Harry's Love Story

Harry's Love Story
LA and Probs



Happy Reading


***


Harry POV


"Kita akan melakukannya dengan cepat. Aku janji...."


"Harry. No...Aku tidak akan melakukannya di sini...."


"Kru pesawat sudah kusuruh tidak datang..." aku menarik tangannya menuju salah satu ruangan.


Dia memutar tangannya, "Jangan gila... Aku tidak akan melakukannnya di sini. Tidak saat kita berada di ketinggian seperti ini...."


"Kau takut guncangan yang kita buat akan mengguncang pesawat ini?" ucapku dengan nada jenaka.


Dia memutar matanya, "Tidak lucu... Aku sedang tidak dalam mood untuk melakukannya...."


"Jadi kau tidak mau?"


Dia memejamkan mata seolah memikirkan sesuatu.


"Uhk... Membayangkannya membuatku geli..." dia tersenyum canggung, "Kita lakukan di daratan saja yah...." ucapannya begitu ambigu hingga membautku merasa aneh. Apa bedanya daratan dan udara?


Aku mengangkat satu alisku, "Ok..." jawabku singkap dan segera berjalan kembali ke tempatku.


"Kau marah?"


Dia mengikutiku di belakang dan ikut duduk setelah aku duduk.


Aku tersenyum padanya, "Hubungan intim bukanlah hal yang harus dipaksa, Em...."


Dia menggaruk belakang lehernya, "Ini pertama kalinya aku terbang dengan pesawat seperti ini jadi ada rasa khawatir dalam diriku...."


"It's okay, Em.... Aku tidak kecewa..."


Dia menggigit bibir bawahnya dan aku bersumpah ingin mengggigit itu juga.


"Tempat terjauh apa yang pernah kau kunjungi?" tanyaku, berusaha mencairkan suasana.


"Entahlah... Aku belum pernah meninggalkan daratan Amerika seumur hidupku...."


"Apa ada negara yang ingin kau kunjungi?"


"Swiss..."


"Kenapa kau ingin ke sana?"


Dia menyandarkann kepalanya di punggung kursi dan melihatku, seolah membayangkan kota itu di wajahku.


"Aku suka, begitu hijau dan kosong.. Melihat gambarnya saja sudah bisa kubayangkan betapa sejuknya udara di sana..."


"Kita akan ke sana lain kali..."


Dia tersenyum kecil padaku, "Jangan ucapkan sesuatu yang tidak bisa kau jamin..."


"Apa aku tampak seperti orang yang tidak bisa menjamin kata-kataku sendiri?"


Dia menatapku dengan tatapan jernih itu lagi, aku bersumpah ingin membaca pikirannya. Apa yang dia pikirkan, bagaimana cara pandangnya akan sesuatu, bagaimana cara berpikirnya, dan aku ingin mempelajari hal kecil apa pun tentangnya.


"Entahlah...." bisiknya, "Aku ingin menanyakanmu sesuatu..."


"Apa?"


"Apa kau segitu sukanya pada Kenny Sharp hingga password apartemenmu tanggal lahirnya?"


Dia juga mengingat hal kecil tentangku. Itu membuatku berharga dan ketakutan secara bersamaan. Aku merasa berharga karena dia tau detail kecil tentangku tanpa memberitahunya, lalu takut bahwa dia akan mengetahui tentangku terlalu banyak.


"Yah, suka..."


"Aku ingin bertemu dengannya..."


"Kenapa?"


"Kenapa? Konyol... Karena apa lagi? Jelas karena aku suka dia..." dia tertawa kecil.


"Akan ada pesta tahunan, kau mau datang denganku. Kupikir kau akan bertemu dia di sana..."


Sejenak, aku langsung menyesali perkataanku. Sial, terkadang aku bingung kenapa aku selalu mengatakan hal-hal bodoh jika di dekat Emilya. Biasanya aku adalah orang yang selalu berpikir di setiap perkataanku. Akan tetapi, tidak saat di dekatnya.


