
Happy Reading
***
Aku menatap kosong TV tua kami. Apa aku perlu menjual TV kami? Memang barang tua, tapi bukankah barang tua memiliki nilai seni dan estetik. Aku memutar mataku. Estetik apaan?! Siapa juga yang mau membeli TV tua sialan ini. Lagian, hanya ini hiburan yang tersedia di rumah ini, terkhusus untuk Will. Dari dulu aku ingin membeli dia ponsel atau tablet, lalu memasang wifi di rumah. Yah, sayangnya itu hanya mimpi belaka. Aku kan miskin, makan saja susah.
Aku hanya menghabiskan waktuku di sofa sepanjang malam dan tertidur di sana. Aku terbangun saat mendengar anjing liar menggongong di sekitar rumahku. Banyak anjing liar di sini, mengais-ngais makanan di tong sampah. Aku melihat ke luar jendela dan melihat bahwa sudah pagi, walau masih sedikit gelap. Aku bangkit berdiri dan membuat kopi untukku dan mengambil bungkusan makanan anjing milik Will.
Aku berjalan ke pintu belakang dan duduk di tangga seraya melihat anjing liar yang sudah mengorek-orek sampahku. Aku menaruh cangkir kopi di lantai tangga dan mulai melempar makanan anjing itu ke halaman belakangku. Anjing-anjing itu berlari dan memakan makanan yang kulempar tadi. Aku mengamati mereka, ada rasa lega saat melihat mereka makan.
Will dari dulu ingin memelihara anjing, tapi aku melarangnya kerena merawat anjing saat ini pun aku butuh sertifikat khusus atau apalah dan itu memakan uang. Sebagai gantinya, Hailey selalu membeli makanan anjing untuk Will dan Will memberikannya pada anjing liar ini. Lagian siapa yang akan mengurus anjing itu jika kami tidak di rumah?
Aku mengambil cangkir kopiku dan menyesapnya sambil berpikir kapan aku kaya. Mungkin aku tidak ditakdirkan kaya. Mungkin garis hidupku hanya sampai-sampai sini saja. Gesekan dan bunyi pintu terbuka terdengar dari arah rumah Spencer. Aku melihat ke arahnya yang memakai piyama. Aku mengangkat cangkirku untuknya dan dia mengangguk sekali. Dia duduk di tangga miliknya dan menyalakan rokoknya.
"Kau pulang lebih cepat..." tanyaku, suasana pagi yang masih sepi membuat suaraku sampai ke tempat Spencer, lagi pula jaraknya tidka jauh.
"Aku tidak punya banyak pelanggan tadi malam..." dia menghembuskan asap dari mulut dan hidungnya. Aku pernah mencuri rokok Julia agar mendapatkan ketenangan dan aku tidak cocok dengan benda itu saat aku menghisap asapnya. Tapi tidka dengan Spencer, dia seperti menikmati itu dan kurasa memberi ketenangan untuknya.
"Begitukah..." aku tidak tau harus mengucap apa pun jika dia sudah bahas tentang 'pelanggan'
"Biasanya Will yang memberi makan anjing-anjing itu..."
"Yah., dia sedang tidak di sini..."
"Rumah sakit, huh?"
"Yah..."
Dia diam dan aku pun diam. Aku sedikit menarik napas. Well... Mungkin aku bisa meminjam uang. Tidak serius meminjam, hanya iseng bertanya. Siapa tahu, iseng-iseng berhadiah. Aku tidak berharap Spencer memberiku pinjaman karena dia pun sednag dalam masa sulit.
"Spencer..." ucapku dengan suara dalam, "Sejujurnya, baru-baru ini aku memiliki beberapa masalah dan--"
"Aku tidak punya uang, Emilya..."potongnya dengan cepat. Sudah kuduga.
"Uhm.. Begitu yah..." bisikku dan sedikit terluka karena dia memotong perkataanku.
