliatannya kamu senang ketemu aku lagi.”
“Emang mukaku ini kelihatan senang?” balas Axel dengan ketus. Padahal jelas-jelas wajahnya menunjukkan ketidaksukaan.
“Baru mau ke makan ya, Kak?” tanya Nadin.
“Enggak. Aku sudah lebih dulu datang daripada kalian. Dari sewaktu kalian sampai, aku nungu di mobil.”
“Owalah… Kenapa gak manggil daritadi.”
“Nah, karena kita udah terlanjur ketemu. Gimana kalau kita makan siang bareng?”
“Baru aja kita berdua juga mau pergi makan.”
Padahal Axel baru saja ingin menyahut agar Stefan tidak perlu ikut. Tapi, Nadin terlanjur menjawab lebih dulu. Alhasil, si lelaki berambut perak itu memutuskan untuk pergi makan bersama—dengan seenaknya. Membuat Axel agak kesal karena gagal makan berdua dengan Nadin.
Mereka bertiga pun makan di restoran Axel yang menjual steak. Stefan yang meminta supaya bisa diajak ke sana karena katanya merasa penasaran. “Bilang aja kamu mau makan tapi gak mau bayar!” celetuk Axel, yang hanya dibalas dengan tawa menyebalkan Stefan.
“Hm… lumayan… gak banyak restoran steak yang bisa masak dengan tingkat kematangan yang benar,” komentar Stefan, sembari menikmati steak medium rare yang dia pesan.
“Sudah, makan saja. Gak usah banyak komentar!” sahut si pemilik restoran.
“Oiya, apa besok kalian ada acara?”
“Kita sibuk.”
“Ada apa emangnya, Kak?” balas Nadin.
“Kamu pernah dengar proyek smart city yang lagi dikerjain ayahku?”
“Oh… iya pernah. Saking besarnya, jadi beritanya ada di mana-mana.”
“Ayah lagi nyari vendor yang mau bekerja sama. Salah satunya ada tawaran untuk para pebisnis yang nantinya bisa mengisi beberapa lahan di smart city. Kupikir restoranmu cocok untuk buka cabang di sana.”
Stefan mengeluarkan sebuah brosur dan dua lembar tiket dari saku jasnya. Lalu menyodorkannya ke arah Axel—yang sebelumnya tampak tidak peduli.
“Wah, kesempatan bagus tuh!” seru Nadin.
“Besok kalau ada waktu kalian datang aja ke acara ayahku. Dia mau memperkenalkan soal proyek ini, sekaligus kasih penjelasan lebih detail.”
Axel masih ragu untuk menerimanya, tapi melihat wajah nadin yang antusias, dia jadi tidak bisa menolak. Lagipula, dia pikir ada peluang besar untuk lebih mengembangkan bisnisnya di sana. Akhirnya, dia pun mengambil benda pemberian Stefan.
“Cukup, kan, buat bayar makanan ini?”
“Woy! Orang kaya macam apa yang maunya makan gratisan!”