Harry's Love Story

Harry's Love Story
The Tragedy



Happy Reading


****


Emilya POV


Kepalaku pusing dan aku merasakan kontraksi hebat. Tubuhku di dorong dengan hospital bed dan aku melihat wajah penuh kekhawatiran sedang menatapku. Cassie, Pappa, Mamma, bahkan Harry ikut mendorong hospital bedku bersama tim medis. Napasku memendek, terasa sesak. Suara khawatir mereka berkumpul menjadi satu dalam telingaku


Tubuhku masuk ke dalam suatu ruangan. Ruang operasi?


"Mam? Apa kau bisa mendengarku?" tanya seorang Dokter seraya mengarahkan sebuah senter kecil ke mataku.


Ya. Ya. Aku mendengarmu!


Aku ingin mengucapkan itu, tapi tidak ada yang keluar dari mulutku.


"Pandangannya tidak fokus, napas melambat, kontraksi menguat..." ucap Dokter itu dan aku hanya meringis, saat merasakan hujaman menyakitkan di pangkal pahaku.


"Lakukan sesuatu! Dia kesakitan!" Harry berteriak kencang seraya menggenggam tangan kananku dengan erat. Dia mengelus rambutku dengan tangannya yang lain.


"A--Ahk!" itu menghujam lagi.


"Ini prematur, Sir... Kehamilannya belumlah siap..."


"Lakukan apa pun... Apa pun!!!" Harry berteriak kencang dan ingin rasanya aku menyuruh dia pergi karena dia sedang sakit.


"Kita bisa melakukan operasi caesar, Sir jika anda setuju..."


Aku segera menggenggam erat tangan Harry, entah kenapa tenaga muncul begitu saja saat mendengar operasi caesar.


"No! No!" teriakku, "Aku tidak ingin operasi. Lakukan secara alami..." ucapku dan dokter serta tiga perawat melihatku heran.


"Bukaannya belum siap..." ucap perawat satu saat melihat pangkal pahaku sendiri, "Kita perlu menunggu lagi untuk menunggu bukaan 10...."


Aku berteriak kuat lagi. Begitu sakit. Sangat sakit.


"No.. Lakukan operasinya.. Lakukan saja..." ucap Harry panik.


"Dokter... Terjadi pendarahan!!" seorang perawat berteriak panik.


Suara disekitarku bercampur dan pandanganku semakin kabur.


"Detak jantung melemah..."


Aku menatap Harry yang berteriak padaku, tapi aku tidak tahu apa yang dia ucapkan. Entah kenapa, aku merasakan cahaya kehidupan semakin surut dalam diriku. Wajah Harry mengkabur. Kabur. Hingga akhirnya gelap.


****


Aku membuka mataku perlahan. Begitu perlahan karena aku merasa kelopak mataku sangat berat untuk dibuka. Aku mengedip-edipkan mataku, berusaha menyesuaikan cahaya lampu. Aku merasakan pusing dan ada rasa teramat sakit di perutku.


Aku melihat Harry duduk di sampingku, menundukkan kepala seraya memegang tangan kananku dengan kedua tangannya. Punggungnya naik turun dengan perlahan, tanda dia sedang tidur. Aku menarik napas dan segera rasa sakit di perutku itu semakin kuat. Aku menatap perutku yang datar. Segera rasa panik menyerangku.


Kenapa perutku datar?!


"Ugh...." ringihku pelan dan Harry segera terjaga. Dia bangun dari tidurnya dan menatapku dengan tatapan heran, jelas kesadarannya belum terkumpul.


Matanya segera menatapku penuh keterkejutan.


"Emilya...." ucap penuh keterkejutan, "Kau akhirnya sadar...."


Harry hendak melepas genggamannya dari tanganku, tapi aku menahannya. Mataku menatapnya, memohon dia untuk tidak pergi dan melepas genggamannya.


Harry tersenyum hangat lalu mengelus rambutku, "Aku tidak akan kemana-mana.... Aku hanya ingin menekan tombol ini untuk memanggil dokter..." ucap Harry seraya menekan tombol merah di samping ranjangku.


Aku menarik napas lagi dan membuangnya, detik itu juga aku merasakan rasa pedih di perutku. Aku meringis dan memejamkan mataku, menahan rasa sakit itu. Harry segera menatapku khawatir dan saat itu juga, dokter dan perawat segera masuk ke dalam ruanganku.


Harry segera berdiri dan memberi ruang bagi dokter tersebut, tapi Harry tidak melepas genggamannya dariku. Dokter itu mengarahkan sebuah senter ke mataku secara bergantian. Lalu dia menempelkan stetoskop ke dadaku, memeriksa sesuatu.


