Harry's Love Story

Harry's Love Story
Berakhir



Happy Reading


****


Aku hanya sempat berkedip sekali dan langsung melihat Harry melompat ke arah Bastian. Aku segera mundur beberapa langkah seraya menutup mulutku yang begitu terkejut saat melihat Harry memukul Bastian bertubi-tubi. Aku tidak melihat ada perlawanan dari Bastian, benar-benar tidak ada. Dia benar-benar pasrah di pukuli oleh Harry.


CRAK


Aku merasakan bulu kudukku meremang saat mendengar suara patah itu. Tulang. Itu jelas suara tulang yang patah. Seluruh tubuhku bergetar saat wajah Bastian sudah ditutupi oleh darahnya sendiri dan harry tampaknya tidak akan berhenti. Wajahnya penuh kemarahan yang ingin membunuh seseorang.


"Harry..." bisikku seraya berjalan mendekat ke arahnya, "Harry... Dia bisa mati..." ucapku seraya menggenggam lengannya yang berada di udara, hendak melayangkan tinju lain ke wajah Bastian.


Napas Harry terengah dan aku melihat butiran keringat mengalir di sisi wajahnya. Dia segera menepis tanganku dan segera berdiri. Dia menunduk dan kedua tangannya terkepal di samping tubuhnya. Aku tidak tau bagaimana ekspresinya sekarang.


"Aku percaya padamu..." bisiknya, sangat pelan. Namun aku tidak tau itu ditujukan untukku atau untuk Bastian.


Aku melihat bahu Harry naik-turun.


"Pergilah... Aku tidak ingin melihatmu di sini.." ucapnya dengan  geram, datar, dan nada intimidasi. Aku jelas tidak tau ucapannya itu ditujukan untuk siapa.


Aku menghembuskan napas pelan dan merasakan kengerian saat melihat Basian perlahan bergerak berdiri. Wajahnya benar-benar babak belur. Sial, padahal mereka berdua masih memiliki hubungan darah. Bagaimana mungkin Harry mampu dan tega melakukan itu? Bastian sudah berdiri dan dia berjalan tertatih-tatih seraya berpegangan ke dinding. Aku menggigit bibir bawahku dan perlahan bergerak untuk pergi juga.


"Kau tinggal di sini, Emilya.." Seluruh bulu kudukku meremang, " Kita masih memiliki urusan yang belum selesai..."


Dengan itu, Harry memutar tubuhnya ke arahku. Aku merasakan kengerian saat melihat wajah Harry yang berdercik darah. Darah Bastian. Astaga. Dia tidak akan memukuliku seperti dia memukuli Bastian, bukan? Jika ya, aku berani bertaruh bahwa aku pasti akan meninggal.


"Harry... Ada kesalahpadahaman di sini..." ucapku seraya tersenyum kaku, "Ini tidak seperti yang kau pikirkan... Percayalah..."


Dia tersenyum miring, "Aku terlalu baik padamu." Dia meludah ke lantai, lalu membuka ikat pinggangnya, dan perlahan maju ke arahku, "Saatnya kita bermain kasar..."


****


Aku menahan tangisku seraya menggigit jemariku. Entah sudah berapa jam aku melakukan ini sejak Harry memperlakukanku seperti bukan manusia. Itu pemerkosaan dan itu benar-benar sakit. Dia tidak peduli aku berteriak kesakitan dan terus memaksakan nafsu birahinya padaku yang tidak menginginkannya.


Itu benar-benar sakit. Aku benar-benar tidak menyangka akan diperlakukan seperti ini oleh Harry. Orang yang terlihat ramah dan baik adalah orang yang paling mengerikan saat marah. Inilah wujud asli Harry dan aku sudah melihatnya untuk kedua kalinya.


Dengkuran halus Harry terdengar mengisi kamar ini. Aku berbaring memunggungi Harry dan tangannya melingkari perutku. Aku memindahkan tangannya dari tubuhku dan perlahan bangun dari tempat tidur. Dengan hati hancur dan badanku yang kesakitan, aku memutik pakaianku yang berceceran di lantai.


