
Happy Reading
****
"Em.. Aku sudah menunggu saat-saat seperti ini. Di mana kau benar-benar terjepit olehku...."
Dia berdiri di depanku dan kini wajah kami hanya tinggal sejengkal. Aku melihat bola matanya dan bercermin disana.
"Kau tak paham apa pun...." ucapku, "Tidak perlu ikut campur dengan urusanku. Aku akan menghapus namamu segera dari kartu keluarga... Kau sudah bisa memulai untuk mengambil barang-barangmu..."
"Hah?! Kau mengusirku?"
"Kau bukan bagian dari keluarga ini lagi, Julia... Aku tidak bisa menahan segala masalah yang kau timbulkan..."
Aku membalikkan badanku dan hendak pergi dari sana. Tapi dia segera menahanku dengan berdiri tepat dihadapanku. Wajahnya kini memerah dan garis keras terbentuk di dahinya. Dia orang yang sangat mudah terpancing amarahnya.
"Kau mengusirku yah? Kau orang ter-egois yang pernah kukenal,Em...."
Mataku sekarang berair, "Egois? Setelah semua yang kukorbankan untuk tetap membuat keluarga ini utuh...."
"Utuh? Keluarga ini sudah hancur sejak dulu, Em...."
"Terserah... Kau tidak perlu datang kembali ke sini jika yang kau lakukan hanya ingin masalah denganku..."
Aku segera melewati dia pergi seraya mengusap ujung mataku yang sedikit berair.
"Aku tau kau menjual badanmu...." aku segera menghentikan kakiku, "Kau pikir siapa yang lebih bermasalah disini? Aku atau kau?"
"Aku tidak peduli, Julia Elizabeth Teatons. Tidak peduli...."
***
Sisa bulan Desember kuhabiskan bersama dengan Will dan Hailey di rumah, mengunjungi museum, ke taman bermain, dan banyak lagi hingga tahun baru datang kembali. Aku dan Harry tidak bertemu selama dua minggu lebih karena dia harus pergi bersama keluaragnya untuk mengunjungi Kakek dan Neneknya di Spanyol.
Ini adalah hari kedua untuk tahun ini. Udara masih tetap dingin dan bersalju. Aku sedang duduk di balkon kecil rumahku seraya menatap keadaan di luar. Ponselku berdering dan dengan cepat tanganku meraih ponsel yang ada di sampingku.
Aku langsung serasa hilang semangat saat melihat nama Max di sana. Aku mengabaikan pesannya. Entah kenapa aku merasa tidak bersemangat lagi pada Max, hal ini juga pernah terjadi padaku, saat-saat aku merasa jenuh dengan Max. Max juga pernah mengalami ini terhadapku, kupikir setiap pasangan pernah merasakan ini.
Aku yakin aku akan kembali seperti biasa, saat-saat aku selalu bahagia mendapat 'notif' dari Max. Pasti sesegera mungkin. Aku memejamkan mataku dan entah mengapa aku merindukan Harry. Aku merindukan dia menceritakan hal baru padaku setiap hari. Dia juga seorang guru yang selalu mengajarkanku hal baru. Dia juga membantuku menyelesaikan novel yang sedang kukerjakan.
Dia benar-benar pria yang baik, ramah, tampan, dan segala hal yang baik ada padanya. Terkadang aku sedih membayangkan wanita mana yang sampai hati menolak sosok Harry. Jika melihat wajah sendunya, aku begitu yakin bahwa Harry benar-benar mencintai wanita itu dengan tulus.
Ponselku berdering kembali dan aku segera melihat pemberitahuan di layar ponsel. Segera senyumku merekah. Aku membuka pesan dari dia, selama dua minggu ini kami menghabiskan waktu untuk saling mengirmi pesan.
'Em....'
Aku tersenyum membaca kata sapaan dari dia. Selalu di awali dengan kata 'Em...' Seolah aku bisa membayangkan dia menyebutkan namaku langsung.
'Ada apa?'
'Aku sudah pulang. Datanglah ke apartemenku...'
Aku segera berjingkrak senang.
'Malam ini?'
'Sekarang pun tidak masalah'
'Okay.. Aku akan segera ke sana...'
