
Happy Reading
***
Harry POV
Aku melepas ciumanku dari bibir Emilya dan perlahan membuka kancing kemeja, Emilya. Tanganku segera berhenti melepas kancing itu saat aku melihat ada yang janggal pada tulang belikat Emilya. Aku ingat ada tiga tahi lalat yang berjejer di sini. Kenapa itu polos? Tidak ada tahi lalat?
"Ada apa?" tanya Emilya dan aku menatapnya lalu menatap lehernya. Aku menyetuh lehernya dan menemukan bahwa bekas luka yang dilehernya adalah riasan.
"Kau bukan Emilya..." bisikku pelan dan melepas kemejanya dengan paksa sehingga kancingnya terlepas dan berjatuhan di lantai. Aku memutar tubuh dan merasa tercekat melihat tato di punggungnya. Emilya tidak memakai tato dan jelas ini tato yang sudah lama. Warna kulit mereka pun berbeda.
Aku segera mendorong tubuhnya menjauh dariku. Dia memutar tubuh dan aku melihat senyum miring di mulutnya.
"Ada apa?" tanyanya dan suara aslinya akhirnya terdengar. Suara berat.
"Kau bukan Emilya...."
Lalu dia tertawa keras, sangat keras. Itu bukan tawa Emilya.
"Kau pikir aku Emilya? Astaga... Astaga.. Kasihannya Emilya. Haha...."
"Di mana dia? Dan siapa kau?"
"Ah... Harry, apa kau benar-benar tidak tau aku siapa?"
Aku diam, menahan diri untuk marah. Aku benci nada bicaranya yang penuh cemooh.
"Aku tidak ingin melihatmu di sini. Silakan pergi." ucapku akhirnya. Sial.. Siapa dia? Kenapa wajahnya dengan Emilya begitu mirip? Di mana Emilya?
"Ah.. Jangan begitu.." ucapnya dengan nada manja dan berjalan ke arahku, "Apa kau tidak mau melanjutkan apa yang kita lakukan tadi, Harry? Apa bedanya aku dan dia? Bukankah kami terlihat sama padamu?"
Aku berjalan mundur beberapa langkah, "Jika kau mendekat lagi, aku tidak segan-segan melakukan kekerasan pada seorang wanita..."
Dia melipat tangannya di dadanya, "Ah.. Kau tega memukul aku? Sosok berwajah Emilya?"
"Di mana Emilya?"
"Uh.. Kupikir kau menyukainya, tapi ternyata tidak. Kau rupanya tidak tau apa-apa tentangnya..."
Aku memejamkan mata, menahan rasa amarahku.
"Di mana dia? Dan kau siapa?"
"Aku tidak yakin dia akan mau bertemu denganmu saat ini..."
"Kau tidak tau apa-apa..." geramku.
"Apa? Aku? Kaulah di sini yang tidak tau apa-apa Harry Smith...."
Sial. Aku benci nada suaranya. Nada sok tahu yang suka menghakimi dan penuh penilaian.
"Katakan saja di mana dia sekarang?"
"Uang..."
"Apa?"
Dia merogoh saku celana jeansnya dan mengambil ponselnya. Dia mengetik sesuatu dan segera ponselku berdering. Aku segera merogoh sakuku dan mengambil ponselku. Aku menerima pesan dari dia dengan nomor ponsel Emilya.
"Berikan aku $100.000, kau bisa mengirim itu ke nomor rekening yang baru kukirim dan aku akan menjawab pertanyaanmu, Harry Smith..."
Sial... Aku segera mengirim uang tersebut melalui ponselku dan ponsel wanita tersebut berdering kembali.
"Ah... Astaga?! Really?!" dia berteriak seraya menutup mulutnya, "Kau benar-benar mengirimnya? Kupikir kau akan menolak karena aku menyebutkan jumlah tak masuk akal seperti itu..."
"Katakan..." ucapku dengan nada rendah penuh emosi, "Sekarang katakan di mana dia?"
"Santai.. Aku--"
Aku berjalan kearahnya, "Katakan sekarang juga..."
Dia memutar matanya, "Kau tidak asik... Kupikir aku bisa bermain-main denganmu lebih lama lagi, ternyata kau cepat juga menyadari bahwa aku bukan Emilya..." ucapnya seraya memakai kembali pakaiannya.
Aku memejamkan mata, berusaha tidak memukul wajahnya.
"Rumah sakit.." ucapnya pelan dan aku segera membuka mataku.