Aku tidak tau harus menjawab apa. Aku tidak merasa Spencer wanita 'tua' walau umurnya sudah hampir kepala empat. Aku merasa lebih tua dari dia dan lagian, jika punya masalah pernapsan, kenapa masih merokok? Membingungkan.
"Pria zaman sekarang, baik tua atau muda suka wanita muda yang matang dan lugu...." ucapnya penuh arti. Aku tau ke mana arah pembicaraan ini.
"Aku tidak cukup lugu..."Jawabku spontan. Sejujurnya aku sudah memikirkan hal ini, keadaan sangat mendesak. Aku perlu uang. Aku tidak mungkin meminjam uang dari Max, seraya dia masih seorang mahasiswa. Aku tidak memiliki tempat yang bisa kudatangi untuk meminjam uang.
Spencer terkekeh, "Aku tau kau akan terpancing..." dia berdiri dan berjalan ke arah pagar kawat pembatas rumahku dan rumahnya, "Itu tidak seburuk yang kau bayangkan, Emilya. Orang-orang selalu melakukan hubungan intim, bahkan remaja yang belum pubertas pun sudah melakukannya karena ingin merasakan kepuasan. Bedanya, aku dibayar melakukan ini. Aku mendapatkan kepuasan dan uang untuk bertahan hidup..." dia mengisap rokok dan menghembuskannya, ahk... Dia tampak sensual saat menghembuskan asapnya.
"Akhir-akhir ini, kami kehabisan wanita muda di pub (tempat kerja semacam kafe). Kau bisa bergabung denganku. Aku yakin dalam satu malam kau bisa dapatkan semua uang yang kau perlukan. Jika kau beruntung, pria kaya bisa menebusmu dan membawamu keluar dari pub. Setelah pria itu bosan, kau bebas dan tidak terikat dengan apa pun. Mudah, bukan?"
Dia tersenyum miring. Dia licik. Aku tau Spencer licik, tapi aku tau dia tidak akan membohongiku dan membawaku dalam masalah. Dia sednag berusaha menolongku, tapi dengan cara yang tidak biasa.
"Pikir-pikirkanlah sesegera mungkin, Em.... Jika kau mau, datangi aku ke rumahku jam lima sore." dia segera berjelan dan masuk ke dalam rumahnya, meninggalkanku sendiri. Aku kembali menatap kosong ke arah anjing yang kembali mengais-ngais tong sampah. Jam lima sore? Cepat sekali... Aku bahkan bisa menghabiskan waktu satu tahun hanya untuk memikirkan itu.
Ah.. Yang kukhawatirkan saat ini adalah Max, kekasihku. Aku mengkhianatinya jika melakukan ini, tapi aku tidak punya pilihan lain. Sebenarnya, aku tidak pernah memiliki pilihan. Hidup tidak pernah memberiku pilihan dan hanya pasrah dengan satu pilihan yang membawaku ke arus yang selalu menenggelamkanku dan berharap seseorang akan menolongku dari arus itu.
***
MrsFox
Hey yooo, gais. Lama tidak jumpa. Aku hiatus lama bgt karena beberapa hal. Sempat berpikir untuk gk lanjut cerita ini dan buat cerita baru bertema anak kulihan gitu karena tema kek gini udah ramai dan alurnya pasaran, tapi sayangnya aku baru sadar bahwa novel yg uddah di publish enggak bisa dihapus dari platfrom ini wkwk, jadi aku lanjut ajah dehh. Kuharap kalian suka walau alurnya bakalan mudah ditebak dan pasaran karena cerita ala" wanita malam dan pria sempurna udah ramai di platfrom mangatoon ini, tapi sebagai author yang berimajinasi tinggi dan liar+punya banyak pembaca yg liar juga .-. Aku bakal menyulapnya dengan baik, rapi, terarah, dan tidak mudah ditebak(semoga) dan tentunya sangat liarrrrrrrrr wkwkwk