Harry's Love Story

Harry's Love Story
Don't Stop, Hurry Up (21+



Happy Reading


***


"Baiklah, aku akan menghubungi pihak mereka dan membicarakan tentang perluasan penjualan itu.." ucapku pada Ayah. Aku menundukkan kepalaku sedikit sebelum akhirnya bergerak dari tempatku.


Aku berjalan kembali ke tempat semula saat aku meninggalkan Emilya seraya memasukkan ponselku kembali ke dalam saku celanaku. Aku harus berjalan sekitar tiga menit sebelum akhirnya sampai di lorong itu. Aku menghentikan langkah kakiku saat melihat Emilya masih berdiri membelakangiku di tempat semula bersama Bastian yang berdiri menghadapku.


Aku bisa dengan jelas melihat wajah Bastian karena dia jauh lebih tinggi dari Emilya. Bastian tersenyum kecil pada Kenny, senyum yang selalu dia berikan saat menggoda wanita. Seolah sadar di tatapi, Bastian menoleh ke arahku, dia mengganggukkan sekali kepalanya sebelum akhirnya berjalan menuju belokan lorong yang lain.


Aku melangkahkah kakiku lebar-lebar menuju Emilya yang masih berdiri di sana. Aku segera memegang bahu dan memutar tubuh Emilya ke arahku. Dia tersenyum tegang dan canggung padaku.


"Ada apa?" tanyaku dan dia melihat canggung ke arahku.


"Tidak kenapa-kenapa kok..."


"Em.. Apa yang dikatakan Bastian?"


Dia menarik napas dan tersenyum hangat padaku, "Dia mengejutkanku dengan muncul tiba-tiba dihadapanku. Kau tau jelaskan bagaimana reaksiku saat dikejutkan tiba-tiba?"


"Lalu?" ucapku dengan nada sedikit lebih menuntut.


"Lalu? Yah tidak ada lagi... Dia hanya meminta maaf dan kami berbicara tentang karyanya...."


"Hanya itu?"


"Yah, hanya itu..." dia tersenyum hangat padaku dan aku segera mengelus wajahnya.


Dalam hati aku berbisik bahwa aku tahu Emilya sedang berbohong padaku. Jelas dia berbohong.


"Kau mau melihat kamarku?" bisikku.


"Boleh?"


"Kenapa tidak?" aku mengarahkan dia untuk berjalan menuju tangga.


"Cassie berkata bahwa tidak ada orang lain selain keluarga dan pelayan yang pernah memasuki kamarmu..."


"Dia melebih-lebihkannya..." Karena Kenny dan Lolita pernah masuk ke dalam kamarku.


Kami menaiki tangga menuju lantai tiga dan berjalan ke arah sayap kanan. Setelah di depan pintu kamarku, aku merogoh sakuku dan mengambil kunci kamar milikku, lalu memasukkannya ke lobang kunci. Dan segera, pintu terbuka tanpa terdengar deritan sedikitpun. Setelah kami melangkah masuk, lampu segera menyala otomatis.


Emilya melihatku dengan tatapan kagum seraya mengangguk-anggukkan kepalanya, "Kamar dan teknologi canggih."


Aku menutup pintu dan berjalan mengikuti Emilya yang tampak kagum dengan kamarku. Warna kamarku didominasi warna coklat, putih, hitam, dan abu-abu. Ada tempat tidur yang langsung mengarah ke arah balkon kamar ini, di sisi lain ada piano di samping jendela, meja kerjaku, kamar mandi, dan satu ruangan khusus untuk pakaianku, serta sofa santai dan televisi.


"Piano?" ucap dia dan segera berjalan ke arah piano itu, "Bolehkah?" dan aku segera mengangguk untuknya.


"Trims..." ucapnya girang dan segera menarik kursi itu, "Tapi aku tidak tau cara memainkan ini... Aku hanya tau lagu 'little-little star'.." ucapnya seraya menekan-nekan tutsnya. Aku tersenyum kecil dan segera bergabung dengannya untuk duduk di depan piano.


"Kau bisa memainkan ini?"


"Tentu saja..." aku segera memainkan beberapa nada dengan begitu cepat.


"Whoa...." Emilya segera bertepuk tangan, "Keren... Apa lagi yang tidak bisa kau lakukan di dunia ini, Harry? Kau berbakat dalam hal apa pun..."


"Tentu saja...." gumamku dengan nada bangga, "Mari kita mainkan lagu 'little-little star itu...."


Emilya mulai menekan tuts dan aku segera mengiringi lagi itu dengan nada berbeda, tapi tetap menyatu. Dia tertawa senang saat nada yang kami mainkan begitu serasi. Aku memandang wajahnya dan merasakan kebahagian juga. Aku tersenyum senang dan memainkan lagu sederhana itu penuh dengan kebahagian.


Perlahan nada lagu semakin lambat karena lagunya hampir sampai. Melambat dan jemariku menekan tuts yang sama dengan Emilya dalam menutup lagu itu.Aku melihat wajahnya yang berseri dan merasakan bahwa pancaran kebahagian itu sampai padaku. Aku menggenggam jemari Emilya dan dia menoleh ke arahku.


