
Happy Reading
WARNING!!! If you under 19th, please be wise readers. Not to under 19th!!!!!
***
"Aku yang akan menutup toko..." ucapku pada Alice dan Rose.
"Oh my.. Trims, Em... Aku benar-benar ingin berbaring saat ini juga..." ucap Alice dan aku tersenyum kecil.
"Bye, Em..." ucap Rose
"Bye..." Mereka berdua segera bergerak keluar dari ruang ganti. Aku berjalan keluar dari ruang ganti dan berjalan menuju kamar mandi. Aku memperbaiki beberapa peralatan kebersihan dan menyusunnya pada tempatnya. Lalu aku berjalan kembali ke ruang ganti. Aku membuka lokerku, melepas apron, dan memasukkannya ke dalam. Aku mengambil jaketku dan segera memakainya. Tanganku berhenti bergerak saat mendengar suara langkah kaki.
"Em..."
Sial.. Suara Dave. Mataku segera melihat ke arah gagang pintu yang bergerak. Kemudian, kepalanya muncul dari balik pintu.
"Ada apa?" ucapku dingin. Sial, dia sudah melewati batas privasi. Ini runag ganti wanita.
"Ah... Aku penasaran kau berada di mana karena aku akan menutup pintu toko ini."
"Aku sudah selesai dan akan pergi..." aku melingkarkan syalku ke leherku dan buru-buru berjalan ke arah pintu. Dave mundur dan membukakan pintu untukku.
"Kau langsung pulang?" dia mengekor di belakangku.
"Yah..." aku berjalan cepat dan melewati rak-rak.
"Oh.. Kau bertemu pacarmu yah?"
Aku hendak berteriak padanya bahwa itu bukan urusannya, tapi aku tidak tau bagaimana perangai sosok Dave. Dia bisa saja orang sensifit yang sangat mudah marah jika aku berteriak padanya.
"Yah. Dia sudah menungguku... Bye.." ucapku dan segera keluar dari toko tanpa menunggu balasan darinya. Aku segera melihat mobil Harry yang masih terparkir di depan toko. Dia benar-benar menungguku.
"Hey..."
"Ahk.." aku meloncat ke depan dan memutar tubuhku saat mendengar sapaan tidak terduga itu. Au melihat Harry berdiri tepat di belakangku. Sial. Kenapa aku sangat mudah terkejut?
"Aku mengejutkanmu, yah?"
Aku mengangguk kecil, "Yah...."
"Maafkan aku... Ayo."
Harry berjalan melewatiku dan membuka pintu mobil untukku. Wah.. Sifat gentlemannya. Aku berjalan masuk ke dalam mobil setelah mengucapkan terimakasih. Tidak berapa lama kemudian, Harry ikut bergabung denganku di dalam mobil dan duduk di kursi pengemudi.
Dan kami diam untuk beberapa waktu... Hening dan hanya menatap jalanan. Canggung. Lalu, Harry berdehem sekali.
"Apa kabar?"
"Baik. Kau?"
"Lumayan...."
Lumayan? Lumayan apa? Lumayan buruk? Lumayan baik? Kenapa jawabannya selalu membingungkan.
Lalu hening. Bagus... Hening lagi.
"Soal yang terjadi di LA, aku minta maaf, Em...."
Aku melihat bayangannya wajahnya di kaca mobil, tapi aku tidak bisa membaca ekspresinya.
"Seharusnya aku tidak melakukan itu..."
Aku memejamkan mata, "Aku sudah memikirkannya dan sadar bahwa itu kesalahanku. Dalam kontrak di sebutkan bahwa aku dilarang disentuh pria lain... Aku juga minta maaf...."
"Tapi hubunganmu dengan--"
"Tidak..." aku memotong ucapan Harry, enggan rasanya dia menyebutkan nama Max, "Tidak apa... Sudah seharusnya itu terjadi karena aku melakukan ini di belakangnya. Aku juga akan melakukan hal yang sama jika mengetahui pacarku melakukan hal seperti itu..."
Dan kami diam lagi.
"Kau tau..." Harry memecahkan keheningan lagi, "Aku memutuskan kontrak secara sepihak dengan para partnerku karena mereka meminta lebih..."
Aku menoleh ke arahnya, "Meminta lebih?" ulangku.
"Mereka berkata menyukaiku dna inginkan lebih dariku, Emilya.... Namun, aku tidak bisa melakukannya...."
Aku segera membuang muka darinya dan langsung teringat bahwa aku menyatakan perasaanku padanya. Sial, aku tidak tau kenapa aku mengatakan itu. Aku tidak yakin bahwa aku benar-benar menyukainya. Saat itu aku kacau dan sakit hati akan ucapannya. Walau aku tidak tau kenapa aku sakit hati akan ucapannya.
"Aku tidak bisa melakukannya karena aku menyukai orang lain..."
Aku menelan ludahku. Siapa sebenarnya wanita yang dia bicarakan itu? Wanita yang dia cintai dengan begitu sungguh-sungguh?
"Aku selalu mencoba membangun hubungan dengan banyak wanita, tapi selalu gagal. Aku tidak bisa melupakannya..."
