
Happy Reading
****
Harry POV
Kami bertatapan beberapa detik hingga akhirnya diinterupsi oleh buah-buahan Emilya yang kembali jatuh dari tangannya.
"Oh.." ucapnya kaget dan buru-buru memungut kembali buah-buahan yang jatuh itu.
Aku segera membantunya. Kami bertatapan sekilas dan dia segera mengalihkannya dengan cepat.
"Kau tidak perlu membantuku..." ucapnya dengan nada kewalahan, mungkin dia merasa malu.
"It's okay.."
Kami kembali berdiri dan aku memegang empat buah di tanganku dan lima buah di tangan Emilya. kami bertatapn lagi, kemudian aku melihat dua kantung belanjaan besar yang ada di trotoar. Yang satu masih utuh, satu lagi sudah rusak sehingga isinya berkeluaran.
"Terimakasih..." dia menggangguk sekali, "Kau bisa menaruhnya di..." dia melihat keadaan kantung belanjaanya kemudian menatapku dengan tatapan bingung. Oh.. Jelas dia diaa butuh bantuan.
"Aku akan membantumu..."
"Ti--Tidak perlu..."
Aku mengabaikannya dan tetap mengambil kantung yang bolong itu dan menaruhnya di tanganku sedemikian rupa untuk mengakali yang bolong.
"Thank you..." ucapnya lagi.
"Ke mana?" tanyaku saat dia mengambil kantung yang utuh dan memasukkan buah yang dia pegang ke dalam kantung.
"Itu.." aku mengikuti arah pandangnya.
"Hotel W?"
"Yah..." dia berjalan mendahului dan aku mengikutinya di belakang. Kami masuk ke dalam lobi hotel dan berjalan menuju lift.
Sejenak aku bertanya-tanya, kenapa di hotel?
Dia memutar tubuhnya ke arahku saat kami sudah di depan lift, "Aku bisa membawanya dari sini..." ucapnya dengan nada canggung.
Aku menatapnya, lebih tepatnya beradu atap. Dia segera mengalihkan tatapannya dengan tidak nyaman. Segera aku merasa bersalah membuat dia tidak nyaman.
"Aku akan mengantarnya sampai ke tempatmu..." nadaku lebih ke nada perintah.
"Umm.. O-okay.."
Kami segera masuk ke dalam lift dan hanya da kami berdua di sana.
"Lantai berapa?" tanyaku
"25.."
Aku menekannya dan kami berdiri dalam diam. Aku menatap dinding lift yang menampilkan bayangan kami berdua. Emilya menutupi wajahnya dengan katung yang dia bawa. Kantung kertas coklat itu terasa sangat besar untuk dia. Aku menoleh ke arah dia dan menatap wajahnya.
Apa sebenarnya yang kulihat dari dia.
"Sudah lama..." ucapku dengan pelan dan dia menoleh ke arahklu.
TING
Pintu lift segera terbuka dan Emilya buru-buru keluar dari lift. Aku mengikutinya yang berjalan ke arah kamarnya. 1401.
"Here we are..." bisiknya. Lalu tangannya berusaha merogoh sesuatu di kantung mantelnya dan jelas dia kesusahan.
"Akan ku ambil.." aku memasukkan tangan kananku ke dalam kantungnya. Tanganku tidak sengaja bersentuhan dengan tangannya. Aku bisa merasakan tubuh Emilya yang membeku gugup. Aku mengambil dompet hitam dari sana.
"Kau keberatan?" ucapku, meminta izin untuk membuka dompetnya.
Dia menggelang dan aku membuka penutup dompet tersebut.
"kartu pass warna hitam.." ucapnya
Aku segera mengambilnya dan memberikan pada Emilya dan dia segera membuka pintu. Emilya menaruh kantung itu di dalam kamar. Kemudian dia memberikan sinyal untuk kantung yang kupegang. Aku memberikan kantung itu padanya dan dia menaruhnya di lantai kamar.
"Um.." dia menggangguk sekali kemudian menepuk-nepuk pahanya, "Thank you.."
Aku mengangguk dan tetap menatapnya. Emilya kemudian tertawa canggung. Tawa yang lembut. Dia juga memutar kepalanya dengan canggung. Aku membuka mulutku sedikit, tersenyum kecil.
"Apa ada yang salah?" tanyanya.
"Kenapa?"
"Kau menatapku seolah ingin memakanku hidup-hidup.."