Aku mengenakan itu dalam diam dan menahan diriku untuk tidak terisak saat air mataku bertumpahan begitu deras. Aku merasasakan sakit luar biasa setiap menggerakkan tubuhku Aku melap wajahku dengan kasar. Ini sudah selesai dan aku tidak bisa melakukan ini. Aku berjalan ke arah pintu dan menoleh sekali lagi ke arah Harry yang tertidur dalam cahaya remang.


"Goodbye, Harry..."


***


Harry POV


'Aku akan menemuimu segera setelah keadaanku tenang...'


Aku membaca pesan singkat dari Emilya saat aku bangun tidur. Aku melihat dia tidak berada di sisiku saat aku bangun. Aku menatap kosong pada layar ponselku dan merasakan rasa kosong dan hampa dalam diriku. Aku menghembuskan napas dengan sedih. Aku sudah kebabblasan semalam.


Padahal aku bukanlah tipe manusia yang mudah tersulut amarah. Sikap tenang adalah keahlianku. Namun, melihat Bastian dan Emilya... Huff. Aku tidak ingin mengingat hal sialan itu. Aku segera bangkit berdiri dan bersiap untuk bekerja. Menyibukkan diri adalah obat terhebat untuk melupakan sesuatu.


Aku akan menjemput Emilya nanti malam saat dia pulang bekerja. Aku tidak akan menunggu dia hingga menghubungiku. Aku akan minta maaf dan aku yakin dia akan memaafkanku. Lalu, semua akan kembali normal seperti sedia kala. Yah, semua kan kembali seperti sedia kala.


****


Kenny POV


Aku menatap wanita yang duduk di depanku. Wajahnya kacau, bibirnya bengkak tidak wajar, dan aku tidak sengaja melihat lebam di bagian lehernya sebelum dia akhirnya menutupi itu dengan jaketnya. Dia adalah Emilya, dia menghubungiku saat pagi-pagi sekali dan mengatakan ingin bertemu denganku. Lalu di sinilah kami, di kafe yang baru buka dan masih sepi dengan Emilya duduk menunduk sejak tadi.


"Minumlah... Ini adalah tempat langgananku, teh itu bisa membuatmu lebih tenang..." ucapku lembut dan Emilya melirikku sedikit.


"Terimakasih banyak..." dia tersenyum kecil lalu mengangkat tangannya ke atas meja dan aku akhirnya melihat suatu bekas di pergelangan tangannya. Aku tau itu adalah bekas ikatan tali karena aku pernah memilikinya. Masih merah dan sedikit lecet. Itu baru dan sepertinya bekas semalam. Dia menutupi itu lagi dengan lengan jaketnya. Emilya mengangkat gelasnya dengan tangan gemetar lalu menyeruput teh itu.


"Enak, bukan?"


Dia mengangguk kecil dan menaruh gelas itu lagi, "Uhm.. Enak.."


"Aku senang mengetahui kau mengajakkku minum teh, tapi aku terkejut kau mengajakku secepat ini..." candaku.


Dia menatapku sekilas lagi, "Maafkan aku.. Aku memanggilmu sepagi ini..."


"Ini sudah hampir pukul tujuh pagi... Jadi jangan merasa bersalah."


"Terimakasih.. Kau sangat baik.."


Dia wanita yang kikuk, kaku, pemalu, dan seperti memiliki beban hidup yang berat.


"Namun, aku percaya kau memanggilku minum teh bukan untuk bercengkrama, tapi untuk hal yang lain...."


"Aku tau jika kau memiliki masa lalu dengan Harry..." dia akhirnya melihat padaku. Bukan tatapan menuduh dan marah. Aku tidak tau tatapn itu. Tidak terbaca.


"Yah.. Aku punya kisah panjang dengan dia."


"Aku.. Aku bukan ingin menyudutkanmu atau apa. Artinya kau pasti mengenal Harry dengan baik.."


"Bisa dibilang begitu.." aku sangat mengenal baik Harry.


"Aku penasaran tentang sesuatu.."