"Dia sepertinya sangat kesakitan tadi.. Apakah itu efek operasinya?" tanya Harry dan aku segera ingat tentang bayiku.


"Yes sir... Mrs. Smith, apakah saat menarik napas dan menghembuskannya terasa sakit di bagian perut?" tanya dokter itu padaku dan aku mengangguk.


"Itu mungkin efek karena obat biusnya sudah habis, tapi itu juga pertanda baik bahwa tubuhnya merespon rasa sakit itu..." ucap Dokter


"Hm..." gumamku, "Baby..." bisikku pelan dan tangan Harry mengelus kepalaku lembut.


"Bayi-bayi kita baik-baik saja, Em..."


Dan kelegaan memenuhi seluruh tubuhku.


"Perawat akan mengganti perbannya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan Mrs.Smith. Semua baik-baik saja. Baik anda mau pun bayi-bayi anda...."


****


"Kau tiba-tiba tidak sadarkan diri saat itu..." Harry memulai bercerita padaku yang setengah berbaring. Wajahnya kusut, kantung matanya terasa jelas, janggut dan kumisnya mulai tumbuh.


"Aku benar-benar ketakutan saat itu karena kau tiba-tiba berhenti bernapas, Em..."


Dia menatapku nanar, jelas bahwa bayangan aku tidak bernapas membuat dia ketakutan.


"I'm okay..." bisikku pelan seraya mengelus dagunya yang kasar karena rambut tumbuh.


"Dokter akhirnya melakukan operasi caesar. Kau tau apa yang mereka tanyakan padaku sebelum kau melakukan operasi?" tanyanya dan matanya menerawang, seolah kembali ke kejadian dua hari lalu, saat proses persalinanku.


"Jika terjadi sebuah kemungkinan terburuk, mereka menyuruhku memilih yang mana untuk diselamatkan. Kau atau bayi-bayi kita."


Aku melihat jakunnya bergerak, seolah dia berusaha menelan ludahnya.


"Aku menjawab bayi-bayi kita...." dia memejamkan mata dan setetes air mata mengalir di pipinya.


Aku tidak tahu betapa sulit dan beratnya yang Harry rasakan. Benar-benar tidak tahu. Itu adalah pilihan yang berat. Jika aku di posisinya pun, aku tidak tahu harus memilih apa. Namun, mendengar dia memilih bayi-bayi kami benar-benar membuatku bahagia.


Aku tidak tahu bagaimana hidupku akan berlangsung jika aku tetap hidup, sementara dua bayi kembarku meninggal. Dua nyawa berkorban untuk satu nyawa. Aku telah merasakan bagaimana manis-pahitnya hidup dan aku ingin bayi-bayiku pun memiliki kesempatan itu.


"Aku senang kau memilih mereka..." ucapku lembut seraya menghapus air matanya.


Harry menarik tanganku tersebut lalu mengecupnya lembut.


"Aku benar-benar lega masih melihatmu di sini..."


Aku tersenyum hangat lalu pintu kamarku terbuka.


"Aku sangat senang mendengar kau sudah sadar, my dear..."


Cassie melepas pelukannya, kemudian aku menatap bahwa Hailey, Will, dan Bibi Debs ada di sana juga. Mamma dan Pappa juga ada si sana.


"Will... Hailey.. Bibi" aku tidak bisa menutup kegembiraan dalam suaraku saat melihat mereka.


Mereka segera memelukku secara bergantian dan aku benar-benar senang. Aku benar-benar tidak menyangka mereka datang. Saat memeluk Bibi, mataku bertemu dengan Harry yang menatapku dengan senyum hangat. Aku segera mengucap terimakasih padanya tanpa suara dan dia mengangguk kecil.


"Oh my.. Aku begitu senang melihat kalian ada di sini..." ucapku setelah melepas pelukan dari Bibi. Lalu aku memeluk Hailey dan aku begitu senang dia juga datang.


"Selamat, Em.. kau sekarang seorang Ibu..." ucap Hailey.


"Thank you..." bisikku lalu dia melepas pelukannya. Mereka semua duduk mengelilingiku. Hanya ada tawa dan kegembiraan di sana.


Lalu sebuah ketukan di pintu terdengar, dua orang perawat masuk seraya mendorong sebuah inkubator. Ruangan tersebut segera hening saat mereka masuk bersama dua inkubator itu. Aku berhenti bernapas saat melihat dua bayi itu. Harry segera berdiri di sampingku.


"Pria dan perempuan, Em..." bisiknya padaku dan aku merasakan air mataku jatuh tanpa kuundang. Bulu kudukku meremang, menatap dua bayi yang tidur terlelap, begitu damai.


"Anda mau menggendongnya?" tanya perawat itu lembut.


