Harry's Love Story

Harry's Love Story
Not Now



Happy Reading


***


"Aku tidak bisa pergi sekarang...." ucapku setelah aku mengamati pintu itu. Lalu aku menatap nenekku yang melihatku tanpa emosi, "Aku harus pergi mengambil pakaianku, aneh rasanya jika aku pergi menemui Nya tanpa pakaian..."


Nenekku menganggakat sebelah alisnya.


"Apa boleh seperti itu?"


"Pergilah..." bisiknya pelan dan perlahan aku merasakan tubuhku tertarik ke dalam kegelapan. Begitu jauh, dan sangat jauh..


"Em..." suara sayup terdengar, "Bibi!" itu berubah menjadi teriakan.


Aku ingin menyuruh dia diam, tapi entah kenapa seluruh badanku berat dan tidak bisa dirasakan. Mati rasa.


"Emilya...." Itu suara lain, "Dia sudah bangun. Dia sudah bangun!"


"Bibi....!"


Will. Itu suara Will dan...


"Dokter.. Bagaimana keadaannya?"


Hailey?! Astaga. Dia berteriak begitu kencang. Aku tidak pernah mendengarnya berteriak.


"A..A.." hanya itulah yang keluar dari mulutku saat aku merasakan badanku di sentuh entah di mana, lalu mataku di buka lebar, dan diarahkan lampu terang.


"Emilya..."


Lalu perlahan mataku terbuka, mengedip-edipkannya perlahan untuk menyesuaikan pencahayaan. Lalu beberapa saat kemudian aku benar-benar bisa melihat. Wajah yang kulihat pertama kali adalah wajah Will yang basah dan memerah.


"Aunty...." bisiknya dan aku merasakan kegelian luar biasa saat dia memanggilku 'Aunty'


Lalu aku menatap Hailey dan dua orang wanita yang kuyakini dokter serta perawat.


"Semua aktivitas organnya tampak normal, tekanan darah, dan denyut jantungnya juga, tapi sepertinya dia belum bisa menggerakkan anggota tubuhnya kecuali bola matanya. Kita harus menunggu beberapa saat untuk memastikan keadaannya lebih lanjut lagi...." Jelas dokter, "Kami akan pergi, jika terjadi sesuatu silakan tekan tombol merah itu..."


"Baik, Dokter..."


"Kalau begitu, permisi..."


Aku berusaha menggerakkan tubuhku dan yang bisa kulakukan hanya menggerakkan sedikit jariku.


"Emilya..." lalu Hailey menangis lagi diikuti oleh Will.


Aku segera menutup mataku, tidak senang dengan keributan itu. Seolah menyadari, Hailey berhenti menangis.


"Kau tidak mau aku dan dia menangis?"


Aku membuka mataku dan melotot. Yah karena ribut!


"Will, jangan menangis lagi, Em akan terganggu..." lalu Will diam dan sesegukan.


Hailey menggenggam tanganku  dengan erat. Tangannya terasa lembut dan hangat. Lalu dia mengelus rambutku lembut.


"Itu tangis penuh syukur, Em...." suaranya bergetar, "Banyak yang terjadi selama dua bulan terakhir ini..."


Dua bulan?! Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin sudah berlalu dua bulan saja.


***


Seminggu. Dua minggu. Tiga minggu. Satu bulan. Akhirnya aku tidak memakai alat bantu pernapasanku lagi. Satu persatu selang penunjang kehidupanku mulai dilepaskan dan meninggalkanku hanya dengan selang infus saja. Aku melakukan tes saraf dan dokter tidak menemukan kelumpuhan apa pun padaku, tapi aku masih belum bisa bangkit dari tempat tidur tanpa bantua siapa pun. Aku masih menggunakan kursi roda, pempres, dan gips di leherku agar aku tidak banyak bergerak.


"Apa dia sudah mati?" tanyaku pada Hailey yang menyuapi dengan bubur yang begitu halus dan menjijikkan.


"Siapa maksudmu?"


"Ibu.. Ini sudah hampir sebulan sejak aku bangun. Kenapa kau tidak memberitahuku apa pun..." dia menyendokkan makanan dan aku memakannya. Pikiran melambung tinggi, memikirkan semuanya.


Ibu... Julia... Lalu Harry.


"Aku menunggu keada--"


"Keadaanku sudah jauh lebih baik, Hail.." potongku.


"Kau bahkan masih menggunakan pampres..."


Dia menyendokkan bubur itu dan aku memegang tangannya untuk menghentikan sendok itu bergerak ke mulutku.


"Katakan..."


Dia tersenyum kecil, "Setelah kau menghabiskan ini..."


Dan aku menurut menghabiskan makanan itu.


****


Tiga bulan lalu


Author POV


"Halo. Apakah ini keluarga Emilya Teatons?"