"Apa itu?"


"Apakah menurutmu Harry orang baik?"


Aku mengangkat cangkirku dan menyeruput tehku hingga aku merasakan rasa enak dan nyaman dalam tubuhku.


"Baik atau tidaknya seseorang adalah penilaian relatif, Emilya. Namun, menurutku Harry ada di keduanya. Dia bisa sangat baik dan sangat jahat pula. Begitu juga suamiku...." aku tertawa kecil mengingat masa-masa suramku dengan Scout, "Suamiku jauh lebih jahat dari Harry, tapi akhirnya aku bisa memafkannya."


Dia melihatku dengan tatapan bingung.


"Cinta dan kasih sayang. Dengan itu, kau bisa memaafkan orang yang kau sayangi walaupun kesalahan yang dilakukan sangat berat dan dengan itu pula kau bisa membawa orang yang kau sayangi ke arah yang semakin baik..."


"Aku tidak tau kenapa kau bertanya seperti itu, Emiya. Namun, aku yakin bahwa jelas telah terjadi sesuatu antara kalian berdua. Jika kesalahannya berat, aku yakin kau bisa memafkannya, Emilya. Harry bukanlah pria jahat. Dia memang terkadang bertempramen tinggi..." lanjutku.


"Tapi dia tidak mencintaiku...." bisik Emilya dengan nada hancur.


"Hey.. Emilya.. Hey. Coba lihat ke arahku.." ucapku berusaha menarik perhatiannya dan dia akhirnya melihat ke arahku lagi, "Jangan merasa tidak di cintai, Emilya.. Saat melihat kalian berdua di pesta saat itu, suamiku berkata bahwa tatapan Harry saat menatapmu adalah tatapan yang sama saat dia menatapku dulu. Pandangan penuh cinta..." ucapku lembut, "Aku senang akhrinya dia bisa mencintai wanita lain..."


Wajahnya memerah dan matanya berkaca-kaca. Emilya segera mengalihkan tatapannya dariku seraya melap sudut matanya. Dia membentuk garis keras di bibirnya, menahan diri tidak menangis lagi. Lalu dia kembali menoleh sekilas ke arahku sebelum menunduk kembali.


"Ada suatu keadaan yang tidak bisa kuceritakan padamu tentang aku dan Harry. Kami memiliki hubungan yang tidak biasa dan sepertinya kau keliru. Harry tidak mencintaiku, hanya aku seorang yang mencintainya..." dia menarik napas dengan kuat dan menghembuskannya lembut. Lalu dia mengangkat kepalanya dan menatapku dengan bola matanya yang jernih.


"Aku tau ini benar-benar tidak sopan dan tidak tahu malu.. Namun, aku benar-benar terjepit saat ini. Bolehkah aku minta tolong padamu, Mrs. Kenny Sharp. Bisakah..." dia menutup matanya dan jelas dia kesulitan mengatakan permintaanya.


"Tidak apa.. Aku akan menolongmu semampuku.." ucapku lembut


****


Emilya POV


Aku menatap gedung tinggi itu hingga ke ujung. Aku kembali melihat keadaan di bawah. Semua orang tampak berpakaian rapi dan necis. Hanya aku yang terlihat kumal karena aku belum mengganti bajuku sejak kemarin. Aku hanya sempat meng-keramas rambutku dan aku tidak menunggu rambut kering. Aku hanya sesegera mungkin bergegas ke tempat ini.


Aku memeluk map yang kutaruh di dalam jaketku agar aman dan segera berjalan masuk ke dalam gedung itu. Itu cukup ramai karena ini adalah waktnua jam makan siang. Aku berharap Harry masih ada di tempat saat ini. Aku berjalan ke arah lift khusus anggota direksi perusahaan dan memasukkan password yang sempat diberitahu Harry padaku.


Hanya hitungan detik, aku segera sampai pada lantai tertinggi di gedung ini. Pintu lift terbuka dan aku segera keluar. Ada tiga wanita di sana yang berdiri di balik meja mereka. Sekretaris Harry. Mereka bertiga menatapku heran dan aku segera berjalan ke arah mereka. Lalu mereka berdiri. Jelas heran, bagaimana bisa seorang 'gembel' sepertiku naik ke atas ini?


