
Happy Reading
***
Harry POV
Aku segera berdiri setelah rapat kami selesai. Aku tersenyum menyalam mereka secara bergantian seraya berbasa-basi dengan mereka. Aku jengah dan berharap mereka berhenti menceritakan hal yang tidak penting. Lalu, tatapanku bertemu dengan wanita berambut hitam. Ah.. Gadis dari Arab itu. Ayah menyuruhku untuk mendekatinya, tapi aku tidak yakin. Dia begitu serius, layaknya aku. Aku mengangguk kecil padanya sebelum akhirnya meninggalkan ruang rapat.
"Apa jadwal selanjutnya?" aku bertanya pada sekretarisku yang berjalan di belakangku.
"Tidak ada sir, tapi beberapa dokumen butuh tanda tangan anda.."
"Baiklah.. Taruh documentnya ke ruanganku. Aku akan membawanya pulang."
"Yes, sir..."
***
Aku memejamkan mataku sejenak setelah lampu merah menyala. Aku membuka mataku dan melihat baliho yang menunjukkan wajah Kenny. Uhm.. Dia musisi yang sangat sukses. Hampir di semua sudut New York, aku bisa melihat wajahnya. Menyebalkan, tapi aku bisa apa? Aku hanya bisa menatapnya seperti orang lain.
Lampu hijau menyala dan sejenak aku ragu harus meneruskan mobilku ke arah mana. Akhirnya aku memilih ke arah kanan, menuju apartemen 'kekasihku'. Aku tidak menemuinya selama tiga hari sejak malam pertamaku dengannya karena banyaknya yang harus kukerjakan. Aku memarkirakan mobilku di basement dan menuju lift. Lalu berjalan menuju apartemen itu.
Aku membuka pintu dengan kunci yang kumiliki dan segera wangi rempah-rempah tercium begitu kuat di hidungku. Aku membuka sepatuku dan memakai sendal. Aku meletakkan tas kerjaku di sofa. Lalu, membuka jas dan melepas dasiku. Aku berjalan ke arah dapur saat mendengar suara musik dari sana.
Suara piano Kenny...
Aku bersandar di kusen pintu yang memisahkan dapur dan ruang tengah. Aku melihat Emilya yang memunggungiku tengah mnggoyangkan tubuhnya seraya memasak. Dia memakai kaos hitam yang pas di tubuhnya dan jeans warna biru. Aku melihat pantatnya. Ah.. Ukuran dadanya memang sangat di sayangkan, tapi bokongnya lumayan sexi untukku.
"Ehem..." aku berdehem kecil dan dia segera terkejut. Seperti dugaanku, dia memutar tubuhnya, tangan kirinya di dada, dan wajahnya seolah berkata bahwa dia abru berlari 10 mil non-stop. Dia sangat mudah terkejut.
"Astaga.. Astaga..."
"Aku membuatmu terkejut?" ucapku seraya berjalan ke arahnya.
"Kau selalu melakukannya..." ucapnya jengkel dan santai, seolah dia sudah mengenalku lama. Well, aku suka bagian itu.
Aku duduk di kursi bar, "Sedang masak apa?"
"Sup krim..." dia memutar tubuhnya lagi dan fokus kembali memasak, "Kau mau?"
"Tentu. Aku belum makan malam..."
Dia menaruh panci yang menggepulkan asap itu, lalu dua mangkok, dua gelas, dan roti. Dia menuangkan supnya untukku dan untuknya, lalu dia duduk di depanku.
"Selamat makan..." ucapnya dan aku merasakan kehangatan saat mengatakannya.
"Kau suka musik piano?" tanyaku seraya merobek roti dengan tanganku ke atas sup.
"Aku? Tidak juga. Aku tidak terlalu paham soal piano atau semacamnya. Hanya saja aku sangat suka musiknya.."
"Nya?" aku menyendokkan sesendok sup ke dalam mulutku dan dia mengangguk.
"Yah. Kenny Sharp.. Kau tau dia kan? Kupikir, seluruh orang di kota ini mengenal dia.."
"Aku cukup mengenalnya..." ucapku penuh arti.
