Harry's Love Story

Harry's Love Story
Tatapan (2)



Happy Reading


***


Harry POV


Aku mendengus kesal saat Bastian meninggalkanku sendiri duduk di bar. Bastian adalah sepupuku dan dia baru pulang dari Jepang setelah pamerannya selesai dilaksanakan. Dia tiba-tiba mengajakku ke mari dengan alibi mengatakan bahwa aku butuh hiburan, sejujurnya dia lah yang butuh hiburan.


Aku bukanlah penikmat tempat seperti ini. Tempatnya tidak teratur, bising, ramai, udara tidak steril, dan membosankan. Untungnya, minuman di sini cukup nikmat. Aku membuka jaketku saat merasakan udara di dalam sini cukup hangat. Aku menyesap alkohol milikku seraya melihat bartender yang sedang meracik minumannya.


Aku menoleh ke belakang dan berusaha mencari keberadaan Bastian di lantai dansa. Lalu menoleh ke arah kiri dan aku langsung menyesalinya karena mataku bertemu pandang dengan mata seorang wanita. Dan wanita jelas wanita penghibur di sini. Aku segera menoleh ke arah minumanku kembali. Ah... Pasti dia akan datang ke sini, aku tau jelas wanita penghibur itu seperti apa. Setiap kau tidak sengaja melakukan kontak mata dengan wanita penghibur, mereka akan menggodamu habis-habisan hingga dia mendapat yang dia mau.


Aku menunggu dan menyesap minuman itu. Dia tidak datang? Aku mencuri pandang ke arahnya lagi. Dalam cahaya yang cukup temaram, aku hanya bisa melihat bayangan tubuhnya serta lekukan wajah sampingnya. Aku memperhatikan pakaiannya yang terbuka, jelas dia seorang wanita penghibur. Seolah sadar dipandangi, dia menoleh ke arahku tepat saat lampu disco warna putih melewati wajahnya dan tepat pada matanya.



Aku tertegun menatap bola matanya. Itu bola mata coklat terang dan cukup terang untuk orang barat pada umumnya. Jernih dan... Belum sempat aku berpikir tentang matanya, dia segera membuang muka dariku dan aku segera sadar dan ikut membuang muka juga. Apa yang kulakukan? Hah, alkohol ini sudah membuatku tidak waras. Untuk apa aku tertegun menatap hal seperti itu? Itu mungkin saja hanya softlens atau apalah yang dia gunakan untuk menarik perhatian pelanggan.


Tapi, entah kenapa. Hasratku untuk menatap dia kembali sangat kuat. Aku melirik dia kembali tanpa menggerakkan kepalaku, hanya bola mataku bergerak. Dia sudah menutupi wajahnya dengan rambutnya sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya. Jelas dia sengaja melakukan itu. Dia berbicara dengan bartender itu dan aku yakin bahwa aku yang sedang mereka bicarakan karena bartender itu melirik singkat padaku dan menggeleng kepala pada wanita itu.


Aku menyesap alkoholku lagi dan berpikir tentang apa yang mereka bicarakan. Ah.. Aku bukanlah tipe orang yang memusingkan ucapan orang lain tentangku, tapi kenapa kali ini aku terganggu? Apa karena aku kelelahan? Apa karena suasana tempat ini? Apakah karena minumanku? Atau karena bola mata itu tadi? Atau karena aku bosan?


"Hai.." aku menutup mataku saat merasakan lenganku di pegang. Nada bicaranya menggoda, kuku panjangnya bergerak di sepanjang lenganku. Sial..


"Maaf, saya sedang tidak ingin di ganggu.." ucapku sesopan mungkin dan sesekali melirik ke arah wanita bermata coklat itu, berjaga-jaga agar dia tidak lepas dari pandanganku.


"Kau kelihatan kesepian saat aku menatapmu dari kejauhan.. Aku bisa menemanimu..." dia berbisik di telingaku dan aku merasa muak dengan napasnya yang bau dan bercampur alkohol.


Aku bukan penikmat wanita penghibur. Tidak steril, bisa saja mereka baru mencium pria lain lalu mencium pria lain hingga akhirnya menciumku kembali. Ah.. Membayangkan itu membuatku jijik. Aku suka wanita, tentu saja aku suka. Tapi wanita yang bersih, bukan seperti mereka. Yang bisa mencium lima pria permalamnya dengan mulut yang sama. Di tambah, risiko penyebaran penyakit. Ah.. Aku tidak suka itu.