Hailey berhenti memakan makannya dan segera merasakan tubuhnya menengang.


"Yah..."


"Emilya Teatons mengalami kecelakaan mobil dan dia sudah di bawa ke Rumah Sakit Lancaster.." Hailey merasakan dunianya seolah berhenti berputar dan seluruh bulunya meremang.


"Emilya.." bisiknya dan dia tidak mendengar lagi apa pun yang dikatakan lawan bicaranya.


Sedetik. Dua detik.... Dan di detik ke sepuluh, Hailey tersadar. Hailey segera berlari saat mendengarkan Emilya ada di rumah sakit ini. Bukan sebagai pengunjung, tetapi pasien.


"Mom.." Will berteriak dan berlari menyusul Hailey, "Mom?!"


Hailey berhenti dan berjalan cepat ke arah Will. Dia berlutut di depan putranya itu lalu mengelus rambutnya.


"Kau jaga Nana, yah? Ibu pergi sebentar, okay?"


*Nana=sebutan untuk Nenek Will.


"Ada apa, Mom?" air muka Will berubah khawatir dan hendak menangis. Hailey segera memeluk tubuh mungil Will.


"Shhhh.. Shhh.. Semua baik-baik saja, Nak.."Hailey mengelus punggung anaknya, "Semua baik-baik saja..."


Lalu dia menjauhkan tubuhnya dari Will, "Sekarang bisakah kau menjaga Nana?"


Will mengangguk keras.


"Anak baik.." Hailey mengecup pipi Will sekilas, "Ibu pergi sebentar, yah?"


"Yah, Mom.."


"Jangan lupa habiskan makananmu, Emilya mencari uang untuk makan kita dengan susah-payah. Okay?"


Will mengangguk.


"Anak pintar... Mom pergi dulu, yah..."


Hailey segera bangkit berdiri dan berlari. Berlari menuju Emilya.


***


"Terlalu banyak kerusakan organ vital..." itulah yang diucapkan dokter itu setelah operasi Emilya selesai. Delapan jam. Itu waktu yang sangat lama. Hailey di sana, duduk di lorong yang sepi seraya menatap pintu ruang operasi itu penuh harap. Hailey menatap dokter yang duduk di depannya.


"Operasinya gagal?" tanya Hailey.


"Bukan gagal, Mrs. Teatons. Kecelakaan itu membuat beberapa tulangnya patah dan retak, untungnya itu tidak menyentuh jantungnya, tapi itu menimbulkan kerusakan parah pada hatinya..."


Kerusakan?


"Untuk saat ini kami menggunakan mesin untuk membantu Emilya bertahan, tapi itu tidak bisa bertahan lama."


Aku menatap kosong dokter itu, "Apa artinya?"


Hailey meraskan setetes air mata mengalir dari sudut matanya.


"Anda harus mencari pendonor hati sesegera mungkin, Mrs.Teatons..."


"Yah.. kalau begitu saya permisi. Terima kasih, Dokter..." Hailey bangkit berdiri dan tidak mendengar apa-apa lagi. Dia keluar dari ruangan itu dengan lesu. Lalu dia berjalan menuju ruangan Emilya di rawaat. Dia sudah melihat Will dan Ibunya berdiri di depan kaca besar yang menujukkan keadaan di dalam ruang rawat Emilya.


Ini adalah ruangan khusus dan tidak bisa dikunjungi siapa pun kecuali tenaga medis. Rusaknya hati Emilya membuat dia tidak bisa memproduksi semcam zat melawan bakteri dan virus.  Atau dengan kata lain, daya imunitas Emilya turun hingga ke titik terendah. Andai dia tertular virus atau bakteri, Emilya mungkin akan segera tewas.


"Apa yang di katakan dokter itu?" tanya Ibunya tanpa menatap Hailey, hanya tetap menatap Emilya yang terbaring tidak berdaya dengan berbagai selang di seluruh tubuhnya.


"Dia butuh donor hati..." bisik Hailey.


"Apa Em akan baik-baik saja, Mom?" tanya Will.


Dan hanya keheningan, tidak ada yang berani menjawab.


"Semua akan baik-baik saja, kids..." ucap Ibu kepada Will dengan senyum sumringah.


Namun, Hailey meragukan itu.


***


Aku seolah berhenti bernapas setelah Hailey menyelesaikan ceritanya. Lalu tanganku terangkat perlahan dan kutaruh di dadaku.


"Dia melakukannya?" bisikku.


"Yah, Ibu mendonorkan hatinya..." bisik Hailey.


"Dia mati untukku?" ucapku penuh ironi, masih tidak percaya dia melakukannya untukku.


Hailey menyeka air matanya, "Dia meninggalkan padamu sebuah surat... Aku akan memberikannya padamu nanti.."


"Aku bekerja susah payah hanya untuk melihat dia akhirnya mati juga..."