"Apa?" aku segera memegang kedua bahumu, "Apa yang kau katakan barusan?"
Dia segera menepis tanganku dan berjalan menjauh dariku, seolah menyadari tanda bahaya bahwa aku bisa saja membahayakannya.
"Rumah Sakit Lancaster... Dia di rawat di sana karena dia berusaha bunuh diri atau apalah dan kau tau itu karena siapa? Itu karena kau, Harry. Aku tau apa yang kau perbuat padanya.. Aku bisa melihat semua bekas lukanya dan rasa sakitnya..." ucapnya dengan nada menuduh dan aku melotot keras padanya, benar-benar menahan diri untuk tidak memukulnya saat ini juga.
"Dia yang menyuruhku datang kesini... Dia sudah cukup depresi dengan segala tekanan di keluarganya dan kini kau menambahinya... Bagaimana mungkin kau menyebut dirimu sebagai manusia, Harry?"
Aku membeku dan segera rasa amarahku surut. Digantikan rasa bersalah, rasa jijik, rasa ketakutan, dan semua perasaan itu bercampur dalam diriku
"Aku sudah mengatakan yang perlu kau ketahui, sekarang aku akan pergi.. Ah, satu lagi... Aku Julia teatons, saudara kembar Emiyla. Secara harafiah, dia kakakku. Baiklah. Terimakasih Harry atas uangnya..."
Wanita bernama Julia itu segera meninggalkan pent-house milikku dan meninggalkanku sendiri. Aku merasakan seluruh tubuhku bergetar hebat dan akhirnya aku kehilangan kekuatan untuk menopang tubuhku sendiri. Aku terjatuh di lantai dan merasakan rasa panas menusuk mataku.
"Emilya..." bisikku dengan nada hancur
****
Empat bulan kemudian, Musim Semi, New York, 20XX
Emilya POV
Empat bulan berlalu dan akhirnya keadanku semakin membaik walau aku belum pulih sepenuhnya. Aku sedang berjalan-jalan di taman rumah sakit untuk melatih kekuatan otot kakiku karena aku sempat menggunakan kursi roda. Namun sekarang, aku tidak perlu lagi memakai kursi roda. Cukup hanya sebuah tongkat saja.
Aku mendengar banyak kabar selama empat bulan ini. Max kembali pulang ke Seattle ke rumah orangtuanya untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Kenny ternyata mengunjungiku beberapa kali saat aku koma dan baru-baru ini dia juga mengunjungiku. Entah kenapa, kami sekarang memiliki semacam tali pertemanan. Namun, aku tidak mendapat kabar apa pun dari Julia dan Harry.
Harry.. Aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi saat memikirkannya dan aku bersyukur akan itu. Namun, aku berharap bisa bertemu dengannya untuk mengucapkan terimakasih karena dia membayar seluruh uang perawatan dan pengobatanku. Dia juga membeli anjing pada Will saat aku masih koma. Itu memberi kebahagian kecil pada Will saat-saat terberat untuknya.
Ah... Harry. Begitu sulit menghubunginya. Aku sudah mengirimi dia pesan, email, dan bahkan suart langsung ke tempatnya. Namun, hingga saat aku tidak mendapat balasan apa-apa dari dia. Seolah dia menghilang dari permukaan bumi ini.
Aku segera duduk di bangku taman seraya memejamkan mata. Cahaya matahari muncul dari sela-sela daun dan itu memberi kehangatan padaku. Gemerisik angin yang melewati pepohonan menimbulkan rasa nostalgia dalam diriku. Aku merasa kembali ke usia dini, di saat aku berbaring di rerumputan pertanian bersama Ibuku yang mengelus rambutku.
Aku merindukan Ibuku.
Aku tidak menyangka dia akan mengorbankan dirinya untukku. Benar-benar tidak menyangka. Sekarang aku hidung dengan hati milik Ibuku. Hailey sudah memberiku surat dari Ibuku, tapi aku tidak mau membacanya. Aku takut isi surat itu. Aku takut isinya akan menimbulkan rasa bersalah yang membebani diriku sendiri.
Aku akan membacanya, tapi tidak saat ini.
Bibi Debs adalah saudara Ayahku. Dia janda tua yang tinggal di pertanian Texas. Dia datang menghadiri pemakaman Ibuku sewaktu aku koma dan sekitar tiga minggu yang lalu dia datang menjengukku. Dia tidak memiliki anak, tapi dia adalah sosok penyayang.
