Just A Professional Relationship

Just A Professional Relationship
S2 - Episode Sembilan Belas



‘Semua dokumen soal bisnis gelap Frans, tersimpan di dalam rak buku yang ada di kamarnya. Ada laci rahasia di balik jajaran buku di sebelah kiri.’


Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk ke dalam ponsel Nadin pagi ini. Padahal hanya Stefan dan Axel yang mengetahui nomor barunya itu. Saat dia membalas dan menanyakan nama si pengirim, orang itu tak pernah membalas pesannya.


‘Apakah hanya chat iseng?’ pikir Nadin. Tapi sepertinya tidak mungkin, karena isinya benar-benar soal sesuatu yang sedang dia incar. Jadi, Nadin mencoba untuk mempercayainya.


Masalahnya, Nadin harus mencari cara untuk bisa masuk ke apartemen Frans. Dengan tanpa menimbulkan kecurigaan sama sekali. Ditambah lagi, ada kemungkinan dia akan terluka jika pergi ke tempat itu, karena tidak ada bedanya dengan masuk ke kandang macan.


Semalaman Nadin berusaha mencari cara. Hingga menemukan sebuah alasan yang membuat Frans mengizinkannya datang ke apartemennya.


“Bukannya sudah kubilang sopirku akan menjemput?” ucap Frans saat membukakan pintu. Dia agak bingung karena Nadin sampai lebih cepat. Bahkan dia masih mengenakan baju tidurnya.


“Hari ini Pak Dwiyatno akan pergi ke luar kota. Jadi aku ingin menemui dia secepatnya setelah mendiskusikan sesuatu.”


“Hm… kau benar-benar berubah sekarang. Sepertinya kamu sudah mulai memilih untuk berpihak padaku.”


“Memang, pilihan apa lagi yang aku punya? Aku bukan orang yang akan mengingkari janji, dan akan menyelesaikannya sebaik mungkin.”


“Oh… aku suka orang sepertimu.”


Frans pun meraih minumannya dan duduk di atas sofa. Lalu mulai mendengarkan penjelasan Nadin. Selama beberapa puluh menit mereka mengobrol dengan cukup serius. Sejauh ini Nadin merasa skenario yang dia buat tampak lancar. Frans tidak terlihat curiga sama sekali dengan kedatangannya.


“Omong-omong… aku mau minta maaf,” ucap Nadin, dengan nada penuh rasa bersalah.


“Untuk apa?”


“Aku jadi berpikir lagi tentang semua hal yang kita lalui bersama di Amerika. Sebenarnya aku sempat merasa bersyukur bisa bertemu denganmu. Tapi… hari terakhir kita bertemu waktu itu, membuatku bingung. Mungkin karena tindakanmu yang terlalu tiba-tiba, sampai aku gak tahu harus merespons seperti apa. Padahal berkat bertemu denganmu juga, hari-hariku di sana jadi lebih menyenangkan. Tapi… entahlah. Apa aku sudah terlambat kalau bilang ini sekarang…”


“It’s okay. Aku senang karena akhirnya kamu menyadari semua itu.” Frans pun berdiri dan mendekat ke arah Nadin. “Kau mau memulai semua dari awal bersamaku?” tanyanya.


Nadin menggenggam tangan Frans yang terulur. Frans pun menarik tangan Nadin dan membuat wanita tersebut berada dalam pelukannya. “I’m glad you are here now…” bisiknya.


Nadin tidak bicara apa pun. Hanya berusaha mengikuti apa yang Frans lakukan. Sekalipun dia harus dengan berat hati menerima ciuman lelaki tersebut di bibirnya.


“Mau makan di luar?” ucap Nadin. Dia masih merasa takut kalau Frans terlanjur melakukan sesuatu padanya.


“Aku akan mandi dulu sebentar.”


“Oke.”


Nadin pun kembali duduk dengan tenang, padahal dadanya sudah mulai berdebar sejak tadi. Dia mencoba untuk tetap diam di tempatnya, hingga Frans sudah berada di dalam kamar mandi.


Saat itu, Nadin secepat kilat memeriksa lemari buku yang ada di sisi ruangan. Hingga benar-benar menemukan sebuah laci tersembunyi di dalamnya.


Wajah Nadin tampak sangar berbinar saat mendapati setumpuk berkas ada di sana. Seakan dia menemukan sebuah harta karun yang akan membimbingnya menuju kebebasan.


Nadin pun dengan cepat mengambil berkas itu, bermaksud memasukkannya ke dalam tas jinjing yang dia bawa. Namun saat dia membalikkan badan, entah sejak kapan Frans tengah memandangnya tak jauh dari sana.