Aku mengarahkan tangan kananku untuk mendorong wajahnya ke arahku, dia memejamkan matanya dan aku segera mencium bibirnya dengan lembut. Kepalaku dan kepalanya beradu ke kanan dan ke kiri. Aku mendorong kepalanya semakin dekat padaku.


Aku mengangkat tubuhnya dan tubuhku untuk berdiri. Emilya melingkarkan kakinya pada pinggulku dan tangannya digantungkan pada leherku. Aku membaringkan Emilya di tempat tidur dan menjauhkan bibirku dari dia. napasku dan napasnya terengah. Aku mengelus wajahnya yang memerah dan mengecup pipinya sekilas.


"Kau lebih cantik dari pada yang kubayangkan..." bisikku


"Harry.... Kita tidak bisa melakukan ini di sini...." bisiknya, "Orangtuamu..."


Aku menunduk, "It's okay... Sekeras apa pun kau berteriak, mereka tidak akan mendengarnya.. Aku janji..." bisikku di telinganya. Lalu bibirku merayap ke daun telingan dan menghisapnya.


"Ah...." Suara Emilya terdengar begitu lembut.


"Aku ingin kau berteriak kenceng, Em... Sangat kencang."


Aku menarik sweaternya hingga terlepas dari tubuhnya, meninggalkan dia dengan bra warna ungu.


"Ungu? Seleramu selalu unik, Em..."


Aku mengangkangi Emilya dan segera membuka sweater dan kemejaku. Aku menunduk kembali dan mulai menciumi lehernya dan menghisapnya lembut.


"Ah.. Haryy..." bsiknya pelan.


"Kau suka?" tanganku menarik lembut bra Kenny ke bawah hingga payudaranya yang mungil menyembul ke atas.


"Yah... I like it...."


"Ini suka?" aku mengembuskan napasku pada dadanya dan..


"Ah--k.... Harry...."


"Jawab..." aku mengembuskannya lagi dan Emilya melengkungkan punggungnya ke arahku.


"Don't stop... Please..." bisik Emilya putus asa.


"Jawab..." tuntut lagi seraya menyentuh permukaan pucuk dadanya sekilas.


"AH!.. Aku suka... Oh my... Demi apa pun aku suka... Don't stop!!"


Aku segera memenuhi mulutku dengan payudara milik Emilya. Aku menghisapnya, menggulung, dan meremasnya dengan lembut. Tanganku perlahan turun dan memasukkan tanganku ke balik rok Emilya. Lalu aku menekan di titik pusat milknya.


"Harry!! Harry! Harry!" dia memekik dengan kencang dan aku sangat menyukainya.


"Sial, Em... Kau membuatku gila...."


Aku menuruni tubuh Emilya tanpa melepas mulutku dari kulitnya. Aku mencium kulit perutnya perlahan. Lalu aku menyibakkan rok lipatnya ke atas, menampilkan stocking hitamnya. Aku melirik dia dan tersenyum miring. Dia melihatku juga dengan tatapan gelap dan napas terengah.


"Aku suka kau dalam balutan stocking hitam, Em.... Kau harus lebih sering memakainya..."


"Harry..." bisiknya dan aku segera menurunkan stocking dan celana dalamnya secara bersamaan hingga sampai siku kakinya. Aku tersenyum miring dan mendekatkan wajahku pada kewanitaan Emilya, lalu menghirup miliknya.


"Kau sangat wangi.. Sangat wangi..."


Tanpa aba-aba, aku segera memenuhi mulutku dengan milknya. Menghisapnya lembut.


"Harry! Harry! Ahk... Teruskan... Terus..." Emilya mendorong kepalaku semakin dalam ke dalam miliknya. Aku melakukannya terus hingga tubuh Emilya bergetar, tanda tubuhnya semakin dekat. Aku segera menjauhkan wajahku dari miliknya dan segera Emilya mendesah kecewa.


"Aku akan membuat puncak terbaik untukmu, sayang..." aku mengusap payudaranya dan segera membalikkan tubuhnya hingga wajahnya mengarah ke ranjang. Aku melepas gesperku dan membuka resleting celanaku. Aku menarik perut Emilya mendekat ke arahku, memukul bokongnya sekali, dan.....


"Ah.. Sial..." umpatku saat milikku memenuhi milik Emilya.


"Harry.." bisik Emilya seolah kewalahan


Aku menggulung rambut panjang Emilya dengan tangan kiriku dan tangan kananku memegang pinggul Emilya. Aku mendorong dengan keras hingga terdengar decitan. Tempat tidur bergerak seiring gerakan kami. Aku mendoorng lagi dan lagi.


"Harry.. Ah...... Ah!!!!" aku memutar pinggulku hingga milikku semakin masuk.


"Em.. Em..."ucapku dengan nada rendah. Sial... Ini terlampau nikmat


Aku mendorong sekali dengan keras.


"AH!!"


Mendorong lagi dengan keras.


"HARRY!!!"


"Teriakkan namaku, Em..."


