Just A Professional Relationship

Just A Professional Relationship
Episode Tiga Belas



Seharian, Nadin hanya bisa merebahkan diri di atas kasur. Badannya teras lemas, tapi anehnya sama sekali tidak lapar. Dia hanya menyediakan botol minum di pinggir kasur.


Bisa jadi Nadin tidak makan sama sekali sehari penuh. Tapi Tyo tak henti mengiriminya pesan, mengingatkan dia untuk makan—sudah seperti seorang ibu yang cerewet. Karena itu, akhirnya Nadin memaksakan diri untuk melahap secuil roti yang ada.


Malamnya, Nadin sama sekali tidak bisa tidur. Dia sengaja menyalakan televisi agar suasana apartemen tidak terlalu sepi. Sebenarnya dia benci harus sendirian dalam keadaan seperti itu. tapi, di satu sisi dia sedang tidak ingin bertemu dengan siapa pun.


Sekitar pukul delapan, Juna kembali mencoba menelepon. Nadin langsung menonaktifkan ponselnya.


Melihat namanya saja langsung membuat hati Nadin kembali terasa sakit. Apalagi jika harus mendengar suara dan melihat wajah orangnya langsung.


Nadin merebahkan dirinya di atas sofa. Menatap layar televisi dengan tayangan yang sama sekali tidak membuatnya tertarik. Dua orang pembawa acara talkshow tampak berbincang-bincang dengan serunya. Tapi semua itu membuat Nadin justru kesal. ‘Kenapa semua orang masih bisa seceria itu? Kenapa harus aku yang merasakan kesedihan seperti ini?’ pikirnya.


“Eh, ngomong-ngomong ya. Kamu tahu gak sih sebentar lagi ada apa?”


“Ada apa emangnya?”


“Serius gak tahu?”


“Apa sih, jadi penasaran.”


“Wah… gini nih kalau jomblo. Sampai gak inget kalau bentar lagi hari valentine.”


“Oh, astaga!” Si lelaki dalam tayangan menepuk dahinya. “Berarti, bakal banyak yang spesial dong nanti?”


“Udah pasti dong! Salah satunya pasti semua udah tahu. Bakal ada tayangan spesial dari artis-artis yang juga spesial kita siapkan buat pemirsa semua.”


“Wah… aku udah gak sabar banget. Ada siapa aja sih nanti?”


“Ada FalenEsa couple, Abraham dan Jacque, dan pastinya… kalian bisa tebak siapa?”


“Nadin…”


Mendengar namanya disebut, tangan Nadin spontan mematikan televisi. Dia jadi semakin merasa tidak nyaman karena ingat sudah banyak agenda yang akan dia lakukan bersama Juna di hari valentine nanti. Bahkan mereka terlibat kontrak untuk sebuah tv show, selama beberapa puluh episode.


Nadin memejamkan matanya, memegangi lengannya erat. Air mata mulai kembali mengalir hingga dia tidak sadar tengah terlelap.


***


“Nadin, kamu udah agak baikan?”


“Sedikit, Bang.”


“Udah makan, kan?”


“Sedikit…”


“Aduh, jangan gitu dong, Din… Apa pun yang terjadi, kamu harus tetap makan ya. Terus minum obat dan vitamin.”


“Iya, Bang.”


“Oiya, maaf ya ngebahas ini. Tapi masalah jadwalmu. Aku udah berusaha mengosongkan seminggu ke depan, tapi masih tetap ada yang gak bisa di-reschedule. Lusa ada syuting buat talkshow di tv, kamu ingat? Apa aku minta buat cancel aja?”


Nadin merasa dia pasti belum baik-baik saja dua hari ke depan. Tapi, dia sendiri merasa tidak enak kalau sampai membuat Tyo kewalahan karenanya. Kalau sangkutannya dengan kontrak acara tv, Athena tentu akan rugi karena harus membayar denda jika membatalkan acara tiba-tiba. Dan Tyo pasti akan diomeli habis-habisan oleh atasannya.


“Gak usah, Bang. Harusnya aku udah baikan kalau lusa.”


“Maaf ya, Din. Cuma satu jam, habis itu kamu bisa istirahat lagi.”


“Iya, Bang.”


Nadin pun kembali melamun setelah panggilan berakhir. Sejak kemarin kegiatannya selalu sama. Berjalan ke satu tempat, lalu merenung, berpindah ke tempat lain, lalu melamun. Terus seperti itu hingga tidur di malam hari, dan terbangun di pagi harinya.


Nadin menghela napas panjang. Kembali melangkah ke arah wastafel untuk membasuh wajah.


Juna mengetuk beberapa kali. “Nadin…” panggilnya lembut. Lalu terdiam. Menunggu jawaban yang tak pernah dia dengar. “Aku tahu kamu pasti marah. Tapi aku ingin bicara…”


Nadin masih tidak kuat beranjak dari tempatnya berada. Namun suara Juna pun menyakitkan untuk dia dengar.


Juna pun masih terus menunggu. Berharap Nadin mau membukakan pintu dan setidaknya menatap wajahnya. Tapi, hal itu tidak pernah terjadi.


“Aku akan pergi. Ini, aku bawakan bubur buatmu. Jangan sampai kamu gak makan ya.”