Bibi Debs mengatakan pada kami untuk ikut pindah dengannya ke Texas dan aku serta Hailey sudah memikirkannya bahwa itu bukanlah ide buruk. Kota sebesar Kota New York bukanlah tempat yang ramah untuk orang kecil seperti kami. Mungkin kami akan pindah setelah semester pelajaran Will selesai dan aku sudah pulih total.
Pindah ke Texas artinya aku akan bertani dan beternak lagi. Itu bukan masalah besar untukku, tapi apa aku akan baik-baik saja? Apa aku tidak akan merindukan sesuatu dari kota besar ini? Padahal seluruh kenanganku di sini kebanyakan adalah kenaangan buruk.
Harry.. Apakah dia kenangan buruk atau kenangan baik? Kupikir dia ada di keduanya. Namun, aku akan mengenang Harry dalam kenangan yang baik. Aku berharap dia baik-baik saja dan segera menemukan wanita baik yang bisa mengerti dan mencintai dia apa adanya. Aku tidak ingin dia berada dalam kubagan kesedihan yang berlarut-larut
Julia, Ayah, Ibu, Hailey, Spencer, Cassie, Dave, Will dan banyak lagi orang-orang yang datang silih berganti di hidupku selama aku di New York. Kebanyakan dari mereka memberiku luka, tapi ada juga tersisip kenangan baik walau sebentar dengan mereka. Apakah aku mampu mengenang mereka semua dalam kenangan yang baik?
"Sial..." umpatku pelan saat merasakan rasa panas menusuk mata hingga membuat air mataku menetes. Aku segera melap air mataku dari wajahku. Ah..
Rasa kosong. Kenapa perasan ini lebih mengerikan dari pada rasa sakit?
Rasa inilah yang kerap muncul padaku setiap aku mengingat kenangan-kenangan tertentu, aku tidak tau rasa kosong ini apa? Apakah itu rindu? Marah? Sedih?Bahagia? Atau apapun itu aku tidak tau. Tidak bisa kujelaskan bagaimana dan aku membenci perasaan itu. Kuharap, setelah meninggalkan New York, perasaaan ini perlahan hilang.
***
Author POV
28-03-20XX
Dari : Teatonsemilya9@gmail.xx.com
Kepada : HarryS@gmail.xx.com
Halo, Harry.. Ini Emilya. Kuharap aku bisa bertemu denganmu karena banyak hal yang ingin aku ucapkan padamu, Harry dan aku ingin mengucapkan terimakasihku secara langsung padamu. +1714868-0XXX, itu nomor ponselku yang baru, kuharap kau memanggilku segera, Harry.
15-04-20XX
Dari : Teatonsemilya9@gmail.xx.com
Kepada : HarryS@gmail.xx.com
Halo, Harry.. Aku sudah tau nomor ponselmu yang baru dan sudah mengirimu beberapa pesan, tapi kau tidak pernah membaca satu pesan pun. Kuharap kau baik-baik saja, Harry. Tolong balas pesanku. Oh.. Satu lagi, Will benar-benar merindukanmu walau kalian hanya bertemu beberapa kali. Keadaanku sekarang sudah semakin sehat. Semoga kau juga, Harry.
15-05-20XX
Dari : Teatonsemilya9@gmail.xx.com
Kepada : HarryS@gmail.xx.com
Harry.. Kumohon balas emailku. Apa kau baik-baik saja? Kau seolah menghilang dari permukaan bumi ini. Aku tidak berharap bertemu denganmu lagi, tapi kumohon balas pesan, email atau pun surat yang kukirim padamu. Dan, kumohon jangan mengirimi uang lagi ke rekening Hailey, kami sudah terlampau banyak menerima sesuatu darimu.