"Anda siapa? Bagaimana anda bisa datang ke sini?" tanya sekretaris satu.


"Apakah Harry ada di dalam?"


"Apakah anda sudah membuat janji?" ucap sekretaris dua.


"Bolehkah aku masuk, dia mengenalku..."


"Maafkan kami Nona. Namun, bukan anda wanita pertama yang datang kemari dan mengatakan itu..."


"Kumohon... Tolong hubungi dia dan katakan Emilya Teatons ingin menemuinya..." ucapku denagn nada memelas.


"Tolong anda kembali ke bawah sehingga kami tidak perlu memanggil anggota keamanan memaksa anda keluar..."


"Kumohon..." aku memohon kembali, "Aku bisa menghubunginya kalau kalian tidak percaya. Kumohon.."


Si sekretaris satu itu memutar matanya lalu menekan telepon pesawatnya, pasrah.


"Lagi-algi seperti ini..." dengusnya. Jelas ini bukan kejadian pertama dan tampaknya sering terjadi.


"Halo, Sir. Seseorang bernama Emilya Teatons ingin menemui Anda. Apakah anda mengenalnya Sir?"


Aku tidak tau apa yang dikatakan Harry, tapi sekretaris satu itu hanya menggangguk paham lalu menaruh telepon pesawat itu kembali.


"Tolong ikuti saya.." ucapnya seraya keluar dari balik mejanya. Aku berjalan mengikuti sekretaris itu menuju ruangan harry. Dia mengetuk pintunya dan terdengar sahutan 'Masuk' dari dalam. Sekretaris itu membuka pintu dan aku segera masuk dan melihat Harry duduk di meja kerjanya.


****


Harry POV


Dering telepon pesawat menginterupsi kegiatanku. Aku mengambil telepon tersebut dan tetap sibuk membaca berkasku.


"Halo, Sir. Seseorang bernama Emilya Teatons ingin menemui Anda. Apakah Anda mengenalnya Sir?"


Tanganku segera berhenti. Emilya? Dia datang ke mari?


"Suruh dia masuk..." ucapku dan segera menutup panggilan. Aku meminum air mineralku saat merasakan seluruh tubuhku tegang untuk alasan yang tidak kuketahui. Aku menarik napas dan membuangnya perlahan, berusaha mengendalikan detak jantungku yang cepat.


Aku sedikit merapikan mejaku dan sedikit memperbaiki dasiku. Aku hendak mengenakan kembali jas-ku, tapi ketukan pintu membuatku terkejut. Sial. Aku mengurungkan niatku untuk mengenakan jasku. Tenanglah, harry. Dia hanyalah Emilya. Tidak perlu gugup.


"Masuk.." ucapku dan segera pintu terbuka. Aku melihat Emilya segera masuk dan berjalan ke arahku


Aku merasakan kengerian melihat keadaannya. Wajahnya lesu dan sedikit pucat. Dia memakai pakaian yang sama seperti kemarin. Rambutnya basah. Bibirnya bengkak dan ada sedikit luka di sudut bibirnya. Sial. Keadaannya sangat mengerikan.


"Bolehkah aku duduk?" tanyanya pelan.


"Yah..."


Dia duduk di depanku dan tetap menunduk. Lalu hening. Dia tidak berbicara dan aku pun tidak. Dia lah yang datang menemuiku dan dia yang harus berbicara duluan. Emilya mungkin datang kemari untuk meminta maaf  soal kemarin dengan Bastian dan aku dengan senang hati akan menerima permintaan maafnya. Lalu aku juga akan meminta maaf dan semua akan kembali normal.


Yah.. Semua akan kembali normal.


"Aku ingin menyudahi kontrak denganmu..." ucapnya dan aku segera merasakan sesuatu seperti menusuk jantungku. Aku merasakan sesak di dadaku dan itu menyulut kemarahanku.