"Maaf.. Saya sudah--"


"Tidak perlu malu-malu..." dia memotong ucapanku


Aku segera jengah dan melepas tangannya dariku. Jelas dia tidak akan menyerah menggodaku, "Maaf, aku lebih suka yang itu..." ucapku merujuk pada wanita bermata coklat itu dan segera menyesalinya. Astaga, seharusnya aku segera pergi saja dan bukan mengatakan itu. Aku memutar mata dan mengambil jaketku. Bergerak ke arah wanita bermata coklat itu. Aku sudah terlanjur mengatakannya. Aku yakin wanita berkuku panjang itu sedang mengawasiku.


Aku bisa saja langsung pergi, tapi aku tetap mengarah wanita bermata coklat itu. Tidak apa, aku hanya akan mengajak dia bicara sebentar hingga wanita kuku panjang itu pergi dan berhenti mengawasiku. Aku segera duduk di samping wanita itu dan mencium parfum bunga yang pekat. Dia menoleh ke arahku dan seperti terkejut. Aku ingin melihat bola matanya lagi, tapi tidak bisa karena cahaya temaram.


Dia kurus. Terlampau kurus. Aku bisa melihat dari tulang wajahnya yang jelas dan lengannya yang kecil. Apa dia benar-benar wanita penghibur? Bukankah seharusnya mereka berisi dan menarik? Dan lagi, dia tidak berusaha menggodaku, padahal aku sejak tadi mencuri-curi pandang padanya. Tapi, dia tidak sedikit pun menarik. Dia lebih nampak seperti remaja berusia 16 tahun yang berdandan seperti orang dewasa. Apa jangan-jangan dia masih di bawah umur?


"Berapa usiamu?" tanyaku seperti orang bodoh. Kenapa aku menanyakan itu?


"Apa?" nadanya suaranya lembut dan jernih. Bukan nada menggoda.


Aku memutar mataku dan kembali mengarah ke meja bar, "Lupakan..." dengusku.


Aku menoleh padanya, "Ku pikir kau remaja di bawah umur..." ucapku ragu. Mataku tidak sengaja menangkap belahan dadanya yang kecil dan terlihat aneh karena disandingkan dengan baju itu. Seharusnya dadanya harus cukup besar agar terlihat pas dengan baju itu.


"Aku pekerja di sini.." ucapnya dan suaranya terdengar lugu.


"Pelayan?"


"Bukan. Wanita penghibur..." ucapnya santai dengan nada lugu yang tidak dibuat-buat. Ah.. Dia bercanda yah? Baru kali ini aku menemui wanita penghibur yang memperkenalkan dirinya seperti itu. Biasanya mereka langsung menggoda saja dan bukan mengatakan 'Hai, aku wanita penghibur..'


"Aku ragu. Kau yakin tentang itu?"


Dia diam sejenak dan aku berharap mengetahui apa yang dia pikirkan.


"Cukup yakin." Jawaban apa itu? Lampu disco itu melewati kami lagi dan aku bisa melihat dengan jelas bola matanya yang coklat terang. Di dorong oleh segala situasi dan kondisi di sini, aku mengarahkan tanganku pada pipinya. Dia tampak terkejut, tapi aku mengabaikannya.


"Ini bola mata asli?"


Dia menepis tanganku dengan cukup lembut dan memutar kepalanya ke arah meja sehingga memutuskan kontak mata kami. Dia malu? Ah.. Wanita penghibur dengan konsep lugu dan malu-malu.


"Yah..." bisiknya dan meneguk minumannya. Aku kembali meneguk minumanku hingga habis.


"Kau mengakui dirimu sebagai wanita penghibur, kalau begitu temani aku..."


Dia menoleh ke arahku lagi dan menggigit bibirnya bawahnya sekilas, "Bayaranku mahal.." dia sedang sok jual mahal?


"Akan ku bayar..."


Aku hanya ingin membawanya keluar dari sini dan menuju tempat yang lebih terang. Aku ingin melihat bola matanya yang mirip dengan dengan bola mata Kenny... Ah.. Kenny. Aku merindukan wanita itu. Padahal dia sudah memiliki hidup bahagia dengan keluarga barunya. Aku memejamkan mataku dan melihat wajah Kenny. Aku tidak bisa melupakannya. Tidak bisa.


"Kumohon, temani aku..."


***


MrsFox


hey yoo, gais. Gimana dengan chapter kali ini? Emang agak pasaran sih tema gini, tapi kita buat se apik mungkin yah.  Tinggalkan coment, like, love, vote kalian yahh :') Biar ceritanya berkembang seperti cerita sebelah (Because Of You)  Lop yuh gais....