Aku menutup ponselku dan berlari kecil masuk ke dalam kamarku dan mengganti pakaianku. Sejenak keraguan muncul dalam diriku saat melihat isi lemariku. Pakaian yang mana? Aku memutar mataku jengekel. Pakai saja apa pun, Em...
Aku memakai turtle neck, jaket parka, dan celana jeansku. Aku berpikir untuk mengganti celana dalamku, tapi kuurungkan niatku karena aku baru menganggantinya pagi ini. Aku menuruni tangga dengan cepat dan melupakan deritan tangga kami. Sial, aku harus segera menyuruh tukang memperbaiki.
"Aku pergi yah..." ucapku saat melewai ruang tamu. Aku duduk di depan rak sepatu seraya memakai sepatuku.
"Jangan lupa bawa payung, perkiraan cuaca mengatakan akan turun salju...."ucap Hailey.
"Yah...." aku berteriak seraya memasukkan payung lipat kecil ke dalam saku jaketku.
Aku bangkit berdiri dan segera keluar dari rumah. Aku menutupi kepalaku dengan topi jaketku. Aku menghentikan taxi yang lewat dan memberitahu alamat Harry. Selama di mobil, aku membuka ponselku dan melihat tidak ada lagi pesan baru kecuali lima pesan dari Max yang belum kubaca. Aku akhirnya membuka dan membalas pesannya.
'Ada yang salah?'
Dia mengirim pesan lagi. Setiap pertanyaan ini dimulai, pasti kami akan berakhir berkelahi.
'Semua okay...'
Aku segera menutup ponselku dan segera membayar ongkosku yang terbilang mahal saat aku sudah sampai, rasanya seperti aku baru dirampok. Andai bus bekerja di hari seperti ini, aku akan memakai bus.. Aku menatap ke atas gedung yang seolah tidak berujung. Aku hendak mengambil ponselku untuk menghubungi Harry,dan...
"Em...." aku menoleh ke kanan dan melihat Harry berdiri beberapa langkah dariku. Napasnya terrengah dan wajahnya sedikit memerah. Dia melepas topi hoodie abu-abunya, lalu melepas salah satu earphonenya. Dia jelas baru melakukan olahraga pagi dan dia luar biasa tampan. Sial, kadang kesempurnaannya tidak manusiawi.
"Hey..."
"Kau datang lebih cepat dari yang kubayangkan..."
Aku hanya tersenyum kecil saat mendengar itu.
"Ayo masuk..."
"Nyamankan dirimu... Aku harus mandi." ucapnya.
"Okay..." aku segera duduk di sofa dan berpikir bahwa pertemuan kami tidak seperti yang kuharapkan. Dia tampak biasa saja. Aku menyalakan televisi Harry yang luar biasa besarnya seraya menunggu Harry. Sekitar sepuluh menit kemudian, Harry muncul dengan sweater hitam dan celana santai. Segar dan wangi.
"Well..." dia segera duduk di sofo di sisi yang lain.
"Selamat tahun baru..." bisikku.
"Selamat tahun baru...." dia menatapku dan tersenyum kecil. Itu membuatku canggung.
"Ada yang salah?"
"Tidak... Aku hanya merasa seolah tidak bertemu denganmu bertahun-tahun..."
"Kita bertemu dari tahun 20xx sampai tahun baru ini..." ucapku seolah kami tidak bertemu selama setahun penuh, padahal hanya sekitar dua minggu.
Dia tersenyum setengah lagi, "Kemarilah..." dia menepuk-nepuk bagian sofa yang di sampingnya dan aku segera bergerak ke sana. Harry segera memelukku dan aku merasakan damai. Wanginya yang enak, lengannya yang kuat, dan hangat, serat dadanya yang lebar. Sial, betapa sempurnanya berada di pelukan Harry.
"Apakah di Spanyol menyenangkan?"
"Membosankan karena kau tidak ada di sana..."
Aku tersipu mendengar jawabannya.
"Di sini juga..." bisikku, "Terasa membosankan..."
Ada jeda keheningan lagi. Ada saat-saat yang tidak kusuka, salah satunya saat ini. Saat aku dan Harry berdiam diri karena kehabisan topik. Aku ingin membuka pembicaraan, tapi aku takut tidak nyambung.
"Aku akan pergi ke Los Angeles besok..."