Aku ingin. Benar-benar ingin
Wajahnya memerah. Okay, Harry.. Tahan. Jangan berpikir ingin menelanjanginya. Kau masih bertemu dia setelah dau tahun. Dua Tahun!! Astaga.. Tenangan dirimu, Harry.
"Terimakasih..." Seberapa banyak dia harus mengucapkan terimakasih?
Ponselku berdering dan aku merogoh sakuku tanpa melepaskan tatapnku dari dia.
"Halo, sir. Anda ada di mana?" itu suara Liam.
"Aku ada sedikit urusan, tapi sekarang sudah selesai."
"Di mana saya bisa menjemput anda, sir?"
"Hotel W..." jawabku singkat dan segera menutup panggilan.
"Kuharap aku bisa menghubungimu untuk minum teh, Em.." aku berdehem. Uhm.. Em? Berani-beraninya aku memanggil dia Em seolah kami akrab, "Aku keberatan?" aku menyodorkan ponselku dan dia menatap itu.
Sial. Aku benar-benar tidak tahu malu.
"okay.." ucapnya pelan seraya mengambil ponselku dan mengetik nomor ponselnya.
Aku tau dia tidak ingin memberikan nomor ponsel itu. Jelas. Itu nampak jelas di wajahnya. Dia hanya terlalu baik untuk menolak. Ah.. Terkadang aku bersyukur dengan sifatnya yang terlalu baik. Dia menyodorkan ponselku kembali.
"Thanks..." ucapku dan dia meggangguk, "Aku pergi.."
"Bye.." ucapnya dan aku segera berlalu dari pandangannya. Aku berhenti sejenak saat di depan lift kemudian menoleh ke belakang. Dia mengintipku dan buru-buru masuk ke dalam kamar. Aku tersenyum kecil. Apa ini? Perasaan lucu apa ini? Kenapa terasa menggelitik dan menyenangkan?
Aku menoleh kembali ke arah kamar Emilya dan tidak menemukan dia di sana. Akhirnya aku masuk ke dalam lift dengan perasaan menyenangkan ini.
***
"Harry... Harry?" Zoya memanggilku seraya memetik tangannya ke arahku.
Aku segera sadar dan menatap Zoya.
"You not focus.." ucapnya dengan nada sedikit kesal, "Kau dengar apa yang kuceritakan?"
"Ah.. Tentang pasienmu..."
Segera air mukanya berubah datar. Ada kerutan halus di dahinya. Jelas dia tidak bercerita tentang pasien.
"Selama tiga hari belakangan ini kau tidak fokus setiap aku bicara padamu. Ada yang salah?"
Ada yang salah? Jelas ada yang salah.
Itu adalah ucapan selamat tinggalku yang dibungkus dengan halus.
"Baiklah.. Kita pulang. Kau bisa mengatakan kau lelah atau apa padaku sehingga kita tidak perlu menghabiskan waktu secara sia-sia seperti ini..." dia menggerutu seraya memasukkan ponselnya ke dalam tas, "Kau bahkan tidak menghabiskan makananmu...."
Aku melihat steak-ku yang hanya kumakan tiga potong. Aku berdiri dan merasa bersalah.
"Maafkan aku, Zou.. Aku akan mengantarmu pulang setelah membayar bill..."
"Tidak...." ucapnya dan aku segera menatap wajahnya yang kesal.
"Aku akan tetap mengantarmu... Aku akan membayar bill-nya.."
Aku mengangkat tangan kananku untuk menarik perhatian seorang pelayan. Setelah dia datang, aku melakukan pembayaranku dengan kartu debit. Aku beralih kepada Zoya yang sudah berjalan meninggalkanku. Sial. Aku buru-buru memasukkan kartuku dan memegang mantelku dalam lenganku.
"Zou.." panggilku dengan nada rendah, berusaha tidak menganggu tamu lain yang sedang makan.
Kami berdua berdiri di depan lift. Aku berdiri di belakangnya.
"Aku akan mengantarmu pulang..."
"Aku sudah memesan taxi.."
Sial...Aku tidak ingin dianggap pria kurang ajar.
"Hei.." aku memegang lengannya, berusaha menarik perhatiannya, "Aku yang membawa ke sini dan aku juga yang akan membawamu pulang..."
Dia melihatku dengan tatapan kecewa bercampur amarah.