Entah kenapa, timbul rasa iriku pada wanita yang dibicarakan Harry. Padahal aku tidak mengenalnya. Tidak tau wajahnya. Tidak tau siapa dia dan bagaimana perangainya. Apa kelebihannya dan apa yang dia miliki yang tidak dimiliki wanita lain hingga membuat Harry begitu memujanya? Dan apa yang terjadi pada mereka berdua? Kenapa Harry tidak bisa memiliki wanita itu? Pria sesempurna dia.
"Apa sebenarnya yang ingin kau bicarakan, Harry?" aku menarik napas, "Apa kau ingin mengakhiri kontrak denganku karena ungkapan perasaanku saat itu?" Yah.. lebih baik seperti ini. Cepat dan tepat. Dan bukannya bertele-tele.
"Entahlah... Aku berpikir hendak mengakhiri kontrak denganmu, tapi kemudian aku berpikir bahwa aku menikmati waktu yang kuhabiskan denganmu dan membuatku ragu lagi."
Menikmati waktu? Sebagai partner? Atau sebagai apa?
"Apakah kau merasa nyaman saat bersamaku, Em?"
"Yah.." bisikku.
"Apa kau menyukaiku, Em?"
Aku menoleh padanya dan mataku bertemu dengan matanya dalam kegelapan. Matanya berkilauan. Aku segera mengalihkan tatapanku darinya.
"Entahlah.."
Aku pun bingung dengan perasaanku. Aku marah dan iri setiap dia menceritakan tentang wanita yang dia sukai. Aku merasa nyaman di dekatnya. Aku merindukannya dan merasa aneh saat tidak melihatnya. Dan aku tidak bisa memungkiri bahwa Harry adalah pria yang sangat tampan dan juga kaya, sulit rasanya untuk tidak menyukai sosok sesempurna dia.
"Bagaimana denganmu? Apa kau hanya menganggapku partner?" tanyaku.
"Entahlah... Aku merasa nyaman denganmu, Em dan aku merasa marah dan tidak suka saat mantan kekasihmu menciummu... Aku juga merasa khawatir jika aku tidak mendapat kabar darimu..."
Ucapannya.... Ucapannya membuat dadaku hangat.
"Aku tidak tau, tapi aku tidak bisa menyimpulkannya sebagai rasa suka, Em karena aku masih tetap memikirkan wanita itu..."
Aku menoleh ke arahnya, "Sebenarnya, siapa wanita itu?" Aku bisa melihat kilatan di matanya dalam gelap.
"Kau akan tau sendiri nanti..."
Harry mengangkat tangan kanannya dan mengelus pipiku dengan lembut, segera itu mengirimkan perasaan aneh dalam diriku. Aku merindukan sentuhannya. Benar-benar sangat merindukannya.
"Entahlah, Em... Terkadang aku berpikir bahwa dia mirip dengan banyak orang, termasuk kau..."
Apa? Apa wajahnya sangat umum hingga bisa mirip dengan banyak orang?
"Maukah... Maukah kau mencobanya denganku , Em.." bisik Harry seraya menyelipkan anak rambutku ke balik telinga.
"Mencoba? Mencoba apa?"
"Sebuah hubungan..." dia segera menarik tangannya dari wajahnya dan mengalihkan tatapan dariku. Aku melihat siluet tubuhnya dan dia menyisir rambutnya dengan jemarinya.
"Aku bingung..." ucapku jujur.
Dia mendengus, "Ini mungkin akan terdengar jahat dan kau mungkin akan berpikir bahwa aku pria sialan..."
"Katakan saja, Harry.. Aku akan mendengar.."
"Aku ingin mencoba membangun hubungan denganmu, Em... Tapi hanya sampai kontrak kita selesai.. Jika aku merasa nyaman dan menikmati hubungan denganmu maka aku ingin melanjutkannya dengan serius tanpa kontrak, tapi jika tidak....." dia menarik napas panjang, "Tapi jika tidak, aku ingin mengakhirinya setelah kontrak selesai..."
Aku diam dan dia segera menoleh padaku.
"Ah.. Sial.. Aku tau itu terdengar jahat, tapi aku... Aku..."
"Aku mau..." ucapku tanpa pikir panjang.
"Apa?"
"Aku mau, Harry.. Aku mau memulai membangun hubungan denganmu...'
Aku tau.. Aku tau apa yang kalian pikirkan tentangku. Wanita murahan? Wanita rendahan? Dan apa pun itu, aku tau apa yang kulakukan ini benar-benar menjijikkan. Setelah putus dengan Max dan sekarang memulai hubungan 'coba-coba' dengan partnerku sendiri. Namun, aku ingin. Aku ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi bersama Harry. Walau itu tidak pasti karena semua tergantung Harry, tapi aku mau... Aku mau melakukannya.
"Kau serius? Maksudku... Ini akan tidak pasti dan---"
"Aku serius, Harry...."
Dia menatapku dan napasnya menderu cepat.
"Sial.. Kau benar-benar wanita baik, Em..."