Aku segera mengangkat kepalaku menjauh dari Harry seraya menatapnya heran.
"Kau pergi lagi?"
"Urusan kerja. Aku harus dinas...."
"Owh..." dengusku pelan
"Tapi kau ikut...."
"Aku?"
Dia mendekatkan kepalanya ke kepalaku, "Akukan sudah bilang, semua tempat akan membosankan tanpa kau ada di sana..." dia segera mencium bibirku dan aku tidak menolak. Aku mengalungkan tanganku pada lehernya dan aku tau ke mana ini akan berakhir saat Harry menarik keluar sweaterku. Aku merindukan semua tentangnya dan betapa gilanya diriku karena aku merindukan setiap sentuhannya di tubuhku.
"Ah..." desahku dan itu menjadi pagi yang panjang untuk kami berdua.
****
Dengan segala alasan dan kebohongan, aku berkata pada Hailey bahwa aku ada kegiatan penting dan tidak akan pulang selama lima hari. Sial, aku sudah memulai tahun baru ini dengan sebuah kebohongan. Dan di sinilah aku berdiri dengan Harry di depan pesawat jet dengan SMITH menempel begitu tegas di badan pesawat.
"Sial, kau tidak bilang kau punya pesawat pribadi..."
"Ini bukan punyaku, milik perusahaan. Ayo..."
"Harry.. Penampilanku benar-benar seperti gelandangan sekarang..." dengusku saat membandingkan outfitku dengan Harry.
"Ayolah.... Selama kau tidak telanjang..." dia menarik tanganku dan aku akhirnya mengikut saja menaiki pesawat itu. Terimakasih pada Hailey karena dia membersihkan sepatuku hingga aku tidak perlu khawatir mengotori lantai pesawat.
"Ini penerbangan pertama dengan pesawat seperti ini?" tanya Harry saat kami sudah duduk di bangku masing-masing, lengkap dengan sabuk pengaman. Aku menoleh ke arahnya. Aku berusaha mencari wajah dan nada penghinaan di sana, tapi tidak ada. Wajahnya lembut dan senyumnya hangat. Sial, kenapa aku selalu berpikir negatif tentang dia. Pria sebaik dia.
"Uhm... Biasanya aku selalu menggunakan pesawat komersial..."
"Tidak banyak perbedaan. Tapi ini melaju lebih cepat. Tidak perlu khawatir setelah pesawatnya terbang kau bisa melepas sabuk pengamanmu. Kau bahkan bisa main golf di sini..." ucapnya dengan suara jenaka, seolah berusaha menenangkanku.
Aku menoleh ke arah lain saat pesawat mulai sedikit terguncang diiringi dengan perkataan pilot. Aku memejamkan mata dan pesawat perlahan bergetar hebat. Aku tidak mungkin langsung mati di sini. Tidak lucu rasanya aku mati dalam pesawat. Tidak lucu... Tidak... Dan getaran itu perlahan hilang.
"Ladies and gentleman. Saya Charlie Tam, pilot pesawat ini.. Kita akan menuju Los Angeles dalam tiga jam. Nikmati waktu anda dan jangan lupa minum Tequilla anda..."
"Kupikir aku akan mati...."
"Kau tidaak akan mati selama aku di sini..." Harry segera berdiri dari posisi, "Kemarilah...." dia menawarkan tangan kanannya.
"Kemana?" aku tetap membuka sabuk pengamanku dan menerima tangan Harry.
"Coba tebak..." Harry tersenyum miring.
Aku segera menutup mulutku dengan tangan yang lain, "No way...." bisikku.
"Yeah... Kita akan melakukannya di sini..."
*****
MrsFox
Hai gais, long time no see. Semoga kalian sehat" saja di mana pun kalian berada.WKKWKWK, kadang suka ketawa sendiri betapa novel ini sering ngandet", stop" gk jelas, dan akhirnya gk berkembang kemana-mana. Aku selalu berharap novel ini bakalan selesai sebelum tahun baru, tapi sepertinya gak bisa(bisa kalo update 2 episod tiap hari wwkwkkwkw). Tapi novel ini gak bakalan panjang" amat kok. Aku janji. Wkwkw. Lop yuh gais untuk kalian yang selalu setia. Lop yuh so harddddd. Lop yuh from the moon to world and back.... :)