_______
New York, 29-05-20XX
Dear : Harry Julio Smith
Halo Harry, bagaimana kabarmu? Kuharap kau baik-baik saja. Kuharap kau membaca pesan ini, Harry. Aku mengucapkan terimakasih kepadamu atas semua kebaikanmu dan bantuanmu pada keluargaku. Mungkin, tanpa bantuanmu kami tidak akan bisa melewatinya. Kenny bahkan Scout sudah kutanyai tentang keberadaanmu, tapi tidak ada yang tahu. Kau seolah-olah hilang dari permukaan bumi ini. Aku hendak menanyakan keadaanmu pada Cassie, tapi aku takut memperburuk keadaan. Harry, jika kau merasa bersalah padaku dan memilih membantuku secara diam-diam serta menghilang dari hadapanku maka itu sudah cukup. Kau tidak perlu merasa bersalah atas apa pun dan tidak perlu melakukan apa pun lagi padaku atau pun Hailey dan Will. Aku sudah mengiklaskan semua yang terjadi dan aku sudah memaafkanmu. Aku tidak memiliki dendam apa pun padamu lagi. Sekarang aku sudah sembuh total dan akan segera keluar dari rumah sakit tiga hari lagi. Mungkin ini akan terdengar tidak penting, tapi aku ingin memberitahumu bahwa aku, Hailey dan Will akan segera pindah ke rumah bibiku di Texas untuk memulai hidup baru. Mungkin kita tidak akan bertemu lagi, Harry jadi aku mengucapkan terimakasihku kepadamu melalui surat ini. Kuharap kau sehat selalu, Harry. Kami bertiga mengucapkan salam hangat kami padamu.
Sending Love Emilya Elizabeth Teatons
_______
10-06-20XX
Dari : Teatonsemilya9@gmail.xx.com
Kepada : HarryS@gmail.xx.com
Halo Harry, ini mungkin akan menjadi surat terakhirku padamu. Hari ini adalah hari kepindahan kami. Kuharap kau baik-baik saja di sini, Harry dan kau segera menemukan kebahagianmu sendiri di sini. Aku senang mengenalmu walau sebentar. Kuharap kau membalas pesan ini. Kau hanya perlu menjawab YA maka aku tidak akan mengirimu pesan, email, dan surat apapun. Walaupun sebenarnya aku juga tidak akan mengirimimu pesan apapun lagi setelah ini, tapi aku akan senang dan bersyukur jika kau hanya menjawab YA. Kuharap kau bahagia selalu, Harry karena jika kau bahagia, aku pun bahagia. Itu sudah cukup untukku.
____
Harry menangis lagi membaca semua pesan, email, dan surat dari Emilya. Enam bulan berlalu dan selama itu dia hanya bisa menahan rasa rindu dan rasa sakit itu sendirian. Ingin rasanya dia pergi dan menemui Emilya, tapi rasa bersalah itu benar-benar membuat dia tidak mampu melakukannya.
Namun, Emilya sudah memafkannya.. Yah.. Semua sudah selesai. Mereka benar-benar selesai. Harry akan menanggung rasa bersalah itu dengan menikmati semua rasa sakit yang perlahan membunuhnya. Emilya akan bahagia dengan kehidupan barunya dan Harry pun akan berusaha melakukan hal yang sama.
Harry akan mencari kebahagiannya sendiri walau sulit karena Emilya berkata bahwa kabahagian Harry adalah kebahagiaan Emilya juga. Harry menutup mulutnya, menahan diri untuk tidak terhisak lagi. Entah sudah berapa kali dia menangis selama setengah tahun ini. Entah sudah sebanyak apa air matanya berjatuhan. Namun, dia akan bangkit dan menerima rasa sakit itu dengan lapang dada.
YA
Itu adalah email yang akan dia kirim pada Emilya. Dia sudah mengetiknya dan tangan Harry sudah berada di atas tombol kirim. Jika dia menekannya maka semua benar-benar selesai. Mereka tidak meiliki hubungan apa pun lagi. Mereka akan berjalan seolah ke masa depan tanpa bayang-bayangan masa lalu. Harry segera menekannya dan itu terkirim.Lalu, Harry menangis lagi. Menundukkan kepalanya di atas meja dan menikmati rasa sakit itu dalam kesendirian.
Goodbye, my dearest Emilya....
****
MrsFox
Sudah hampir sampai dipenghujung :v. Nantikan novel baruku aku yah, gais, mungkin akan bergaya retro gitu(agak jadul) yang disatukan dengan kehidupan modren. Intinya gitulah, tapi bakal aku buat seapik mungkin biar gk membosankan. Kalau kalian minta novel bertema sekolah dan ada cerita yang ada lucu"nya, jujur aku gk bakat, tapi bakal aku coba yah. Dan satu lagi, aku dulu rajin update novel Because Of You terus aku rajin promosiin karna aku dulu masih libur kuliah. Sekarang agak sibuk sama kehidupan kuliah dan aku kerja sambilan juga. Jadi maaf yah kalo aku update agak lama. Lop yuh gaiss... Tetap dukung aku melalui like,koment, love, dan vote. Sending big love for my dearest readers