Harry's Love Story

Harry's Love Story
Tatapan



Happy Reading


***


Di sinilah aku sekarang, di pub tempat Spencer bekerja. Spencer begitu senang saat aku datang ke rumahnya kemarin sore, lalu keesokan harinya aku sudah di sini dengan Spencer yang berusaha keras mendandaniku. Dia bingung kenapa tidak satupun baju mereka (Temen sekerja Spencer dan akan segera teman sekerjaku juga) yang cocok padaku. Tone atau warna make-up mereka yang cenderung cocok untuk kulit gelap tidak terlalu cocok ke wajahku yang cenderung putih pucat. Saat memakai pakaian ketat mereka, badanku tidak berbentuk dan itu benar-benar aneh.


"Aku heran kenapa tidak satu pun baju ini yang cocok padamu...." ucap Spencer yang tetap sibuk melihat baju-baju yang tergantung. Beberapa teman wanitanya cekikikan melihatku, mungkin mereka mengejekku tapi aku tidak peduli. Teman sekerja Spencer benar-benar luar biasa, tidak satu pun dari mereka yang sepertiku yang kurus kering dan tidak berbentuk. Mereka tinggi, langsing, proporsional, dan sexi.


"Kau harus makan banyak..." ucap Katy, wanita yang paling antusias saat aku datang. Garis matanya tidak tajam dan nampak ramah. Dia mendandaniku dengan cukup apik walau agak sulit karena pada akhirnya aku hanya memakai lipstick merah terang, sedikit eyeshadow, dan bulu mata palsu. Warna bedak mereka tidak cocok untukku.


"Kau gunakan saja pakaian itu, lalu tutupi bagian daadmu dengan rambut panjangmu..." Aku mematuhi Spencer dan bersyukur akan itu. Aku berdiri dan melihat bayanganku di cermin. Aku seperti bukan Emilya. Gaun bodyfit milik Katy sedikit longgar pada tubuhku, bukti tubuhku tidak berisi. Gaun abu-abu ini memamerkan punggungku dan aku menutupi kekuranganku di bagian dada dengan rambut panjangku. Untung aku tidak memangkas rambutku.


"Kau terlihat bagus...." ujar Katy seraya mengipas wajahnya dengan kipas bulu hitam miliknya, "Bergabunglah..." dia segera pergi meninggalkan ruangan itu bersama rekan lainnya.


"Lily... Khusus di tempat ini, namamu adalah Lily.." ucap Spencer.


"Lily? Tidak buruk..." AKu tidak mau memusingkan apa pun, yang kuinginkan hanya uang, "Namamu tetap Spencer?"


"Yah.. Aku suka nama itu." Spencer menyemprot parfum ke tubuhnya, lalu ke tubuhku. "Para pria suka wangi bunga yang lembut..."


"Aku tidak gugup..." bisikku. Lebih terasa aneh dan kosong dalam dadaku. Aku bingung bagaimana menjelaskan perasaanku saat ini. Tidak ada rasa gugup, kekhawatiran, dan ketakutan. Hanya kosong. Rasanya kosong.


"Bagus, aku suka kau begitu... MJ (bacanya: Emjey) akan menjelaskan kontrak padamu di ruangannya."


"Kau bukan bos-nya?"


"Aku? Jika aku bosnya, aku tidak akan tinggal di tempat kumuh kita, Lily..." Lily.. Masih terasa aneh karena dia memanggilku begitu, "Dia sedikit mengintimidasi, tapi jangan pernah memutuskan kontak mata dengan dia. Kalau sempat kau melakukannya, kau tidak akan aman..."


"Baik..."


Spencer memukul pantatku, "Pergilah, little girl...."


***


"Setiap keuntungan yang kau dapat berikan 1/4 bagian untukku. Untuk harga setiap pelayanan ada di buku list itu. Yang paling mahal adalah hubungan intim satu malam dan pelayan oral(mulut) hanya $200. Jika dia memberimu lebih, itu milikmu. Tapi jika dia memberimu kurang dari harga yang disetujui, kau melapor kepadaku dan anak buahku yang akan mengurusnya."


Aku menarik napas saat melihat list itu, sial. Apa aku harus bersedia melakukan semua ini pada pria manapun? Aku menatap ke arah MJ, matanya lebih tajam dari Spencer dan ku pikir mereka sedikit mirip. Dia benar-benar mengintimidasi, tapi aku tidak memutuskan kontak mata dengannya seperti saran Spencer.


"Ini benar-benar...."


"Keren?" sambung dia.


Aku menangguk ragu seraya tersenyum konyol. Apanya yang keren?! Melihat list seperti ini dan membayangkan aku melakukannya benar-benar menakutkan.