"Oh yeah? Dia temanmu?"
"Entahlah..."
Dia diam seolah bingung dengan ucapanku. Aku juga bingung dengan ucapanku sendiri.
"Usiamu 25 tahun bukan?" tanyaku.
"Yah..."
"Saat melihatmu pertama kali, kupikir kau berusia 16 atau 17 tahunan..."
"Semua orang selalu berpikir begitu setiap aku melamar pekerjaan..." aku melirik ke arah tangannya. Tangannya yang kasar.
"Aku tidak menyangka, aku meniduri wanita yang jauh lebih muda delapan tahun dariku.."
"Aku juga tidak menyangka melakukannya...." Aku langsung menilai bahwa dia orang yang terbuka dan aku suka itu. Aku suka nada bicaranya yang malas dan aku suka mendengar nada ketusnya. Kupikir, dia orang yang sangat sarkastik.
"Coba ceritakan tentangmu, Ms. Teatons.." aku menatapnya. Menatap bola matanya yang jernih itu.
Dia menyendokkan sup ke mulutnya dan sedikit tersenyum kecil, "Aku? Tidak ada yang menarik dariku..."
"Orang mengenalku sebagai penilai yang hebat dan aku yakin kau memiliki sesuatu yang menarik..."
"Aku? Jangan bercanda.." dia tertawa dan itu tawa yang sangat jernih, tulus, dan tidak dibuat-buat.
"Aku yakin kau wanita baik-baik, kenapa kau bergabung dengan ke dunia seperti ini?"
"Kupikir kau orang yang hebat menilai. Bukankah sudah jelas bahwa aku melakukannya untuk uang. Apa lagi?" ucapnya canggung dan aku mengangguk kecil seraya merobek roti lagi.
"Uang untuk apa?"
"Bertahan hidup..."
"Menarik.. Coba ceritakan tentangmu..."
Dia menatapku, lalu mengehal napas seolah menyerah.
"Aku sudah memberi data diriku padamu, kau bisa membacanya..."
"Aku suka suaramu jadi cobalah ceritakan..."
"Kau penggoda yang handal..." ucapnya pelan , "Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Lalu.. Aku bukan berasal dari New York, aku berasal dari kota pertanian kecil di Virginia. Aku juga punya keponakan, anak dari kakakku. Namanya Will. Lalu, adikku agak mirip denganku. Uhm....." dia mengerutkan dahinya lagi, berpikir keras. Aku mengarahkan tangan kananku ke dahinya dan mengelus kerutan itu.
"Kau berpikir terlalu keras hanya untuk menceritakan tentangmu..." aku menarik tanganku kembali dan dia memerah, "Kenapa kalian pindah ke New York?"
"Ceritanya panjang..."
"Aku akan mendengarnya...."
"Bagaimana denganmu? Sejak tadi hanya kau yang terus bertanya seperti si gila kontrol..."
"Gila kontrol? Aku bukan orang seperti itu. Orang mengenalku--"
"Orang yang ramah dan murah senyum.." dia melengkapi perkataanku, "Aku juga berpikir kau begitu, tapi kurasa itu palsu. Kau tau, aku juga hebat dalam menilai dan membaca seseorang..."
"Palsu? Tidak sepenuhnya palsu..."
"Aku penasaran apa pekerjaanmu."
"Aku mengerjakan banyak hal... Yang menghasilkan banyak uang."
"Sudah kuduga kau memiliki banyak uang. Bagaimana dengan keluarga? Aku berpikir bahwa aku sudah menikah.."
"Aku? Tidak.. Aku tidak menikah..."
"Tidak menikah atau belum menikah?"
"Keduanya..."
"Bagaimana dengan keluargamu?"
"Uhm.. Aku punya kakak perempuan, Ayah, dan Ibu. Coba beri asalan kenapa kau melakukan ini?" aku segera mengganti topik. Aku terlalu banyak bicara dengannya.
"Melakukan apa?"
"Kenapa kau menyerahkan dirimu untuk uang?"
Dia menatap mataku dan tersenyum kecil, "Aku butuh uang untuk bertahan hidup dan perawatan Ibuku."