"Emilya... Dia mengorbankan hidupnya padamu." ucap Hailey dengan nada mengingatkan.


"Aku tidak akan menangis untuknya..." ucapku datar, "Bagaimana dengan pelaku yang menabrakku?"


Hailey menarik napasnya dengan pasrah.


"Pelakunya sudah di tahan. Dia mengendari mobil dalam keadaan mabuk dan terpengaruhi narkoba, jadi dia dijatuhi hukum berlapis..."


"Aku tidak yakin.." gumamku pelan ppada diriku sendiri


"Apa maksudmu?"


Aku tidak yakin pelakunya mabuk karena dia masih datang ke arahku dan menyebutkan nama Julia pada malam itu. Pelakunya berpikir bahwa aku Julia.


"Bagaimana dengan Julia? Di mana dia?"


"Aku sudah lama tidak mendengar kabarnya. Namun, dia datang beberapa kali setiap pekan ke sini.."


Aku melihat ke arah Hailey.


"Dia menjengukku?"


"Yah..."


"Aneh..." gumamku kecil.


Harry.. Aku ingin bertanya tentang Harry, tapi Hailey tidak mengenalnya.


"Namun, aku pernah melihat dia keluar dari sebuah sebuah restoran bersama pria muda..."


"Pria muda?" ucapku penuh keheranan.


"Yah dan kupikir dia adalah orang yang sama yang menanggung semua biaya rumah sakit mu..."


"Kau tau siapa namanya?"


"Harry Smith..."


"Apa?"


Ucapku penuh tidak percaya


"Apa kau berpikir seperti yang aku pikirkan?" ucap Hailey.


"Apa itu?"


"Dia mungkin kekasih Julia..."


****


Tiga bulan yang lalu...


Harry POV


Aku menatap Emilya yang duduk di depanku. Kami sedang berada di restoran dan sudah selesai makan siang. Namun, aku tidak bisa menikmati makananku. Terasa hambar. Jantungku terus berdetak tidak karuan. Emilya hanya diam sejak tadi. Tidak mengatakan apa pun.


"Kau menikmati makanannya?" tanyaku canggung.


"Yah...." ucapnya pelan


Aku menelan ludah dengan penuh kekecewaan. Dia tidak berusaha bertanya kembali padaku. Aku meneguk habis anggur hingga rasa panas itu menjalar di tubuhku.


"Tidakkah terlalu awal untuk mabuk?"


Aku menaruh gelasku, "Aku peminum yang hebat. Kau tau itu, kan?" keadaan seolah berubah menjadi lebih cair.


"Ehm..."


Aku tersenyum dan jantungku berdebar melihat wajahnya. Dia tampak lebih berisi dari biasanya. Dia memakai sweater turtle neck yang membuatku tidak bisa melihat bekas lukanya, tapi aku sempat melihat sedikit warna biru keunguan di kulit lehernya. Sial.. Lagi-lagi aku merasa bersalah.


Inilah saatnya. Mengatakan tujuanku padanya.


"Emilya... Tujuanku mengajakmu hari ini adalah..--"


"Bisakah kita pergi sekarang?" potong Emilya dan itu benar-benar menyakitiku. Dia benar-benar tidak ingin berdamai untukku.


"Apa?" ucapku binggung dan aku segera menggeleng kepala, menyadarkan diriku, "Yah.. Ayo kita pulang...'


Aku membayar bill dan kami segera masuk ke dalam lift. Di dalam lift hanya ada kami berdua. Canggung dan hening. Aku menatap bayangan Emilya yang terus menunduk saja, menutupi wajahnya dengan rambut panjangnya.


"Harry..."


"Y--Yah, Em?"  aku melihat ke arahnya yang masih saja menunduk.


Apa? Apa yang dia ingin katakan?


"Aku merindukanmu.." bisiknya sangat pelan, tapi aku masih bisa mendengarnya.


Itu mengirim getaran penuh kebahagiaan padaku. Kesempatan. Dia memberiku kesempatan. Aku segera mendorong  dan memeluk tubuh Emilya ke sudut lift lalu aku menjauhkan badanku darinya dan menatap Wajahnya Aku menatap bibirnya yang memerah karena alkohol.


"Aku juga merindukanmu.. Sangat merindukanmu..." ucapku penuh harus dan kebahagiaan.


Dia menatapku dengan dalam dan perlahan kepala kami mendekat. Aku mencium bibirnya lembut. Sangat lembut. Aku merasakan rasa manis anggur di mulutnya. Ah.. Aku benar-benar merindukannya


Aku segera menjauhkan bibirnya dariku.


"Menginaplah.." ucapku terengah, "Menginaplah denganku, Em..."


Dia tersenyum kecil dan segera menciumku sebagai balasannya


***


MrsFox


Entah di bawa kemana cerita ini