"Aku akan mengantarmu..." ucapku dan detik itu juga pintu lift terbuka.
Aku mengangkat kepalaku dan melihat kedatangan tamu yang ada di lift.
"Em.." bisikku pelan, sangat pelan saat melihat dia ada di sana bersama tamu yang lain. Tatapan kami bertemu, tapi hanya sebentar sebelum dia bergerak keluar dari lift. Kemudian dia menoleh lagi padaku dan turun ke bawah. Aku buru-buru melepas peganganku dari lengan Zoya.
Dia? Apa yang dia lakukan di sini.
"Aku sudah mereservasi satu meja untuk kita..." ucap seorang pria berkepala plontos pada Emilya dan segera Emilya menoleh pada pria itu. Sial. Dia terlihat seperti pria mesum.
Aku segera menyadari diriku sendiri yang berdiri membeku. Aku segera melangkahkan kakiku masuk ke dalam lift bersama Zoya. Aku menatap Emilya yang berjalan bersama pria itu. Sial. Siapa? Apakah dia menjalankan kontrak? Tidak.. Tidak mungkin.. Apa kekasihnya? Jika yah, aku lebih memilih dia bersama pacarnya yang dulu.
Aku terus menatap Emilya hingga akhirnya pintu lift tertutup. Saat detik-detik terakhir, Emilya menoleh ke arah kami. Hanya dua detik saja. Hanya itu. Namun, tatapan kami bertemu.
"Napasmu melaju dengan cepat..."
"A--Apa?" ucapku pada Zoya yang tiba-tiba berbicara. Hanya kami berdua di dalam lift. Aku menatap pantulan kami berdua di dinding lift. Wajahnya tidak terbaca.
"Lupakan. Aku akan pulang sendiri malam ini. Kuharap kau menghormati keputusanku..." ucapnya dengan nada formal yang datar. Sial. Terkadang, wanita kaya yang berpendidikan sangat menyebalkan.
"Okay..."
****
Emilya POV
Sudah tiga hari berlalu sejak aku datang ke New York. Aku bertemu beberapa orang hebat dalam penerbit yang akan menerbitkan bukuku. Aku melakukan pembicaraan dan diskusi yang sangat menyenangkan dengan mereka. Tidak ada intimidasi karena ini buku pertamaku.
"Ah.. Aku sangat menyesal karena baru membaca emailmu. Padahal kau sudah mengirimkannya enam bulan lalu..." ucap Mr.Lee, kepala perusahaan yang menangani buku yang akan di terbitkan.
Aku tersenyum kecil.
"Aku sudah membicarakan cover untuk buku ini dan beberapa sudah kita edit. Mungkin covernya akan selesai dua atau tiga hari lagi.." Ucap Mrs.Potter, kepala editor yang sangat ramah. Aku begitu senang menghabiskan waktuku berbicara dengannya. Aku seperti bertemu dengan 'soulmate' sendiri.
"Aku berharap bisa menerbitakan kedua buku sekaligus, Ms.Teatons..." ucap Mr.Lee. Seperti yang kalian tahu, aku memiliki dua judul buku dengan masing-masing memiliki dua sekuel. Namun, sesuai peraturan perusahaan penerbit, buku milikku tidak bisa diterbitkan sekaligus ditambah aku masih pemula.
"Terimakasih..." ucapku dengan senyum kecil, tidak tau lagi harus membalas apa.
"Baiklah.. Aku bertanya-tanya, apakah kau keberatan ikut makan malam dengan kami nanti malam Ms.Tetons.." ucap Mrs.Potter.
"Tidak.. Tentu saja tidak.." ucapku tulus, "Aku sangat senang jika kita bisa melakukannya..."
****
Aku memakai satu-satunya dress biru tua se-betis yang kubawa ke tempat ini. Aku menyisir rambutku dan menyanggulnya dengan rapi. Aku memakai stoking hitam tebalku, sepatu hak rendah, dan terakhir mantelku. Aku menatap diriku di cermin.
"Okay.. Ready to go.." ucapku seraya memgambil tas kecil milikku.
Aku keluar dari hotel beberapa menit kemudian dan aku sudah melihat taxi yang ku pesan di sana. Aku segera masuk dan taxi melaju menuju restoran tempat kami akan makan. Jalanan tidak terlalu macet malam ini, mungkin karena ini adalah hari biasa.
