
Happy Reading
***
"Itu semacam tumor kecil dan belum menyebar. Kami sarankan, kita segera menjalankan operasi untuk mengangkat tumor otak itu sebelum menyebar...." aku mendengarkan penjelasan Dokter bersama Hailey di ruangan Dokter yang akan menangani Ibuku.
Dia menunjukkan hasil rontgen kepala Ibuku, menunjukkan seperti gumpalan di bagian yang tidak seharusnya.
"Itu berukuran kecil.." komentarku.
"Yeah, itu masih sebesar telur burung puyuh dan bisa membesar hingga sebesar bola kasti..."
Aku melipat tanganku, "Berapa biayanya?"
"Untuk biaya operasi $3400, ditambah obat--"
"Sekitar berapa jumlahnya?" potongku. Aku tidak ingin mendengar dia menjelaskan apa-apa lagi. Yang perlu kudengar adalah biaya pengobatannya, "Harga keseluruhan untuk operasi ini dan lainnya..."
"$8500, Ms.."
Aku diam. Itu uang yang sangat banyak.
"Em.." bisik Hailey saat aku hanya diam saja. Dia menyentuh pundakku dengan tangannya yang bergetar. Well, mungkin dia syok mendengar nominal jumlah uangnya
"Kapan operasianya bisa dilakukan..."
"Paling cepat dua minggu. Kami tidak bisa melakukannya sesegera mungkin karena adanya protokol kesehatan yang harus kami ikuti..."
Aku mengangguk-angguk, "Buatlah jadwal dua minggu dari sekarang, Dok.."
"Anda bisa mengurusnya di bagian administrasi, Ms..."
"Okay, baiklah.. Kami akan pergi. Terimakasih, Dok.."
Kami segera keluar dari ruangannya dan berjalan di lorong rumah sakit.
"Dari mana kau akan mendapatkan uang sebanyak itu?" tanya Hailey akhirnya.
Aku tidak tau.
"Aku akan mendapatkannya jadi tenanglah..."
"Tapi, bagaimana? Itu bukan jumlah yang kecil, Em..."
Itu jumlah yang sangat besar.
"Aku akan mencarinya, jadi kau tenanglah. Jemput Will dan bawa dia ke sini. Aku harus pergi sekarang.."
"Em.. Apa kita akan baik-baik saja?" suaranya bergetar
Aku memegang kedua bahunya dan jelas tau apa yang dia pikirkan, "Tenanglah. Aku tidak akan menggadaikan rumah kita dan aku berjanji bahwa semua akan baik-baik saja..."
"Okay.." ucapnya sedih dengan mata berkaca-kaca.
Aku menggeleng kepalaku, "Jangan menangis, Hail. Apa pun yang terjadi. Berhentilah cengeng dan kuatlah. Berjanjilah.." ucapku tegas.
"Em.." dia hampir ingin menangis.
"Aku serius, Hail. Berhentilah menjadi wanita cengeng. Air matamu tidak akan memperbaiki apa pun."
Dia menarik napas, "Okay. Aku tidak akan menangis."
"Bagus.." aku melepaskan tanganku dari bahunya dan merogoh saku jaketku, "Belilah makanan untuk kau dan Will. Jangan terlihat sedih di depan Will..." aku memberikan uang dan dia hendak menolak.
"Sialan, Hail. Terima saja uang dan pergi makan. Aku tau kau belum makan dan lagi pula, aku memberikan ini agar Will bisa makan siang dengan layak..." aku memasukkan uang itu ke dalam sakut jaket Hail.
"Trims, Em..."
"Baiklah. Aku akan pergi." lalu aku pergi meninggalkan Hailey dengan langkah cepat. Dan menyadari bahawa aku benar-benar tidak tau bagaimana mencari uang sebanyak itu. Aku benar-benar tidak tau.
****
Aku menggaruk leher belakangku yang tidak gatal seraya melihat keadaan di luar toko kaset. Aku melihat orang-orang yang memakai setelan rapi yang berwajah kapitalis. Apa mereka memiliki masalah hidup yang lebih berat dariku?
"Em.. Kau tidak ganti baju? Shfit kita sudah selesai..." aku tersadar dari lamunanku saat mendengar suara Alice. Aku melihat ke arah Alice yang sudah mengganti bajunya dan aku melihat tanganku sendiri yang memegang kain pel.
"Well...." bisikku, agak bingung. Sial. Angka $8500 itu selalu berputar di kepalaku.
"Kau melamun sepanjang hari, Em... Aku akan pergi sekarang. Bye.."
"Bye..."
Aku memasukkan kain pelku ke dalam ember yang berisi air kotor dan berjalan menuju kamar ganti. Saat melewati kasir, aku sudah melihat tiga wanita pengganti shift kami. Aku tidak repot-repot untuk menyapa mereka karena aku tidak mengenal mereka. Lagi pula, ramah-tamah bukan hal lumrah di kehidupan New York.
Aku meletakkan ember di depan pintu ruang ganti dan segera masuk ke sana. Membuka lokerku dan segera mengganti baju. Memakai sweater, syal, dan jaket tambahan. Suhu New York semkain dingin. Aku mengetatkan tali sepatu botku sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu. Dan yang kulakukan setelahnya adalah berjalan mengelilingi jalanan New York.