"Pesta? Pesta orang elite? Aku tidak datang ke tempat seperti itu..."


"Kenapa?"


Sekarang, entah mengapa aku berharap bahwa Emilya akan mengiyakan ajakanku. Dia terlalu sering menolakku dan itu sedikit melukai harga diriku. Aku bisa saja memaksanya, tapi ada dorongan dalam diriku ingin selalu berbuat baik padanya. Aku berpikir jika aku melakukannya karena rasa ibaku akan situasi keluarganya.


"Look at me.... Tidakkah sudah jelas? Itu bukan tempatku..." ucapnya.


"Kau cantik, Em..."


"Jangan mengada-ada...."


"Orangtuaku akan senang jika aku bisa membawamu ke pesta itu..."


Aku kembali membawa nama orangtuaku kemari.


"Kau juga akan bertemu Kenny di sana..." jantungku berdetak keras saat membayangkan aku akan menemuinya di sana. Aku selalu menghindari menghadiri pesta seperti apa pun, ketakutanku saat bertemu Kenny dan Scout. Rasa iri dan dengki yang akan muncul saat melihat tawa mereka. Dan rasa marah yang akan muncul saat membandingkan keadaan mereka denganku. Itulah beberapa alasan kenapa aku tidak pernah menghadiri perjamuan atau pesta jika Scout ada di daftar tamu.


"Aku tidak yakin, kita lihat keadaan saja..." dia memutar tubuhnya, "Aku ingin istirahat..."


Aku melihat punggung Emilya yang kecil.


"Apa ini karena Max?"


"Tidak, dia tidak ada hubungannya..."


"Lalu?"


Ada jeda di sana, sebelum akhirnya Emilya menarik napas yang panjang lalu menghembuskannya dengan helaan panjang..


"Bagaimana denganmu?" tanyanya balik.


"Apanya?"


"Apakah kau benar-benar ingin mengajakku ke pesta atau apalah itu karena memang ingin mengajakku atau kau memiliki maksud lain?"


"Maksudmu?"


Dia memutar tubuhnya sehingga aku bsia melihat ekspresi wajahnya yang datar.


"Apa wanita yang kau cintai itu akan berada di pesta itu?"


"Wanita?"


"Jawabannya hanya ya atau tidak, Harry.. Apa wanita yang kau cintai itu akan berada di pesta itu?"


Dia menatapku lekat seolah ingin menelanjangiku. Tatapannya yang jernih dan polos seolah mendesakku untuk mengatakan yang sebenarnya. Aku tau arah pembicaraan ini ke mana. Aku tau bahwa Emilya berpikir bahwa aku mengajaknya karena aku sedang berusaha membuat kecemburuan terhadap 'wanita' yang sedang kami bicarakan ini.


"Ya.."


Dia mengedipkan matanya tiga kali sebelum akhirnya bicara, "Aku senang kau berkata jujur padaku, Harry."


"Jika kau merasa terbebani atau apa, kau tidak harus menerima tawaranku. Lagian aku juga--"


"Aku akan pergi..."


"Apa? Kenapa berubah pikiran secepat itu?"


"Aku ingin wanita itu melihat bahwa kau baik-baik saja walau sebenarnya tidak..."


Aku tertawa, "Em.. Apa kau berpikir bahwa aku sedang berusaha untuk--"


"Harry..." potongnya serya berdiri dan berjalan ke arahku. Aku menengadah untuk melihatnya, bola matanya gelap. Tatapannya dalam.


"Ada yang salah?"


Dia menatapku dalam diam, wajahnya terlihat cekung saat aku melihat dari bawah. Meninmbulkan kesan mengerikan. Dia terlalu kurus.


"Yah..." bisikku.


"Apa wanita yang kau cintai itu yang kau maksud?"


Aku segera berdiri hingga tinggiku menjulang tinggi melewati Emilya, membuat dia harus menengadah padaku. Aku mengelus wajahnya pelan dan mataku menatap bola matanya yang hampir menghitam karena pupil. Aku bingung kenapa itu membesar, apakah karena nafsu? Atau karena marah? Apa? Karena apa? Kenapa sangat sulit membaca wajahnya?