Suara langkah Juna pun terdengar semakin menjauh, hingga menghilang sama sekali. Nadin merasa perasaannya sangat aneh. Ada keinginan untuk keluar dan berlari mengejar Juna. Tapi, ada dorongan yang memaksanya untuk pergi menjauh dari lelaki tersebut.


Meski begitu, Nadin tahu waktunya akan tiba. Saat dia mau tidak mau harus berhadapan dengan orang yang ingin dia hindari itu. Dan waktu itu pun, tiba dua hari kemudian. Terlalu singkat baginya untuk mempersiapkan diri. Tapi, tuntutan pekerjaan membuatnya harus tetap profesional menjalani semua.


“Nadin!!” Tyo menyambut Nadin yang berjalan ke arahnya sembari tersenyum—agak terpaksa. Wajahnya tampak sangat cemas. Bukan sebagai manajer yang takut kehilangan pekerjaan, namun sebagai kakak yang mengkhawatirkan adiknya.


“Kamu udah mendingan?” tanya Tyo lagi. Sembari menempelkan punggung tangan pada dahi Nadin—yang sebenarnya tidak demam.


“Iya, udah, kok. Kayaknya masuk angin.”


“Syukurlah… Ayok kita ke ruang make up. Juna sudah datang.”


Baru saja Nadin berhasil meyakinkan diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi begitu mendengar nama Juna, nyalinya langsung ciut. Dia ingin sekali langsung pergi menjauh dari sana.


Nadin mengekor pada Tyo. Berjalan perlahan saat mereka memasuki sebuah ruangan yang dipenuhi oleh staf. Pada salah satu bangkunya, Juna terduduk dengan tenang. Lelaki itu pun menoleh saat menyadari kehadiran Nadin.


“Pagi, Babe…” sapa Juna sembari tersenyum—seolah tidak pernah ada sesuatu yang terjadi.


Nadin masih belum bisa bertindak normal. Dia hanya tersenyum, sembari mencoba agar tidak bertemu pandang dengan Juna—dan berusaha agar tidak ada satu orang pun yang menyadarinya.


“Wah… Akhirnya aku kesampaian juga ngedandangin kalian,” ujar salah satu staf make up.


“Iri banget kalau liat kalian berdua. Pengen deh punya pasangan kayak Juna juga. Ganteng, pinter, baik, dan


pasti setia, dong…”


Nadin hanya terdiam. Sementara Juna merespons dengan senyuman dan berusaha ramah dengan para staf. “Kalian terlalu berlebihan. Aku sama sekali gak ada bagus-bagusnya,” ucapnya.


“Ah, suka merendah, deh. Nadin beruntung ya bisa ketemu cowok kayak Juna.”


“Bukan. Tapi aku yang beruntung jadi laki-laki pilihan Nadin.”


“Uhhh, so sweet,” seru para staf hampir bersamaan.


Padahal acara hari ini hanya satu jam. Tapi baru tiba di lokasi bebebrapa menit saja sudah berhasil membuat Nadin ingin pulang. Apalagi dengan para staf yang terus menggodanya. Padahal dia sama sekali sedang tidak bisa bercanda.


Namun dia cukup heran, bagaimana Juna bisa berakting sehebat itu. Atau memang dia tidak peduli dengan apa yang terjadi? Pikirnya.


Sejak keluar dari ruang rias, hingga tiba di backstage, Nadin terus bungkam. Juna pun masih belum berani untuk mengajak Nadin mengobrol—karena terus dijauhi. “Kamu yakin masih mau melakukan ini? Kalau mau, aku bisa cari alasan supaya kamu gak perlu tampil,” ucap Juna.


“Gak perlu,” jawab Nadin tegas. Dia melirik ke arah Juna dengan ekspresi datar, dan mata yang terhunus tajam. “Bukan cuma kamu yang bisa berakting dengan bagus seperti itu.”


Saat presenter menyebutkan nama Nadin dan Juna, keduanya pun keluar dari backstage—dengan bergandengan tangan. Tersenyum ke arah penonton di studio, seakan sudah kembali menjadi diri mereka yang biasa.


Hingga pertengahan acara, Nadin merasa semua akan baik-baik saja. Dia tidak merasa kesulitan untuk berpura-pura bahagia dan tertawa bersama yang lain. Dia bahkan berbicara dengan Juna seperti biasanya. Mengucapkan kata-kata sayang, seolah hubungan mereka selalu berlangsung mulus tanpa halangan.


Akan tetapi, sehebat apa pun Nadin berakting, hatinya tetap tidak bisa dibohongi. Dia sudah berada di titik, di mana dia sudah tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.


“Kalian kan sudah mau lima tahun, nih, tapi beneran gak pernah ngerasa bosen, dan punya pikiran buat putus gitu?” tanya si presenter wanita. Para penonton pun riuh.


Nadin tahu orang itu hanya bekerja sesuai dengan perintah, dan tidak benar-benar serius dengan pertanyaannya. Nadin pun masih tersenyum dan tertawa, tapi beberapa saat kemudian air matanya mendadak mengalir. Melintasi bibir tipisnya yang masih berusaha tersenyum, namun perlahan mulai bergetar.