"Apa maksudmu?" nada suaraku naik satu oktav. Sial. Dia paling ahli cara menaikkan amarahku.


Dia hanya diam dan perlahan menarik kancing jaketnya sedikit turun. Aku segera merasakan kengerian saat melihat lebam di lehernya. Sial! Apa itu karena perbuatanku kemarin? Dia mengambil map biru dari dalam dan menaruhnya di atas meja. Aku tidak sengaja melihat bekas ikatanku semalam di tangannya.Itu bekas yang mengerikan.


Sial! Kenapa bisa separah ini?!


"Ini..." suara Emilya bergetar dan dia segera mengendalikan dirinya dengan segera berdehem keras. Dia menatap ke arahku dengan tatapan nanar, "Di dalam ini ada kontrak kita, surat tanah dan rumah kami, kartu debit yang kau berikan, dan cek $100.000 untuk membayar uang yang kau berikan.." dia membuka map itu dan menjejerkan kertas-kertas itu.


Apa?! Apa-apaan ini?!


"Dan ini kunci apartemen..." dia menaruh kunci itu di atas map, "Aku belum bisa membayar semua uang penalti dari kontrak kita, tapi aku akan segera membayarnya. Surat tanah itu sebagai jaminan jika kau takut aku lari. Untuk kartu debit itu, aku tidak pernah memakainya. Kau bisa mengecek sendiri.."


Dia menarik napas lagi dan menghembuskannya perlahan.


"Kuharap kau bisa segera mengurus surat tanda bahwa kontrak kita sudah selesai dengan pengacaramu. Jika suratnya ada, kau bisa mengirimnya ke ruma--"


"Berapa banyak?" ucapku dengan nada penuh cemooh, "Berapa banyak pria yang kau goda semalam hingga mendapatkan semua uang ini?"


Dia membelalakkan matanya, "Aku tidak melakukan itu.." ucapnya penuh ketidakpercayaan.


"Ah.. Atau selama ini kau bermain gelap di belakangku? Bertingkah seperti wanita lemah dan tidak bersalah, tapi menggoda banyak pria di belakangku. Ah... Aku tau, apa kau menggoda pengacaraku juga? Bastian? Siapa lagi yang kau goda Ms. Emilya Teatons?"


Dia menekan bibirnya menjadi garis keras dan setetes air matanya jatuh. Segera aku merasakan rasa bersalah setelah mengucapkan itu. Emilya melap wajahnya. Sial. Kenapa seperti ini? Kenapa aku selalu mengatakan hal bodoh seperti itu setiap aku marah?


"Terserah kau berpikir apa pun, Harry... Terserah. Intinya aku dan kau sudah selesai. Aku tidak memiliki urusan lagi denganmu..."


Aku segera mengambil cek milik Emilya dan segera merobeknya.


"Aku tidak mau uangmu dan bawa semua itu sebelum aku membakarnya. Aku tidak ingin kontrak berakhir...." ucapku tegas.


Dia segera membereskan map itu, tapi hanya mengambil surat tanahnya. Kontrak, kunci apartemen, dan kartu debit di tinggalkan di atas meja. Dia lalu segera berdiri.


"Terimakasih waktunya. Aku akan mengirim cek yang baru dan memberikannya pada pengacaramu atau sekretarismu beserta surat tanah ini. Aku pergi..."


Dia membalikkan badannya.


"Jangan keluar.." ucapku dengan nada marah, "Berhenti!" teriakku dan dia tetap berjalan dan aku segera berdiri, "Kubilang berhenti!"


Emilya berhenti di depan pintu yang terbuka dan menatapku dengan tatap nanar sebelum akhirnya keluar. Berakhir. Semuanya sudah berakhir? Aku segera menghempaskan badanku ke kursi. Aku merasa kehilangan seluruh tenagaku.


Berakhir. Sudah berakhir


***


MrsFox


Ini kayaknya tinggal beberapa episode lagi. Belum bisa dipastikan apakah ni happy ending atau sad ending. :") Bye" Emilya.... Jangan lupa like, vote, love, koemnt yah... Lop yuh gais