"Kau sudah menandatangani kontrakku dan kau seutuhnya milikku, Lily sampai seseorang menebusmu. Jadi, jangan berusaha melarikan diri, sayang..."


"Okay..."


"Kembalilah ke tempatmu, mungkin aku bisa mengatur seseorang agar membawamu pulang malam ini."


"Yah, tentu...."


****


Aku sedang duduk di semacam bar bersama 'teman kerjaku'. Kami duduk di sana, sambil menunggu pria yang tertarik pada kami. Aku tidak melihat keberadaan Spencer dan Katy setelah aku keluar dari ruangan MJ, mungkin mereka sudah mendapat 'pelanggan'. Aku duduk di bar bersama lima wanita, yang kemudian itu semakin berkurang karena sepertinya mereka sudah mendapat mangsa.


Aku menarik napas, enggan dan sungkan berbicara dengan mereka yang tertinggal. Aku bukanlah orang yang hebat dalam bersosialisasi, apalagi dengan mereka. Tidak mungkin aku bersikap sok dekat dan langsung bertanya, 'Hey yoo girls.. Apa rahasia kalian mendapat pelangan?' Ahk... Tidak mungkin.


Akhirnya aku menghadap meja bar dan menunduk melihat pantulan wajhaku di meja bar yang mengkilap. Bar-nya gelap dan hanya sedikit pencahayaan dari lampu disco, tapi suasana di sini lumayan enak. Tempatnya mewah, elit, nyaman, dan kelihatan mahal. Musiknya bukan jenis musik DJ yang memekakkan telinga, lebih ke musik Live yang santai dengan lirik lagu yang cukup nakal. Aku tidak pernah mendengar lagu seperti ini.


"Kau pekerja baru?" suara pria berat dan lembut mengejutkanku. Aku menoleh ke seorang pria berkepala plontos dan berkemaja putih khas bartender. Lengan bajunya digulung hingga sikut dan memerkan tato yang memanjang di lengan kirinya.


Aku tersenyum dan menggangguk kecil.


"Ini, traktiran atas kedatanganmu..." dia menyajikan gelas kecil berisi cairan kuning keemasan.


Aku ingin menolak karena aku tidak biasa meminum alkohol, tapi dia sudah menawarkannya secara cuma-cuma untukku.


"Tidak perlu khawatir, itu tidak akan membuatmu mabuk, tapi membuatmu lebih rileks. Itu racikan handalanku. Coba lah..." suaranya terlihat menyakinkan. Dia tidak mungkin memiliki maksud membuatku mabuk dan mengambil keuntungan dariku


Aku mengangguk dan segera meneguk minuman itu dalam sekali teguk.


"Whoa, girl... Tidak ada orang yang meminum alkohol dalam sekali teguk..." ucapnya dan aku memerah karena ucapannya. Memangnya ada tradisi lain dalam meminum alkohol? Apa aku harus meminumnya dengan sedotan?


"Trims.... Tapi aku tidak biasa minum alkohol, jadi...."


"Aku mengerti.. Lain kali kau harus menyesapnya..." ucapnya seraya melap-lap gelasnya.


"Oh.."


"Aku Martin, siapa namamu?"


"Em--" aku berdehem sekali dan menyadarkan diriku sendiri bahwa namaku bukan Emilya di tempat ini, "Lily... Terimakasih atas minumannya..."


"Ini traktiran terakhir..." dia mengisi gelasku lagi dengan cairan yang sama, "Cobalah di sesap agar kau bisa merasakan cita rasa dari minumanku. Salam kenal untukmu, Lily. Aku harus melayani pelanggan lain..."


"Yah.... Trims.." dia segera bergeser ke arah lain untuk melayani pelanggan. Aku melihat cairan itu sebentar dan mencium baunya. Bau alkoholnya tidak pekat dan ada semacam bau..Jeruk? Uhm.. Aku menyesap cairan itu dan merasakan manis di pangkal lidahku, lalu cairan itu mengirimkan semacam sensai yang menenangkan di dalam tubuhku. Itu membuatku rileks.


Aku menoleh dan tidak melihat wanita-wanita itu tidak duduk lagi. Hah, hanya aku yang duduk di sini menunggu hujan turun. Aku seharusnya mencari, tapi bagaimana? Apa aku tiba-tiba duduk saja di pangkuan pria itu, atau menanyakan namanya dan berkata 'Hey boy, tidur sama yuk.. Aku bisa sangat liar...' Yawwww... membayangkan aku berkata seperti itu benar-benar menjijikkan


Tapi jika aku tidak melakukannya, aku tidak akan mendapatkan apa pun.


****