"Kau baik-baik saja?" tanyaku.


"Jawab saja, Harry..."


Aku menyelipkan helai rambutnya ke balik telinga, "Yah... Kau mengingatkanku padanya..."


"Apa karena itu kau membuat kontrak?"


"Setengah karena kau nampak seperti dia, setengah lagi murni karena kebutuhan..."


Dia segera menarik kepalaku mendekat dengan mengalungkan tangannya pada leherku.


"Kalau begitu perlakukan aku dengan seharusnya..."


Dia menciumku dengan tergesa-gesa dan aku segera mengikuti, mengimbangi gerakannya. Aku mengarahkan Emilya melewati lorong antar kursi pesawat menuju ruangan kecil dalam pesawat dengan tetap mempertahankan posisi bibir kami.


Aku membuka dan menutup pintu, Emilya dengan cepat dan gerakan terkesan tergesa-gesa membuka kemeja dan sweaterku. Aku segera menghentikan kegiatan yang dia lakukan dengan menahan kedua tangannya. Dia menatapku.


"Kenapa?" tanyanya


"Semua baik-baik saja? Jangan memaksakan diri.." aku mengelus wajahnya, "Aku senang melakukan seex jika lawan mainku juga menikmatinya.. Jangan lakukan karena merasa terpaksa..."


Dia menarik napas dan segera menjauh dariku. Dia memijit kepalanya dengan tangan dan satu tangan yang lain di pinggulnya. Dia dan gaya khasnya.


"Sial, aku kacau..." bisiknya.


Aku berjalan mendekat dan dia segera menahanku dengan mengangkat tangan kirinya padaku, "Stop... Aku tidak ingin melakukannya lagi..."


"Ada apa? Kenapa kau bertingkah membingungkan..." Jujur, aku bingung dengan suasana perasaannya yang sangat cepat berubah.


"Wanita selalu bertingkah membingungkan, Harry..."


"Em.. Ada yang salah?" aku berjalan mendekat dan dia menjauh. Dia menatapku ngeri.


"Apa kau hanya menganggapku sebagai partner pemuas nafsu?"


"Kenapa pembicaraan kita lari ke sini?"


"Ya atau tidak?"


Aku mendengus, "Yah..." kebohongan lain.


Dia menarik napas panjang dan membuangnya, "Baguslah..." dia sedikit tertawa, "Baguslah..." Dia senang atau kecewa? Kenap dia tidak membuat segalanya jelas?


"Ada yang salah?"


Dia menggeleng, "Tidak. Tidak ada yang salah. Aku hanya sedikit kacau."


Dia berjalan melewatiku dan aku mencegatnya.


"Mau kemana?"


"Kau masih ingin melanjutkan yang tadi?" tanyanya dengan nada sedikit mencemooh.


"Em... Kau kacau..." ucapku dengan nada marah dan nada menuduh. Dia di luar nalar. kenapa aku merasa rendahan saat dia menanyakan itu?


"Jika tidak, aku ingin kembali ke kursiku untuk tidur.."


"Terserah padamu saja..." aku melepas tangannya dan dia segera pergi. Aku menatap kepergiannya dan merasakan rasa bersalah, rasa aneh, dan rasa menggelitik di dadaku. Aku tidak suka perasaan membingungkan ini. Sial. Kenapa? Apa yang salah?


****


"Em... Kau tidak makan?" aku menggoyang sedikit tubuh Emilya. Dia sudah tidur lima jam sejak kami sampai di Los Angeles. Ini sekarang sudah pukul delapan malam.


"Makan?" ucapnya linglung seraya bangkit dan duduk. Dia mengucek matanya dan menguap keras.


"Yah... Ayo makan..."


"Aku ingin tidur..." dia segera berbaring lagi dan aku menarik tubuhnya.