Aku menatap ke luar. Kemudian aku mengambil ponsel milikku yang ada di tas kecilku. Aku menyalakannya. Tidak ada pesan baru. Tidak ada email. Tidak ada panggilan. Kosong. Memangnya apa yang kuharapkan? Dia memanggilku? Bodoh rasanya aku menunggu panggilan dari dia selama tiga hari ini.
Namun, tidak ada.
Aku menggigit bibirku, kemudian menjilatnya yang tiba-tiba kering. Inilah kenapa aku benci diriku. Aku terlalu mudah. Dengan mudahnya aku memberikan nomor ponselku padanya. Bahkan itu pertemuan kami pertama setelah dua tahun. Dia pasti ingin mempermainkanku.
Taxi melambat dan akhirnya aku sampai pada tempatku. Aku membayar ongkos taxiku kemudian keluar. Aku melihat gedung tinggi itu, memastikan itu adalah gedung yang di sebut Mr.Lee padaku. Aku menarik napas dan membuangnya sebelum akhirnya masuk ke dalam lobi gedung itu.
"Mrs. Teatons.." aku mendengar suara Mr.Lee dan segera aku menoleh ke sumber suara.
"Mr. Lee..." ucapku sebagai sapaan.
"Mrs.Potter akan sedikit terlambat. Dia menyuruh kita masuk lebih dulu.."
"Oh, baiklah..."
"Restorannya ada di lantai 20... Mari."
"Yes, sir.." ucapku dan mengikuti dia masuk ke dalam lift bersama pengguna lift lainnya. Aku berdiri di sudut lift dan menunggu lift ini berhenti.
Segera lift terbuka setelah bunyi 'TING'. Aku tetap berdiri di sana, menunggu beberapa dari pengguna lift itu turun.
"Mari, MS.Teatons.." ajak Mr.Lee seraya melewati orang yang ada di lift.
Aku berjalan ke luar dan sejenak aku berhenti di sana. Harry? Mata kami bertemu. Lalu mataku turun ke tangan Harry yang memegang lengan wanita itu. Astaga. Kenapa bisa aku bertemunya di sini?
"Aku sudah mereservasi satu meja untuk kita..." ucap Mr.Lee menginterupsiku. Aku segera membuang muka dan mengikuti langkah Mr. Lee semakin masuk ke dalam restoran.
Siapa wanita itu? Cantik. Dia benar-benar cantik walau aku hanya melihatnya sekilas. Apakah kontrak? kekasih? Apa? Siapa? Aku memejamkan mataku karena merasakan pusing. Sial. Tak seharusnya aku memborbardir diriku sendiri dengan pertanyaan-pertanyaan itu.
Sadar, Emilya. Dia bukan untukmu.
Pikirkan yang lain..
Tahan, Emilya.
Pikiran itu berpacu dalam diriku. Aku menyergitkan kepalaku. Sial. Aku tidak tahan. Aku tidak tahan untuk menoleh ke belakang. Aku menarik napas dan menoleh ke belakang. Saaat aku menoleh, pintu lift sudar hampir tertutup semua, tapi mata kami sempat bertemu walau hanya dalam sepersekian detik.
"Ms.Teatons.." ucap Mr.Lee dan menyadarkanku, "Sebelah sini..."
Aku mengikutinya dan kupikir aku benar-benar kehilangan selera makanku sekarang
***
MrsFox
Jadi gini, aku sekali up bisa sampe 2000-3000 kata per chapter. Jika kubandingkan dengan novel" di nt ini, itu rata-rata kayak 500/1000-an kata ajah. Istilahnya, jika aku membuat pembagian seperti itu jadi 1000 kata per chapter maka aku sekali up bisa sekitar tiga chapter. But, I don't like it. Aku lebih suka satu chapter tapi panjang. Mungkin ada yg mikir masa sekali dua hari up cuma satu chapter. Contoh, kayak chap sebelumnya ada 2727 kata(hampir 3000), aku bisa ajah bagiin itu jadi 3 chapter, tapi menurutku pembawaan novelnya jadi gak bagus. Bisa-bisa novel aku tembus 150-an chapter kalau aku buat gitu dan agak terasa aneh menurutku. Jadi begitulah. Wkwkw. Hope you enjoyed this chap.. Jangan lupa like,vote,love,koment kalian. So lop yuh gais to the moon and back. Maap yah kalo lama up karna realita di dunia nyata benar-benar berat. Minta dukungannya yah untuk besok aku ujian!!