Aku tidak merasa begitu. Aku merasa sebagai wanita murahan saat ini.
"Maukah... Maukah kau menginap denganku malam ini?"
Aku mengedipkan kelopak mataku dan bayangan Harry menyentuhku berputar-putar dalam kepalaku.
"Yah..." bisikku dan dengan itu, Harry segera melajukan mobilnya.
****
Aku dan harry masuk ke dalam lift. Dia menekan tombol lift dan kami berdiri dalam diam.Aku menarik syalku hingga menutupi mulut dan hidungku, lalu mata kami bertemu di dinding lift. Dia menarik napasnya dan membuangnya dengan kasar.
"Sial.. Aku tidak tahan..." Harry segera mendorongku ke dinding lift dan menarik syalku terlepas dari leherku, lalu dia menciumku dengan membabi buta. Begitu tergesa-gesa dan aku hanya mengikuti irama yang dia buat. Harry segera mendorongku keluar dari lift dan masuk ke dalam rumahnya yang terhubung langsung ke lift.
Dia membuka jaket, sweater, dan kaosku sehingga meninggalkanku dalam balutan bra. Dia berhenti dari kegiatannya dan menatapku, membuatku merasa malu dan tidak nyaman. Aku memang kehilangan berat badanku akhir-akhir ini karena banyak pikiran. Apa aku terlalu kurus?
"Sial, Em.. Aku bahkan sangat suka badanmu yang kurus.." Harry segera melepas coat, jas, dan kemejanya. Dia berjalan ke arahku dan segera mengangkat tubuhku. Aku melingkarkan kakiku di pinggulnya dan Harry membaringkanku di atas sofa.
Dia mengelus wajahku dan mengecup dahiku, keuda kelopak mataku, dan terakhir bibirku.
"Kau benar-benar cantik, Em..."
Dia segera mencium bibirku, lalu dia beralih ke telingaku dan menghisapnya.
"Ah..." eluhku.
"Aku suka suaramu, Em..." bisiknya di telingaku lalu dia menggigit lembut daun telingaku.
Mulutnya segera turun dan dia menghisap kulit leherku, "Tanda bahwa kau milikku...." itu jelas akan berbekas besok.
Lalu dia turun lagi dengan tetap bibirnya di sekitar kulitku. Panas. Pusing. Aku benar-benar pusing karena gairah ini. Aku melihat Harry yang juga melihatku, dia tersenyum kecil dan segera menarik bra biruku ke bawah hingga membuat buah dadaku terangkat ke atas.
"Aku bahkan suka payudaramu yang mungil, Em.." dia mengembus pucuknya dan aku segera melengkungkan punggungku ke arahnya.
"Harry!" pekikku.
"Yah sayang?" dia mengembusnya lagi dan aku melengkungkan punggungku dengan putus asa.
"Kumohon, Harry... Kumohon..."
Lalu Harry menggulum milikku dengan mulutnya dan tangannya meremas milikku yang lain.
"Harry....Ah... Ah...."
Aku meremas rambut tebal Harry dan mendorong kepalanya semakin dalam pada dadaku.
"Ah!" aku memekik ketika Harry menggigitnya.
"Yah.. Yah.. Aku suka suka suaram, Em...."
Lalu mulutnya kembali sejejar ke kepalaku dan tangannya menurunkan celana dan celana dalamku bersamaan. Menurunkan celananya dan aku segera merasakan sesuatu yang menusuk pahaku. Harry mencium bibirku sekilas.
"Aku akan sangat cepat, Em..." bisik harry dan tanpa aba-aba, dia memasukkan miliknya padaku.
"Harry..." eluhku dan aku segera mengalungkan kakiku pada pinggulnya.
"Em...." Harry menggeram keras dan terus mendorong masuk.
Aku bergerak dan mengikuti iramanya.
"Yah.. yah, sayang....." Harry mencium bibirku dan mempercepat gerakannya. Kepalaku pusing. Harry kembali meremas dadaku dan ini terlalu banyak.
Aku mencengkram keras otot lengan Harry, bahkan mencakarnya. Tubuhku bergetar keras dan pelepasanku akhirnya datang.
"Ah.." aku memekik pelan dan tidak lama kemudian Harry mencapai puncaknya.
Harry mencium bibirku, "Ini akan menjadi malam yang panjang, Em...." dia segera membalikkan badanku dan aku tau bahwa ini benar-benar akan menjadi malam yang panjang
***
MrsFox
Aku ada saran, kemarin aku ada edit dua episode dan dia nggak nyambung jadinya(mungkin beberapa orang sadar). Itu yang Another Man dan Magic. mereka itu 21++ jadi aku edit kemarin karna pihak mangatoon juga. Aku mau buat dia di next chapter karna gk bisa aku edit lagi kembali ke semula. Kalian mau gituh? Takutnya nanti ada yg gk paham karna aku buat di chapter berikutnya. Aku ada simpan filenya, karna sayang kalian gk baca :v, tapi kalo kalian mau ajah yah, biar aku update di next chapter.. Okay. Jangan lupa like, koment, love, vote. Lop yuh gais