"Kau butuh makan." nadaku sedikit keras sekarang dan dia segera membuka matanya.


Dia menggaruk rambutnya seraya bangkit berdiri, "Sial.. Setiap kau membuat nada itu, setiap selku serasa bangkit dari kematian..."


"Kau butuh makan..." ucapku lembut seraya ikut berdiri di sampingnya


"Di mana ikat rambutku?" dia mencari-cari di meja kecil samping tempat tidur.


"Kau lebih cantik jika menggerai rambut..."


"Benarkah? Aku akan menggerai rambut kalau begitu..."


"Ayo..." Aku melingkarkan tanganku di sekitar pinggangnya setelah dia memakai sendal. Kami keluar dari kamar dan berjalan di lorong hotel. Dia menyandarkan kepalanya di bahuku.


"Udaranya hangat..."


"Karena kita di Los Angeles... Kita akan di hotel ini malam ini sebelum belum pindah lagi.."


"Kenapa tidak di sini saja?" kami masuk ke dalam lift.


"Ada tempat yang lebih bagus dan nyaman. Aku ingin kau melihat laut..."


Kami sampai di lantai bawah dan segera keluar dari lift. Aku memeriksa ponselku.


"Tunggu sebentar di sini, aku ke meja resepsionist..."


"Uhm.. Okay.."


Aku berjalan meninggalkannya yang segera duduk di sofa ruang tunggu, sementara aku berjalan menuju meja resepsionist untuk mennayakan mobil yang akan kusewa malam ini. Karena masih dalam masa-masa libur, aku kesulitan mencari supir dan semacamnya. Terpaksa aku menyewa mobil dan membawanya sendiri. Aku menoleh ke belakang sebentar dan melihat Emilya tengah duduk seraya memainkan ponselnya. Lalu, aku melangkah maju untuk menyelesaikan urusanku.


***


Emilya POV


Aku melihat tubuh Harry yang semakin menjauh, lalu mataku fokus ke depan. Aku melepas jaketku saat merasakan udara panas yang membuatku berkeringat. Senang rasanya bisa berkeringat lagi setelah enam bulan merasakan betapa dinginnya New York. Aku merogoh saku jaketku untuk mengambil ponsel. Aku mengaktifkan ponselku yang sengaja kumatikan saat penerbangan tadi.


Aku segera terkejut melihat ada lima panggilan tidak terjawab dari Max dan tujuh pesan tidak terbaca dari dia. Aku hendak membuka pesan Max, tapi panggilan masuk segera muncul dari dia hingga membuatku tidak sengaja menerima panggilan itu. Aku memutar mata atas kecerobohanku sendiri.


"Emilya..." ucapnya di seberang.


"Max, ada apa? Kau menelponku sebanyak lima kali. Aku mematikan ponselku tadi..."


"Tidak. Aku begitu terkejut saat tahu bahwa kau pergi ke Los Angeles..."


"Tau dari mana?"


"Tentu saja dari kakakmu. Dari siapa lagi..."


"Aku lupa memberitahumu aku ke Los Angeles karena ini rencana mendadak..." ucapku. Max tidak harus tahu semua kegiatanku.


"Em.. Aku menelponmu karena aku juga sedang di Los Angeles..."


Aku segera berdiri dan tingkat kewaspadaanku meningkat.


"Kau di LA?"


"Yah.. Astaga. Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu disini... Kita harus bertemu, di mana kau menginap, Em?"


"Menginap?" bisikku dan bertepatan dengan itu aku melihat sosok yang muncul dari dalam lift. Tubuhnya menjualang tinggi di banding yang lain hingga membuatku melihat dengan jelas. Dia memakai kaos putih dna celana selutut, saah satu tangannya di amsukkan ke dalam saku dan satu lagi mehan ponsel di telinganya. Max. Sial..


Dia memutar tubuh ke arahku dan detik itu juga mata kami bertemu. Oh my!!!!


"Max..." bisikku penuh kengerian


****


MrsFox