Padahal Frans hanya berdiri mematung sembari memandangnya, namun cukup hingga membuat tubuh Nadin gemetar. Dia merasa hidupnya akan berakhir hari ini.


“Wah… instingku memang tajam,” ucap Frans. Dia pun mulai melangkah dengan tenang. Menuju ke arah Nadin yang membatu ketakutan. “Aku bukan hanya sekali bertemu orang sepertimu. Jadi, sudah gak terkejut lagi. Tapi masalahnya, darimana kamu tahu soal semua ini?”


Nadin merasa kesulitan menelan ludah. Bahkan dia tidak berani berkata sedikit pun.


“Semoga kau mau menjelaskan, tanpa harus kupaksa.”


***


“Apa kita bisa percaya omongan orang itu?” Axel masih tampak ragu.


“Gak ada cara lain selain membuktikannya sendiri. Kau takut?”


“Huh, kau meremehkanku?”


“Tadi aku sempat mencaritahu. Ternyata Frans memiliki saham di tempat ini juga. Kita berdoa saja supaya si botak itu memang sebodoh yang kita lihat.”


Keduanya pun masuk sembari berusaha untuk tidak tampak mencurigakan. Lalu berusaha mencari jalan menuju ruang bawah. Jika memang benar, mereka bisa menemukan pintunya di dalam ruangan yang terletak antara toilet dan tangga.


Ruangan yang dimaksud pun tidak terlalu sulit untuk ditemukan. Masalahnya, Stefan yakin benar pasti ada orang yang berjaga di sekitar sana. Entah dia menyamar sebagai dokter, perawat, atau petugas keamanan.


“Cepat masuk!” bisik Stefan.


Ternyata benar saja, beberapa saat setelah mereka berada di dalam ruangan tersebut, seorang perawat laki-laki turut masuk ke dalam sana. “Maaf, Anda tidak boleh ada di sini,” ucap orang tersebut dengan ramah.


“Eh, maaf. Saya pikir ini toilet,” balas Stefan.


“Kalau toilet ada di samping ruangan ini, Pak.”


“Oh. Oke.”


Stefan tampak hendak berjalan keluar ruangan, namun dia justru menyerang si perawat lelaki dengan cepat. Mencekik leher orang itu dengan lengannya yang dilipat. Hingga akhirnya si perawat tidak sadarkan diri.


“Heh, dia gak mati, kan?” celetuk Axel panik.


“Kalau dia gak lagi sial, harusnya aman.”


Mereka berdua pun langsung menuju ke arah pintu yang ada di dalam ruangan. Tak lupa Stefan mengikat lengan dan kaki si perawat yang pingsan sebelum pergi.


Terdapat sebuah tangga yang menuju ke lantai yang lebih dalam. Ruangan yang ada agak remang, namun cukup terawat seakan memang sering dimasuki orang.


Di dasar tangga, terdapat pintu lain. Saat dibuka sedikit dan mengintip ke dalam, ruangan tersebut tampak sangat terang. Suara bising mulai terdengar. Sepertinya ada banyak orang yang ada di salam sana.


“Apa cukup kalau kita foto ruangan itu dari sini?” bisik Axel.


“Kita harus mengambil foto barang bukti juga di dalam sana.”


“Kau gila? Mungkin ada lebih dari lima orang yang ada di dalam sana!”


“Lima orang seharusnya kecil buatmu,” ucap Stefan dengan santai. Dia menepuk punggung Axel sebelum akhirnya nekat masuk ke dalam ruangan yang ada.


Tentu saja Axel tidak bisa hanya diam dan bersembunyi, mau tidak mau dia pun membuntuti Stefan.


Sekitar delapan orang yang ada di dalam sana cukup terkejut saat kedatangan orang yang tidak dikenal. Salah satunya yang berambut gondrong datang mendekat. “Siapa kau?” tanyanya dengan nada serak.


“Kami mau beli barang kalian,” balas Stefan sembari tersenyum.


Tentu si lelaki berwajah beringas tidak percaya begitu saja. Dia justru mulai berusaha menyerang Stefan dengan kepalan tangannya. namun, si lelaki berambut perak masih bisa menghindar dengan lincah.


“Wah… orang tidak berotak memang cuma bisa mengandalkan otot,” gumam Stefan. Dengan cepat, dia mengayunkan kaki dan menendang lelaki di hadapannya dengan sekuat tenaga, hingga membuat orang tersebut terjatuh menabrak meja.


Axel pun spontan mengepalkan dua tangan. Bersiap menghadapi serangan yang sudah pasti akan datang. “Akan kugentayangi kau, kalau aku sampai mati di sini!”