Aku memutar pinggulku dan tubuhku mulai bergetar tanda puncakku akan datang. Aku mendorong dengan keras dan pelepasan itu akhirnya datang. Puncak yang begitu menggetarkan


"Emilya!!"


Aku segera ambruk di samping Emilya. Sial, aku masih menginginkannya, tapi aku melihat wajah kelelahan Emilya. Aku segera menarik tubuhnya ke arahku dan membantu dia membalikkan tubuhnya ke arah atas. Aku mendekap Emilya yang terengah-engah.


"Kau masih menginginkannya?" bisik Emilya saat merasakan kejantananku menusuk pahanya.


"It's okay... Kau sudah melampaui batasmu, Em..."


"Aku masih bisa menahannya..."


"Tidak, Em... Kesehatanmu adalah yang utama..."


"Trims, Harry... Kau benar-benar pria yang baik..."


"Uhm..." gumamku lalu Emilya menguap dengan keras hingga dagu dan pipinya bergetar.


Aku mengusap rambutnya, "Tidurlah...""


Aku mengecup pucuk kepalanya dan perlahan Emilya masuk ke dalam dunia mimpi


***


Emilya POV


Aku bangun saat cahaya matahari lembut menyentuh wajahku. Aku mengedip-edipkan mataku dan perlahan sadar. Aku segera duduk dan mengusap mataku. Aku sudah melihat furniture yang berbeda, lalu jendela besar yang mengarah pada pemandangan kota New york. Aku sudah berada di pent-house milik Harry. Aku juga memakai pakaian milik Harry yang kebesaran pada badanku. Harry terpaksa membangunkanku dari tidur saat di rumah orangtuanya.


Aku menoleh ke arah lain dan melihat nampan manakan di atas lemari kecil di samping tempat tidur. Aku segera merangkak dan mengambil nampan itu. Ada bacon, telur,sosis, roti, dan segelas jus jeruk di sana. Aku mengambil kertas kecil yang ditulis sesuatu oleh Harry


'Makanlah.-H'


Aku memutar mata. Aku menyadari beberapa sifat Harry yang baru. Dia cukup suka memerintah orang lain. Makanlah. Lakukan itu. Jangan begitu. Minum. Dan banyak kata perintah yang lain. Mungkin itu kecenderungan seseorang yang memiliki jiwa kepemimpinan.


Aku tetap memakan sarapanku dan mataku melihat tas kecilku yang berada di atas sofa. Aku mengambil nampanku dan berjalan ke arah sofa. Aku menaruh nampan di atas meja dan duduk di atas sofa. Aku mengambil ponselku. Dan segera aku mematung dan membuka melihat nama Julia ada di sana.


Aku segera membuka pesan Julia dan jantungku seolah berhenti berdetak. Dia mengirimiku beberapa fotoku dan harry saat di halaman depan rumahku. Ini foto dua hari yang lalu. Sial. bagaimana bisa dia menemukan ini. Lalu aku membaca pesan di sana.


'Hai, Kak... Ternyata kau tidak sebaik yang kubayangkan.'


Aku segera memejamkan mata dan membayangkan wajah liciknya saat menulis pesan ini. Aku segera menekan nomornya dan mengarahkan ponsel ke arah telingaku. Hanya hitungan detik, Julia segera menerima panggilan.


"Wah... Hai kak..." ucap Julia dengan nada ceria yang menyebalkan.


"Apa yang kau inginkan?" ucapku dingin.


"Whoa... Kakak ingin langsung ke intinya yah?"


"Berhenti memanggilku kakak. Kau ada di mana?"


"Oh.. Aku? Tentu saja berada di rumah kita, Kak...."


Aku segera memutuskan panggilan dan bergegas untuk pergi.


***


Aku segera masuk ke dalam rumah tanpa melepas sepatuku. Aku berjalan melewati dapur dan melihat Hailey sedang duduk di sana bersama Will yang sedang menikmati sarapannya. Wajah Hailey nampak tegang dan dia segera berdiri dan berjalan ke arahku.


"Em.. Julia berada di kamarmu?" ucapnya pelan


"Bagaimana bisa?" bisikku dengan nada marah.


"Dia memaksaku, Em.. Aku tidak berbuat banyak..."


Sial. Aku segera berlari menaiki tangga dan menuju kamarku. Aku segera membuka kamar dan melihat Julia sedang berbaring di atas tempat tidurku. Dia segera bangkit dan senyum sumringah padaku. Aku benci cara dia tersenyum, begitu meremehkan.


"Oh.. hai, Kak..."


"Jangan panggil aku kakak..."


Dia tersenyum miring, "Hai, Em..."


"Apa yang kau inginkan?"


"Tidak ada...'


"kau butuh uang? Akan kuberikan.."


"Uang... Ini bukan hanyaa tentang uang..."


"Sialan, Julia... Berhenti berbicara dengan nada menyebalkan seperti itu...."


"Aku penasaran tentang sesuatu, bagaimana jadinya jika Hailey dan Max tau tentang ini?"


Aku maju selangkah...


"Em.. Aku sudah menunggu saat-saat seperti ini. Di mana kau benar-benar terjepit olehku...."


***


MRSFOX


Bisa tebak gimana Julia bakal buat masalah?