"Apakah bisa? Mereka terlahir prematur..."


"It's okay, Mam.. Kami akan memastikan bayinya aman...'


"Kami belum menggendong mereka karena aku ingin kau yang pertama menggendongnya, Em..." ucap Harry.


"Perawat sudah lebih dulu menggendongnya..." ucapku dan seisi ruangan tertawa kecil. Harry tertawa kecil lalu memutar matanya.


"Whatever, Em..."


Aku kembali menatap bayi-bayi itu. Begitu mungil, tapi nampak sehat.


"Apakah mereka sehat?" tanyaku.


"Kehamilan anda sudah delapan bulan, Mam. Dan keadaan bayi-bayi ini pun baik." terang perawat satu, "Jadi, anda akan menggendongnya, Mam?"


Aku mengangguk pelan. Lalu kedua perawat itu membungkus satu bayi dengan lampin biru dan satu lagi dengan lampin merah jambu. Perawat satu memberi si bayi pria dan bayi perempuan diberikan pada Harry.Aku menatap mahkluk mengil itu. Tidur begitu tenang. Begitu indah.


"They're beautiful, Harry..." bisikku.


"Sangat indah.."


"Hey.. Foto pertama." panggil Cassie seraya mengarahkan kameranya ke arahku dan Harry. Dan itulah foto pertama bayi-bayiku setelah hadir di dunia ini.


****


Author POV


"Kita akan melakukannya malam ini, Mom?" tanya Elena pada Elmira, ibunya sendiri yang baru saja masuk ke dalam mobil mereka.


"Tentu saja..." Elmira melepas topi dan maskernya, "Aku sudah menyiapakan semua hal untuk itu... Ini adalah waktu yang tepat.."


"Tapi, wanita itu belum pulih karena operasi itu..."


Elmira segera menatapnya marah. Lalu segera menarik bahu Elena dengan kedua tangannya.


"Dengarkan aku, Elena. Hilangakan rasa simpatimu itu. Dia adalah wanita yang mengakibatkan kita merasakan semua penderitaan ini..." Elmira berucap dengan nada memprovokasi.


"Tapi.."


Elmira segera menggeleng keras.


"Tidak ada tapi-tapi. Aku tidak membesarkanku untuk menjadi wanita lemah seperti ini, Elena...." Elmira menggoyang bahu Elena, "Dengarkan aku. Seharusnya kau yang mengisi posisi sebagai isteri Harry dan bukannya wanita sialan itu. Seharusnya sekarang aku bersama ayah tirimu, Albert. Namun, karena dia... Albert harus mendekam di penjara seumur hidup...."


Mata Elena memandang tajam, jelas terprovokasi dengan perkataan Ibunya.


"Jadi dia adalah musuh kita bersama... Wanita sialan itu! Kau mengerti sekarang?" tanya Elmira dengan nada tegas.


"Yah. Aku mengerti..."


"Bagus..." Elmira melepas genggamannya di bahu Elena kemudian bersandar di kursi mobil. Elmira mengambil kotak rokok dari saku jaketnya kemudian memasukkannya di ujung bibirnya.


"Kau mau?" tawarnya pada Elena dan Elena segera mengambilnya.


Elena mengambil pematik api, lalu menyalakan rokok Ibunya dan rokoknya sendiri. Elmira menghisap rookok itu lalu menghembuskannya ke udara.


"Kau sudah tahu rencana kita, bukan?"


"Yah, Mama...."


*****


"Kau hanya perlu menekan ini dan lampu di seluruh gedung rumah sakit ini akan mati..." ucap Elmira pada Elene, "Aku akan membertiahumu kapan kau menyalakannya lagi. Mengerti?"


"Yes, Mom..."


"Padamnya lampu ini akan membuat seluruh tempat ini panik. Saat itu terjadi, aku akan bergerak."


"bagaimana jika gagal?" tanya Elena.


"Tenanglah.. Jika pun gagal, akan kupastikan kau baik-baik saja.."


Elena menatap tatapan Ibunya yang sungguh-sungguh


"Okkeh. ini saatnya beraksi...." ucap Elmira, "Pergilah ke posmu dan matikan sesuai intruksiku.Mengerti?"


"Yes, Mom..."


Elmira tersenyum pada Elena lalu mengecup sekilas pipi Elena.


"Seluruh dendam kita akan terbalaskan malam ini...."


*****


MrsFox


Intinya mah ini happy ending, kalo sad kalian akan mendemoku :"). Wkwkwk. Lop yuh gais... Jangan lupa dukungan kalian pada novel ini. Novle baruku udah ada, tapi belum selesai" jgua direview padahal dah lama. Silakan tunggu novel baru yang tidak kalah seru dengan novel terdahulu aku.