Aku kebingungan. Pikiranku stuck. Tidak ada satupun jalan keluar dalam kepalaku. Aku menelpon beberapa jasa peminjaman sejak meninggalkan rumah sakit tadi pagi dan mereka memberi syarat yang berat, lagi pula aku tidak punya sesuatu yang bisa kuberikan untuk jaminan. Aku tidak punya perhiasan, mobil, dan apa pun yang layak untuk digadai. Aku hanya punya diriku dan rumah.
Aku memutar mataku. Aku tidak akan menggadaikan rumah kami atau kami akan menjadi gelandangan. Tidak. Lalu apa? Hanya diriku. Dan apa yang bisa dilakukan tubuh sialanku ini. Kurus, kecil, dan kerdil. Menjual ginjal pun aku ragu karena ginjalku mungkin sudah rusak karena pola makanku yang buruk.
Aku membuang ludahku dan menarik topi kuplukku semakin dalam untuk menutupi daun telingaku yang membeku. Baru kali ini aku terjebak oleh keadaan, biasanya aku selalu memiliki ide untuk menyelamatkan kami. Namun tidak kali ini, otakku seolah berhenti berfungsi. Aku kehilangan ararh.
Ahk! Aku berteriak dalam hatiku lalu menarik napas. Menarik napas hingga pikiranku jernih seraya tetap berjalan melewati arus manusia. Akhirnya kakiku membawaku ke kereta bawah tanah. Aku melipat bibirku menjadi garis keras sebelum akhirnya pergi memasuki gerbong.
****
Aku berjalan menuju rumahku yang sepi dan tentunya rumah George ramai seperti biasa. Jika aku memiliki tank sati ini juga, aku bersumpah meledakkan dan merobohkan rumah mereka, bahkan melindas mati para manusia sialan itu hingga kemarahanku surut.
Bayangan itu sudah ada di kepalaku, tapi yang kulakukan adalah memasukkan kedua tangan kurusku ke saku jaket dan memandang rumah itu dari kejauhan. Seperti biasa, tidak banyak yang bisa kulakukan jika aku masih tetap Emilya yang miskin dan menyedihkan.
Akhirnya aku melangkahkan kaki menuju teras rumah dan memasukkan kunci pintu yang ternyata tidak terkunci. Seketika alarm bahaya dalam kepalaku berdering. Hailey tidak pernah meninggalkan rumah kami tidak terkunci, ada atau tidak adanya orang di rumah. Aku menekan handel pintu dan membuka pintu itu. Suara derit engsel pintu yang tidak pernah diminyaki terdengar mengerikan karena pintu dibuka perlahan.
Tanganku bergerak ke balik pintu, tempat tongkat baseball yang sengaja kami tempatkan di sana. Lokasi perumahan kami yang kumuh cukup memberi kami kewaspadaan ekstra karena banyaknya pencuri, orang gila, dan orang orang aneh lainnya di daerah ini.
Aku memegang tongkat itu dengan mantap dan berjalan perlahan menuju lantai atas, berusaha seminimal mungkin mengurangi decitan di setiap langkahku di tangga. Saat aku di lantai atas, mataku langsung menangkap pintu kamarku yang terbuka.
Keheningan semakin membuat jantungku berdetak keras, memenuhi pendengaranku. Napasku memburu saat aku menggerakkan pintu semakin terbuka, tanganku mencari-cari tombol lampu di dinding dan segera menyalakannya. Aku melihat kamarku yang kacau.
Semua baju dari lemari berserakan di lantai, sarung bantalku di buka, bukuku di lempar dari rak buku seolah pencuri itu tau bahwa aku menyimpan sesuatu yang di kamarku dan dia berhasil menemukannya. Aku melihat kotak kayu persegi berukuran 20 cm, tempat aku menyimpan kalung permata dari Max, 3 buku tabunganku, dan kartu debitku.
Kosong.
Sial!! Dia mengambil semua yang kupunya dan bodohnya aku menulis password kartu debitku di buku tabungan. Menangis pun ku tidak bisa. Astaga!! Itu buku tabungan yang kukhususkan untuk persipan masa depan Will, masa depanku dengan Max, dan masa depan Hailey. Aku sengaja menyisahkan gajiku setiap bulan untuk itu semua dan sialnya, habis dalam sekejap mata.
Lalu sebuah kilatan merah kecil nampak pada ujung mataku. Aku melihat ke arah tempat tidurku yang acak-acakkan. Aku berjalan ke arahnya dan mengambil sehelai rambut berwarna merah dari sepreiku yang berwarna putih. Aku mengangkatnya ke depan mataku.
"Julia!!!!"
****
MrsFOX
As you see gais, aku tidak bisa update sering karena dunia perkuliahanku udah mulai dan aku cukup sibuk karna beberapa hal.Kalau kalian bersabar, trims banget. Kalo engak pun, tak ape". Kalian bisa balik sekitar sebulan lagi kalo epsku udah banyak, tapi jangan lupa simpan dalam favorit gais. Mana Harry nya yang judulnya ajah nama dia tapi tak pernah muncul? wkwk. Sabar yah, kita buat perlahan dan karna ini masih tahap awal. Bye and lop yuh