"Ibu?"
"Yah.. Kau tidak boleh iba, okay? AKu menceritakan ini padamu karena kau tampak baik. Ibuku sakit dan aku butuh uang. Aku hanya pekerja kasar, kakakku tidak bekerja, dan adikku sering membuat onar, lalu ada Will juga... Ayah dan ibuku sudah lama bercerai dan satu-satunya tumpuan keluargaku adalah aku sendiri. Jadi.. well.. Aku butuh uang untuk bertahan hidup.." suaranya bergetar, tapi dia menahan diri dengan segera meneguk habis air putih.
"Aku tidak iba..."
Aku merasakan kepedihan di dadaku, rasa yang membuatku tidak nyaman.
"Aku juga tidak berharap kau iba, tapi aku senang bahwa itu kau..."
"Aku? Senang apa?"
"Aku senang bahwa kau yang ketemui saat malam itu dan senang bahwa aku duduk di sini bersamamu."
"Aku bukan orang baik jika kau berpikir begitu..."
"Kupikir kau baik...."
Dia tersenyum kecil padaku. Sekarang aku paham kenapa tubuhnya kurus karena dia tidak sempat memikirkan dirinya sendiri. Aku sekarang tahu kenapa telapak tangannya kasar. Dia menanggung beban di pundaknya. Dia wanita baik dan bukan seperti kekasihku yang terdahulu.
Entah kenapa, aku merasa sakit bahwa dia tidak sepenuhnya ingin uangku seperti wanita lain. Aku tahu saat memeriksa kartu debit yang kuberikan untuknya, itu tidak berkurang satu sen pun. Yang dia butuhkan hanyal $30.000, jumlah yang bisa kuhasilkan setiap menitnya. Tidak ada lagi yang dia inginkan dariku.
Lalu, saat aku meneguk air dingin itu. Aku sadar bahwa aku ingin dia meminta sesuatu dariku, seperti wanita lain memperlakukanku. Aku ingin dia menatapku penuh harap. Aku ingin dia menginginkan sesuatu dariku.
"Apa kau sempat menempuh bangku kuliah?"
"Itu adalah kemewahan lain yang tidak bisa kudapatkan..."
"Apa mimpimu?"
"Aku tidak punya mimpi..." aku menunduk dan menekan bibirku menjadi garis keras. Aku kecewa dan bingung, Aku kecewa karena dia tidak memberitahuku, padahal aku ingin membantunya. Dan aku bingung kenapa dia tidak punya mimpi. Dan hal itu membuatku ambigu.
"Kau tidak punya mimpi atau tidak mau memberitahuku?"
"Keduanya mungkin..."
"Aku mengerti..." aku segera berdiri, "Terimakasih atas makan malamnya. Aku akan pergi mandi jadi tunggu aku di kamar--"
"Aku tidak bisa."
"Apa?" apa dia sekarang menolak melakukan kewajibannya?
"Maksudku... Aku, kau tau.. Wanita memiliki siklus menstruasi dan aku mengalami juga..."
Aku memejamkan mata, sial. Kenapa aku merasa malu, Sejak kapan?"
"Tiga hari yang lalu." oh, sejak ketidakdatanganku, "Biasnya aku mengalaminya di akhir atau awal bulan. Lalu waktunya agak tidak menentu. Bisa tiga hari, satu hari, bahkan seminggu...."
"Uhm..."
"Yah, jika kau keberatan, kita bisa mengganti waktu yang terbuang setelah kontrak selesai.." suaranya terdengar enggan, senyum canggungnya, dan tangannya yang menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal. Dia enggan padaku, mungkin dia jijik?
"Yah, baiklah.. Aku akan mandi.." ucapku asal dan segera pergi dari sana
Pada akhirnya, aku datang ke sini dengan sia-sia. Biasanya aku tidak begini. Mantan kekaishku pun selalu berhalangan, tapi mereka bahkan aku tidak meminta untuk mengganti waktu yang terbuang. Aku menggeleng kepala dan aku bingung. Lantunan piano Kenny semakin samar dan rasa kosong timbul dalam hatiku secara tiba-tiba.
****
MrsFox